
"Katakan, masih pantaskah kamu meminta hak atas anak mu?" suara Paula tercekat karena dadanya terasa sangat sakit saat mengatakannya.
Joshep terdiam, dia tidak berani lagi mengungkit haknya, dia tidak lagi mengungkit masa lalu yang hanya bak membuka luka lami bagi Paula maupun dirinya.
Benar kata Paula, dalam permasalahan ini kurang tepat rasanya jika menganggap dirinya sendiri lah yang paling terluka atas apa yang terjadi di masa itu, karena setelah mendengar semua perkataan Paula tai, dia merasa jika Paula pun tidak kalah terluka dan tersiksanya seperti dirinya.
Namun satu-satunya korban dalam permasalahan yang terjadi di masa lalu antara dirinya adn Paula adalah Kevi, dia satu-satunya yang pantas di sebut korban dalam hal ini, dimana dia harus mengalami kesulitan dalam hidupnya, hidup serba kekurangan sementara keluarga ayah kandungnya hidup bergelimang harta, mempunyai ayah dan kakek seorang dokter dan direktur rumah sakit terbesar dan ternama, namun harus kesulitan saat akan mengobati penyakitnya, ini tidak adil,,, sungguh tidak adil bagi seorang anak yang bahkan tidak bisa memilih dari benih siapa dia terbentuk.
Pertengkaran dan kesalah pahaman yang terjadi antara ayah dan ibu nya membuat bocah itu menanggung semua akibatnya, bukan---bukan Joshep atau Paula yang peling di sakiti dalam hal ini, namun Kevin.
"Maaf,,, benar kata mu, aku memang tidak pantas meminta hak itu, dan aku tidak akan mengungkitnya lagi. Untuk saat ini, bolehkah aku meminta mu untuk saling bergandengan tangan, lupakan permasalahan masa lalu di antara kita untuk sejenak, mari kita bersama-sama mencari keberadaan Kevin, putra kita!" Joshep mengulurkan tangannya memberi pegangan pada Paula agar mantan istrinya itu bisa berdiri.
'Putra kita' dua kata yang terasa asing di telinga Paula, selama ini yang sering dia dengar dari mulut Joshep saat membicarakan Kevin hanya putra mu, anak mu, namun kini tiba-tiba berubah menjadi putra kita, terlalu konyol.
"Ckk,, putra kita! Mudah sekali sepertinya kamu mengklaim Kevin sebagai putra mu, meski benar adanya dalam tubuh Kevin mengalir darah yang sama dengan darah mu, namun apa kamu yakin Kevin mau menerima mu sebagai ayahnya?" decak Paula mengabaikan uluran tangan Joshep dan dia memilih untuk tetap pada posisinya yang terduduk di lantai.
Tubuh Paula masih terasa lemas, dia sungguh lelah, lelah badan, lelah pikiran lelah hati, lelah segalanya, dia seakan tidak punya tenaga lagi untuk berdiri bahkan untuk sekedar menopang tubuhnya sendiri, kehilangan Kevin bagaikan kehilangan nyawa baginya.
Joshep berjongkok di hadapan Paula, "Aku terima jika pun Kevin tidak mau menerima ku sebagai ayahnya, aku tidak akan memaksakan, namun untuk saat ini, tolong izinkan aku untuk ikut membantu mu mencari keberadaan Kevin, biarkan aku berguna sekali saja untuk mu dan juga anak ku."
__ADS_1
Joshep merengkuh tubuh kurus Paula, dan mengangkatnya ke atas sofa, dia tidak peduli meski saat itu Paula menepis tangannya dan berontak menolak untuk di angkatnya.
"Wajah mu terlihat sangat pucat, tubuh mu juga sangat dingin. Apa kamu belum makan?" tebak Joshep.
"Aku tidak lapar!' paula memalingkan wajahnya dari Joshep yang duduk tepat di sebelahnya, dia memang belum makan sejak pagi, karena dia terburu-buru menemui Bella, lantas mengurus surat-surat kepindahannya di kantor imigrasi, dan saat sampai rumah sakit masih harus di sibukkan mencari Kevin yang tiba-tiba menghilang, sehingga sampai saat ini perutnya belum di isi apapun juga, namun selera makannya dan rasa laparnya menguap begitu saja karena terlalu sibuk menghadapai ujian demi ujian yang terjadi hari ini.
Joshep berdiri dan mengetik sesuatu di layar ponselnya, beberapa saat setelah itu mereka tidak lagi saling berbicara, paula yang sibuk dengan ponselnya mencari informasi barangkali ada berita mengenai keberadaan Kevin dan Joshep juga sibuk menghubungi orang-orang yang entah siapa yang di perintahkan olehnya untuk mencari keberadaan putranya itu.
Hampit dua puluh menit berlalu, pintu ruang kerja Joshep di ketuk dari luar, seorang petugas kantin mengantarkan beberapa kotak makanan ke sana, sepertinya Joshep memang sengaja memesannya untuk Paula.
"Makan dulu, karena setelah ini mungkin kita akan sangat sibuk mencari Kevin!" joshep menyodorkan beberapa kotak makanan ke hadapan Paula.
Dia masih sangat ingat jika Paula sangat menyukai spagetti bolognese, hampir setiap ke rumah makan pesanan Paula hanya itu saja, sementara Joshep sama sekali tidak suka makanan-makanan seperti itu, dia lebih suka masakan-masakan asia, karena lidahnya tidak terlalu bersahabat dengan makanan kesukaan mantan istrinya itu.
Sehingga dari dulu untuk masalah selera makanan mereka selalu bertentangan, namun mereka selalu merasa bahagia dengan perbedaan mereka. Terkadang Joshep merasa rindu masa-masa itu, masa dimana diantara mereka hanya ada cinta, bukan kebenian seperti sekarang ini.
"Kenapa? Tubuh mu juga perlu asupan makanan, bagaimana kamu akan mencari Kevin jika tubuh mu saja lemah seperti ini, ayo semangatlah demi putra kita." kata Joshep karena Paula tak kunjung menyentuh makanan yang sengaja di pesan untuk mantan istrinya itu.
Paula melirik kesal, lagi-lagi Joshep mengatakan dua kata yang membuat Paula kesal, 'putra kita' sampai kapan dia harus mendengar kata-kata itu dari terucap dari mulut Joshep, batinnya masih belum bisa menerima itu.
__ADS_1
"Aku tidak lapar!' tolak Paula lagi.
"Ayolah, makanlah meski sedikit, jangan sampai kamu sakit, siapa yang akan menemani ku mencari put---"
"Aku akan makan! Berhenti terus-terusan mengatakan Kevin putra kita, aku tidak suka mendengarnya!" kesal Paula.
"Lha, memang putra kita, kan?" gumam Joshep langlangsung menutup mulutnya rapat-rapat saat mendapat pelototan dari Paula. "Oke,,, putra ku,,, emh,, anak ku." ralat Joshep kemudian.
Paula menyingkirkan kotak berisi spagetti kesukaannya, dia justru mengambil kotak makan berisi nasi goreng yang sepertinya itu makanan milik Joshep.
"Emh,,, itu spagetti mu, bukankah kamu sangat menyukai nya?" tunjuk Joshep pada kotak makanan di hadapan Paula.
"Tidak lagi, sudah lama aku tidak menyukai makanan itu lagi, selera orang bisa berubah, seiring waktu yang tadinya suka bisa menjadi muak atau bahkan benci." ujar Paula sembari membuka kotak makan berisi nasi goreng milik Joshep, meski spagetti itu sangat menggoda, namun dia harus menjaga gengsinya, dia tidak ingin membuat Joshep senang karena di anggap masih mengingat makanan favoritnya itu.
Meski tidak terasa lapar, paula berusaha untuk mengisi perutnya, benar kata Joshep, dia tidak boleh sakit, karena dia butuh banyak energi untuk menemukan Kevin.
"Baik, seiring waktu selera orang bisa berubah, yang tadinya tidak suka dan benci bisa menjadi sangat suka dan sangat mencintai," kata Joshep sambil meraih kotak makan berisi spagetti milik Paula, karena jatah makannya sudah di ambil Paula.
Joshep membuka kotak makan itu, lalu memasukan beberapa helai mie ke dalam mulutnya, susah payah dia menelan makanan yang tidak pernah bisa di terima di tenggorokannya itu, namun dia harus membuktikan pada Paula jika dirinya bisa berubah, bahkan bisa melakukan apapun demi membuat Paula percaya engan dirinya.
__ADS_1
Paula melirik sambil tersenyum dalam hati, wajah Joshep tidak dapat membohongi jika saat ini dia sedang memaksakan diri memakan makanan yang tidak di sukainya, "Dasar bodoh!" batin Paula.