BELENGGU DENDAM

BELENGGU DENDAM
Ide gila


__ADS_3

Paula menekan bel apartemen temapat dimana joshep berada, sepeninggal Frans dari rumah kontrakannya dia langsung menghubungi Joshep dan meminta alamat tempat tinggal Joshep, dia bahkan menolak saat Joshep menawarkan diri untuk menjemputnya.


"Ada apa? Apa yang terjadi?" Joshep membuka pintu apartemennya dengan terburu-buru, tadi dia baru saja selesai mandi saat Paula datang dan menekan bel aparemennya berulang kali.


"Katakan, apa kamu tau tentang semua ini? Apa ini rencana kalian dengan berpura-pura baik dan menolong Kevin, untuk mengambil hatinya lantas memisahkan dia dari ku?" teriak Paula sambil melemparkan surat gugatan yang tadi di berikan oleh Frans dan pengacaranya.


Joshep hanya terbengong seraya membuka amplop yang di lemparkan Paula padanya, dia benar-benar tidak tahu apa yang sedang di bicarakan Paula saat ini, apa yang membuat mantan istrinya itu tiba-tiba marah padahal beberapa jam yang lalau mereka baru saja makan siang dengan suasana yang damai.


Joshep membacanya perlahan, dia bahkan membacanya berulangkali untuk memasyikan jika dirinya tidak salah mengartikan kata-kata yang ada di kertas itu, semua point-pointnya dan tuntutan yang di ajukan oleh ayahnya yang bertujuan untuk merebut Kevin dari tangan Paula, tentu saja.


"Demi Tuhan aku tidak tahu menahu dengan semua ini, aku bersumpah!" ujar Joshep sambil mengangkat tangannya seraya bersumpah dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


Tentu saja Joshep pun tidak kalah kagetnya dari Paula saat menerima dan membaca surat gugatan itu, karena baik ayahnya maupun ibunya tidak sama sekali membahas masalah ini pada dirinya.


"Tidak mungkin, di sana juga tercantum nama mu dengan jelas sebagai salah satu pihak penggugat, apa kalian tidak pernah puas menyiksa ku? Aku terima dengan fitnah lima tahun yang lalau dan perlakuan tidak adil pada ku, namun kali ini, aku mohon jangan pisahkan aku dari Kevin, hanya dia satu-satunya milik ku, hanya dia satu-satunya yang aku punya dan tersisa di dunia ini, aku mohon!" ujar Paula berurai airmata, sejak tadi dia menahan tangis dan emosinya, namun kali ini dia tidak dapat menahannya lagi, pertahannya harus jebol akibat berbagai terkanan emosi dan kesedihan yangmeluap di luar batas kemampuan hatinya untuk menampung dan menerimanya.


"Paula,,, tenang dulu, aku bersumpah,,, aku tidak tahu menahu akan hal ini, aku juga tidak tahu mengapa ada nama ku tertera di sana. Demi Tuhan!" lagi-lagi Joshep mengucap sumpahnya seraya ingin menjukkan pada Paula jika apa yang di katakan dirinya adalah benar adanya.


Joshep juga merasakan kekesalan dan kemarahan yang sama dengan Paula atas gugatan itu, entah apa maksud orangtuanya melakukan semua ini, terlebih membawa-bawa namanya tanpa pernah membicarakan apapun pada nya sebelumnya.


"Ayah mu marah pada ku karena menurutnya aku penyebab kamu tidak jadi bertunangan dengan Bella dan di copot dari kursi direktur yang baru kamu duduki beberapa saat saja, dia membalas ku dengan cara ini, sementara aku tidak pernah menghlaang-halangi mu untuk melangsungkan pertunangan bahkan pernikahan sekalipun dengan Bella, kenapa harus aku lagi yang di salahkan dan terkena akibatnya?" ratap Paula.


"Aku tau, kamu tidak pernah menghalangi ku, meski aku sangat berharap kamu melarang ku, semua ini keputusan ku sendiri, aku tidak pernah mencintai Bella, aku juga tidak pernah menginginkan posisi direktur, ini semua salah ku, tidak ada kaitannya sama sekali dengan mu. Aku akan berbicara dengan orangtua ku dan memohon padanya untuk membatalkan gugatan itu, maaf lagi-lagi aku dan keluarga ku menyakiti mu dan membuat mu sedih." urai Joshep.

__ADS_1


"Bagaimana jika yang mereka inginkan adalah kamu menikah dengan Bella?" tanya Paula.


"Jika itu memang satu-satunya cara untuk membuat Kevin tetap bersama mu--- aku bersedia melakukannya, aku bersedia menggadaikan hidup ku kepada Bella seumur hidup ku demi kamu dan Kevin. Selama ini aku tidak pernah melakukan apapun untuk kalian, mungkin sekarang ini saatnya." pasrah Joshep.


"Tapi---" ucapan Paula mengambang begitu saja, dia tidak tahu harus berkata apa, di satu sisi dia merasa jika itu akan menjadi satu-satunya peluang untuk dirinya tetap memiliki Kevin, hanya saja---- apa dirinya bisa setega itu membiarkan Joshep menikahi wanita yang tidak dia cintai dan menjalani kehidupan yang tentu saja akan membuatnya tidak bahagia di seumur hidupnya.


Bisakah dirinya tega berbahagia di atas penderitaan yang Joshep jalani? Bagaimana pun Joshep pernah menjadi bagia terpenting dalam hidupnya selain Kevin, bahkan sampai sekarang diam-diam Joshep masih menjadi seseorang itu, kali ini Paula benar-benar seperti berada dalam sebuah dilema memakan buah simalakama.


"Atau-----" Joshep menatap wajah Paula dengan intens, sepertinya dia menemukan satu ide.


"Atau apa?" tanya Paula penasaran dengan kata-kata Joshep yang menggantung begitu saja membuatnya merasa penasaran.

__ADS_1


"Atau--- bagaimana kalau kita menikah lagi saja? Dengan begitu kita mempunyai hak penuh akan Kevin, bahkan orangtuaku tidak akan bisa menggugatnya." usul Joshep yang lebih terdengar seperti ide gila di telinga Paula.


__ADS_2