BELENGGU DENDAM

BELENGGU DENDAM
Keluarga bahagia


__ADS_3

"Kau anggap aku ini apa, huh? Dua kali kau berlutut untuk orang lain di hadapan ku, sementara saat aku menalak mu, kau bahkan tidak pernah memohon sedikit pun untuk kembali pada ku, kau anggap aku apa?" teriak Joshep dengan mata memerah yang manatap menyalang langsung ke arah wajah Paula yang kini merasa ketakutan dan tidak sanggup untuk menatap wajah Joshep.


Sungguh dia tidak tahu jika hal ini ternyata akan membuat Joshep se-murka itu, namun dia juga tidak tahu lagi apa yang yang harus dia lakukan selain memohon pada Joshep.


"Se-penting itukah dia untuk mu, sampai kau rela memohon dan berlutut untuknya?"


Joshep tidak mampu lagi mengendalikan emosi di jiwanya, amarah yang berkobar membuatnya di butakan oleh bisikan setan yang terus membisiki dirinya untuk semakin marah dan marah lagi, sehingga tanpa di sadarinya, tangan kanan Joshep kini mencapit dagu Paula dengan kasar.


"Kau senang sekali merendahkan diri mu di hadapan ku? Apa kau tidak tahu sejak lima tahun yang lalu kau begitu rendah di mata ku, atau kau sengaja ingin menguji kesabaran ku, huh?" geram Joshep.


"K-kamu boleh membenci ku, boleh menghina ku, namun sekali lagi aku minta pada mu, jangan libatkan orang lain dalam permasalahan kita." susah payah Paula mengatakan semua itu karena Joshep masih belum mau melepaskan capitan tangannya di dagunya.


"Siapa? Siapa yang sedang aku libatkan? Kau jangan terlalu percaya diri merasa di cintai banyak lelaki, dan satu lagi, kau jangan pernah mengira jika aku masih peduli pada mu, kau pasti berpikiran jika kepindahan Willy ada hubungannya dengan ku, itu kan, yang membuat mu berlutut dan meminta permohonan untuknya?" marah joshep.


"Terlepas ada hubungannya atau tidak dengan mu, aku hanya memohon pada mu, tolong jangan mutasi dia, bekerja di Permata adalah impiannya, aku rasa kamu bisa merubah keputusan kepindahan dia dengan jabatan mu kali ini, aku mohon, aku berhutang banyak padanya, aku hanya ingin membalas kebaikannya." mohon Paula, dengan genangan air mata yang mulai menetes.


Joshep tersenyum miring, lantas dia tertawa dalam marahnya, "Oke, jika kau ingin aku merubah keputusan itu, akan aku lakukan sekarang juga, kau boleh dengarkan , aku akan merubah kepindahannya."


Joshep melepaskan capitan tangannya dengan kasaar lantas meraih gagang telepon yang tergeletak di meja kerjanya, sepertinya dia akan menghubungi seseorang.


"Halo, dengarkan aku, tolong rubah kepindahan dokter Willy yang tadinya di pindah ke rumah sakit pinggiran kota, kini pindahkan dia ke rumah sakit perbatasan utara, perang yang sedang terjadi di sana pasti akan membutuhkan banyak bantuan dokter, segera buat surat perintahnya sekarang juga!" Joshep menutup telponnya.


"Josh,,, apa yang kamu lakukan?" Paula langsung lemas mendengar perintah yang di sampaikan Joshep tadi pada anak buahnya di telpon, sungguh dia tidak menyangka jika permohonannya pada Joshep malah membuat Willy di pindahkan ke tempat yang lebih parah lagi.

__ADS_1


Perbatasan utara saat ini sedang terjadi konflik besar, dan bentrokan dan perang senjata terjadi hampir setiap hari, setidaknya itu yang Paula lihat dari berita televisi yang akhir-akhir ini menjadi berita terpanas.


"Kenapa? Bukankah kau meminta aku merubah keputusan ku? karena dia baik padamu, tapi dia hanya baik pada mu bukan pada ku, kau berhutang budi padanya, sementara aku tidak berhutang apapun padanya, sekarang kau bisa lihat, bagaimana aku bisa dengan mudah melenyapkan orang-orang yang tidak aku sukai, sebaiknya kau berhati-hati, bisa jadi, jika suasana hati ku tidak baik aku juga akan mengirim mu ke sana bersamanya!" ancam Joshep.


Mendengar ancaman seperti itu membuat Paula tidak bisa berkutik lagi, bukan tidak mungkin jika Joshep juga akan memindahkan dirinya ke perbatasan jika dirinya terus memperpanjang perdebatannya, sementara dirinya jika dirinya sampai di pindah juga ke daerah konflik, bagaimana dengan nasib Kevin.


"Ya Tuhan, Willy m,aafkan aku!" jerit Paula dalam hatinya, dia hanya bisa menyesali apa yang telah terjadi, dan merasa bersalah yang teramat sangat besar pada dokter yang sudah cukup banyak membantunya itu.


"Kenapa? Atau kau malah senang aku pindahkan ke perbatasan menemani kekasih mu?" Joshep mendecih.


"Aku dan dia tidak ada hubungan apapun, kami hanya berteman, dan dia tulus membantu ku, hanya itu. Baiklah, maaf jika aku sudah lancang mengganggu waktu mu, aku permisi."


Paula bangun dari posisinya yang masih bersimpuh dengan susah payah, sepertinya pergelangan kakinya yang tempo hari terkilir kini terasa sakit kembali, terlebih sejak saat itu memang tidak pernah di obati, dia hanya membiarkan saja pergelangan kakinya membengkak, dengan terpincang dia berjalan meninggalkan ruangan yang cukup luas itu.


Joshep hanya membuang wajahnya jauh-jauh dan seolah tidak sudi bahkan hanya untuk melihat punggung Paula.


Malam itu telepon di meja kerja Joshep berdering beberapa kali, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, saat Joshep bersiap untuk meninggalkan ruang kerjanya dan pulang. Dia memang sengaja selalu menghabiskan waktunya dan menyibukkan diri di rumah sakit karena dia malas mengurus tek-tek bengek urusan pertunangannya, jika Bella tau dirinya di rumah, dia akan meminta dirinya menemani ke sana kemari untuk mengurus ini itu, dan itu membuat Joshep sangat malas.


Sehingga menyibukkan diri di kantor adalah senjata pamungkas dirinya dan Bella juga tidak pernah mengganggu dirinya jika sedang bekerja.


"Dokter Smith, tolong ibu ku!" suara anak kecil terdengar sangat panik dari ujung telepon.


"Kevin!" gumamnya, tidak ada anak lain yang berani menghubungi telepon ruang kerjanya selain Kevin, beberapa waktu lalu Joshep memang memberikan nomor telepon ruangannya untuk berjaga-jaga jika Kevin membutuhkan bantuannya.

__ADS_1


Bebrapa hari sering berbincang dan menemani Kevin saat paula masih bertugas, membuat Joshep seperti mempunyai rasa keterkaitan yang tidak bisa di ungkapkan dengan bocah yang dulu sempat di bencinya itu.


Joshep berlari menuju lift untuk segera turun ke lantai 6, beberapa lantai di bawahnya. Mendengar suara panik minta tolong Kevin, membuat jantung Joshep seakan berhenti berdetak sesaat.


"Paula, apa yang terjadi padanya?" tanya Joshep dalam hati.


Joshep menubruk dengan kasar pintu ruangan anggrek tempat dimana Kevin berada, saat itu Kevin terlihat sedang berusaha meraih ibunya yang tertelungkup di bawah ranjang.


Kevin tidak dapat bergerak ke mana pun karena selang infus masih menempel di tangannya membuatnya tidak leluasa untuk turun dari ranjang, karena biasanya ibunya yang membantunya memegangi tiang infus jika dia hendak turun dari ranjangnya.


"Apa yang terjadi?" Joshep langsung membawa Paula ke atas sofa panjang yang berada di ruangan itu, lantas memeriksanya dengan seksama.


"Ibu---ibu-- dia tiba-tiba terjatuh saat dia baru dari kamar mandai dan hendak mendekati ku, ada apa dengan ibu ku dokter, dia tidak mendengar panggilan ku sejak tadi, dia terus diam saat aku panggil-panggil namanya." Kevin terisak.


"Tenanglah, jangan menangis, aku akan memeriksa ibu mu, sebaiknya kamu berdoa agar ibu mu baik-baik saja." kata Joshep menenangkan Kevin.


Tubuh Paula terasa panas, sepertinya dia demam tinggi, seberapa pun bencinya Joshep pada mantan istrinya itu, dia masih merasakan panik saat melihat Paula dalam eadaan seperti ini, padahal hal ini bukan yang pertama dia alami, sebelumnya dia juga pernah merawat Paula saat demam di pantai.


Joshep menunggui Paula dan menenangkan Kevin semalaman, dia bahkan memutuskan untuk tidak pulang demi menjaga mereka.


Ada sesuatu yang menghangat di hatinya saat dirinya bisa berada satu ruangan bertiga dengan Paula dan Kevin, selintas dia membayangkan jika Kevin merupakan putranya, betapa bahagianya mereka hidup bertiga seperti ini, merasakan menpunyai sebuah keluarga kecil bersama Paula dan kevin membuatnya merasa bahagia dan tanpa sadar tersenyum dalam lamunannya.


"Dokter, apa anda sudah punya anak?" tanya Kevin membuyarkan lamunannya.

__ADS_1


"Ah itu, belum, aku baru akan bertunangan akhir bulan ini." jawab Joshep.


"Anak anda pasti sangat beruntung mempunyai ayah seorang dokter hebat seperti anda, jika dia sakit anda pasti akan segera mengobatinya, andai ayah ku seorang dokter, dia pasti akan menyembuhkan ku." ujar Kevin.


__ADS_2