BELENGGU DENDAM

BELENGGU DENDAM
Jangan sakiti mereka


__ADS_3

Semalaman Paula memikirkan tawaran Bella, kini dia sudah membulatkan tekatnya, dia akan menerima tawaran itu dengan segala resikonya, kemana pun Bella nantinya akan mengirim dirinya dengan Kevin, selama dia tidak di pisahkan dengan Kevin, dan yang lebih penting lagi, Bella juga berjanji akan membiayai operasi Kevin sepertinya itu tidak boleh dia lewatkan, toh tidak ada lagi hal yang membuatnya bertahan di sini, dengan kepergian dirinya bersama Kevin mungkin ini yang terbaik untuk semuanya.


Adam bisa fokus dengan keluarga barunya, Joshep bisa memulai hidup barunya bersama Bella, dan dirinya tidak akan diliputi rasa cemas juga was-was takut jika dia akan kehilangan hak asuh Kevin.


Seperti yang Bella katakan kemarin, 'Ambil resiko, atau kehilangan kesempatan!' dan Paula sudah memilih, dia memilih untuk mengambil resiko, semoga pilihannya kali ini terbaik untuk semuanya, harapnya.


"Kevin, ibu akan keluar sebentar, kamu tunggu ibu ya, nak!" ujar Paula setelah dia berbincang beberapa menit di telepon.


Sepertinya Paula menghubungi Bella dan mereka janjian untuk bertemu di suatu tempat.


Kevin mengangguk, tubuh bocah itu semakin hari semakin membaik, karena memang untuk menjalani operasi, tubuh Kevin harus dalam keadaan baik sehingga makan dan gizinya sangat di atur dengan ketat.


**


"Pilihan yang tepat, aku yakin selain ibu yang sangat menyayangi putra mu, kau juga merupakan perempuan yang pintar, kau akan mendapat banyak keuntungan dengan menerima tawaran ku, tenang saja." Bella tersenyum penuh kemenangan, satu-satunya hambatan untuk dirinya memiliki Joshep seutuhnya kini sudah bisa di atasinya, bahkan tidak hanya satu, namun dua sekaligus, mantan istri dan juga anaknya.


"Apa boleh aku tau, kemana kamu akan mengiirim kami?" tanya Paula sedikit penasaran.


"Kau tidak perlu tau sekarang, yang jelas itu akan sangat jauh. Kau bersiap-siaplah sekarang, kau membawa dokumen yang aku minta tadi kan? Nanti akan ada staf ku yang akan membantu mu dalam urusan surat menyurat dan segala sesuatunya yang berhubungan dengan kepindahan kalian, aku harus mengurus sesuatu yang lain, senang bekerja sama dengan mu, Paula!" pamit Bella.


Paula mengangguk dan semenit kemudian seorang pria berpakaian jas lengkap menghampiri Paula untuk mengurus berkas-berkas yang tadi sempat Bella sampaikan pada Paula, mereka pun pergi bersama.


Bella menuju sebuah unit apartemen yang berada di pusat kota, dia berdiri di depan pintu apartemen itu sambil menekan bel berkali-kali.


"Joshep! Buka pintunya, aku tau kamu di dalam, jangan sampai aku membuat keributan di sini dan mempermalukan mu!" teriak Bella.

__ADS_1


kemarin, saat dia mendapat informasi tentang keberadaan Joshep di tempat ini dari anak buahnya, Bella sebenarnya langsung mendatangi tempat ini, hanya saja Joshep tidak membukakan pintu dan Bella harus pulang dengan wajah yang kecewa.


Namun kali ini, dia yakin Joshep akan membukakan pintu untuknya, terlebih dengan ancaman yang dia lontarkan tadi, seharusnya Joshep tidak akan bodoh untuk mengambil resiko di permalukan di lingkungan apartemen tempat tinggalnya ini.


Merasa belum juga mendapat tanggapan dari Joshep, kini Bella menggedor- gedor pintu apartemen Joshep dengan sangat kasar sehingga menimbulkan suara bising yang sangat mengganggu.


Usaha Bella ternyata tidak sia-sia, karena beberapa menit kemudian, pintu terbuka dari dalam, wajah kusut Joshep menyambut Bella yang full senyuman di depan pintu karena merasa telah berhasil membuat Joshep menyerah dan akhirnya membukakan pintu untuknya.


"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu sudah gila!" bentak Joshep.


"Ya, aku sudah gila! Karena calon tunangan ku tiba-tiba membatalkan acara pertunangan yang seharusnya dilaksanakan esok hari, kamu pikir aku tidak gila dengan semua itu?" Bella menyerobot masuk ke dalam unit apartemen Joshep.


"Bukan di batalkan, tapi di tunda, itu berbeda, aku hanya meminta waktu." elak Joshep.


"Meminta waktu untuk apa? Untuk memikirkan mantan istri mu yang kini dekat kembali dengan mu? Atau meminta waktu untuk menunggu hasil tes DNA yang sedang kau lakukan untuk memastikan apakan Kevin putra mu atau bukan? Itu kan, yang sedang kamu tunggu?" teriak Bella, wanita yang biasanya selalu menjadi penurut dan bersikap lemah lembut itu tiba-tiba menjadi sangat pemarah dan manakutkan.


"Informasi apa yang tidak bisa aku dapatkan, informasi apa yang tidak bisa aku beli dengan uang? Tempat tinggal mu sekarang? Mantan istri mu? Apa yang kamu lakukan? Aku tau. Bahkan aku sudah tau hasil tes DNA yang sedang kamu ajukan." tegas Bella.


Bella mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya, "Lihatlah! Aku tidak perlu menunggu lama untuk mengetahui apakah kamu ayah biologis anak itu, atau bukan!" bibirnya menyunggingkan senyuman misteriusnya.


"Berikan pada ku!" Joshep mengulurkan tangannya.


Bella memberikan amplop itu tanpa mempersulit Joshep sedikit pun, kali ini dia sudah sangat yakin jika kemenangan ada di tangannya meskipun Joshep mengetahui kebenaran jika Kevin merupakan putra biologisnya, banyak kartu AS yang saat ini dia pegang dan semua akan menguntungkannya.


"Ah shiiiiit,,, tidak mungkin! Ini tidak mungkin!" Joshep meremas kertas itu setelah dia membaca isi di dalamnya.

__ADS_1


Mata Joshep berkaca-kaca, seperti ada ribuan lebah yang menyengat di dalam dadanya, jutaan penyesalan dan rasa bersalah menumpuk danbergulung di dadanya, setelah dia membaca hasil tes menyatakan jika Kevin merupakan darah dagingnya, terbayang kembali saat dirinya sempat membenci Kevin yang dia anggap anak hasil selingkuhan Paula dengan pria lain, dan sempat juga dirinya menganggap Kevin batu penghalang dirinya untuk mendekati Paula, bahkan Joshep selalu benci bahkan merasa iri dan cemburu jika Paula mengutamakan kepentingan Kevin, namun ternyata kenyataan seakan menampar dirinya, Kevin adalah putranya, putra yang dia terlantarkan selama lima tahun lamanya.


"Mau kemana? Menemui mereka?" tanya Bella saat Joshep melangkah menuju pintu dan hendak meninggalkannya. "Sepertinya kamu terlambat sayang, mereka akan pergi jauh."


Bella memperlihatkan foto Paula yang kini sedang berada di kantor imigrasi bersama orang suruhannya.


"Apa maksud mu? Kamu apakan mereka? Apa yang kamu rencanakan?" teriak Joshep.


Joshep sangat sadar, jika Bella dan keluarganya mempunyai kekuasaan di negeri ini, mereka bisa melakukan apapun yang mereka inginkan dengan mudah, dan foto yang di tunjukkan Bella saat ini pasti ada hubungannya dengan Bella.


"Aku tidak merencanakan apa-apa, aku hanya membantu mewujudkan keinginan Paula yang meminta ku untuk membantunya pergi jauh dari


Negara ini, ayolah sayang,,, bisakah kamu lebih berpikiran jernih, mereka tidak menginginkan mu, mereka tidak membutuhkan mu, Paula tidak peduli pada mu, karena jika dia peduli dengan mu, dia akan memberi tahu tentang keberadaan Kevin sejak lima tahun yang lalu, sadarlah." ujar Bella mendekati Joshep yang terduduk lemas.


Sedikit banyak Joshep mulai termakan hasutan Bella, benar apa yang di katakan Bella, jika dirinya di anggap penting oleh Paula, tidak mungkin mantan istrinya itu menyembunyikan rahasia sebesar ini pada dirinya, bahkan Paula lebih senang menjadikan Adam sebagai ayah Kevin dari pada dirinya yang jelas-jelas mempunyai pertalian darah dengannya.


"Aku akan membiayai operasi Kevin di luar negeri, aku akan membantu kesembuhan putra mu, setidaknya biarkan dia sehat terlebih dahulu, Paula benar-benar tidak menginginkan mu, jangan buat keadaan menjadi rumit. Kamu tentu tau apa saja yang bisa aku perbuat." kata-kata Bella seperti lebut, namun mengandung ancaman menakutkan di dalamnya di telinga Joshep.


"Jangan sakiti mereka!"


Hanya tiga kata itu yang mampu Joshep katakan, dia tahu arah pembicaraan Bella.


"Baik, mari bekerja sama, bersiap-siaplah untuk acara pertunangan kita besok!" Bella mencium pipi Joshep yang kini sangat patuh padanya bak kerbau di cocok hidungnya.


**

__ADS_1


"Kevin,,,,! Kevin,,,! Kamu dimana nak?" Paula terlihat kebingungan karena Kevin tiba-tiba tidak dia temukan di ruang rawatnya, dia sudah mencari ke seluruh ruangan, namun putranya tidak juga di ketemukan, membuatnya di landa kepanikan yang luar biasa.


__ADS_2