
"Pau,,, kenapa masih saja kau cemaskan dia, sementara tubuh mu saja tidak berdaya, lupakan dia biarkan dia pergi bersama ayahnya, aku akan melupakan semua penghianatan mu pada ku di masa lalu, dan mari kita mulai semuanya dari awal lagi." Ujar Joshep dengan mimik yang sangat serius.
Paula membelalak, seketika dia langsung terduduk dari posisi awalnya yang semula masih berbaring karena kepalanya yang masih terasa berat dan sedikit pusing.
"Apa kata mu? Apa aku tidak sedang salah dengar? Kamu meminta ku untuk melepaskan putra ku demi untuk bisa kembali bersama mu? Josh, apa otak mu masih berfungsi dengan benar? Kamu sedang berbicara dengan seorang ibu, kamu mencoba menyuruh ku untuk membuang anak ku? Apa kamu masih waras?" Hardik Paula.
Sempat terbersit di kepalanya untuk memberitahukan anak siapa kevin sesungguhnya agar Joshep merasa bersalah karena telah mengucapkan kata-kata se keji itu padanya.
Namun saat di pikir lagi, hal itu dia urungkan kelbali, dia tidak mau emosi sesaatnya justru malah menjadikan dirinya kehilangan Kevin selama-lamanya karena Joshep dan keluarganya pasti akan merebut hak asuh Kevin dari dirinya.
Biarlah Joshep tetap mengira jika Kevin bukan siapa-siapanya, biarlah Joshep tetap mengira jika kevin adalah halangan dan batu sandungannya untuk mendapatkan paula kembali, selama itu tidak membuat Paula kehilangan kevin, lagi pula, hal yang terpenting untuk di lakukannya saat ini adalah mencari keberadaan Kevin, persetan dengan amarah Joshep.
"Aku harus mencari keberadaan Kevin, jika kamu tidak mau membantu ku, aku akan mencarinya sendiri, aku akan mencari tahu ke pihak rumah sakit, mereka pasti tahu rumah sakit rujukan yang tuju Kevin. Selain itu aku juga bisa menghubungi Adam, dengar baik-baik Joshep Smith,,, jangan mernah coba-coba untuk memisahkan aku dan putra ku, karena itu adalah hal yang tidak akan mungkin terjadi!" kata Paula dengan tatapan sinisnya.
Joshep sepertinya baru tersadar, jika sikapnya kini begitu egois, kecemburuan dan kemarahan di hatinya membuatnya berlaku kejam dan di luar logika, sehingga mengucapkan hal bodoh seperti tadi pada Paula.
"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku salah, aku akan membantu mu bertemu dengan anak mu, aku tau ke rumah sakit mana suami mu membawanya." Ujar Joshep akhirnya, dia sadar jika sekuat apapun dirinya berusaha untuk memaksakan diri agar bisa bersatu kembali dengan Paula, sepertinya itu akan sulit.
Terlebih Paula sendiri pun sepertinya sudah tidak punya keinginan untuk memulai kembali hubungan mereka yang telah kandas.
Saat ini yang perlu Joshep lakukan hanya berusaha untuk ikhlas dan berlapang dada melepaskan Paula dengan kehidupan barunya, dengan suami sederhananya, dengan anak sakit-sakitan nya, dengan tubuh lusuh dan tidak terurusnya, toh itu semua yang membuat Paula bahagia, pikir Joshep.
"Kamu benar-benar akan mengantarkan ku kesana? Tidak--tidak, aku tidak mau kamu malah bermain trik lagi dengan ku, bisa saja kamu membohongi ku," Paula setengah tidak percaya, karena baru beberapa menit yang lalu mantan suaminya itu bahkan memintanya untuk merelakan Kevin pergi bersama Adam, apa ini bukan cara licik Joshep untuk memisahkan dirinya dengan putranya?
"Tidak, aku tidak akan meminta mu untuk berpisah dengan anak mu lagi, maafkan aku, aku yang salah. Aku tidak akan memaksa mu untuk kembali bersama ku, aku juga tidak akan mengganggu mu lagi, untuk masalah uang yang aku pinjamkan pada mu, anggap saja itu bantuan dari ku, kau tidak usah mengembalikannya, atau anggap saja sebagai tanda perpisahan kita." Kata Joshep.
__ADS_1
Nyess,,,! Entah mengapa ada rasa dingin menyeruak di hati Paula, rasa dingin yang membuat hatinya terasa ngilu saking dinginnya karena mendengar ucapan perpisahan dari Joshep.
Ini bukan ucapan perpisahan pertama yang di ucapkan Joshep padanya, sebelumnya lima tahun yang lalu bahkan Joshep bukan hanya mengucapkan perpisahan, namun juga mentalaknya sambil mengusirnya pergi dari kehidupannya, namun entah mengapa, ucapan perpisahan kali ini terasa lebih menyakitkan di rasa Paula.
Paula terdiam, seperti ada rasa tidak rela jika Joshep benar-benar ingin melepasnya, rasanya separuh nyawanya hilang ketika lagi-lagi Joshep tak ingin lagi memperjuangkan cinta di antara mereka, meski kali ini hanya sisa-sisa cinta.
"Baiklah, bagus kalau begitu, setidaknya aku juga jadi tenang menjalani kehidupan ku, terimakasih!" kata Paula mencoba untuk bersikap biasa.
"Setelah aku mengantarkan mu untuk bertemu dengan suami dan putra mu, makan sejak saat itu, hubungan di antara kita benar-benar berakhir." Joshep mengulurkan tangannya mengajak Paula berjabat tangan untuk yang terakhir kalinya.
Paula menatap dan membiarkan sejenak tangan Joshep yang terulur mengambang di udara, berat rasanya mengangkat tangannya untuk menerima kesepakatan itu, namun kembali lagi, dia tidak boleh berharap apa-apa pada Joshep, semua sudah berlalu dan sudah seharusnya mereka saling melupakan untuk kebaikan kedua belah pihak.
"Baiklah, mari perbaiki perpisahan kita lima tahun yang lalu dengan lebih baik, semoga di kehidupan mu selanjutnya menemukan kebahagiaan." Paula menerima uluran tangan Joshep.
Seperti ada sebuah tali yang terputus dari dua hati yang terjalin, bersamaan dengan jabatan tangan mereka, ada perpisahan yang sama-sama terpaksa harus mereka terima dan menyisakan hati yang kini compang-camping akibat siksaan rasa sakit perpisahan.
Sementara di tempat lain,
Adam terlihat dengan sabar dan telaten menunggui Kevin yang terus merengek menanyakan ibunya yang sejak beberapa hari yang lalu tidak dapat bocah itu temui.
"Ayah, kemana ibu, aku ingin bertemu ibu, tolong hubungi ibu, apa ponsel ibu masih tidak bisa di hubungi juga?" Tanya Kevin cerewet.
Adam mengeluarkan ponselnya, sudah puluhan kali sejak Paula pergi bersama Joshep, ponsel wanita itu tidak bisa di hubungi, namun terakhir kali dia berbicara pada Joshep dan menanyakan keberadaan Paula saat dirinya hendak membawa Kevin ke rumah sakit di kota, Joshep mengatakan jika Paula tidak dapat di ganggu dan mengizinkan Adam untuk membawa Kevin.
Terdengar agak janggal, karena Paula tidak mungkin tidak langsung mencari Kevin saat tahu putranya dalam keadaan drop, namun saat itu perhatian Adam memang lagi kacau dan terbagi akibat keadaan Kevin yang benar-benar membutuhkan penangan medis yang alat-alatnya lebih canggih lagi, sehingga rasa curiganya dan kejanggalan yang di rasankannya menguap begitu saja, baginya saat itu yang terpenting adalah keselamatan Kevin.
__ADS_1
"Ada apa, Nak? Apa ada yang sakit?" Tanya seorang dokter setengah baya yang kebetulan melintas di bangsal tempat Kevin di rawat, sepertinya dia mendengar rengekan Kevin pada Adam.
"Ah, tidak Dokter, putra ku hanya merindukan ibunya, kebetulan ibunya masih bekerja dan belum bisa menemuinya di sini." Terang Adam sopan.
"Siapa nama mu, Nak? Kau tampan sekali, mata mu mengingatkan ku dengan mata putra ku saat masih kecil, berapa usi mu?" Tanya dokter itu.
"Nama ku Kevin Dokter, Kevin Hill, usia ku lima tahun," jawab Kevin.
"Kau sangat pintar," Dokter itu memeriksa papan yang tertempel di ranjang yang menerangkan identitsa pasien juga penyakit yang di deritanya, lantas dokter itu manggut-manggut seperti sedang mempelajari sesuatu.
"Aku punya sesuatu untuk mu, lihatlah sepertinya kamu akan suka, Nak." Dokter itu mengeluarkan sebuah hot wheels dari saku jubahnya.
"Dokter, apa ini milik putra anda, dokter?" tanya Kevin tidak buru-buru menerima pemberian dokter itu.
"Bukan, ini milik ku, putra ku sudah besar, sudah tidak bermain seperti ini." Dokter itu terkekeh.
"Tapi anda juga sudah tua, kenapa masih main mobil-mobilan seperti ini?" Tanya Kevin polos.
"Hahaha,,, aku mengkoleksinya, aku punya banyak, ada ratusan jumlahnya di rumah, ini buat mu, apa kamu suka?"
Kevin mengangguk, sudah sangat lama dia menyukai miniatur mobil seperti itu, biasanya dia hanya bisa melihatnya di toko mainan, dia tidak berani meminta pada Paula, karena dia tidak mau membebani ibunya.
"Terimakasih Dokter, aku sangat menyukainya, ini mobil-mobilan pertama yang aku punya, aku akan menjaganya." Mata Kevin bersinar, dia lupa jika tadi dia bersedih karena merindukan ibunya.
"Aku akan memberi mu mobil-mobilan dengan model lainnya besok, jika kamu tidak rewel dan tidak menyulitkan ayah mu," ujar dokter itu lagi.
__ADS_1
"Terimakasih dokter---?" Adam tersenyum lega karena perhatian Kevin kini sudah teralihkan dan tidak terus menerus menyakan keberadaan Paula.
"Frans, nama ku dokter Frans Smith!" ujar dokter itu menunjukkan name tag yang tersemat di jubah putihnya.