
"Joshep,,, aku tidak akan melanjutkan gugatan ini, aku akan mencabutnya, tapi---- aku ada satu syarat yang harus kau dan wanita itu lakukan untuk ku, bagaimana?" ujar Frans menghampiri Joshep setelah dia berdiskusi panjang dengan tim pengacaranya.
"Tuan, aku tidak sedang ingin tawar menawar dengan anda. Jika anda ingin melanjutkan gugatan, maka akan kami layani dengan senang hati dan jika tidak kami juga akan menyambutnya dengan senang hati. Jadi simpan saja syarat anda karena kami tidak menerima syarat apapun!" tegas Joshep menolak permintaan ayahnya.
Wajah Frans memerah karena menahan marah, sepertinya Joshep memang sudah tidak bisa di ajak untuk tawar menawar lagi, Joshep juga terlihat cukup percaya diri dengan kesaksian Ben, dan yakin jika Ben akan menjadi kartu AS untuk melawan Frans juga Bertha.
Baru saja Frans akan membuka mulutnya untuk membalas kata-kata pedas sang putra, ponselnya berbunyi, begitupun dengan ponsel Joshep, Frans dan Joshep sama sama mendapat sebuah pesan yang langung membuat mereka terdiam dan mematung setelah membaca pesan yang masuk ke ponsel mereka masing-masing.
"KEVIN!" seru mereka hampir bersamaan.
"Apa yang terjadi?" tanya Paula penasaran.
Joshep memperlihatkan pesn yang di terimanya pada Paula, sontak saja Paula juga terlihat syok setelah membaca pesan itu.
"Apa ini ulah mu Pih?" tanya Joshep sambil memperlihatkan pesan berisi ancaman dan peringatan jika Kevin berada di tangan mereka, sebuah foto yang menggambarkan Kevin sedang tertidur di ranjang di kirimkan juga bersamaan dengan kata-kata ancaman yang menyertainya.
Ranjang dan ruangan tempat Kevin berfoto jelas bukan ruang rawat rumah skit tempat dimana Kevin di rawat, tempat itu terlihat asing dan jelas bukan rumah sakit.
"Bagaimana kau bisa menuduh ku, sementara aku pun mendapat pesan yang sama seperti mu!" Frans balik menunjukkan pesan serupa yang juga dia terima bersamaan dengan pesan yang di terima Joshep, isinya pun sama persis seperti pesan yang di terima Joshep dari nomor asing yang tidak di kenal, bahkan saat Joshep berusaha untuk menghubungi nomor itu, Joshep tidak berhasil.
__ADS_1
"Tapi anda bisa menghalalkan segala cara, jika bukan anda, sepertinya tidak orang jahat lagi selain anda pada keluarga kecil ku." tuduh Joshep.
"Cih, aku tidak segila itu, untuk mempertaruhkan nyawa cucu ku sendiri." bantah Frans.
"Oh ayolah Josh, jangan berdebat lagi, ayo kita cari dan selamatkan anak kita." ajak Paula menarik lengan Joshep yang malah terus berdebat dengan ayahnya itu.
'Anak ini berada di tangan ku saat ini, jika kalian masih ingin melihat anak ini selamat, ayah dan kakek anak ini bisa menemui ku di gedung kosong dekat rumah sakit lama.' begitu kira-kira isi pesan yang di tulis di pengirim pesan misterius.
Namun Paula bersikukuh mengajak Joshep untuk memeriksa keberadaan Kevin di rumah sakit terlebih dahulu, karena kata hatinya sebagai seorang ibu menyakini jika Kevin masih berada di rumah sakit, tidak di tempat lain seperti yang di sebutkan oleh orang asing di pesan tadi.
Begitu pun dengan Frans yang juga langsung bergegas pergi dari tempat sidang, namun tujuan pria tua itu berbeda dengan Joshep dan Paula, jika Joshep dan Paula memilih untuk mengecek keberadaan Kevin di rumah sakit tempat anak mereka di rawat, lain halnya dengan Frans dan Bertha yang langsung meluncur ke gedung tua dekat rumah sakit lama, tempat yang di sebutkan oleh si pengirim pesan.
"Mereka tidak mengikuti kita ke gedung tua?" tanya Bertha yang melihat mobil yang di kendarai Joshep dan Paula justru berlainan arah dengan mobil yang di tumpanginya bersama Frans sang suami.
Di akui atau tidak bagimana pun hatinya tetap terasa panik dan khawatir saat mendengar cucu laki-laki satu-satunya yang akan dia rebut hak asuhnya itu justru berada di tangan orang asing yang mungkin bisa saja mencelakakan atau membahayakan Kevin.
"Aku sepertinya tau siapa dalang di balik kekacauan ini." lirih Frans melanjutkan ucapannya.
**
__ADS_1
Sementara Joshep dan Paula kini sudah sampai di rumah sakit tempat putra mereka di rawat.
"Paula, bagaimana jika Kevin benar-benar dlam bahaya saat ini di sana? Kenapa kamu malah bersikeras untuk datang ke sini. Bukankah akan menjadi buang-buang waktu jika ternyata Kevin ternyata tidak berada di sini?" protes Joshep.
"Josh, kamu tidak akan pernah tau apa yang di sebut dengan ikatan hati antara ibu dan anak, kata hati ku mengatakan jika Kevin masih berada di sini, dan aku tidak mau mengabaikan begitu saja kata hati ku." jawab Paula.
Benar saja, saat mereka membuka pintu ruang rawat Kevin, bocah itu langsung menyambut kedatangan Paula dan Joshep dengan senyuman manisnya.
"Kevin,,, apa kamu baik-baik saja, nak?" tanya paula sambil berlari menuju ranjang putranya.
Kevin mengangguk. "aku baik-baik saja, aku menunggu ibu datang, aku bosan sendirian sejak tadi, untung saja ada seorang om yang menemani ku dan mengajak ku bermain, aku bahkan tadi sempat di foto olehnya." cerita Kevin.
"Seorang om? S-siapa dia?" tanya Josh gugup.
"Aku tidak tau, hanya saja dia mengatakan jika dia salah satu teman lama opa dokter." jawab Kevin polos.
Joshep dan paula saling melempar pandangannya dan saling bertanya lewat tatapan mata yang sama-sama kebingungan.
"Apa kamu tau siapa nama om yang datang mengajak mu bermain itu?" tanya Paula.
__ADS_1
Kevin menggeleng, "Om itu hanya mengatakan jika dia terburu-buru harus bertemu opa dokter, jadi dia hanya mampir sebentar saja ke sini."
"Paula, kamu tunggu Kevin di sini, aku akan menyusul ke gudang tua itu. Aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi." pamit Joshep yang sungguh merasa penasaran siapa pria yang di sebut dengan sebutan om oleh putranya itu, dan mengapa pria itu mengatakan jika dia salah satu teman lama Frans, dan yang paling penting lagi, mengapa pria itu melibatkan Kevin dalam hal ini.