BELENGGU DENDAM

BELENGGU DENDAM
Wanita lain


__ADS_3

Di rumah sakit Permata.


"Hai Will!" sapa Paula saat dirinya hendak membeli makanan di kantin rumah sakit, perutnya mulai terasa lapar, karena sejak datang hanya menyibukkan diri menemani kevin, sementara Adam sejak dirinya datang meminta izin dirinya untuk keluar, sekalian memberi waktu untuk Paula dan Kevin agar bisa berduaan.


Makanya saat Kevin tertidur tadi, Paula menyempatkan diri untuk datang ke kantin rumah sakity untuk membeli makanan untuk mengganjal perutnya, akan sangat menyusahkan jika nanti dirinya malah ikut sakit akibat telat makan.


Willy yang di sapa Pula terlihat seperti agak kaget dan tidak menyangka jika dirinya akan bertemu dengan Paula di kantin.


"Eh, emh,, Paula!" gugup Willy. "Mau kemana?" tanyanya, dengan pandangan mata yang mulai berkeliaran seperti melihat ke sembarang arah di kantin itu, seolah ada sesuatu yang sedang dia cari di sana.


"Makan, perut ku terasa lapar," ujar Paula sambil mengsap-usap perutnya yang sudah terdengar suara cacing berdemo sejak satu jam yang lalu.


"Ba-bagaimana jika aku traktir kamu makan di kafe depan rumah sakit, makanan di sana enak-enak." Tawar Willy seraya menarik lengan Paula menjauh dari kantin.


"Tidak usah Will, lagi pula aku takut anak ku terbangun dan dia akan kebingungan mencari ku." tolakPaula.


"Bukankah ada suami mu yang menungguinya?" kata Willy mengangkat sebelah alisnya.


"Ah itu, kak Adam sedang ada urusan sebentar, katanya ada sesuatu yang harus dia selesaikan, mungkin terkait masalah pekerjaannya, secara dia sudah melewati masa liburnya gara-gara menemani Kevin." Terang Paula.


"Oh, tapi bukankah itu suatu hal yang wajar? Seorang ayah menemani putranya di rumah sakit. Lagi pula apa kamu yakin dia sedang menyelesaikan masalah pekerjaan?" nada bicara Willy kembali berubah sinis.


"Ada Will? Aku merasa sikap mu aneh jika berhadapan dengan Adam dan jika sedang membicarakannya ?" Paula tidak tahan untuk tidak mengungkapkan rasa kepenasarannya.


Willy terlihat merenung sejenak, dia seperti sedang mempetimbangkan sesuatu, sepertinya ini suatu yang berat untuk Willy sampaikan pada paula.


"Pau, maaf jika aku terkesan lancang, aku tau saat ini anak mu sedang sakit dan itu pasti menguras emosi, pikiran da juga tenaga mu, tapi aku juga tidak tega dan tidak kuat jika mengetahui kamu di hianati, kamu orang baik Pau," ujar Willy.

__ADS_1


Paula mengernyit, sungguh dia tidak tau apa maksud dari perkataan Willy sebenarnya, "Jangan bertele-tele, cepat katakan pada ku, apa maksud dari perkataan mu, aku tidak punya banyak waktu untuk mendengarkan cerita mu yang berputar-putar."


"Suami mu selingkuh!"


"Kak Adam? Selingkuh?" Paula seperti tidak percaya dengan apa yang di katakan Willy


Willy mengangguk, "Tadinya aku ragu dan berniat untuk tidak menceritakan masalah ini pada mu, namun setelah aku pikir-pikir lagi, aku justru akan sangat merasa bersalah pada mu jika aku menyembaunyikan hal sebesar ini dari mu. Aku beberapa kali melihat suami mu bersama seorang wanita, mereka terlihat sangat akrab, makanya waktu itu bertanya pada mu apa ada kerabat lain yang menunggui putra mu selain suami mu? Dan kamu mengatakan tidak aa yang lain, dari sana aku yakin ada yang tidak beres, selain itu wanita itu--- wanita itu terlihat sedang hamil besar. Awalnya aku berharap jika wanita itu hanya teman atau kerabatnya yang kebetula bertemu di sini saja, namun tadi aku melihat mereka di kantin ini makan berdua dengan sangat mesranya." Urai Willy panjang lebar.


Willy menceritakan semua itu dengan sangat hati-hati, dia tahu jika ini adalah masalah pribadi rumah tangga Paula, dan dia terlalu jauh melangkah masuk di dalamnya, namun apa mau di kata, dia tidak tega jika ternyata Paula sedang di hianati suaminya, dia tidak ingin Paula terluka.


"Wanita hamil?"


Willy mengengguk lagi, "Mereka bahkan masih berada di ujung sana, makanya aku mengajak mu untuk makan di tempat lain." Willy menunjuk dengan dagunya yang di majukan.


Paula mengikuti arah yang di tunjukan Willy, sungguh dia penasaran dengan kebenaran cerita yang di sampaikan Willy padanya, dia bahkan melangkah untuk mendekat ke arah Adam dan wanita yang hanya bisa dia lihat punggungnya itu, setelah dia benar-benar yakin jika pria yang berada di sisi wanita itu adalah benar-benar Adam.


"Pau,,, kamu yang tenang, yang sabar, jangan emosi, aku bisa menemani mu, tenangkan diri mu!" Willy mengejar Paula yang sudah melangkah menuju meja dimana Adam dan wanita itu duduk bersama.


"Kak, kak Adam," panggil Paula seraya menepuk pundak Adam yang terlihat sangat kaget saat tahu jika Paula sudha berada di balik pungungnya.


"Pa-Paula?" gugup Adam.


Wanita yang berada di samping Adam ikut menoleh, wanita berperut buncit yang sepertinya tengah hamil tujuh atau delapan bulan itu tak kalah kagetnya saat Adam menyebut nama Paula.


"Pau, aku bisa jelaskan semuanya," kata Adam seraya berdiri dari kursinya dan menghampiri Paula.


Namun tiba-tiba,

__ADS_1


Bugh!


Kepalan tangan Willy yang sejak tadi gatal ingin melayang akhirnya mendarat di rahang kanan Adam, membuat para pengunjung kantin yang saat itu lumayan sedang ramai menjadi heboh, para pengunjung wanita bahkan menjerit saat melihat Willy melayangkan tinjunya ke wajah Adam.


"Aku sudah memperingatkan mu untuk jangan sekali-sekali menyakiti Paula, bukan sekali dua kali aku melihat mu bermesraan dengan wanita lain saat paula belum datang ke sini, dan saat Paula sudah berada di sini kau masih dengan berani berbuat gila, dimana otak mu? Di saat putra mu sedang terbaring sakit dan kau malah asik berselingkuh!" maki Willy tidak dapat menahan marahnya.


"Willy, Hentikan! Ku mohon!"Paula menahan tangan Willy yang sepertinya belum puas hanya memberi Adam satu pukulan saja, sementara Adam terlihat menenangkan wanita hamil yang kini memeluk dirinya sambil ketakutan.


"Lihatlah, mereka bahkan berani bermesraan di hadapan mu, bajingan!"


"Willy, tolong jangan ikut campur urusan rumah tangga ku, kamu tidak tahu apa-apa, tinggalkan kami!" usir Paula meminta Willy untuk menjauh dari dirinya dan juga Adam.


Orang-orang di sekitar sana sudah berkerumun karena kehebohan yang terjadi, sehingga mau tidak mau Paula harus mengajak Adam dan wanita itu untuk pergi dari sana agar mereka tidak menjadi tontonan orang banyak dan menjadi bahan gosip mereka nantinya.


"Paula, aku bisa membantu mu aku akan menemani mu," Willy mengejar Paula, Adam dan wanita itu.


"Cukup Will, sudah cukup keonaran yang kamu buat, apa belum puas kamu mempermalukan kami?" tegas Paula.


Willy mengalah, dia sadar jika dirinya hanya orang luar, dan tidak berhak untuk ikut campur masalah rumah tangga Paula.


"Baiklah, jika kamu butuh bantuan ku, aku akan selalu siap membantu mu!" kata Willy akhirnya pasrah dan mengalah untuk membiarkan paula pergi tanpa dirinya.


"Paula? Dia ada di rumah sakit ini?" gumam Bella yang tadi sempat melihat keributan yang terjadi di kantin rumah sakit saat dirinya hendak menemui calon ayah mertuanya untuk membahas masalah pertunangan dan juga membicarakan masalah pekerjaan Joshep yang dia harap akan pindah di kota itu, khususnya di rumah sakit permata.


"Kenapa dia juga ada di sini? Apa ini sebuah kebetulan?" Bella bermonolog dengan dirinya sendiri sambil terus memandangi Paula yang sedang bergegas meninggalkan kantin karena merasa risih menjadi pusat perhatian banyak orang di sana.


Berbagai pertanyaan muncul di benak Bella, termasuk kehadiran Paula yang sangat kebetulan dengan kedatangan Joshep yang tiba-tiba ke kota kelahirannya itu.

__ADS_1


Ada banyak kecurigaan yang timbul di kepala Bella, dengan semua kebetulan itu, membuat Bella mulai menyambung-nyambungkan tebakannya sendiri, berspekulasi dengan kemungkinan-kemungkinan dan kecurigaan yang ada di kepalanya.


__ADS_2