
"Kau berani membawa dia bersama mu di hadapan ku, apa wanita ini baru saja mengadu dan mencuci otak mu?" tanya Frans sinis.
Sebenarnya Joshep dan Pula hendak menemui Frans di kediamannya sore ini, hanya saja tiba-tiba pihak rumah sakit menghubungi dirinya jika Kevin sudah sadar dan sudahbisa dikunjungi, terlebih Kevin juga mencari-cari ibunya sejak dia sadar.
Joshep dan Paula pun bergegas menuju ke rumah sakit, namunbetapa terkejutnya mereka karena ternyata di depan ruang rawat Kevin mereka di hadang Frans yang sudah terlebih dahulu berada di sana.
"Tolong jangan mengajak ku berdebat di sini, aku datang karena ingin mengunjungi putra ku!" Paula menubruk bahu Frans yang tubuhnya menghalangi pitu masuk.
"Sialan kau! Berani-beraninya menyingkirkan tubuh ku," maki Frans.
"Pih, tolong biarkan Paula mengunjungi Kevin!" ujar Joshep yang sejak tadi berusaha menahan emosinya karena dia ingin fokus dengan keadaan Kevin terlebih dahulu.
"Ya,,, tentu saja aku akan memberi sedikit waktu untuk wanita itu menemui cucu ku, karena setelah ini dia tidak akan pernah lagi bisa bertemu Kevin, dia akan berada di bawah pengawasan dan pengasuhan ku!" ujar Frans dengan senyum sinisnya.
"Ibu,,, kata opa dokter setelah aku sembuh nanti, aku akan tinggal di rumah opa dokter, aku juga akan di belikan mobil-mobilan yang banyak katanya." adu Kevin menyampaikan kembali apa yang Frans sempat ucapakan pada Kevin sebelum Paula dan Joshep datang tadi.
"Apa Kevin tidak mau tinggal dengan ibu setelah sehat nanti?" tanya Paula membelai rambut putranya.
Kevin terdiam, "Opa dokter bilang, katanya ibu kehabisan uang dan kelelahan mengurus ku setiap hari sendirian. Aku kasian jika ibu kelelahan, aku tinggal bersama opa dokter saja, aku tidak mau ibu sakit. Lagi pula opa seorang dokter, dia bisa menyembuhkan ku kalau aku sakit." ujar bocah itu terlihat murung.
__ADS_1
Entah apa yang sudah Frans katakan pada Kevin sehingga bocah cilik itu tiba-tiba saja mengatakan memilih untuk tinggal bersama Frans dan menolak untuk tinggal bersama Paula.
"Kau dengar, anak mu saja menolak untuk tinggal bersama mu, dia lebih memilih untuk tinggal bersama ku dan omanya." ujar Frans dengan bangga dan penuh kemenangan.
"Ibu mu tidak akan kelelahan mengurus mu karena aku akan membantunya mengurus mu, ibu mu juga tidak akan kehabisan uang hanya untuk membiayai mu, karena aku akan membantunya mencari uang untuk kalian, ibu mu hanya akan di rumah mengurus mu, aku yang akan mencari uang. Selain itu, aku juga seorang dokter jadi bisa menyembuhkan mu juga," sambar Joshep tiba-tiba sehingga membuat Kevin menoleh ke arahnya sambil mengerutkan kening kebingungan.
"Dokter Smith, kenapa anda harus membantu ibu ku?" tanya Kevin polos.
"Aku hanya ingin mengabulkan salah satu keinginan mu, yang katanya ingin mempunyai ayah seorang dokter, bagaimana jika aku mewujudkan keinginan mu itu?" kata Joshep mengingat pembicaraan antara dirinya dan Kevin beberapa waktu lalu sat bocah itu belum di operasi, bocah itu mengatakan jika dirinya ingin mempunyai ayah seorang dokter.
"Maksudnya--- anda akan menjadi ayah ku?" tanya Kevin lagi belum bisa mengerti sepenuhnya apa yang di bicarakan dan di jelaskan Joshep padanya.
Joshep hanya menjawab pertanyaan putra nya itu dengan anggukan kepala, Joshep belum bisa menjelaskan secara gamblang tentang siapa dirinya yang sebenarnya pada Kevin, hanya ini sja yng bisa dia smpaikan pada Kevin, mungkin dengan seiring waktu, nanti dia akan menjelaskannya secara pelan-pelan pada putra kandungnya itu.
"Siapa bilang ayah Adam tidak mau menemani mu lagi? Lihatlah! (Joshep mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sesuatu pada Kevin) Ayah Adam menemani mu saat kamu operasi, dia duduk di depan ruang operasi menunggui mu bersama aku dan juga ibu mu, dia bahkan menitipkan mu pada ku untuk menggantikannya menjaga mu karena ayah mu akan sangat sibuk di tempat kerjanya kelak." beber Joshep.
"Ayah,,, iya ini ayah! Dia menepati janjinya, dia menemani ku operasi bu!" mata Kevin yang tadi sempat sayu kini berbinar setelah melihat video ayahnya yang menunggui dirinya di ruang operasi.
Di video itu juga Adam menyampaikan permintaan maafnya karena tidak bisa menunggui Kevin lebih lama lagi karena ada urusan penting, dalam pesannya itu juga Adam sempat menyinggung perhal Kevin yang bukan hanya harus patuh pada Paula sang ibu, namun juga pada Joshep.
__ADS_1
"Iya, dia menepati janjinya untuk menemani mu," angguk Paula dengan perasaan haru.
"Dokter Smith,,, tapi anda tidak bisa menggantikan ayah ku, lihatlah dia begitu baik pada ku!" Kevin menunjuk gambar Adam yang ada di ponsel Joshep.
"Tidak ada yang akan menggantikan dia untuk mu, kau akan punya dua ayah yang sangat baik nantinya, karena aku juga akan berusaha menjadi sebaik ayah Adam mu," ujar Joshep, dia mengerti kekhawatiran Kevin saat ini.
"Joshep! Apa maksud mu? Apa-apaan ini?" Frans tidak kuasa menahan kesalnya mendengar semua ucapan tidak masuk akal Joshep.
""Maksud ku? Aku tidak ada maksud apa-apa, hanya inginmengatakan pada Kevin jika nanti setelah dia di izinkan keluar dari rumah sakit, dia akan tinggal di apartemen ku bersama aku dan Paula." terang Joshep.
"Omong kosong! Jangan mimpi, aku akan memenangkan gugatan ku, dan tidak akan ku biarkan wanita itu mengambil cucu ku!" Frans menunjuk Paula, suara tingginya bahkan membuat Kevin sedikit kaget dan ketakutan.
"Kemenangan gugatan anda lah yang hanya akan menjadi sebuah mimpi saja untuk anda, Pih, karena kami, aku dan Paula tidak akan membiarkan itu terjadi, jadi untuk sekarang ini silahkan anda pergi dari ruangan ini karena anda membuat putra ku meraa ketakutan!" Joshep menunjuk pintu keluar seraya mengusir Frans dari sana.
"Kau! Kau keterlaluan, kau bahkan berani mengusir ku demi wanita sialan ini, huh?" marah Frans.
"Aku bisa melakukan apa saja demi untuk melindungi mereka dari orang-orang jahat dan kejam seperti anda!" tegas Joshep.
"Aku pasti akan memenangkan gugatan ku, kau akan menyesal karena berani melawan ku!" ancam Frans.
__ADS_1
"Sampai bertemu di pengadilan, Pih! Semoga anda beruntung!" ujar Joshep.
Sejujurnya dia tidak mau melawan ayahnya seperti sekarang ini, namun dia juga tidak bisa tinggal diam saat anak dan istrinya di usik, dia tidak akan mengulangi kebodohan yang sama sepeti yang dia lakukan saat lima tahun silam.