BELENGGU DENDAM

BELENGGU DENDAM
Fakta lain


__ADS_3

"Josh, kamu tidak harus bersikap sekasar itu padanya, bagaimana pun juga dia tetap ayah mu." ujar Paula.


"Andai dia bukan ayah ku, ceritanya jelas sudah lain lagi, itu hal terlembut yang aku lakukan pada perusak rumah tangga ku, karena pertimbangan dia adalah orangtua ku." jawab Joshep.


"Dokter Smith,,," panggil Kevin, setelah sekian lama dia memandangi wajah Joshep.


"Kenapa orang-orang mengatakan jika wajah kita kembar? Dan aku juga baru menyadarinya jika kita sedikit mirip." sambung Kevin.


"Apa mirip dengan ku adalah sesuatu hal yang buruk? Bukankah aku tampan?" goda Joshep sambil berpose di depan putranya yang sontak saja tertawa geli, begitu juga dengan Paula yang tidak kuat menahan tawanya akibat tingkah konyol Joshep.


"Tapi tetap lebih tampan aku!" ujar Kevin.


"Coba kita tanya ibu mu, siapa yang lebih tampan di antara kita, Paula,,, siapa yang lebih tampan, aku atau Kevin?" tanya Joshep.


"Joshep,,, kenapa kamu menjadi se konyol ini!" Paula memalingkan wajahnya karena dia tidak kuasa di tatap dengan sangat dalam oleh Joshep.


Paula juga baru menyadari perubahan sikap Joshep yang kini menjadi semakin ceria dan bahagia tidak lagi dingin dan menyebalkan seperti sebelumnya.


"Kenapa ibu ku memanggil mu dengan sebutan Joshep?" tanya Kevin menyela.


"Karena nama ku Joshep Smith, orang-orang yang akrab dengan ku memanggil ku dengan sebutan Joshep atau Josh. Sementara Smith nama belakang ku, biasanya untuk panggilan formal." terang Joshep.


"Bukankah kita juga sekarang sudah akrab? Apalagi nanti aku akan tinggal di rumah mu, berarti aku juga ingin memanggil mu dengan sebutan Dokter Josh itu terdengar keren!" kata Kevin.

__ADS_1


"Ada beberapa pilihan nama yang bisa kamu gunakan untuk memanggil ku dan itu tidak kalah keren,"


"Apa itu?" Kevin penasaran.


"Kamu bisa memanggil ku Ayah, Dady atau papah, bukankah itu lebih keren?" ujar Joshep yang kini mulai semakin akrab saja dengan Kevin.


Kevin menoleh pada ibunya, "Ibu, apa itu boleh? Apa aku boleh memanggilnya dengan panggilan seperti itu?"


"JIka kamu mau, kalau tidak ya tidak usah!" Paula terlihat cuek.


"Kalau begitu aku akan memanggil mu dengan panggilan ayah Josh! Aku mempunyai dua ayah, ada ayah Adam dan ayah Josh, itu keren!" ujar Kevin membuat Joshep dan Paula terbahak mendengarnya.


**


panggilan dari pengadilan terkait gugatan Frans akhirnya datang juga, pria itu tidak mau menyerah begitu saja untuk membuat hidup Paula menderita karena menurutnya, karena Paula lah hidup dan karir Joshep sang putra kini hancur.


Pagi itu Frans di temani sang istri Bertha beserta tim pengacaranya sudah berada di kantor pengadilan, mereka terlihat sudah sangat siap untuk menghadapi Paula dan juga putranya sendiri yang kini mulai berbalik arah menentangnya dan secara terang-terangan menunjukkan sikap perlawanan pada kedua orang tuanya itu.


Mereka terlihat begitu percaya diri dengan beberapa point yang akan menjadi pertimbangan hakim nantinya untuk memenangkan kasusnya, di tambah tim pengacara handal yang mnedampinginya.


Sementara Paula hanya datang berdua bersama Joshep saja dalam memenuhi panggilan pengadilan itu, mereka juga tak kalah percaya diri untuk menghadapi Frans dan yang lainnya, bahkan mereka tidak membawa pengacara sama sekali.


"Lihatlah, kalian bahkan tidak mempunyai uang untuk membayar pengacara guna membela kailan, bersiaplah untuk kalah!" ujar Frans menatap sinis ke arah putranya yang sengaja menggenggam erat tangan Paula di hadapan kedua orangtuanya itu, membuat darah Frans seketika mendidih melihat pemandangan yang sangat tidak di kehendakinya itu.

__ADS_1


"Kami tidak membutuhkan pengacara atau siapapun untuk mengutarakan kebenaran, kami cukup percaya diri jika kebenaran akan menang bagaimana pun caranya." jawab Joshep yang kini malah dengan sengaja menoleh ke arah Paula an melempar senyum pada wanita yang sejak tadi hanya diam saja tidak banyak bersuara.


"Anak tidak tau diri, kami membesarkan mu dengan susah payah untuk menjadi sukses, malah memilih untuk hancur bersama wanita sialan ini!" maki Bertha ikut terpancing emosinya melihat pemandangan kemesraan Joshep dan Paula yang membuat matanya sakit itu.


"Sudahlah mih, tidak usah di sesali kehilangan anak durhaka seperti dia, toh kita akan mendapatkan cucu laki-laki kita yang akan menggantikan dia untuk kita urus agar menjadi anak yang penurut dan suskes, tidak bodoh karena wanita seperti ayahnya." ujar Frans sambil menarik lengan Bertha ke dalam ruangan sidang karena persidangan akan segera di mulai.


JOshep hendak membalas ucapan ayah dan ibunya yang terus saja menghina dan memojokan Paula, namun Paula menahannya.


"Biarkan saja, tidak usah membalas lagi perkataan mereka, mereka pasti merasa sedih dan kecewa karena putranya di rasa sudah menghianati mereka. Kita sekarang sudah menjadi orang tua, harus lebih mengerti mereka." tahan Paula.


"Tapi aku tidak akan menjadi orang tua seperti mereka pada Kevin, aku akan membebaskan dan mendukung apapun yang Kevin inginkan." ujar Joshep, yang langsung di angguki Paula dengan senyuman tipis.


"Aku pegang-kata-kata mu, Josh!" ujarnya.


Persidangan terasa kian memanas tat kala Joshep menyampaikan kabar jika mereka kini telah lembali menikah.


"Ini bukti dari catatan sipil, kami sudah rujuk, dan tidak ada yang lebih berhak dalam mengurus anak kecuali kedua orangtuanya." ujar Joshep seraya menunjukkan dokumen pernikahan mereka yang baru.


Joshep dan Paula memang sudah mempersiapkan semuanya untuk menghadapi persidangan ini dalam melawan Frans, termasuk pernikahan yang mereka lakukan kembali, meskipun perniahan mereka hanya di lakukan secara sederhana di catatan sipil saja, namun itu semua tidak mengurangi keabshannya.


Lagi pula Paula tidak menginginkan pesta atau perayaan apaun atas pernikahan kedua kalinya itu, selain keadaan ekonomi mereka yang memang tidak sedang baik-baik saja, karena Joshep yang sudah di berhentikan dari rumah sakit, usaha alat-alat kesehatan milik Joshep juga kini tersendat, banyak rumah sakit yang menolak untuk di pasok alat-alat darinya, dan juga keadaan Kevin yang masih belum benar-benar sembuh, mereka tidak mungkin merayakan sesuatu di saat anak mereka masih terbaring sakit.


Namun pengakuan tentang rujuk yang di sampaikan Joshep itu sepertinya tidak begitu membuat Frans dan timnya merasa kaget, mereka tentu saja sudah bisa mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan seperti ini, sehingga Frans hanya tersenyum sinis saat mendengar pengakuan putranya itu.

__ADS_1


Sepertinya Frans cukup percaya diri karena merasa mempunyai senjata lain yang bisa menguntungkan dan memenangkan dirinya meski Joshep dan Paula sudah kembali menikah.


"Pernikahan kembali yang di laksanakan oleh mereka memang suatu kabar baik, namun itu bukan satu-satunya alasan yang bisa di anggap mereka paling berhak mendapatkan hak asuh cucu klien kami, karena kami mempunyai fakta-fakta yang membuat mereka tidak layak untuk mendapat hak asuh saudara Kevin, silahkan di lihat lampiran-lampiran ini sebagai pertimbangan yang Mulia Bapak Hakim." salah satu pengacara Frans memberikan setumpuk dokumen kepada hakim, dan membuat raut wajah Hakim menjadi berubah saat melihat dan membaca kertas-kertas yang entah berisi apa itu.


__ADS_2