BELENGGU DENDAM

BELENGGU DENDAM
Hak apa?


__ADS_3

"Kevin,,,,! Kevin,,,! Kamu dimana nak?" Paula terlihat panik dan kebingungan karena Kevin tiba-tiba tidak dia temukan di ruang rawatnya, dia sudah mencari ke seluruh ruangan, namun putranya tidak juga di ketemukan, membuatnya di landa kepanikan yang luar biasa.


"Ada apa?" tanya Willy yang saat itu kebetulan sedang ingin mengunjungi Kevin menjadi ikut kebingungan melihat Paula yang panik dan terus histeris memanggil-manggil nama putranya.


"Kevin, Kevin hilang! Dia tidak ada di kamar!" ujar Paula dengan raut kebingungan.


"Tenang dulu, mungkin dia hanya berjalan-jalan di sekitar sini!" Willy mencoba menenangkan Paula agar tidak terlalu panik.


"Tidak, Kevin tidak pernah keluar sendirian, biasanya dia hanya menonton kartun jika aku tidak ada, kalaupun dia bosan dan ingin berjalan-jalan ke taman, dia pasti menunggu ku, dia tidak pernah mau pergi kemana pun dengan orang lain, meski itu perawat sekalipun." urai Paula.


"Tenanglah, ayo kita cari dulu, dia tidak akan pergi jauh dari sini." ajak Willy.


Paula di temani Willy mencari Kevin di sekitar rumah sakit, di tempat-tempat yang memungkinkan dan biasa Kevin kunjungi bersama Paula, mulai dari taman, kantin, dan ruang bermain khusus anak-anak sudah Paula dan Willy sambangi, namun hasilnya nihil, Kevin tidak ada di tempat-tempat yang mereka singgahi satu pun.


Lemas rasanya kaki Paula, memikirkan keberadaan Kevin yang belum juga di temukannya, sampai akhirnya dia menyerah dan melaporkan kegilangan putranya itu pada petugas keamanan rumah sakit.


Berita hilangnya Kevin yang notabene merupakan pasien ruang VIP itu menyebar dengan cepat, tak terkecuali ke telinga Joshep yang beberapa hari ini memang absen untuk pergi ke rumah sakit untuk menjalankan tugasnya, namun karena dirinya yang masih merupakan pimpinan tertinggi di rumah sakit, beberapa stafnya melaporkan kejadian hilangnya Kevin paa Joshep, membuat Joshep terlonjak dari sofa tempat semula dia sedang menonton film dengan Bella sore itu.


"Ada apa?" tanya Bella.


"Bukankah kamu sudah berjanji pada ku untuk tidak mengusik putra ku? Dimana dia sekarang?" tatapan Joshep menyalang tajam tepat ke arah manik hitam kecoklatan Bella.

__ADS_1


"Apa maksud mu?"


"Jangan berpura-pura bodoh, Kevin hilang. Ini pasti ulah mu, kan?" tuduh Joshep.


"Hey, ayolah,,, sejak tadi aku bersama mu, kamu bisa lihat aku tidak melakukan apapun selain menonton film di sebelah mu, kenapa jadi aku?" Bella tidak terima dengan tuduhan Joshep.


"Ah,,, sudahlah, aku harus ke rumah sakit sekarang juga!" Joshep tidak ingin membuang-buang waktu berdebat dengan Bella, yang jelas saat ini dia harus segera mengetahui apa yang terjadi.


Joshep juga menghawatirkan Paula yang saat ini pasti sedang sedih dan kebingungan karena putranya tiba-tiba hilang, percaya atau tidak, semenjak tahu Kevin merupakan darah dagingnya, rasa cemas itu juga di rasakan Joshep begitu kuatnya.


Jika sebelumnya saat dia tahu jika Kevin merupakan putyranya dia sekuat tenaga menahan diri untuk tidak menemui bocah itu karena teringat ancaman Bella, dia tidak mau bertindak gegabah yang nantinya bisa saja membuat Bella murka dan berakibat buruk pada Kevin juga Paula, namun kali ini saat dirinya mendapat berita hilangnya Kevin, dia tidak bisa menahan dirinya lagi.


**


"Bagaimana ini, kemana Kevin pergi, dia punya siapa-siapa di sini selain aku, kemana dia pergi?" ratap Paula dengan sedih, kalimat itu sudah puluhan kali dia ucapkan pada Willy yang terus menemaninya sejak tadi.


"Sudahlah, tenangkan hati mu, Kevin pasti akan di temukan." Willy meraih bahu Paula untuk memberinya kekuatan.


Tangis Paula pun pecah di pundak Willy yang terus mengusap kepala Paula dengan lembut.


"Hmm,,, apa bisa kita bicara sebentar, Paula!" deham Joshep mengangetkan Paula yang tengan menelungkupkan wajahnya di bahu Willy.

__ADS_1


Paula mengangkat wajahnya dan menjauhkan kepalanya dari bahu Willy. "Ada apa? Aku sedang tidak punya energi untuk berdebat dengan mu!"


"Ini tentang Kevin, ada yang harus kita bicarakan tentang Kevin." ujar joshep.


"Aku sudah menceritakan kronologi hilangnya Kevin pada petugas keamanan rumah sakit, sebaiknya kamu tanyakan saja pada mereka," ucap Paula malas.


"Tapi aku berhak untuk bertanya pada mu secara langsung!" tegas Joshep.


"Berhak? Hak apa? Berhak karena kamu direktur rumah sakit ini? Kamu tidak ingin berita ini menyebar dan membuat pandangan publik terhadap rumah sakit ini menjadi jelek, kamu ingin membungkam ku seperti yang di lakukan staf-staf mu? Pasien VIP hilang dan bahkan rekaman cctvnya pun tidak bisa di akses? Rumah sakit apa yang kamu pimpin ini? Untuk semua kejadian ini akulah yang berhak untuk melaporkan keteledoran pihak rumah sakit atas pasien anak-anak yang tiba-tiba menghilang!" sewot Paula.


Paula memang beberapa saat lalu di buat emosi dan marah karena beberapa pimpinan rumah sakit justru seperti ingin menghalang-halanginya saat dirinya ingiin melapor pada pihak kepolisian saat pihak petugas rumah sakit tidak kunjung menemukan Kevin, terlebih cctv hanya menunjukkan Kevin keluar dari ruang rawat sendirian dan menuju lift, setelah itu cctv tidak bisa di akses dengan alasan ada kerusakan.


Bayangkan saja bagaimana marahnya Paula, pelayanan rumah sakit besar dan mewah, untuk sekedar cctv saja beralasan ada kerusakan, dan mereka malah meminta Paula untuk tidak melaporkan kejadian ini pada pihak yang berwajib dan tidak menceritakan masalah hilangnya Kevin pada pihak luar, dengan alasan mereka akan berusaha secara maksimal dulu mengerahkan petugas rumah sakit untuk mencari putranya.


Saat ini ketika Joshep sebagai pimpinan tertinggi berada di hadapannya, akhirnya semua kekesalannya dan kekecewannya pada rumah sakit ini dia tumpah ruahkan semuanya pada Joshep, sungguh dia tidak tau lagi harus berbuat apa, bahkan dia tidak di ijinkan untuk keluar rumah sakit karena takut membocorkan masalah yang akan mencoreng citra rumah sakit Permata di mata publik.


"Hak apa? Katakan! Sementara hak ku kalian rantai, hak apa?" tangis Paula semakin menjadi, ucapan penuh emosional dia teriakan pada Joshep, kedua tangannya bahkan memukuli dada Joshep yang hanya diam di tempat tidak melawan dan tidak menghindari pukulan Paula ke tubuhnya.


Hati Johsep luluh lantah melihat tangis Paula yang begitu memilukan, membuat hati Joshep ikut terasa teriris dan sakit, joshep menangkap kedua tangan Paula yang terus memukuli tubuhnya membabi buta, ingin rasanya dia memeluk wanita yang terlihat lemah di hadapannya itu, namun dia tidak berani melakukanya, dia tidak mau Paula semakin marah padanya.


"Hak sebagi ayah yang ingin tahu cerita bagaimana putranya menghilang begitu saja, bisa kah aku mendengarnya secara langsung dari mu?" lirih Joshep, namun semua kata-kata Joshep barusan masih bisa terdengar jelas di telingan Paula.

__ADS_1


__ADS_2