BELENGGU DENDAM

BELENGGU DENDAM
Tidak layak dimaafkan


__ADS_3

Sampai pagi menjelang, joshep tidak juga kembali ke rumah sakit, Paula merasa khawatir dengan suaminya yang hanya pamitan untuk menyusul Frans ke gudang tua untuk mencari tahu siapa pria yang telah mengancamnya namun semalaman malah tidak kunjung pulang.


Berbagai pikiran buruk kini mampir dan bersarang di kepalanya, terlebih ponsel Joshep juga tidak dapat di hubungi sama sekali membuat Paula merasa yakin jika ada hal buruk yang terjadi pada suaminya itu.


Siang harinya Paula akhirnya memutuskan untuk kembali ke apartemen, selain untuk mengganti pakaian dan membawa beberapa kebutuhan untuk Kevin, dia juga merasa penasaran, barangkali Joshep ternyata ada di sana.


"Josh,,,, apa kamu di rumah? Josh?" panggil Paula saat mendapati ruang tengah apartemen yang dia tempati bersama Joshep terlihat berantakan akibat beberapa botol minuman keras yang kosong bergeletakan di meja dan lantai.


Paula terus memanggil nama suaminya sambil bergerak ke setiap ruangan memeriksa barangkali Joshep memang berada di salah satu ruangan tempat tinggalnya, terlebih, jika bukan Joshep siapa lagi yang bisa masuk ke apartemen mereka dan membuat kekacauan di sana.


Namun tidak ada jawaban meski Paula berkali-kali memanggil nama Joshep, sampai akhirnya dia menemukan Joshep terduduk di bawah sower kamar mandi kamar mereka, entah sejak kapan air pancuran itu terus menyirami tubuh dan kepala Joshep, yang jelas saat ini tubuh Joshep terlihat lemah, dengan bibir yang membiru seperti kedinginan karena terlalu lama di bawah terpaan air, terbukti dengan telapak tangannya yang mulai keriput dan memutih.


"Josh! Apa yang kamu lakukan, apa yang terjadi? Mengapa kamu bisa seperti ini?" teriak Paula panik dan histeris sambil mematikan air lantas membalut tubuh Joshep dengan handuk.


Sementara Joshep yang meski matanya terbuka, dia tetap mengunci rapat mulutnya, dengan pandangan mata yang terlihat kosong entah kemana.

__ADS_1


"Josh, apa yang terjadi? Aku menunggu mu di rumah sakit tapi kamu tidak kembali, kamu juga tidak bisa aku hubungi, ada apa?" tanya Paula lagi, dia terus memberondong Joshep dengan pertanyaan meski Joshep tetap memilih untuk diam.


Paula sibuk menyiapkan baju kering untuk di pakai Joshep dan menggantinya, karena sepertinya Joshep sudah tidak punya tenaga bahkan untuk menggerakan tangannya, sehingga tubuh besar dan kekar itu susah payah di papah oleh Paula ke atas tempat tidur setelah berganti pakaian.


Paula menyodorkan segelas air hangat untuk di minum Joshep, namun tiba-tiba pria itu menepisnya, meski tenaganya belum begitu terkumpul, namun tangannya sukses membuat gelas di tangan paula terjatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping.


"Tinggalkan aku, kamu tidak perlu menghawatirkan aku, kamu tidak perlu merawat ku, aku tidak pantas mendapatkan semua itu!" lirih Joshep.


"Josh, kamu mabuk. Aku akan mengambilkan mu teh madu hangat agar tubuh mu kembali baik,dan setelah itu beristirahatlah. Aku tidak mau kita berbicara saat keadaan mu sedang seperti ini." Paula mencoba bersabar dan tidak mengambil hati dengan apa yang di perbuat Joshep barusan, Paula menganggap jika itu terjadi karena Joshep di bawah pengaruh minuman keras dan dia tidak sadar dengan apa yang di lakukannya, bukankah konyol namanya jika dia harus berdebat dengan orang mabuk yang jelas-jelas kesadarannya tidak ada.


"Tidak perlu! Aku sudah bilang jika kamu tak perlu mengurus ku, aku bahkan tidak akan menahan mu jika kamu ingin pergi jauh dari ku dan membawa Kevin turut serta bersama mu saat dia sembuh nanti." ujar Joshep lagi.


"Josh, tolong hentikan! Kau dalam keadaan tidak sadar sekarang ini, jadi jangan berbicara sembarangan, aku tidak akan pergi membawa anak kita kemana pun, dan aku juga tidak mungkin meninggalkan mu baik sekarang maupun untuk kedepannya, selamanya." ujar Paula mendekat dan duduk di sisi ranjang di mana Joshep berbaring.


Joshep membuang pandangannya jauh-jauh, mendengar ucapan Paula barusan seharusnya dia merasa senang dan tenang, namun saat ini ucapan istrinya itu bak sayatan pisau di dadanya yang terasa perih, bagaimana bisa dia membiarkan Paula tinggal dan hidup selamanya dengan anak dari pembunuh ayahnya itu akan menjadi siksaan batin yang sangat berat untuk Paula.

__ADS_1


"Tapi sepertinya aku tidak pantas untuk menjadi teman hidup mu, aku tidak pantas untuk di cintai oleh mu." kata Joshep lagi dengan suara tercekat menahan sakit di tenggorokannya.


"Kamu bicara apa sih? Kamu ngelantur! Bagaimana baru mengatakan kita tidak pantas sekarang ini, sementara kita saja sudah menikah kembali, apa kamu sudah tidak mencintai dan menginginkan ku lagi?" tanya Paula dengan kedua tangannya dia tangkupkan di rahang berbulu halus Joshep.


Joshep terpejam beberapa detik menikmati sentuhan halus tangan Paula di wajahnya, dia sungguh takut, dia takut jika tangan halus itu tidak dapat lagi di rasakannya di tubuhnya jika Paula tahu cerita tentang Frans yang telah dengan sengaja membunuh ayahnya.


"Aku masih sangat mencintai mu, aku juga masih sangat menginginkan mu, hanya saja aku takut jika kamu membenci ku dan tidak lagi mencintai mu, orang tua ku sudah sangat jahat pada mu." ucap Joshep.


"Josh, kita sudah menutup cerita itu, lagi pula kita sudah bersama lagi sekarang ini, kita saling mencintai, tidak akan mudah bagi siapapun untuk memisahkan kita sekarang ini." Paula mengecup sekilas bibir Joshep yang kini sudah tidak berwarna biru seperti sebelumnya.


"Tapi bagaimana jika orang tua ku ternyata sudah melakukan kesalahan fatal bagi mu, apa kamu masih tetap akan mencintai ku dan masih tetap ingin menjalani hidup dengan ku?" pancing Joshep.


"Kesalahan fatal? Bukannya mereka memang sudah melakukan kesalahan sangat fatal bagi kita, memfitnah ku dan membuat kita terpisah cukup lama, dan beruntung Tuhan masih memberi kesempatan kita untuk bersama, mungkin kita memang jodoh!" goda Paula mencubit gemas hidung mancung Joshep untuk mencairkan suasana.


"Tapi bagaimana jika ternyata benar bahwa ayah ku yang sudah membunuh ayah mu? Apa kamu masih akan tetap pada keputusan yang sama seperti yang kamu ucapkan pada ku tadi?" tanya Joshep akhirnya, dia tetap harus mengatakan kebenaran ini pada Paula, bagaimana pun dia tidk mau menyembunyikan kebohongan besar demi keegoisan dirinya yang tidak mau kehilangan anak istrinya, apapun keputusan Paula, dia akan menerimanya, karena dia sadar jika kesalahan yang di buat oleh keluarganya terkhusus ayahnya memang tidak bisa dan tidak layak untuk di maafkan.

__ADS_1


__ADS_2