
"Atau apa?" tanya Paula penasaran dengan kata-kata Joshep yang menggantung begitu saja membuatnya merasa penasaran.
"Atau--- bagaimana kalau kita menikah lagi saja? Dengan begitu kita mempunyai hak penuh akan Kevin, bahkan orangtuaku tidak akan bisa menggugatnya." usul Joshep yang lebih terdengar seperti ide gila di telinga Paula.
"Me-menikah? Apa kamu gila? Menikah hanya karena ingin melawan orang tua mu dan mendapatkan hak asuh? Menikah bukan mainan!" ujar Paula tidak habis pikir dengan pemikiran konyol Joshep.
"Aku tau, menikah bukan mainan, dan saat ini aku tidak sedang bermain-main, aku sungguh-sungguh mengatakan itu, sepertinya tidak ada cara lain untuk melawan orang tua ku selain itu, mereka pasti mempunyai pengacara hebat untuk melakukan apapun demi merebut Kevin darimu." Joshep besikukuh dengan idenya baginya tidak ada cara lain untuk melawan Frans selain dirinya rujuk dengan Paula.
"Itu ibarat kelua dari kandang macan, tapi masuk ke kandang harimau, Josh! Kamu menghndari pernikahan tanpa cinta dengan Bella, tapi melakukan pernikahan dengan ku yang di mata mu masih sebagai wanita penghianat yang pernah menyakiti mu." kata Paula, dia tidak ingin pernikahan antara dirinya dan Joshep yang kedua kalinya ini berujung dengan kesakitan dan kepediahan seperti pernikahan mereka sebelumnya.
__ADS_1
"Jika begitu peribahasanya, aku rela di kandang dengan harimau cantik seperti mu." goda Joshep.
"Joshep hentikan! Ini bukan saatnya untuk bercanda. Aku memang menginginkan Kevin tetap berada di sisi ku, tapi aku juga tidak mungkin menjerumuskan mu untuk menikahi mu dengan alasan ini, lagi pula aku hanya ingin menikah kembali dengan orang yang benar-benar mencintaiku, sementara kita--- hubungan kita sudh rusak sejak lima tahun yang lalu dna menyisakan kepedihan di hati kita masing-masing, sepertinya kita sudah tidak mungkin." urai Paula.
"Ini bukan tentang memperbaiki hubungan yang rusak, namun tentang aku yang ingin mengajak mu untuk memulai dan menciptakan suatu hubungan yang lebih baik," Joshep mengatakan semua itu dengan nada serius dan berusaha untuk mencoba terus meyakinkan Paula jika dirinya sungguh-sungguh ingin kembali pada Paula, bahkan jika tidak ada kejadian seperti ini pun.
"Aku bisa mengatasi perasaan ku sendiri, aku juga berusaha untuk berdamai juga melupakan apa yang telah terjadi di masa lalu, bukankah waktu akan menyembuhkan luka?" ujar Joshep jujur, dia memang belum sepenuhnya melupakan kejadian kelam lima tahun yang lalu itu, namun dia juga akan berusaha untuk mengubur dalam-dlam semua itu, dan dia memastikan jika itu pasti akan dia lakukan, bukankah memang hanya waktu satu-satunya penyembuh luka hati terbaik?
"Memeluk duri yang melukai untuk penyembuhan diri sendiri itu hanya omong kosong, kamu hanya akan membiasakan diri dengan sakitnya, dan itu sama saja menyiksa diri mu sendiri. Lagi pula--- waktu memang menyembuhkan luka, tapi kamu lupa, jika waktu tidak bisa menghapus bekas luka!" debat Paula.
__ADS_1
"Bukankah itu baik, bekas luka yang tertinggal membuktikan jika aku telah sembbuh dari luka ku, sudahlah, aku bisa mengatasinya. Aku bisa mengatasi perasaan ku sendiri. Percaya atau tidak--- rasa cinta di hati ku juga masih ada untuk mu, itu yang membuat aku tidak pernah membuka hati ku untuk orang lain." Joshep menggenggam kedua tangan Paula berusaha meyakinkan wanita di hadapannya itu agar mau menerima usulnya itu.
"Aku hanya ingin mengambil kembali impian ku yang sempat hilang, aku ingin mewujudkan kembali impian menjalani rumah tangga yang bahagia bersama mu, terlebih kini ada Kevin yang melengkapi kita." sambung Joshep.
Paula terdiam. Dia semakin bingung dan kini dia seperti semakin terpojok denga pilihan yang hanya ada satu yaitu menerima ide Joshep dan tidak ada pilihan lain, dia memang sangat menginginkan Kevin tetap berada di sisinya, dia juga tidak mau merahasiakan selamanya tentang sosok Joshep yang merupakan ayah kandung Kevin, apa mungkin ini jalan dari Tuhan agar dia bisa mengatakan hal itu pada putranya dan sekaligus memberikan keluarga utuh untuk putranya?
Meskipun selama ini Kevin tidak pernah kekurangan kasih sayang dari Adam yang tulus menyayanginya seperti putranya sendiri, namun cepat atau lambat keberadaan Joshep juga harus di sampaikan pada Kevin, karena putranya itu tidak selamanya menjadi anak-anak yang polos dan tidak tau apa-apa, dia akan menjadi dewasa dan mencari tahu jati dirinya yang sesungguhnya.
Sekuat tenaga Paula memagari bahkan membentengi hatinya agar tidak kembali terluka dan memunafikan diri jika dirinya tidak menginginkan kembali bersama Joshep, namun sepertinya Paula lupa, jika Joshep selalu berada di dalam hatinya yang terpagar itu, sehingga dia hanya memagari hatinya hanya untuk orang lain, tapi bukan untuk Joshep, karena sejatinya Joshep tidak pernah pergi kemana-mana dari hatinya.
__ADS_1