BELENGGU DENDAM

BELENGGU DENDAM
Siapa paling menderita?


__ADS_3

"Hak sebagi ayah yang ingin tahu cerita bagaimana putranya menghilang begitu saja, bisa kah aku mendengarnya secara langsung dari mu?" lirih Joshep, namun semua kata-kata Joshep barusan masih bisa terdengar jelas di telingan Paula.


wajah Paula menegang mendengar ucapan Joshep, 'tunggu, apakah dirinya tidak salah dengar? Hak sebagai ayah katanya?'


Willy yang masih berada di sana pun tiba-tiba wajahnya ikut memucat mendengar ucapan lirih Joshep namun terkesan lugas itu.


Joshep menoleh sekilas ke arah Willy, "Apa tugas mu di perbatasan begitu santai sampai kau bisa berjalan-jalan ke sini?" sinisnya.


"Aku sedang mengajukan banding atas kepindahan ku yang sepertinya di karenakan sebuah ke egoisan dan arogansi seseorang yang tidak menyukai ku berada di sini!" jawab Willy tidak kalah sinisnya.


"Hentikan! Tolong jangan membuat kepala ku bertambah pusing dengan perseteruan kalian, Will, aku akan bicara secara pribadi dengan dia, terimakasih sudah banyak membantu ku hari ini!" lerai Paula.


Selain memang kepalanya sedang terasa penat dan tidak ingin menambah kepenatannya dengan pertengkaran Joshep dan Willy, Paula juga tidak mau kalau sampai Willy terlibat lagi dalam urusan pribadi dirinya dengan Joshep yang tidak menutup kemungkinan nantinya akan berimbas pada pekerjaan Willy.


Mengikuti keinginan Joshep untuk berbicara secara pribadi adalah jalan satu-satunya untuk menghentikan pertengkaran Joshep dan Willy agar tidak berkelanjutan, lagi pula dia butuh ruang untuk membahas tentang 'hak ayah' yang tadi sempat di ungkit Joshep.

__ADS_1


"Kita bicara di ruangan ku!" ajak Joshep yang mulai menyadari jika banyak mata yang mencuri pandang dan mencuri dengar pembicaraan dirinya dengan Paula dan juga pertengkaran dirinya dengan Willy.


Paula mengangguk patuh dan mengekor joshep dari belakang, dia juga tidak ingin pembicaraan pribadinya dengan joshep menjadi konsumsi publik nantinya, dan berakhir menjadi gosip yang akan menggelinding bak bola liar dan merugikan banyak pihak.


"Apa kamu mabuk Josh?" tanya Paula seraya tersenyum sinis saat mereka sudah sampai di ruang kerja joshep yang sudah beberapa hari ini tidak di sambangi Joshep, dan di tinggalkan begitu saja setelah pertengkaran tempo hari dengan Paula juga Frans.


Joshep menggeleng "Tidak!" ujarnya tegas.


"Atau kamu menjadi gila setelah beberapa hari ini menghilang dan berhalusinasi jika kamu adalah ayah Kevin?" ejek Paula.


Tadinya Joshep memang akan memendam semua kekecewaan dan semua perasaannya itu di dadanya saja, dari pada memicu kemarahan Bella dan membuat Kevin juga Paula dalam bahaya, namun sekarang dia tidak dapat menahannya lagi, semuanya harus buyar saat mengetahui anak yang belum sempat dia peluk dengan status sebagai darah dagingnya itu justru harus mengilang.


"Siapa yang memberi tahu kabar bohong itu pada mu? Atas dasar apa kamu mengatakan Kevin putra mu?" Paula masih bergeming dengan penyangkalannya, dia tidak mau meng-iyakan begitu saja.


"Hasil tes DNA yang mengatakan itu semua, aku yakin itu bukan suatu kesalahn, apalagi kebohongan, aku sudah melihatnya sendiri." Joshep menyerahkan kertas hasil tes paternitas yang sebelumnya di berikan Bella padanya.

__ADS_1


Kini Paula tidak dapat berkutik lagi, selain hasil tes itu sudah berada di tangan Joshep, dia juga merasa tidak mungkin mengelak atau menyembunyikannya lagi, mungkin ini memang sudah jjalan Tuhan agar semua terbongkar meski dengan cara yang sama sekali tidak di harapkan, Paula hanya bisa mengikuti skenario Tuhan untuk saat ini meski terus terang saja hatinya semakin cemas, dia tidak atau apa yang akan terjadi ke depannya setelah Joshep mengetahui kebenaran ini, namun bukankah semua hanya perlu di hadapi?


"Lantas kau ingin aku melakukan apa? Mengatakan dengan jujur pada Kevin kalau ayah dia adalah seorang dokter hebat bernama Joshep Smith, yang menceraikan ibunya saat dia dalam kandungan? Haruskah aku mengatakan pada nya kalau kakeknya adalah Frans Smith, seseorang yang dia kenal dengan sebutan opa dokter yang sangat baik padanya memberinya mainan yang sangat banyak tapi justru dialah perenggut nyawa opa dia yang yang sesunguhnya? Haruskah aku mengatakan juga pada nya jika opa dokter kesayangannya itu pula yang memisahkan ayah dan ibunya? Lantas kamu pikir apa dia masih sudi memakai nama Smith di belakang namanya? Itu yang kamu mau, huh? Menyiksa batin anak ku?" teriak Paula sambil menunjuk wajah Joshep.


Tidak ada pembelaan sama sekali dari diri joshep, semua yang di katakan paula seribu persen masuk di akalnya, mungkin benar dirinya terlalu egois dan berlebihan menuntut haknya sebagai seorang ayah sementara tidak sedikitpun kewajiban yang dia lakukan untuk Kevin.


"Adam memang tidak punya keterikatan darah dengan Kevin, tapi dia tulus melakukan semua kewajiban seorang ayah yang seharusnya di lakukan oleh mu, dan satu lagi,,, dia tidak pernah menuntut hak apapun atas Kevin, apa kamu tidak merasa malu menutut hak itu? Apa yang sudah kamu berikan, apa yang sudah kamu lakukan untuk Kevin yang kamu sebut putra mu itu? APA!" sambung Paula masih dengan emosi yang memuncak.


"Itu karena aku tidak tahu jika kamu sedang mengandung saat itu, dan kamu pun tidak memberi tahu tentang kehamilan mu," Joshep masih bertahan dengan penyangkalannya.


"Aku juga tidak tahu jika aku sedang mengandung anak mu, aku tau itu saat aku sudah di talak oleh mu, keadaan ku juga kacau saat itu karena aku harus kehilangan ayah ku pada saat yang bersamaan, aku sendirian, menhadapai semua itu, apa kamu peduli pada ku? Bahkan kamu tidak menampakan wajah mu di hari pemakaman ayah ku." Paula terduduk lemas di lantai, tubuhnya meluruh seakan tidak bertulang saat sekali lagi memorinya harus kembali ke masa-masa pahitnya itu.


"A-aku--aku kecewa, aku terluka, aku marah karena kejadian itu. Melihat istri yang aku cintai tengah tidur bersama pria lain, siapapun di posisi ku aku yakin akan merasakan hal yang serupa dengan ku." Joshep membela dirinya.


"Lalu kamu pikir aku tidak marah? Aku tidak kecewa? Aku tidak terluka? Mendapati suami yang di cintainya tidak percaya pada istri yang katanya di cintainya, tanpa meminta penjelasan malah langsung menjatuhkan talak. Dimana keadilan untuk ku saat itu? Dimana suami yang harusnya menjadi pelindung ku justru malah menjadi perundung ku? Masih mau berpikir kalau kamu satu-satunya yang terluka di sini?" paula menengadah mengangkat wajahnya yang berurai air mata menatap mata Joshep yang berdiri sambil membalas tatapannya dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


"Katakan, masih pantaskah kamu meminta hak atas anak mu?" suara Paula tercekat karena dadanya terasa sangat sakit saat mengatakannya.


__ADS_2