
"Tapi bagaimana jika ternyata benar bahwa ayah ku yang sudah membunuh ayah mu? Apa kamu masih akan tetap pada keputusan yang sama seperti yang kamu ucapkan pada ku tadi?" tanya Joshep akhirnya, dia tetap harus mengatakan kebenaran ini pada Paula, bagaimana pun dia tidak mau menyembunyikan kebohongan besar demi ke-egoisan dirinya yang tidak mau kehilangan anak istrinya, apapun keputusan Paula, dia akan menerimanya, karena dia sadar jika kesalahan yang di buat oleh keluarganya terkhusus ayahnya memang tidak bisa dan tidak layak untuk di maafkan.
Paula terdiam sejenak, memberi waktu untuk otaknya mencerna sekali lagi ucapan Joshep dan memastikan jika dirinya tidak salah menangkap maksud kalimat yang Joshep sampaikan padanya.
"M-maksud mu?" tanya Paula dengan kening yang berkerut.
Di tanya seperti itu, kini giliran Joshep yang kembali terdiam, beberapa saat hanya ada keheningan di antara mereka berdua di ruangan itu, jujur saja, meskipun Joshep sudah membulatkan tekat untuk mengatakan kebenaran itu pada Paula, namun ternyata itu tidak semudah yang di pikirkannya. Dia bahkan tidak tahu harus bagaimana dia memulai pembicaraan saat menyampaikan kebenaran itu.
Kata-kata yang sejak kemarin sudah di pilih, di pikirkan di ragkai dalam kepalanya seakan buyar, sementara sisa kata-kata yang siap untuk dia ucapkan justru malah seperti tertahan di tenggorokan dan tidak mampu melewatinya.
"Josh, jika benar apa yang pernah kamu sampaikan pada ku kalau kamu ingin memulai kembali hubungan kita dengan lebih baik, aku rasa--- kejujuran dan keterbukaan adalah kunci utamanya. Aku menunggu mu mengatakan apa yang ingin kamu katakan pada ku." kata Paula setengah mendesak Joshep, karena dia juga sudah muali kehilangan kesabarannya menunggu Joshep mulai bercerita.
__ADS_1
"Pau,,, apa kamu mencintai ku? Apa kamu akan meninggalkan ku jika ternyata benar ayah ku yang menyebabkan ayah mu pergi untuk selamanya?" dengan susah payah Joshep akhirnya mengeluarkan suaranya.
"Katakan pada ku apa yang sebenarnya terjadi!" pinta Paula, dia merasa jika saat ini Joshep sedang menutup-nutupi sesuatu darinya.
"A-aku,,, aku--- aku baru saja mengetahui kebenaran jika ternyata ayah ku telah membuat ayah mu tiada." beber Joshep pasrah.
Air mata Paula tiba-tiba mengalir deras di pipinya, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, dia hanya diam sambil menangis.
"Pau,,, katakan sesuatu, kamu boleh memarahi ku, kamu boleh mencaci ayah ku, kamu boleh mengungkapkannya pada ku, aku bahkan sudah pasrah jika kamu membenci ku dan memilih untuk pergi meninggalkan ku, aku tau apa yang di lakukan ayah ku tidak dapat di maafkan, aku bisa mengerti kamu, Pau." lanjt Joshep.
"Paula,,, bicaralah, maafkan aku. Ini semua terjadi karena aku. Jika aku tidak mencintai mu dan bersikukuh untuk menikahi mu, mungkin itu semua tidak akan terjadi pada ayah mu, aku mnta maaf!" Joshep terus saja berbicara meski tidak ada jawaban selain isak tangis dari Paula.
__ADS_1
"Aku melihat ayah ku kesakitan dan sesak nafas sambil berusaha mengatakan sesuatu di akhir hidupnya, aku bahkan tidak tau apa yang ingin di sampaikannya pad aku, aku hanya bisa menangis dan berteriak memanggil dokter, tidak lama setelah dokter menyatakan jika ayah sudah tidak ada lagi, aku pun tidak ingat lagi apa yang terjadi saat itu, apa yang di buat ayah mu pada ayah ku sampai ayah ku terlihat kesakitan seperti itu? Apa salahnya? Jika hubungan kita yang salah di mata ayah mu, kenapa dia tidak membunuh ku saja, kenapa harus ayah ku?" urai Paula menceritakan kembali kenangan pahit nya di saat-saat terakhir dia bersama ayahnya di rumah sakit lima tahun lalu.
"Paula, sayang,,, kamu boleh membenci ku, kamu boleh menghukum dan melaporkan ayah ku, aku mempunyai bukti rekaman percakapan dia dengan dokter Alex yang menjadi saksi saat itu, aku tidak akan menghalangi mu." kata Joshep seraya memeluk tubuh Paula dengan sangat erat seakan takut jika dirinya tidak dapat lagi merasakan hangat tubuh istrinya itu.
"Apa itu akan membuat ayah ku hidup kembali? Apa jika aku melakukan semua itu maka akan membuat aku tidak merasa sakit dan bersedih?" ucap Paula mengurai pelukan erat Joshep.
"Tapi setidaknya kamu harus mendapatkan keadilan atas ayah mu. Lagi pula ayah ku bersalah, dia melakukan kajahatan, aku tidak akan menghalangi mu jika kamu mau memenjarakannya." pasrah Joshep yang tidak tau lagi harus berbuat apa.
Dalam hal ini Joshep merasa menjadi satu-satunya orang yang paling terpojok, di satu sisi dia ingin tetap memiliki dan bersama Paula, tapi di sisi lain dia juga tidak tega jika Paula harus hidup bersama dengan anak dari pembunuh ayahnya, itu akan menjadi siksaan batin tersendiri bagi Paula tentu saja.
"Aku tidak tahu--- aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang ini, yang aku raskan saat ini justru aku merasa bersalah pada almarhum ayah ku, karena aku dia harus kesakitan sampai meregang nyawa dengan cara yang tragis!" kata Paula.
__ADS_1
"Paula, kamu tidak boleh menyalahkan diri mu sendiri, salahkan saja aku, bencilah aku jika kamu mau, bahkan kamu boleh menghukum ku atas kekejaman ayah ku." jika di waktu yang lalu selalu Paula yang beberapa kali bersimpuh di depan Joshep untuk memohon, kali ini Josheplah yang bersimpuh dan berlutut di hadapan Paula yang tengah terduduk di tepi ranjang.
"Aku bersedia menerima apapun keputusan mu, Paula, tapi aku mohon kamu jangan menyalahkan diri mu sendiri." sambung Joshep dengan mata memohon dan pasrah dengan apapun yang akan menjadi keputusan Paula nantinya untuk dirinya dan juga untuk hunbungan mereka kelak kedepannya.