BELENGGU DENDAM

BELENGGU DENDAM
Perubahan sikap


__ADS_3

"Apa yang sebenarnya terjadi pada anak mu itu, pih?" tanya ibunya Joshep setengah berbisik pada suaminya kala pagi itu melihat Joshep yang lagi lagi sudah berdandan rapi.


Padahal tadi malam dia pulang sangat larut serta dalam keadaan teler berat, sungguh orang tua Joshep kini seolah tidak mengerti dengan apa yang di pikirkan putra semata wayangnya itu, semua serba mengejutkan dan di luar prediksi juga kebiasaan yang biasa di lakukan oleh putranya.


Frans ayah dari Joshep hanya menggeleng saat mendapatkan petanyaan dari Bertha sang istri. Jujur saja dia juga tidak habs pikir dengan semua hal yang akhir-akhir ini Joshep lakukan.


"Dari mana semalam , Nak?" tanya Bertha berbasa basi.


"Dari klub Mih, sekali-kali ingin menikmati hidup biar gak spaneng!" jawab joshep santai.


Bertha mengangguk pelan, dia bukan ibu yang antipati terhadap hal-hal seperti klub malam atau hiburan malam tempat nongkrong anak muda, dia juga termasuk orang tua yang cukup terbuka dengan pergaulan anak jaman sekarang, hanya saja ini seperti di luar kebiasaan Joshep, dia sangat tahu jika putranya jarang sekali masuk ke tempat-tempat hiburan malam jika tidak ada acara khusus, kalau untuk sekedar minum minuman beralkohol, Joshep memang sering meminumnya namun biasanya hanya di rumah saja.


"Apa yang membuat mu spaneng Josh?" Frans ikut menimpali.


"Tidak ada, hanya merasa bosan saja, terlalu lama menganggur tidak bekerja membuat ku spaneng." ujar joshep sambil menyuapkan omelet yang tersaji di hadapannya.


Tentu saja dia tidak akan mungkin mengatakan jika yang membuat dirinya galau dan sampai mabuk-mabukan semalam adalah Paula.


Joshep sangat tahu jika kedua orang tuanya sangat membenci Paula bahkan sampai tidak ingin mendengar lagi nama mantan istrinya itu di sebut di hadapan mereka.


"Aku akan ke rumah Bella dan bertemu dengan ayahnya untuk membicarakan masalah kepindahan tugas ku ke Permata." Ujar joshep.


"Apa yang kamu bicarakan pada ku kemarin di kantor itu serius Josh?" Tanya Frans, dia memang belum membicarakan mengenai kesediaan putranya untuk menggantikan posisinya di Permata, karena dia takut jika ucapan Joshep kemarin hanya ucapan asal-asalan yang bisa saja berubah pikiran lagi, namun mendengar putranya bahkan akan menemui Tuan Mark sendiri, membuatnya terkejut sekali gus merasa yakin jika apa yang di ucapkan Joshep adalah sebuah keputusan yang valid.


"Tentu saja aku serius, apa aku pernah bercanda mengenai pekerjaan?" Jawab Joshep seraya meringsut dari tempat duduknya dan meninggalkan frans juga Bertha yang seakan tidak bisa berkatra-kata lagi saking merasa terkejutnya.

__ADS_1


**


Di rumah sakit Permata,


"Ibu,,, dimana ayah, mengapa dia tidak pernah menjenguk ku lagi? Apa ayah sudah kembali ke kebun sawit?" tanya Kevin yang tidak pernah lagi melihat kehadiran Adam di sana semenjak dirinya pindah ruangan.


Adam memang di minta Paula untuk kembali ketempat kerjanya dan menjaga Evelin saja, sampai Evelin melahirkan dan jika keadaan sudah memungkinkan baru Adam boleh mengunjungi Kevin lagi, Paula tidak mau putranya menjadi beban untuk Adam sehingga membuat pria baik hati itu kebingungan memilih antara mengurus Kevin atau menjaga istri dan calon bayinya.


"Ayah sudah kembali ke kebun untuk bekerja sayang, nanti dia akan datang lagi ke sini untuk mengunjungi mu, mengunjungi kita." Kata Paula berusaha menjawab dengan se santai mungkin berusaha membuat Kevin percaya dengan jawabannya.


"Kata dokter Willy, aku akan segera di operasi, apa ayah akan menemani saat aku menjalani operasi?" Tanya Kevin lagi.


"Ya, ayah akan menemani mu, sekarang ayah harus mencari uang untuk biaya operasi mu, jadi sebaiknya kita tidak mengganggu ayah dulu." ujar Paula.


Sebelum pergi, Adam menyerahkan sejumlah uang, katanya itu tabungannya selama bertahun-tahun dan memang dia menabung untuk biaya operasi Kevin, saat itu Evelin juga mengatakan pada Paula jika dia setuju memberikan uang itu pada Kevin.


Meski saat itu Paula menolaknya setengah mati, karena merasa jika Adam dan Evelin juga membutuhkan uang itu untuk biaya persalinan dan juga biaya anak mereka kelak, namun semua itu sia-sia saja, Adam dan Evelin bahkan mengancam akan memutus hubungan persaudaraan dengannya jika Paula tidak mau menerima uang pemberian mereka.


Uang yang di berikan Adam memang lumayan banyak, namun jika di gunakan untuk biaya operasi Kevin tetap masih kurang banyak, terlebih sebagian uangnya juga sudah di pakai untuk membayar biaya ruang rawat vip yang sekarang ini mereka tempati, bagaimana pun, kesehatan mental Kevin tetap harus di utamakan, dia tidak mau Kevin mendengar hal-hal yang buruk tentang Adam dari gosip yang setiap saat menjadi pembicaraan hangat oleh orang tua teman sekamarnya di bangsal sebelumnya. Beruntung Willy bersedia meminjamkan kartu fasilitasnya sehingga biaya ruang vip ini menjadi lebih ringan dan hanya selisih sedikit dari ruang rawat sebelumnya.


"Kalau ayah tidak menemani ku saat operasi, lebih baik aku tidak usah di operasi saja!" Kevin mencebikkan bibirnya.


"Siapa yang tidak mau operasi? Apa Kevin tidak ingin sembuh? Apa Kevin tidak mau melihat ibu bahagia? Apa kevin tidak ingin main bola dan berlarian dengan anak-anak lain nantinya?" Willy tiba-tiba muncul dari balik pintu.


"Aku mau melihat ibu bahagia, aku mau bermain bola dan berlarian dengan teman-teman ku, tapi aku juga mau ayah menemani saat aku operasi." rengek Kevin.

__ADS_1


"Kalau ayah Kevin sibuk dan tidak bisa menemani, bukankah dokter Willy bisa menggantikan ayah mu untuk menemani mu?" Ujar Willy sembari memeriksa selang infus Kevin dan memeriksa keadaan Kevin.


"Tidak mau, ayah ku tidak boleh di gantikan oleh siapapun, aku hanya mau di temani ayah ku!" tolak Kevin sedikit berteriak dengan kesal.


"Kevin, tidak baik berbicara seperti itu pada Dokter Willy, cepat minta maaf!" Tegas Paula yang meskipun dia sangat memanjakan Kevin, namun untuk urusan sopan santun dia tidak bisa toleransi, dia akan bersikap sangat tegas jika putranya itu bersikap tidak sopan.


"Aku mau menelpon ayah!" teriak Kevin lagi mengabaikan perintah ibunya yang meminta dirinya untuk meminta maaf pada dokter Willy.


"Kevin! Ibu tidak suka kamu bersikap tidak sopan seperti itu, cepat minta maaf!" perintah Paula sekali lagi dengan suara agak tinggi.


Namun alih-alih menuruti perintah ibunya, Kevin malah menutup seluruh tubuhnya dengan selimut sehingga dirinya bersembunyi di balik selimut.


"Kevin!" teriak Paula lagi.


"Paula, sudahlah, jangan di perpanjang. Dia masih anak-anak, jangan terlalu keras padanya." Willy memegang lengan Paula seraya melarangnya untuk memarahi Kevin lebih jauh lagi.


Paula bergegas keluar ruangan, dia menarik nafasnya berulang kali dan menenangkan dirinya, entah mengapa semenjak mereka pindah ke ruangan lantai 6 ini emosi Kevin selalu tidak terkendali, bocah laki-laki yang dulunya sopan, ramah, manis dan penurut itu kini berubah menjadi agresif, pemarah dan pemberontak, selalu ada saja sikapnya yang membuat Paula emosi, entah itu tidak mau minum obat, menolak di periksa dokter, bahkan pernah menendang salah satu perawat sampai pinggulnya lebam karena terbentur ujung ranjang, sehingga membuat perawat wanita itu tidak mau lagi datang ke ruangan Kevin.


Saat Kevin di tanya mengapa dia menendang perawat itu, bocah laki-laki itu hanya menjawab jika dia tidak suka dengan perawat itu, tentu saja Paula sangat geram, karena selama ini Kevin tidak pernah kasar pada siapapun, bahkan pada anak yang sering menakalinya di sekolah, biasanya dia hanya membiarkan dan memilih untuk menghindar dari pada melawan.


Willy mendekati Paula dan mengusap bahu wanita yang tanpa di sadari meneteskan air matanya karena merasa sangat sedih harus menghadapi semuanya sendirian.


Memikirkan biaya operasi yang masih kurang banyak, memikirkan perubahan sikap Kevin, semua itu harus dia tanggung sendirian membuat terkadang dirinya merasa lelah dan ingin menyerah.


"Jangan menahan semua beban di dada mu, menangislah, karena terkadang menangis bisa menjadi obat terbaik dalam penyembuhan luka hati mu, aku bersedia menjadi tempat sampah mu, mendengarkan semua keluh kesah mu, menangis dan berceritalah, biar dada mu terasa lega!" kata Willy.

__ADS_1


__ADS_2