
Kaki Paula bergetar hebat saat dirinya kembali harus menginjakkan kakinya di rumah sakit dimana tempat ayahnya menghembuskan nafas terakhirnya lima tahun lalu.
Kota ini terlalu banyak menyimpan kenangan buruk baginya, di kota ini rumah tangganya kandas, di kota ini dia kehilangan orang-orang yang di cintainya, kembali ke sini setelah lima tahun dia berusaha melupakan masa-masa pahit itu rasanya sangat berat sekali, apalagi harus kembali mendatangi rumah sakit ini, membuat emosinya seakan di aduk-aduk kembali karena kenangan-kenangan pahit itu bermunculan silih berganti di kepalanya.
"Ada yang bisa saya bantu Nona? Apa anda merasa pusing?" Seorang dokter pria menghampiri Paula yang sedang berpegangan tembok sambil memejakan matanya, kakinya sungguh tidak bisa di ajak kompromi, terasa lemas dan bergetar di saat yang tidak tepat, di saat dirinya harus segera menemui Kevin.
"Aku--aku hanya merasa sedikit pusing, mungkin karena kelelahan akibat perjalanan jauh." Jawab Paula seraya mengangkat wajahnya melihat siapa yang sedang mengajaknya bicara.
"Paula? Apa kamu Paula Thompson?" Tanya dokter muda itu lagi sembari memperhatikan wajah Paula dengan seksama.
"Willy?" gumam Paula, seraya membaca name tag yang tersemat di jubah putih pria yang sedang menyanyainya itu, takutnya dia salah mengenali orang, namun ternyata benar, nama Willy Poulter tertulis di sana, berarti dia tidak salah mengenali orang.
Lama sekali rasanya tidak ada yang memanggil namanya dengan nama belakang ayahnya, Eddy Tompson, biasanya hanya teman-teman sekolah saja yang memanggilnya sepeti itu, apalagi semenjak dia pindah ke desa, orang-orang lebih mengenalnya dengan sebutan Paula Hill atau Nyonya Hill, agak terdengar aneh saat ada yang memanggilnya dengan nama Paula Thompson.
"Ya, ini aku. Ayo aku bantu kamu berjalan, apa yang terjadi? Maaf, terakhir aku mendengar kabar kalau kamu dan Joshep sudah bercerai, aku tadinya tidak percaya hal itu, namun saat mendengar Joshep menjalin hubungan dengan anak pemilik rumah sakit ini, aku mulai percaya jika kabar yang aku terima itu benar." Ujar Willy membuka pembicaraan meski itu terkesan agak langsung masuk ke privacy Paula.
Willy adalah teman masa sekolahnya dulu, dia satu tahun lebih senior di banding dirinya dan juga Joshep, namun karena kecantikan dan kepintaran Paula saat itu, menjadikan Paula populer tidak hanya di antara teman seangkatannya saja, namun juga di antara kakak dan adik kelasnya di sekolah.
"Bella?" Ujar Paula.
"Kamu tau?" Willy terheran.
"Tentu saja, mereka terlihat serasi, kok. Mungkin antara aku dan Joshep tidak berjodoh, hehe. Apa kau mengenal baik Bella?" Kata Paula berusaha santai.
"Siapa yang tidak kenal dengan anak pemilik rumah sakit dan yayasan terbesar di tanah air, namun ya,,, hanya sebatas tau, dia mungkin tidk akan tahu aku, hahaha!" seloroh Willy.
Paula hanya menanggapi selorohan Willy dengan senyuman tipisnya, cukup melegakan baginya Willy tidak mengenal Bella secara pribadi, itu berarti Willy tidak mungkin menceritakan hubungan dirinya dengan Joshep pada Bella, lagi pula tidak banyak yang tahumengenai pernikahannya dengan Joshep, teman-teman sekolahnya hanya tahu mereka berpacaran dan tidak sampai menikah karena Joshep yang harus kuliah di luar negeri.
__ADS_1
"Will, apa aku boleh meminta satu hal dari mu?" tanya Paula.
"Apa itu?" Willy mengangkat sebelah alisnya.
"Jangan beritahu siapapun mengenai pernikahan ku dengan Joshep, apalagi pada Bella, aku tidak mau merusak hubungan mereka, karena sepertinya Bella tidak tahu mengenai hal itu, jikapun Bella harus tahu, biarlah Joshep yang memberi tahunya." Ujar Paula.
Willy mengangguk, "Hemmh,, tenang saja, aku bisa menjaga rahasia dengan baik, tapi ngomong-ngomong, ada apa kamu dtang ke sini, siapa yang sakit?"
"Putra ku. kebetulan dia sedang di rawat di sini." jawab Paula.
"Putra mu? Kamu sudah menikah lagi?" kaget Willy, setahu dirinya pada saat Paula dan Joshep berpisah mereka belum memiliki anak, tadinya saat tahu Paula sudah berpisah dengan Joshep dia pikir akan ada kesempatan untuk nya mendekati Paula, wanita yang sejak dulu di taksirnya itu.
Paula hanya menjawab pertanyaan Willy dengan senyuman dan anggukan kecil.
"Ruang apa? Kebetulan aku dokter anak di sini." Willy terlihat antusias.
"Bangsal 3." Ujar Paula singkat.
"Kevin, Kevin Hill." singkat Paula lagi.
"Kevin Hill bocah laki-laki yang menderita kelainan jantung bawaan itu?" tanya Willy yang kemudian di angguki Paula.
"P-pria--- apa pria yang bernama Adam Hill yang setiap hari menunggui putra mu itu suami mu?" Tanya Willy ragu-rahu.
"Hemhh,, kalau, kamu ingin mengatakan jika wajah nya sangat beda dengan putra ku , kamu adalah orang yang ke seribu sekian mengatakan itu, yang jelas Kevin mirip dengan ku!" ujar Paula yang mengira jika sikap Willy itu karena merasa tidak percaya jika Kevin merupakan anak dari Adam, secara wajah Adam dan Kevin sungguh jauh berbeda dan tidak ada mirip-miripnya sama sekali, jika Kevin berkulit putih dan berambut coklat lurus, sementara Adam berkulit gelap dan berambut hitam ikal.
Tapi ya tentu saja akan berbeda, jelas-jelas Adam bukan ayah biologis Kevin, hanya saja rasa sayangnya yang tulus melebihi rasa sayang seluruh ayah di dunia ini pada Kevin.
__ADS_1
"Bu-bukan begitu, apa suami mu menunggui putra kalian sendirian atau ada saudara lain yang menemani?" tanya Willy lagi.
"Kami tidak punya saudara lain, kami sama-sama yatim piatu dan tidak punya saudara, dia menunggui Kevin seorang diri, karena kemarin aku ada sedikit urusan pekerjaan," terang Paula.
"O,,," Willy hanya membulatkan bibirnya.
"Ayo aku kenalkan kamu pada mereka!" ajak Paula saat mereka berada di depan pintu bangsal 3.
"Ti-tidak us--"
Belum sempat Willy menolak permintaan Paula, pintu terbuka dari dalam, "Dokter Willy, kebetulan sekali, anak saya tiba-tiba demam kejang lagi!" ujar seorang ibu dengan panik.
Di ruangan bangsal itu memang di isi oleh 4 anak, Adam tidak mampu membayar biaya rawat inap Kevin yang privat seperti di rumah sakit sebelumnya, sehingga Kevin terpaksa harus bersatu dengan pasien anak lainnya.
Willy langsung berlari ke dalam ruangan, memeriksa pasien yang di maksud ibu tadi.
"Ibu,,,!" Panggil Kevin, saat dia melihat Paula muncul dari balik punggung Willy.
"Hai sayang. Ibu sangat merindukan mu, maaf ibu baru bisa datang menemui mu, ibu harus menyelesaikan pekerjaan ibu terlebih dahulu." Paula berhambur ke sisi ranjang Kevin, memeluk dan menciumi wajah putranya yang beberapa hari ini tidak bisa di temui nya itu.
Sementara Willy langsung menangani pasien yang berada tepat di sebelah kiri ranjang Kevin.
Perhatiannya bahkan kini terbagi antara menangani pasien dengan mendengarkan obrolan Paula bersama Kevin dan Adam, untunglah setelang di tangani beberapa saat, kondisi anak itu kembali stabil.
"Will, kenalkan, ini--" panggil Paula pada Willy yang sudah beres menangani pasiennya.
"Tuan Adam Hill, kami sudah beberapa kali bertemu, tuan, istri anda ternyata adik kelas ku saat sekolah dulu, dia sangat populer dulu, banyak yang menginginkannya, bahkan mungkin sampai sekarang masih banyak pria yang mengharapkan cintanya, jadi aku rasa karena anda telah menjadi pria beruntng yang mendapatkannya, aku harap jangan pernah mengecewakan atau menghianatinya, karena jika tidak, akan banyak pria yang siap megusap air matanya lantas memeberikan segenap hatinya untuk istri anda!" Ujar Willy terdengar dingin.
__ADS_1
"Will,, apa maksud mu, kenapa kamu berbicara seperti itu, aku sudah bersuami, aku tidak berniat menambah suami, haha," canda Paula.
"Aku percaya, karena kamu wanita yang baik dan setia, semoga anda juga tidak berniat untuk menambah istri Tuan Hill!" Willy tersenyum dingin ke arah Adam yang hanya mengangguk sambil membals senyum dingin Willy dengan senyum hangatnya.