
"Anak anda pasti sangat beruntung mempunyai ayah seorang dokter hebat seperti anda, jika dia sakit anda pasti akan segera mengobatinya, andai ayah ku seorang dokter, dia pasti akan menyembuhkan ku." ujar Kevin lirih.
"Bukan kah kamu bilang ayah mu itu ayah yang paling hebat? Tidak perlu menjadi dokter untuk menjadi seorang ayah yang hebat, dia hanya perlu menyayangi dan melindungi anaknya sepenuh hati." Joshep mengusap lembut kepala kevin.
Drrrt,,,
Seperti ada aliran listrik yang menjalar ke tangannya saat dia mengelus kepala Kevin, ada getaran dan perasan yang tidak bisa dia gambarkan dan belum pernah dia rasakan sebelumnya, perasaan itu terasa asing dan aneh, seperti perasaan cinta dan ingin melindungi namun rasanya tidak sama seperti saat dia merasakan cinta pada Paula dulu, namun rasanya bisa di katakan hampir mirip dengan saat dia merasakan cinta pertamanya pada Paula, hatinya terasa hangat dan bergetar, lantas saat bersentuhan fisik membuatnya terasa seperti tersengat aliran listrik.
Kevin tertunduk, wajahnya tiba-tiba terlihat murung, "Iya, sebelumnya ayah ku memang paling hebat, tapi---"
Ucapan Kevin harus terhenti karena Paula sepertinya mulai siuman, erang-an Paula mengalihkan perhatian Joshep yang sebelumnya tengah mendengarkan curhat Kevin kini beralih pada Paula.
"Oh,,, ini dingin sekali!" ringis Paula melirik kaki kanannya yang terasa sangat dingin akibat kompes es yang Joshep tempelkan untuk meredakan pembengkakan di pergelangan kakinya.
"Jangan banyak bergerak, biarkan itu tetap berada di sana, kau tidak ingin kehilangan kaki mu karena tidak menuruti ku, bukan?" ancam Joshep menakut-nakuti.
"Ibu, menurutlah pada Dokter Smith, aku tidak mau ibu kehilangan kaki, nanti ibu akan kesulitan jika akan mengajak ku berjalan-jalan di taman." Kevin yang menganggap serius ancaman yang di lontarkan oleh Joshep pada Paula, membuat Joshep menahan senyumannya.
"Ish,,, mana ada keseleo membuat orang kehilangan kaki!" dengus paula.
__ADS_1
"Jangan menyepelekan penyakit sekecil apapun, lihatlah, pergelangan kaki mu kini semakin membengkak, dan mengakibatkan kau demam tinggi seperti ini." kata Joshep.
"Aku tidak apa-apa," Paula berusaha untuk bangun dari sofa.
"Berbaring dan beristirahatlah dahulu," Joshep menahan bahu paula agar tetap berbaring di sana.
"Aku baik-baik saja, aku hanya kelelahan. Aku baik-baik saja sekarang." Ujar Paula lagi, menyingkirkan tangan Joshep dari bahunya, "Oh tidak, ini sudah lewat tengah malam, kenapa anda masih berada di sini?" sambung Paula saat dia melirik jam yang menempel di dinding kamar yang menunjukkan waktu sudah pukul 4 dini hari.
"Ibu,,, aku yang meminta dokter Smith untuk datang membantu ibu saat tadi pingsan, dokter Smith juga yang merawat ibu, lantas menemani aku, bukankah seharusnya ibu mengucapkan terima kasih pada dokter Smith?" ujar Kevin.
"Ah, itu-- kebetulan tadi aku sedang lewat di sekitar sini dan bertemu Kevin yang meminta pertolongan karena melihat ibunya tidak sadarkan diri," sambar Joshep sambil mengedipkan matanya ke arah Kevin seraya memberi kode agar bocah itu tetap merahasiakan jika mereka sering berjumpa dan berkomunikasi tanpa sepengetahuan Paula.
"Ish,,, amit-amit! Apa anda sedang mendoakan hal buruk terjadi pada ku? Sebaiknya anda menjaga perkataan anda di depan anak kecil." Paula membaringkan kembali tubuhnya di sofa dan memunggungi Joshep.
Sementara Joshep kembali duduk di kursi yang berada samping ranjang Kevin, dia merasa penasaran dan tertarik dengan kalimat Kevin yang sempat terpotong tadi saat membicarakan masalah Adam, namun ternyata Kevin kini telah terlelap, sepertinya bocah itu menahan kantuknya sejak tadi, namun setelah memastikan ibunya baik-baik saja akhirnya dia dapat tertidur dengan pulas.
Tepat pukul tujuh pagi, Joshep meninggalkan ruang rawat kevin, dia juga sudah membelikan sarapan untuk Paula dari kantin.
"Dari mana saja kamu? Kenapa tidak mengangkat telpon dan membalas pesan ku semalaman?"
__ADS_1
Baru saja Joshep membuka pintu ruangannya, Bella sudah menodongnya dengan beberapa pertanyaan, entah sejak kapan calon tunangannya itu berada di ruang kerjanya.
"Emhh, ada beberapa hal yang harus aku kerjakan, dan aku tidak menyadari jika aku mengerjakannya sampai sangat larut, jadi aku memutuskan untuk menginap saja. dan semalaman aku tidak mengecek ponsel ku, maaf." Jawab Joshep santai, meskipun dia sedikit terkejut dengan keberadan Bella yang tiba-tiba berada di sana, namun Joshep masih bisa menguasai dirinya dan membuat semua yang di lakukanya semalam seolah benar-benar hanya tentang pekerjaan, dan tidak lebih.
"Ponsel mu di meja seperti ini, masa sampai gak denger aku telpon puluhan kali!" Bella menunjuk ponsel Joshep yang memang tergeletak di meja kerjanya karena semalam dia lupa untuk membawanya, saking panik dan terburu-burunya dia.
Joshep hanya mengangkat bahunya dan tidak berusaha menjelaskan apapun, tidak mungkin juga kan, kalau dia mengatakan dengan jujur pada Bella jika dirinya menunggui Paula dan Kevin semalaman.
"Kamu itu di sini direktur sayang, kenapa harus mengerjakan semuanya sendirian, apa yang kamu kerjakan? Kamu punya banyak staf dan bawahan yang bisa kamu tugaskan, jangan menyiksa diri mu sendiri." Bella mendekat dan memeluk joshep.
"Emhh,, baju ku kotor. aku akanmandi dan ganti baju lalu kita cari sarapan bersama," Joshep mengurai pelukan Bella, lantas berjalan ke arah lemari di pojok ruangan dimana dia menyimpan beberapa baju gantinya, dan bergegas menuju kamar mandi yang juga tersedia di ruang kerjanya yang luas dan serba mewah itu.
Sampai saat ini Joshep masih merasa belum nyaman dan tidak terbiasa dengan sentuhan dan kontak fisik lainnya dengan Bella, hatinya masih sering menolak meski dia sudah berulang kali berusaha untuk terbiasa dengan itu.
Raut wajah Bella berubah asam saat Joshep sudah masuk ke dalam kamar mandi, sikapnya sudah tidak semanis saat tadi dia berhadapan dan berbicara dengan Joshep, dia mengeluarkan ponselnya lantas menghubungi seseorang yang namanya berada di daftar teratas kontaknya.
"Hallo, aku akan menemui mu dan memberikan hadiah untuk mu, karena apa yang kau katakan semua benar, aku akan mengatur waktu untuk kita bertemu, jangan lupa aku perlu informasi lebih banyak lagi tentang dia dan imbalan yang akan kau terima akan lebih besar lagi." Kata Bella terdengar sangat serius, lantas mengakhiri pembicaraannya dengan segera seperti tidak ingin Joshep mendengar pembicaraannya.
"Aku sudah curiga dari awal, kalau hubungan mereka tidak se-sederhana itu, tidak ada yang boleh mengusik milik ku, dasar wanita murahan, Paula, awas saja,,, aku akan segera mengusir mu dari kehidupan Joshep sebelum nantinya kau menjadi penghalang pertunangan ku." geram Bella menahan marah.
__ADS_1