BELENGGU DENDAM

BELENGGU DENDAM
Belajar bersabar


__ADS_3

"Aku sudah memutuskan, kalau aku akan melawan ayah ku, kali ini tindakannya sudah sangat keterlaluan, dia memfitnah mu dengan sangat kejinya, entah apa yang dia inginkan, namun yang jelas aku tidak akan diam saja dengan semua ini. Aku akan menuntutnya atas fitnah yang dia sampaikan di media tentang mu yang menjadikan mu publik enemy sekarang ini." kata Joshep dengan penuh keyakinan dan percaya diri.


"Tapi---" ujar Paula lirih dan tampak seperti ragu.


"Ada apa? Aku tau kita sudah sepakat untuk tidak membalas perbuatan masa lalu ayah ku pada mu, namun ini beda cerita, aku sudah tidak bisa mendiamkanya lagi, dia akan menjadi semakin menggila jika kita hanya diam." Joshep sepertinya kali ini tidak setuju dengan sikap baik hati Paula saat ini.


Tindakan ayahnya kali ini sudah melampaui batas kesabaran Joshep, sehingga dia tidk ingin berdiam diri lagi untuk menghadapi serangan ayahnya.


"Aku tau kamu punya bukti-bukti yang akan memberatkan dia, bahkan akan menjebloskan dia ke penjara, tapi--- apa kamu yakin jika kita akan merasa bahagia kalau berhasil melawan ayah mu dan mengalahkannya?" tanya Paula masih dengan keragu-raguannya.


"Tentu saja, lagi pula aku bukan berbahagia karena melawan dan mengalahkannya, namun aku hanya ingin memperjuagkan kebahagiaan keluarga kecil ku, kebahagiaan kamu dan Kevin, karena kebahagiaan ku saat ini adalah ketika melihat kalian berbahagia." kata Joshep dengan pandangan mata yang sangat dalam memandangi wajah Paula yang sepertinya masih tidak setuju dengan keinginan Joshep.

__ADS_1


"Aku tidak ingin berbahagia dengan cara menyakiti orang lain, meski orang itu telah menyakiti kita dengan begitu kejamnya, aku hanya tidak mau menularkan rasa sakit seperti yang pernah aku rasakan ini pada orang lain, karena aku yakin jika itu tidak akan menjadi lebih baik." ujar Paula berhati-hati dalam mengemukakan pendapatnya yang bertentangan dengan keinginan Joshep yang berniat untuk melawan ayahnya sendiri.


"Lantas, apa kita akan membiarkan saja bola api yang di ciptakan ayah ku ini menggelinding dengan liar? nama mu sudah sangat buruk di mata publik saat ini, aku harus memulihkan nama baik mu." keukeuh Joshep.


"Aku tidak perlu di anggap baik oleh mereka atau siapapun, selama kamu dan Kevin masih di sisi ku dan menganggap ku wanita terbaik untuk kalian, aku tidak memerlukan apapun lagi. Untuk sementara, aku minta kita abaikan saja, aku ingin kita fokus pada pemulihan putra kita saja, itu lebih penting dari apapun." kata Paula.


Joshep meraup wajahnya dengan kasar, sungguh terkadang emosi bisa membuatnya melupakan segalanya, benar kata Paula, jika saat ini yang lebih membutuhkan perhatian adalah Kevin, fokus pemulihan putra mereka akan terbagi jika dirinya mengurusi menanggapi ocehan Frans, lagi pula, istrinya terlihat tidak terlalu terganggu dengan penggiringan opini publik yang Frans lakukan, ya,,, setidaknya hal itu bisa membuat hati Joshep sedikit lega.


"Baiklah, untuk kali ini aku akan mengikuti saran mu lagi, tapi jika kamu merasa ini membuat mu sakit atau tertekan, kamu harus mengatakannya pada ku, jangan menyimpannya dalam hati mu sendiri." Joshep lagi-lagi akhirnya mengalah pada keputusan yang di buat Paula, anggap saja hal ini sebagai ajang untuk dirinya belajar lebih sabar dalam menghadapi masalah, toh tidak ada buruknya juga bukan, menjadi orang sabar?


"Hanya kata-kata tidak akan membuat kita berdarah-darah, hadapi dengan tenng dan kepala dingin, bagaimana pun yang kita hadapi ini adalah kakeknya Kevin, ayah mu." kata Paula.

__ADS_1


Joshep hanya mengangguk pasrah, tidak dapat dia gambarkan, bagaimana perasaan malu dan perasaan mersalahnya pada paula akibat kelakuan ayahnya ini.


**


"Hahaha,,,, apa otak mu sudah mulai waras, sampai akhirnya memilih untuk kembali ke rumah ini? Atau jangan-jangan,,, wanita itu sudah menendang mu setelah menguasai apartemen juga harta mu, dan setelah menghancurkan karier juga hidup mu?" tawa Frans saat pagi itu Joshep menghampirinya di rumah.


Sudah lama rasanya Joshep tidak pernah pulang, bahkan Frans sudah kehilangan harapan jika putra satu-satunya itu akan kembali ke kediaman mereka, bahkan hanya untuk menengok dirinya dan juga istrinya yang merupakan orang tua Joshep.


"Pih, aku mohon, hentikan semuanya sekarang juga, jangan ganggu keluarga kami lagi. Kami sudah sangat bahagia bisa bersatu kembali." kata Joshep dengan wajah yang tampak serius.


"Aku tidak akan berhenti selama kau masih memilih wanita itu sebagai pendamping mu. Aku dan ibu mu tidak akan pernah menerima nya sampai kapan pun!" sinis Frans.

__ADS_1


"Pih, aku kini seorang ayah,,, aku tau apa yang anda lakukan semata untuk kebaikan ku, kebahagiaan ku, karena aku pun menginginkan hal yang sama, kebahagiaan untuk anak ku, tapi percayalah pih, aku benar-benar sudah sangat bahagia hidup bersama anak dan istri ku, jika papih terus menyerang Paula, itu sama saja papih menghancurkan ku, karena aku lebih merasakan sakit dai banding Paula akibat ulah papih itu, aku sudah sangat bahagia pih, tolong jangan rusak kebahagiaan ku." mohon Joshep dengan tatapan mata yang mengiba, mencoba berbicara dari hati ke hati dengan ayahnya.


__ADS_2