BELENGGU DENDAM

BELENGGU DENDAM
Opa dokter


__ADS_3

"Terimakasih atas informasi yang kau berikan, tunggu bonus dari ku akan segera kau terima minggu depan." Bela berjabatan tangan dengan seseorang yang sejak tadi berbicara dengannya di sebuah kaffe.


"Sama-sama, senang berbisnis dengan anda, tenang saja, saya akan memberi anda informasi yang up to date jika sudah ada perkembangan lagi." jawab lawan bicara Bella dengan senyum penuh kepuasannya.


Saat ini yang ingin Bella lakukan adalah pergi ke rumah calon mertuanya, setelah mendapat informasi jika Frans dan Bertha sangat membenci Paula dulu, Bella ingin segera membentuk koalisi dengan calon ibu dan bapak mertuanya itu, jika dirinya tidak hanya bergerak sendirian mungkin tingkat keberhasilan untuk mengusir Paula dari kehidupan Joshep untuk selamanya akan lebih mudah.


**


Paula termenung di ruang administrasi, tadi pagi ada panggilan dari pihak rumah sakit terkait administrasi Kevin, padahal biaya rawat Kevin sudah di selesaikan, namun ternyata untuk perpanjangan biaya rawat Kevin kini tidak bisa lagi menggunakan kartu fasilitas milik dokter Willy, karena dokter Willy sudah tida bertugas di rumah sakit permata lagi, sehingga biaya ruang rawat inap Kevin harus di bayar secara penuh untuk biaya selanjutnya dan biaya rawat inap di lantai 6 itu bukan main mahalnya, membuat Paula kini kebingungan.


Uang yang di berikan Adam padanya memang masih tersisa, namun itu cadangan untuk biaya operasi Kevin, bahkan itu pun masih kurang, sementara biaya rawat pun kini harus di bayar penuh tanpa ada potongan lagi.


Memindahkan Kevin ke ruangan biasa seperti sebelumnya juga paula merasa tidak tega, terlebihdia juga takut jika gosip mengenai dirinya beberapa waktu lalu belum benar-benar hilang dari orang-orang, sehingga gosip itu nanti akan sampai ke telinga Kevin dan mempengaruhi kesehatan fisik dan juga mentalnya, namun sepertinya tidak ada pilihan lain selain memindahkan ruang rawat Kevin dan dia akan membicarakannya terlebih dahulu dengan putranya itu.


Dalam kegalauan hati Paula, dia kembali ke ruang rawat Kevin dengan membawa segumpal kegelisahan, entah dengan cara bagaimana dia harus menyampaikan berita ini, apalagi saat dirinya masuk ruangan, Kevin seperti terlihat bahagia karena sedang menonton film kartun di ruangannya, dia merasa gagal menjadi ibu karena tidak mampu memberikan kebahagiaan bagi putranya, bahkan kini dia harus tega merenggut kebahagiaan putranmya dengan memindahkan Kevin ke ruang rawat seperti sebelumnya dimana semua fasilitas yang saat ini di nikmati Kevin tidak akan dia dapatkan lagi.


"Nak, apa kita bisa bicara sebentar?" ujar Paula.


"Apa ibu sudah berbicara pada ayah untuk datang menemui ku?" Kevin balik bertanya, matanya masih tertuju pada layar televisi dan tidak sedikit pun beralih.


Klik!


Paula mematikan televisi karena merasa Kevin tidak bisa di ajak berbicara, "Kevin, ibu sedang berbicara pada mu, kenapa kamu sekarang menjadi sulit di atur dan selalu membantah ibu?"


"Kembalikan remote itu bu, aku ingin menonton televisi," Kevin menengadahkan tangannya dan mengabaikan pembicaraan ibunya.


"Kevin! Ibu ingin berbicara dengan mu, ini penting." suara Paula terdenngar lebih lugas dari sebelumnya.


"Aku tidak mau berbicara dengan ibu, sebelum ayah datang menemui ku." Kevin menyilangkan kedua tangannya di dada, kondisi anak itu sudah semakin membaik dan tangannya tidak lagi di hiasi dengan selang infus.


Kevin kini hanya menunggu observasi lanjutan oleh dokter dan menentukan jadwal operasi jantung jika semua sudah siap termasuk kondisi tubuh Kevin dan juga biaya yang harus di penuhi Paula.

__ADS_1


"Kevin, dengarkan ibu! Kita harus pindah ruangan lagi ke ruang rawat sebelumnya, uang ibu tidak cukup untuk membayarnya." ujar Paula.


"Tidak, aku tidak mau pindah ke sana lagi, banyak orang jahat di sana, jika uang ibu tidak cukup untuk biaya pengobatan ku, maka lebih baik kita pulang saja!" tolak Kevin, bocah itu masih memalingkan wajahnya dan tidak mau bersitatap dengan sang ibu.


"Kevin, tolong mengertilah, patuhlah pada ibu, hanya beberapa hari saja sampai kamu di operasi." Bujuk Paula lagi.


"Aku akan menuruti semua permintaan ibu jika ayah yang berbicara secara langsung pada ku!"


"Ayah mu sedang bekerja," kelit Paula.


"Bohong! Ibu berbohong pada ku, ayah tidak sayang lagi pada ku, kan? Ayah dan ibu pembohong!" Kevin mulai berteriak.


"Ada apa ini? Teriakan dan pertengkaran kalian bahkan sampai terdengar ke luar, apa yang kalian ributkan?" lerai Joshep yang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu.


"Ini urusan kami, urusan keluarga kami, tidak ada hubungannya dengan anda!" ketus Paula yang merasa marah dan kesal pada putranya namun melampiaskan nya pada Joshep yang sepertinya datang di waktu yang tidak tepat.


"Aku juga tidak ingin ikut campur dengan urusan keluarga mu, hanya saja, pertengkaran kalian mengganggu pasien lain, ini rumah sakit!"


"Ibu harus keluar dan menenangkan diri dulu, sebaiknya kamu renungkan apa yang di katakan ibu tad. Ibu tidak tahu apa yang membuat kamu menjadi anak pembangkang seperti ini, tapi yang kamu harus tau, ibu dan ayah sangat menyayangi mu." Ucap Paula sambil berlalu dari ruangan itu dan meninggalkan Kevin bersama Joshep di ruangan itu.


Sungguh saat ini Paula hanya ingin menangis dan menenangkan dirinya sendirian, beban yang di pikulnya terasa semakin berat dari hari ke hari.


"Aku akan membawa mu melihat-lihat ruangan ku, di ruangan ku banyak mobil-mobilan seperti milik mu itu, ayo!" ajak Joshep membujuk Kevin, di tahu jika bukan hanya Paula yang merasa marah dan sedih, namun Kevin juga merasakan hal yang sama, terbukti dengan mata bocah itu yang penuh dengan genangan air mata yang sepertinya dia tahan.


Tanpa menjawab apapun, Kevin hanya menurut dengan ucapan Joshep, bahkan dia turun dari ranjang dan duduk di kursi roda dengan sendirinya tanpa meminta bantuan.


'Kevin aku bawa berjalan-jalan ke ruangan ku sebentar.' Joshep mengirimkan pesan pada Paula, karena tidak inginmembuat mantan istrinya itu cemas ketika kembali ke ruanga rawat dan tidak mendapati putranya di sana.


"Kenapa kau buat ibu mu marah dan menangis?" Tanya Joshep saat dia mendorong kursi roda Kevin menuju ke ruang kerjanya.


Tadi tiba-tiba saja Joshep sangat ingin berkunjung ke ruangan Kevin, hatinya terasa gelisah dan selalu teringat dengan Kevin, ternyata benar saja, ibu dan anak itu sedang bertengkar hebat saat dirinya sampai di sana.

__ADS_1


"Aku tidak ingin membuat ibu marah atau menangis, aku---aku hanya marah pada ayah ku." Jawab Kevin lirih , kepalanya tertunduk lesu.


Sebenarnya dia tidak pernah ingin membuat ibunya bersedih, tidak ingin menjadi anak pemberontak seperti yang Paula ucapkan padanya, hanya saja, rasa marahnya pada Adam membuat dia melampiaskannya pada Paula.


"Ayah mu? Tapi kenapa?" Joshep mengerutkan keningnya.


"Orang-orang bilang kalau ayah menyakiti ibu, dan dia akan mempunyai anak lain, sehingga ayah memilih pergi meninggalkan ku." Beber Kevin menceritakan apa yang di ketahuinya pada Joshep.


"Dari mana kau mendengar semua itu?"


"Ibu- ibu yang satu ruangan dengan ku sebelumnya, kata perawat juga,"


"Perawat?"


"Iya, perawat yang aku tendang karena mengatakan jika ayah ku pergi dengan wanita lain dan meninggalkan aku dan juga ibu ku."


"Perawat, siapa namanya?"


"Tidak tahu, aku belum bisa membaca, jadi aku tidak tau siapa namanya."


"Kau belum bisa membaca? Bukankah kau bersekolah sebelumnya?" Heran Joshep.


"Iya, tapi aku sering tidak masuk sekolah karena penyakit ku ini, jadi aku tertinggal pelajaran."


"Sudahlah, itu ruang kerja ku, aku akan mengajari mu membaca di sana, ayo!" Joshep membuka pintu kayu jati ruang kerjanya.


"Papih?"


"Opa dokter!"


Ujar Joshep dan Kevin secara bersamaan memanggil Frans yang kini sedang duduk di kursi kebesaran yang dulu menjadi tempat kerjanya, namun sekarang sudah menjadi milik putranya.

__ADS_1


__ADS_2