BELENGGU DENDAM

BELENGGU DENDAM
Kesempatan dalam kesempitan


__ADS_3

"Tuan,,,nyonya,,, tuan muda Kevin kejang-kejang!" teriak Lucy panik, dia berlari memberi tahu semua orang, membuat semua yang berada di sana berhamburan menuju ke dalam dimana Kevin kini berada dengan paniknya.


"Apa yang kamu lakukan pada putra ku? Kamu apakan putra ku?" teriak Paula saat melihat Joshep yang sedang memberi pertolongan pertama pada Kevin di sofa ruang tengah rumah mewah itu.


"Berhenti mengatakan hal gila! Dia ayahnya, dia tidak mungkin mencelakai putranya sendiri, cepat,,, bawa cucu ku segera ke rumah sakit!" bentak Frans yang menyadarkan Joshep karena pria itu seperti terlihat linglung saat menghadapi kepanikan ini.


Menghadapi pasien kritis yang berada di ambang antara hidup dan mati merupakan hal biasa dan lumrah di hadapi seorang dokter seperti Joshep, namun akan lain ceritanya jika jika pasien itu adalah anaknya sendiri, darah dagingnya sendiri, semua profesionalitas dan ketegaran itu tiba-tiba menjadi buyar.


Tanpa basa-basi lagi Joshep langsung menggendong putranya dan membawanya ke mobil, sementara Paula ikut berlari mengejar ayah dan anak itu, dia duduk di kursi penumpang menemani Kevin yang terus kejang dengan kesadaran yang semakin menurun.


Joshep mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, sesekali dia menoleh ke belakang untuk keadaan Kevin, "Pastikan dia untuk tetap sadar!" ujarnya pada Paula.


"Kevin,,, Kevin,,, ini ibu nak. Kevin, tolong jangan seperti ini, ibu takut!" Paula menepuk-nepuk pipi Kevin agar bocah itu tetap dalam keadaan tersadar.


**


"Tolong,,, tolong tangani anak ku, mana dokter anak, mana dokter jaga!" teriak Joshep mencari dokter jaga di UGD, sepertinya dia lupa jika dia sendiri seorang dokter.


Joshep berteriak-teriak di depan ruang UGD sambil membopong Kevin, dia tidak peduli banyak orang menoleh ke arahnya, bahkan perawat jaga di sana terlihat syok saat Joshep menyebut bocah kecil yang berada dalam pangkuannya dengan sebutan 'anak ku'.


"Sebaiknya anda tunggu di luar!" ujar seorang perawat yang menghalangi langkah Joshep yang hendak ikut masuk ke dalam ruang UGD.

__ADS_1


"Apa maksud mu? Aku seorang dokter, aku juga direktur rumah sakit ini, atas dasar apa kau melarang ku masuk? Apa kau sudah bosan bekerja di sini, huh?" bentak Joshep.


"Joshep, lihat diri mu, kau tidak akan membantu apapun di dalam dengan keadaan emosi mu yang seperti ini, tolong jangan mempersulit keadan, aku dan tim dokter yang lain akan berusaha menyelamatkan anak ini, percayalah!" ujar seorang dokter senior yang sepertinya teman ayahnya menenengkan Joshep yang di buru amarah.


"Tapi dia putra ku, dia putra kandung ku, aku harus menyelamatkannya, aku tidak bisa berdiam diri melihatnya seperti ini, aku dokter,,, aku juga seorang dokter!" tolak Joshep.


"Joshep,,, lihatlah dia, sepertinya dia lebih membutuhkan mu, tenangkan dia, dan percayakan putra mu pada kami!" dokter itu menunjuk Paula yang berdiri menyandar di dinding sambil berurai air mata, dia sendirian, berharap keajaiban datang dan menyelamatkan putranya.


Sepertinya ucapan dokter senior itu berhasil, karena kini Joshep tidak lagi keukeuh dan bersikeras untuk ikut ke dalam UGD guna menemani Kevin di sana,dia baru sadar jika ada sosok lain yang memerlukan dirinya saat ini.


Josheplupa jika ada orang lain yang juga sedang merasakan takut dan sedih seperti dirinya, bahkan mungkin lebih dari pada apa yang sedang di rasakannya,dialah Paula.


Terlihat dengan jelas bagaimana ketakutan dan kesakitan yang kini sedang di rasakan paula dari guncangan bahu dan punggungnya yang turun naik akibat tangisnya,suara tangisannya terdengar sangat memilukan sehingga tanpa di sadari membuat air mata Joshep ikut menetes mendengarnya.


Joshep membayangkan bagaimana pedih dan takutnya Paula setiap putra mereka mengalami serangan seperti ini, apa Paula selalu sendirian seperti ini menghadapinya? oh, sungguh itu membuat Joshep merasa sangat bersalah pada mantan istrinya karena membiarkan menghadapi semuanya sendirian, sementara dia yang baru pernah menghadapi ini untuk pertama kalinya saja rasanya seperti dunianya terasa hancur.


"Tenanglah, aku di sini menemani mu, kita akan menghadapinya bersama-sama, kamu tidak sendirian, aku akan menemani mu!" entah sadar atau tidak Joshep spontan mengecup pucuk kepala paula yang masih betah menumpahkan air matanya di dada bidang Joshep.


Sontak saja pemandangan itu membuat Bella yang baru saja sampai di sana merasa sangat kesal, terlebih sepanjang jalan dia menuju ke ruang UGDitu,seberapa perawat dan staf rumah sakit miliknya itu melihat dirinya dengan tatapan aneh, bahkan ada juga yang menatap dirinya dengan tatapan kasihan.


Sepertinya itu akibat teriakan Joshep yang mengatakan jika Kevin adalah putranya,terlebih kini Joshep juga dengan santainya memeluk erat Paula di tempat publik dan terbuka seperti itu, sementara semua orang tahu jika besok merupakan hari pertunangan dirinya dengan Bella.

__ADS_1


"Joshep! Apa yang kamu lakukan? Apa kamu tidaksadar jika sikap mu ini membuat orang-orang menggosipkan mu? Lihatlah, kelakuan mu membuat para staf dan perawat menyebarkan rumor dengan cepatnya!" Bella menarik lengan baju Joshep agar melepaskan pelukannya pada Paula.


Hatinya terasa sangat sakit dan panas melihat pemandangan itu,selama dua tahun menjalin hubungan asmara dengan Joshep, kekasihnya itu bahkan tidak pernah memperlakukan dirinya semanis dan se-romantis itu, sehingga tentu saja perlakuan manis Joshep pada Paula membuat Bella di bakar api cemburu saat ini.


"Dan kau juga! Lepaskan dia, kau hanya mantan istrinya, tolong hargai aku yang akan menjadi calon istrinya, apa kau sedang berusaha untuk membuatnya kembali pada mu? Langkahi dulu mayat ku!" Bella mengurai paksa pelukan keua pasang mantan suami istri itu, kini dia menarik belakang baju Paula dengan sangat kasar sehingga tubuh Paula menjauh dari Joshep.


"Maaf." Lirih Paula, kali ini dia mengakui jika itu merupkan kesalahan dirinya yang tanpa sengaja memeluk Joshep, dia tahu jika itu memang tidak boleh terjadi, apalagi mengingat Joshep sudah mempunyai pasangan lain.


"Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan, karena aku tidak akan membiarkan itu terjadi!" Tunjuk Bella tepat ke wajah Paula dengan tatapan mengajak perang.


"Bella, hentikan! Tolong jangan buat keributan di sini!" lerai Joshep.


"Aku? Membuat keributan? Kalian yang membuat aku bersikap seperti ini? Lagi pula kenapa kalau aku membuat keributan di sini? Rumah sakit ini milik ayah ku, siapa yang berani melarang ku, kita akan bertunangan besok, dan kamu malah memeluk wanita lain di sini, bagaimana aku tidak marah?" ujar Bella.


"Josh, sebaiknya kamu membawa kekasih mu pergi dari sini, dan nona Bella, saya minta maaf, tolong,,, saya sama sekali tidak berniat untuk mengambil kekasih anda." usir Paula.


Namun baru sja Joshep hendak membawa Bella pergi dari sana karena tidak ingin kekasihnya membuat keributan lebih jauh lagi, pintu UGD terbuka, dokter senior itu keluar dari dalam ruangan tempat Kevin berada dengan wajah yang berkerut, dan penuh kepanikan, hal itu seperti sedang menjelaskan jika keadaan Kevin di dalam tidak baik-baik saja.


"Dok, bagaimana keadaannya? Bagaimana keadaan putra ku?" Joshep setengah berlari menghampriri dokter senior itu dan meninggalkan Bella begitu saja.


"Buruk, keadaannya memburuk!" jawab dokter itu membuat Paula yang berdiri di samping Joshep kehilangan kesadarannya karena tidak kuasa mendengar berita yang di bawa dokter yang baru saja menangani putranya itu, untung saja Joshep sigap dan menangkap tubuh Paula sehingga tidak sampai terjatuh ke lantai.

__ADS_1


__ADS_2