
"Oke terimakasih!" Joshep mengakhiri pembicaraannya di telepon, wajahnya terlihat sumringah, entah dengan siapa dia berbicara.
"Ada apa? Adapa ada informasi tentang Kevin?" tebak Paula penuh harap.
Joshep mengangguk, "Hemm,,, salah satu orang ku mendapat informasi jika Kevin berjalan keluar dari loby bersama dengan---"
"Dengan siapa? Katakan, siapa yang membawa Kevin pergi?" desak Paula yang merasa penasaran karena Joshep seperti tidak mau melanjutkan ucapannya.
"Kamu akan tau sendiri, ayo ikut aku! Sepertinya aku tau dimana Kevin berada saat ini." Ajak Joshep, menarik lengan Paula agar segera mengikutinya.
Meski sangat penasaran, namun Paula tidk mau bertanya lagi tentang siapa orang yang pergi dengan putranya, untuk saat ini, sudah mendapatkan informasi tentang keberadaan Kevin saja itu sudah lebih cukup baginya, dia sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan putranya yang menghilang sejak beberapa jam yang lalu itu.
**
"Ke-kenapa kamu mengajak ku kesini?" tanya Paula dengan raut wajah yang terlihat kebingungan.
"Ayo turun, apa kamu tidak ingin bertemu Kevin?" ajak Joshep, merasa tidak sabar karena Paula seperti tidak mau turun dari mobil.
Dengan tubuh yang bergetar Paula menurunkan kakinya dari pijakan mobil dan berdiri di depan rumah mewah yang pernah menjadi tempat tinggalnya saat masih berumah tangga bersama Joshep, ya disinilah mereka, di rumah mewah milik orang tua Joshep.
Paula sampai kehabisan kata-kata untuk bertanya pada mantan suaminya itu mengapa dia di bawa ke rumah penuh kenangan manis sekaligus pahit itu, rumah mantan mertuanya itu tidak banyak berubah, hanya beberapa bagian yang sepertinya di perbaiki, begitupun saat dirinya mulai masuk melewati pintu ruang tamu rumah itu, suasananya masih sama seperti saat lima tahun yang lalu, hanya saja ada beberpa barang yang di ganti dan penambahan barang baru di sana.
"Ke-kenapa kamu membawa ku ke sini?" tanya Paula pada akhirnya, dia sudah tidak mampu menahan rasa penasarannya.
Langkahnya terasa gamang saat selangkah demi selangkah kakinya membawa dia lebih masuk lagi ke dalam rumah itu, dan sesaat kemudian semua pertanyaan yang tadi dia tanyakan pada Joshep terjawab sudah saat seorang bocah laki-laki berlari dari dalam berhambur ke arahnya.
__ADS_1
"Ibu,,,,!" serunya.
"Kevin!"sambut haru Paula membalas pelukan bocah yang tingginya hanya sebatas pinggangnya itu kini sudah mendekap erat tubuhnya.
Tak selang berapa lama, Frans dan Bertha keluar dari pintu tepat dimana tadi Kevin keluar.
"Aku tahu kalian pasti akan datang ke sini!" ujar Frans menyunggingkan senyum kemenangannya.
"Kalian tidak berhak membawa putra ku secara diam-diam seperti ini, aku bisa saja melaporkan perbuatan kalian pada pihak yang berwajib atas tuduhan penculikan!" Paula menatap tajam wajah kedua mantan mertuanya itu secara bergantian.
Entah apa maksud dari Frans dan Bertha membawa Kevin pergi dari rumah sakit dan menempatkannya di rumah ini.
"Apa kau akan melaporkan sepasang kakek dan nenek ini karena membawa cucunya mengajaknya bermain bersama di rumah?" kata Frans dengan santainya.
"Cucu? Cucu yang mana yang anda maksud? Kevin putra ku dan tidak ada hubungannya dengan anda. Apa anda dan istri tidak malu, dengan apa yang kalian perbuat pada ibu dan ayah yang kalian sebut cucu ini?" sinis Paula.
"Bisakah kita tidak berdebat di depan anak kecil?" Joshep menengahi perdebatan antara Paula versus Frans. "Lucy, bawa kevin ke dalam sebentar, kami ingin bicara!" titah Joshep pada asisten rumah tangganya yang kebetulan berada di sana.
"Tidak ada yang perlu di bicarakan, aku hanya ingin membawa Kevin pulang!" tolak Paula.
"Pulang? Ini rumah dia, pulang kemana? Rumah sakit? Disini aku bisa menyewa perawat khusus untuk merawat cucu ku," sambar Bertha.
"Aku tidak mau pulang! Ibu akan membawa ku pergi jauh, aku mendengra percakapan ibu dengan aunty Bella, aku tidak mau pergi jauh, aku tidak mau ayah kebingungan saat mencari ku! Ibu sudah menyuruh ayah pergi, lalu ibu juga akan membawa ku pergi jauh, aku tidak mau," tolak Kevin.
"Kevin, kamu salah paham nak, ibu dan aunty Bella hanya ingin memindahkan mu ke rumah sakit yang lebih bagus lagi, bukankah kamu ingin cepat di operasi? Kamu akan cepat sembuh dan bisa bersekolah jika kamu di operasi." bujuk Paula.
__ADS_1
"Tidak! Aku sudah bilang, aku tidak akan mau di operasi jika ayah tidak menemani ku, ayah sudah berjanji akan menemani ku saat operasi, aku tidak mau operasi jika tidak ada ayah, biar saja aku tidak sembuh, biar saja aku tidak sekolah!" Kevin mengurai pelukannya di tubuh ibunya dan belari ke arah Frans dan Bertha. "Aku mau sama Opa dokter dan oma saja kalau ibu tetap memaksa ku pergi!" sambung Kevin memegangi tangan Frans dan Bertha.
Nyesss,,,!
Nyeri rasanya dada Joshep mendengar betapa pentingnya arti Adam untuk Kevin, bahkan dia memilih untuk tidak sembuh jika Adam tidak menemaninya operasi, sepertinya sosok ayah untuk Kevin sepenuhnya adalah Adam, tidak peduli kesalahan apa yang Adam perbuat, tidak peduli dia sudah mendengar jika Adam mempunyai keluarga baru, tapi sosok Adam sebagai Ayah tidak dapat di gantikan di hati bocah itu, sepertinya tidak ada sedikitpun ruang tersisa untuk dirinya di hati Kevin untuk masuk sebagai sosok ayah baginya, Joshep sudah kalah telak jika di bandingkan dengan Adam.
"Kevin! Mereka bukan siapa-siapa mu, berhenti berbuat aneh-aneh, ayo pulang!" teriak Paula menyambar dengan kasar tangan Kevin sehingga bocah itu menangis dengan sangat kerasnya.
Mungkin untuk rasa sakit akibat tarikan di tangan Kevin itu tidak seberapa, jika di bandingkan dia di tusuk jarum saat di ambil darah atau di pasangi selang infus, namun rasa sakit di hati anak itu terasa sangat dalam, karena ini untuk yang pertama kalinya Paula memperlakukannya dengan sekasar itu, membuat Kevin kaget dan sedih.
"Paula hentikan! Kamu menyakitinya, lepaskan dia!" Joshep menggendong tubuh Kevin yang sedang menangis terisak.
"Lihatlah,,, dia bahkan sudah pintar memilih, siapa yang pantas untuk di jadikan tempat berlindung olehnya!" Bertha menunjuk Kevin yang sepertinya sangat nyaman dalam dekapan Joshep dan mengajaknya berjalan menjauh dari Paula agar bocah itu merasa tenang dan tidak berdebat lagi dengan ibunya.
"Ibu macam apa kau ini, membiarkan anak mu menderita, kekurangan makanan, hidup susah, aku akan mengambil hak asuh cucu ku, karena kami lebih pantas dan lebih mampu untuk mengurus, menjaga dan memberikan kehidupan layak untuknya, kami juga akan mengobati Kevin sampai sembuh, kau harus membayar atas kesulitan yang cucu ku alami selama lima tahun ini!" maki Frans.
Sudah dapat di tebak, ini memang akan terjadi, dan paula tidak menyangka jika ketakutanya selama ini akhirnya akan terjadi juga, bahkan secepat ini.
"Aku setuju! Aku mendukung keputusan anda, dan akan membantu untuk memenangkan hak asuh Kevin agar jatuh di tangan yang tepat!" timpal Bella yang tiba-tiba berada di ruangan itu entah kapan datangnya.
"Kalian pikir aku akan mundur, hanya karena aku sendirian dan kalian berkomplot menyerang ku?" tantang Paula.
"Paula, tenang saja,,, kehidupan Kevin akan terjamin di tangan kami, dan satu lagi, dia akan mempunyai keluarga yang utuh, kakek, nenek, ayah, dan aku yang akan menjadi ibu sambung terbaik untuknya." Bella menyeringai dengan tidak tahu malunya.
"Jangan pernah bermimpi, anda terlalu terobsesi untuk menikah dengan Joshep, pikirkan saja cara lain bagaimana agar Joshep mau menikahi mu, jangan melibatkan putra ku!" tegas Paula.
__ADS_1
"Kau!" tunjuk Bella dengan marahnya, selama hidupnya belum ada seorang pun yang berani mengoloknya seperti ini, sebagai putri dari keluarga kaya dan terpandang, selama hidupnya hanya di kelilingi oleh pujian dan sanjungan dari semua orang, sehingga perkataan Paula ini dia anggapnya terlalu berani.
"Tuan,,,nyonya,,, tuan muda Kevin kejang-kejang!" teriak Lucy panik, dia berlari memberi tahu semua orang, membuat semua yang berada di sana berhamburan menuju ke dalam dimana Kevin kini berada dengan paniknya.