BELENGGU DENDAM

BELENGGU DENDAM
Dejavu


__ADS_3

"Pih, aku kini seorang ayah,,, aku tau apa yang anda lakukan semata untuk kebaikan ku, kebahagiaan ku, karena aku pun menginginkan hal yang sama, kebahagiaan untuk anak ku, tapi percayalah pih, aku benar-benar sudah sangat bahagia hidup bersama anak dan istri ku, jika papih terus menyerang Paula, itu sama saja papih menghancurkan ku, karena aku lebih merasakan sakit di banding Paula akibat ulah papih itu, aku sudah sangat bahagia pih, tolong jangan rusak kebahagiaan ku." mohon Joshep dengan tatapan mata yang mengiba, mencoba berbicara dari hati ke hati dengan ayahnya.


"Hanya ada dua hal yang bisa menghentikan ku, yang pertama kau tinggalkan dia, maka aku tidak akan mengusiknya lagi, dan yang kedua jika aku mati. jika kau tetap memilih bersamanya kau harus menunggu ku mati agar tidak mendapatkan gangguan dari ku!" ujar Frans dengan dinginnya.


"Aku tidak ingin menjadi anak durhaka yang berharap ayahnya cepat mati, karena kembali lagi, akupun seorang ayah. Semoga dengan menjahati kami, hidup anda akan bahagia pih." pungkas Joshep yang merasa pembicaraannya dengan Frans sudah tidak mungkin untuk di lanjutkan lagi karena obrolan mereka benar-benar tidak akan pernah sejalan.


Bertha yang sejak tadi terdiam menyaksikan suami dn putranya berdebat dan terlibat obrolan panas itu mengejar Joshep ke teras rumah saat Joshep baru saja hendak memasuki mobilnya untuk segera pergi dari rumah mewah milik orang tuanya itu.


"Joshep!" panggil Bertha dengan suara yang agak bergetar menahan tangis yang sejak tadi sekuat tenaga dia pendam.


Wanita mana yang tidak merasa sedih saat melihat dua pria kesayangannya saling bermusuhan satu sama lainnya, sungguh meskipun dia ikut andil dalam rencana busuk suaminya, tapi dia juga tidak pernah berharap jika putranya akan ikut terkena imbas dari perbuatan jahat mereka, tidak ada sedikitpun niat dirinya untuk menyakiti Joshep, karena sasarannya hanya Paula, namun ternyata ketika mereka menyakiti Paula, secara tidak langsung otomatis mereka juga menyakiti putranya sendiri.

__ADS_1


Joshep menghentikan langkahnya, dia membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah Bertha. "Ya, mih. Ada apa lagi?" tanya Joshep dengan suara lemah.


"Apa kamu benar-benar ingin meninggalkan dan membuang kami dari kehidupan mu hanya demi wanita itu? Kami mencintai mu, kami melakukan ini semua untuk kebaikan mu." ujar Bertha seolah tidak pernah merasa jika apa yang dilakukannya selama ini adalah sebuah kesalahan. Bertha masih saja bertameng jika apa yang dilakukannya adalah demi kebaikan sang putra, bukan karena ego mereka sebagai orangtua yang selalu berpikiran jika mereka selalu benar karena mereka merasa lebih banyak pengalaman hidup, sehingga lebih tau apa yang terbaik bagi anak mereka.


"Wanita itu istri ku, mih. Ibu dari anak ku, bagaimana aku bisa meninggalkannya?" jawab Joshep dengan datar tanpa emosi sedikit pun, tenaga dan emosinya seolah sudah terkuras habis saat dia berdebat dengan ayahnya.


"Tinggalkan dia, ambil putra mu, kita akan merawatnya bersama, aku sangat bersedih dan tidk bisa kehilangan mu," ujar Bertha dengan air mata yang mulai menetes di pipinya yang mulai keriput.


"Biarkan saja dia pergi. Anak durhaka seperti dia tidak pantas untuk di tangisi." ujar Frans yang tiba-tiba muncul dari belakany Bertha yang tengah menatap ekor mobil Joshep yang semakin menjauh dan menghilang.


"Kita hanya punya satu anak, tidakkah seharusnya kita mengalah saja daripada kehilangan satu-satunya anak yang kita punya?" Bertha menyandarkan kepalanya di dada sang suami.

__ADS_1


"Tidak! Aku tidak akan pernah mengalah pada wanita penghancur impian ku itu. Gara-gara wanita sialan itu, hidup anak ku yang sudah aku rancang sedemikian rupa harus hancur berantakan, dan kini berakhir menjadi pengangguuran tidak jelas, rumah sakit Permata seharusnya sudah menjadi milik kita jika saja wanita sialan itu tidak menggagalkan pernikahan Joshep dan Bella, dan keluarga kita akan berada di jajaran paling atas di antara semua saudara dan sanak keluarga mu," tentang Frans.


"Ternyata kamu masih saja menyimpan dendam pada keluarga ku." ujar Bertha seraya menjauhkan kepalanya dari dada suaminya.


Bertha teringat kembali bagaimana dulu keluarga besarnya menentang pernikahan dirinya dengan Frans, karena Frans hanya dari kalangan keluarga biasa saja, sementara Bertha dari kalangan keluarga berada, sampai akhirnya Frans menjual semua aset orangtuanya termasuk sawah, kebun dan rumah sederhananya demi untuk dirinya kuliah kedokteran, meski kedua orangtuanya harus kehilangan harta bendanya dan hidup menggelandang menjadi buruh kasar di desa karena semua uang hasil penjualan aset di ambil Frans semua sampai pada akhirnya kedua orang tua Frans meninggal dunia dan Frans di musuhi dan di salahkan oleh semua keluarganya.


Rupanya rasa bersalah dan penyesalan akan apa yang di lakukannya dahulu justru menjadikan Frans yang kini serakah dan gila harta, kedudukan dan kekuasaan, semua itu dia lakukan untuk dia warisakan pada putranya agar putranya tidak mengalami nasib yang sama seperti dirinya dahulu, namun rupanya dia harus kecewa karena ternyata Joshep malah memilih wanita dari kalangan biasa atau bahkan bisa di bilang dari kalangan jauh di bawahnya, sehingga Frans merasa apa yang telah di lakukannya selama ini untuk sang putera sia-sia saja.


Di samping itu Frans juga seakan dejavu akan kisahnya dulu, sehingga dia melampiaskan dendamnya pada keluarga Bertha yang menentang hubungannya dahulu pada Paula, padahal dengan pengalaman yang pernah di alaminya dahulu, seharusnya Frans lebih mengerti dan lebih bisa menerima Paula, karena dia sudah pernah merasakan bagaimana rasanya di tentang dan tidak di restui oleh orangtua pasangan.


"Aku sudah mengorbankan semuanya, sudah menyakiti bahkan secara tidak langsung aku sudah membunuh orangtua ku, mana mungkin aku merelakan semua pengorbanan ku itu hanya untuk wanita yang tidak bisa menguntungkan keluarga kita." ujar Frans.

__ADS_1


__ADS_2