
"Ini pasti ulah mu! Apa kau berusaha balas dendam karena kematian ayah mu? Kau seharusnya melampiaskannya pada ku, bukan pada istri ku, dia tidak bersalah, kau pasti telah membunuh istri ku, kau pasti membunuhnya!" teriak Frans yang di berikan kelonggaran waktu dari pihak kepolisian untuk menghadiri pemakaman istrinya, meski dengan penjagaan dan pengawalan yang begitu ketat.
Kedua tangan Frans yang di borgol itu teracung mengarah ke arah Paula, bahkan Paula sempat di serang oleh Frans saat petugas kepolisian yang menjaganya sedikit lengah, beruntung Joshep sigap dan mengamankan istrinya di balik punggungnya.
"Hentikan pih! Jangan melimpahkan kesalahan pada orang lain, satu-satunya orang yang harus di salahkan atas kematian mami adalah anda sendiri, mami mengalami serangan jantung saat dia melihat berita penangkapan anda di televisi!" bentak Joshep yang tentu saja tidak terima jika istrinya di persalahkan dan di anggap sebagai penyebab kematian ibunya.
"Kau telah di butakan oleh wanita sialan itu, kau akan menyesal nantinya, dia pembunuh, dia telah membunuh ibu mu, aku akan menuntutnya dan menyeretnya ke dalam penjara!" Frans masih berteriak dan menumpahkan makiannya yang kini tidak hanya di tujuakan untuk Paula saja namun juga pada putranya sendiri yang dia anggapnya memihak dan melindungi paula yang dia yakini sudah membunuh Bertha seperti halnya dulu dia membunuh ayah Paula.
"Hentikan omong kosong anda, jika anda tetap membuat keributan di pemakaman ibu ku, sebaiknya anda pergi saja dari sini sebelum kesabaran ku habis!" ancam Joshep dengan kedua tangannya yang kini terkepal sempurna di sisi tubuh kiri dan kamannya.
Karena Frans semakin tidak terkendali dan terus berteriak mengeluarkan kemarahannya, akhirnya petugas kepolisian memutuskan untuk membawa kembali Frans ke dalam tahanan meski upacara pemakaman Berta belum selesai saat itu, karena Frans meimbulkan kegaduhan di sana.
__ADS_1
"Lepaskan,,,, aku harus menemani istri ku di saat-saat terakhirnya, lepaskan aku.....!" teriak Frans sambil terus meronta dan memberontak karena tidak menginginkan meninggalkan tempat itu.
Sejujurnya Joshep maupun Paula tidak tega jika di saat-saat terakhir momen upacara pemakaman ibunya, Frans harus di paksa meninggalkan tempat itu dan tidak bisa menyaksikan istrinya untuk yang terkhir kalinya, namun keributan yang di lakukan Frans sungguh mengganggu kelancaran prosesi upacara pemakaman Bertha yang seharusnya di lakukan secara khidmat itu.
Lima hari berlalu semenjak kepergian Bertha, kehidupan Joshep sudah mulai berjalan seperti biasanya, meski hatinya merasa hampa dan rasa kehilangan itu masih sangat kental terasa namun bagaimana pun kehiduapan masih tetap harus berjalan.
Benar kata orang-orang jika seseorang akan terasa begitu penting saat orang itu sudah tidak ada, begitupun apa yang kini tengah di rasakan Joshep, saat Bertha masih ada mereka sering berselisih paham dan Joshep hampir tidak pernah merasa rindu meski dia jarang pulang dan jarang bertemu dengan ibunya itu, namun entah mengapa kali ini kerinduan seolah selalu datang di setiap waktu, seolah mengolok-olok dirinya jika kerinduannya itu suatu hal yang tidak mungkin karena dia tidak akan mungkin bertemu lagi dengan ibunya.
Namun tiba-tiba wajah Joshep pias dan mengeras, "Ya Tuhan,,, apa lagi ini? Tidakkah dunia terlalu kejam pada ku? Atau ini semua karena saking jahatnya aku pada istri ku, sehingga balasannya seperti ini?" gumam Joshep dengan suara pasrah plus tarikan nafas beratnya sesaat setelah dia membaca pesan di ponselnya.
"Ada apa?" tanay Paula yang merasa jika ada yang tidak beres dengan pesan yang di terima Joshep.
__ADS_1
Seperti enggan dan tidak punya tenaga untuk menjelaskan apa yang terjadi pada istrinya itu, joshep hanya menyodorkan ponselnya dan membiarkan Paula untuk membaca sendiri pesan yang baru saja di terima dan di bacanya itu.
Paula menerima ponsel suaminya dan membaca pesan yang di tunjukkan Joshep padanya, wajah Paula pun seketikan ikut tegang, lantas buru-buru dia menoleh ke arah Joshep yang terlihat kebingungan.
"Temui dia, pergilah! Biar aku menjemput Kevin sendirian, aku tidak apa-apa." lirih Paula sambil mengusap punggung Joshep dengan penuh kasih sayang.
Ada rasa iba yang dia rasakan saat melihat wajah lelah dan bingung joshep yang terus di timpa permasalahan yang seolah tanpa henti terus menyerang dan menyiksanya tanpa henti dan tanpa ampun.
"Tapi---" ujar Joshep ragu.
"Tidak ada tapi-tapian, pergilah! Sungguh aku tidak apa-apa," Paula menyunggingkan senyumnya, seolah ingin menunjukkan pada suaminya jika dirinya benar-benar tidak apa-apa dan tidak keberatan jika suaminya itu pergi.
__ADS_1