
"Dokter Alex? Apa yang sedang kalian bicarakan di sini?" tanya Joshep.
Mata Joshep menyelidik, memperhatikan gerak-gerik kikuk antara ayahnya dan juga Alex yang juga merupakan salah satu dokter senior di rumah sakit Permata.
Alex yang usianya belum terlalu tua itu kariernya memang cukup melesat dia bahkan sudah mendapatkan posisi jabatan penting di rumah sakit menyalip dokter-dokter yang lebih senior dan lebih lama mengabdi dari pada dirinya di rumah sakit.
Sebelumnya Joshep tidak percaya dengan desas-desus yang menjadi pembicaraan di antara para dokter dan staff rumah sakit jika Alex menggunakan jalan pintas dan menempuh jalan yang tidak biasa dalam mendapatkan jabatannya, hanya saja tidak ada yang tahu siapa orang yang menjadi pendukung dan pelicin kariernya, bahkan Joshep sendiri baru tahu jika ayahnya seakrab itu dengan Alex, secara selama ini mereka hampir tidak pernah terlihat berinteraksi sama sekali baik itu di kantor maupun di luaran.
"Apa salah satu di antara kalian berdua ada yang bisa menjelaskan mengenai pertanyaan dalam kepala ku yang pasti kalian berdua sudah bisa menebak pertanyaan apa yang kini memenuhi benak ku kini?" tanya Joshep lagi saat dia tidak kunjung mendapat jawaban apapun baik itu dari Frans sang ayah maupun dari Alex yang juga sama-sama membisu saat ini.
"Emh,,, Josh--- ini--- ini--- kami hanya membicarakan masalah pekerjaan saja." gagap Frans.
"Membahas pekerjaan di saat and sudah tidak bekerja di rumah sakit lagi? Sementara sat anda masih bekerja di Permata aku tidak pernah melihat kalian se akrab ini?" Sinis Joshep.
"Dan anda--- dokter Alex,,, apa maksud anda mengirim pesan ancaman yang membawa-bawa putra ku?" kali ini Joshep beralih menatap tajam Alex.
__ADS_1
Tidak peduli jika alex pernah menjadi dokter seniornya, dia tidak akan mengampuni siapapun yan mengusik keluarganya, apalagi sampai melibatkan sang putra, semua akan Joshep lawan tanpa ampun, bahkan meski itu orangtuanya sendiri.
"A-aku tidak tau apa-apa, aku juga tidak tahu apa maksud dari pertanyaan mu itu, a-aku tidak pernah mengirim pesan ancaman pada mu atau pada siapapun!" elak Alex dengan suara tergagap.
Tadinya Alex berniat membongkar mengenai apa yang Frans lakukan pada Joshep, makanya dia mengundang Joshep juga ke gedung tua itu, namun ternyata saat kini di hadapkan dengan Joshep secara langsung, nyali Alex ternyata ciut juga, terlebih saat menyadari jika tadi dirinya dan Frans sempat mengungkit tentang perdagangan obat ilegal yang bukan hanya melibatkan Frans seorang diri, namun juga ada dirinya yang juga ikut terlibat di dalamnya
Alex dan Frans saat ini hanya bisa berharap jika Joshep tidak mendengar seluruh pembicaraan mereka, karena jika tidak sungguh ini akan menjadi masalah besar bagi dirinya. Bukan hanya kariernya yang akan di pertaruhkan, namun juga kebebasan dirinya, karena hal itu tentu saja akan membuat dirinya berurusan dengan hukum.
"Aku sudah mengecek cctv ruang rawat putra ku, dan tampak dengan jelas jika anda masuk dan keluar dari kamar putra ku." pancing Joshep, karena sebenarnya dia bahkan tidak sempat terpikirkan untuk melihat cctv sama sekali karena dia terburu-buru untuk menyusul Alex ke gudang tua ini.
"A-aku hanya visit biasa, bukankah hal yang wajar bagi seorang dokter seperti ku mengunjungi pasiennya." kilah Alex yang secara tidka langsung mengakui dan meng-iyakan jika dirinya memang sempat datang berkunjung ke kamar rawat Kevin.
"Ah foto,,, itu--itu aku hanya dokumentasi rumah sakit untuk arsip." jawab Alex semakin ngawur dan terlihat semakin tidak fokus sehingga menjawab pertanyaan-pertanyaan Joshep secara asal dan tidak masuk akal.
"Ah sudahlah, jangan membuat ku semakin bertambah emosi, aku tegaskan pada kalian, apapun masalah yang terjadi di antara kalian, jangan pernah libatkan keluarga ku di dalamnya, apalagi membawa-bawa anak dan istri ku, karena aku tidak akan tinggal diam." tegas Joshep.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu semua, Joshep terburu-buru pergi meninggalkan gedung tua itu tanpa ingin lagi berbicara lebih jauh baik dengan Frans maupun dengan Alex.
"Apa Joshep mendengar semua pembicaraan kita?" tanya Alex setelah Joshep menghilang dari pandangan mereka.
Frans menggelengkan kepalanya pelan, "Entahlah, berdoa saja jika dia tidak mendengar apapun yang kita bicarakan, aku peringatkan pada mu, jangan ulangi perbuatan bodoh mu seperti tadi, mengungkit masalah obat-obatan itu, kalau kau tidak ingin celaka!"
**
Sementara Joshep kini mengemudikan mobilnya tanpa tujuan, pikirannya saat ini benar-benar kalut setelah dia mendengar semua pembicaraan antara ayahnya dan Alex, baik itu mengenai bisnis haram ayahnya dan mengenai bagaimana ayah Paula meninggal lima tahun lalu.
Joshep bahkan tidak punya tenanga dan kata-kata untuk dia ucapkan pada ayahnya tadi setelah dia mendengar semua kebenaran itu, sungguh dia tidak percaya jika ayahnya tidak hanya diktator untuk dirinya, tapi selain mempunyai bisnis haram yang baru saja di ketahuinya, yang lebih parah adalah dia adalah seorang pembunuh, dan sialnya orang yang di bunuh Frans adalah ayah dari Paula, sang istri.
Entah bagaimana dia harus berhadapan dengan Paula, sepertinya dia tidak mampu untuk mengangkat wajah di hadapan wanita yang saat ini telah berhasil di persuntingnya kembali itu.
Di saat semua kebahagiaan dan kebersamaan ada di depan mata, kenyataan pahit harus kembali mewarnai rumah tangganya.
__ADS_1
Joshep merasa bingung bagaimana dia harus bertemu dan berbicara pada Paula mengenai hal ini, apa mungkin Paula masih mau menjalani biduk rumah tangga bersama dirinya, yang notabene merupakan anak dari pembunuh ayahnya?
Biarlah semua orang akan menganggapnya sebagai pengecut, namun untuk saat ini, lari dan menghindar dari kenyataan adalah jalan yang sementara di pilih oleh Joshep, dia terlalu takut untuk menerima kenyataan ini.