BELENGGU DENDAM

BELENGGU DENDAM
Duka Joshep


__ADS_3

"Bagaimana kondisi pasien, dokter?" tanya Paula yang segera berhambur mendekati dokter yang baru saja keluar ruangan itu.


Namun alih-alih segera menjawab, dokter itu malah menarik nafas dengan sangat dalam seperti berat untuk menyampaikan jawaban yang di tanyakan Paula padanya.


"Maaf, kami sudah berusaha sebisa kami, tapi pasien tidak dapat di selamatkan, pasien punya riwayat penyakit jantung, sepertinya beliau terlalu syok sehingga mengakibatkan keadaannya langsung kritis dan---" urai dokter itu tidak melanjutkan kata-katanya.


Paula mengangguk pelan tanda mengerti, kali ini justru dia yang merasa kebingungan bagaimana harus menyampaikan berita menyakitkan itu pada suaminya, terlalu banyak dan terlalu bertubi-tubi cobaan yang kini di hadapi Joshep, kini malah harus di tambah lagi dengan kematian ibunya yang sangat mendadak di tengah pusaran masalah ayahnya yang bahkan sedang memuncak.


Paula terus memandangi layar ponselnya, berkali-kali dia mencoba mengirimkan pesan pada Joshep namun baru beberapa kata langsung diahapus kembali, dia bingung apa yang harus dia tulis dalam pesannya itu, beberapa kali juga Paula berusaha melakukan panggilan pada suaminya itu, namun beberapa kali pula dia urungkan niatnya, dia bingung apa yang harus dia sampaikan pada Joshep.


Namun tiba-tiba, suara dering ponselnya mengagetkan Paula, terlebih nama Joshep tertera jelas di layar ponselnya sebagai pemanggil.


"Bagaimana keadaan Mami di sana? Apa mami baik-baik saja?" tanya Joshep dari ujung telepon sana menanyakan kabar ibunya, terdengar nada kekhawatiran dari suaranya.


"A--- emh--- itu--- apa tidak sebaiknya kamu ke sini saja?" gagap Paula.


"Kenapa? Apa mami menolak kehadiran mu?" tanya Joshep lagi.


"T-tidak, tapi aku rasa kamu sebaiknya cepat datang kesini dan temui mami mu!" jawab Paula, sungguh dia tidak sampai hati untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada ibunya Joshep itu.

__ADS_1


Merasa ada yang tidak beres dengan kondisi ibunya di rumah sakit, Joshep akhirnya memutuskan untuk segera menyusul Paula ke sana setelah memastikan pengacara ayahnya sudah datang dan mendampingi Frans di kantor polisi.


Hati Joshep tiba-tiba terasa dagdigdug tidak menentu, beberapa perkiraan muncul di benaknya, salah satunya jika ibunya marah karena Paula menemani dirinya di rumah sakit, hati Joshep semakin tidak karuan saat membayangkan jika Paula kini tengah di caci maki oleh ibunya dengan kata-kata kasar dan menyakitkan seperti sebelumnya.


Sungguh tidak terbersit di pikirannya sedikitpun jika ibunya saat ini sudah tiada.


"Sayang, kamu baik-baik saja? Dimana mami? Apa kamu di marahi mami?" rentetan pertanyaan langsung mengalir deras dari mulut Joshep saat dirinya baru saja sampai di rumah sakit dan menemui Paula yang menunggunya di loby.


Paula menggeleng pelan, "Mami mu tidak memarahi ku." lirih Paula.


Terang saja, bagaimana bisa Bertha memarahinya, dia sudah terbujur kaku sebelum sempat bertemu dengan dirinya.


"Kami tidak sempat bertemu." ujar Paula masih dengan suara lirihnya.


"Tunggu, mengapa kita ke sini? Bukankah ruang ICU ke arah sana?" Joshep menghentikan langkahnya karena merasa Paula membawa dirinya ke arah yang salah, namun Paula tidak menjawabnya sepatah kata pun selain terus mengajaknya melanjutkan perjalanan mereka.


Kali ini Joshep terpaku, tubuhnya mematung dan seketika menjadi beku di depan ruang pemulasaran jenazah, kepalanya tiba-tiba kosong, hatinya terasa kacau tidak karuan.


"K-kenapa kamu membawa ku ke sini? Bukankah kita akan menemui mami?" suara Joshep terbata-bata.

__ADS_1


Sungguh Joshep masih berusaha mengingkari pikirannya jika ibunya tidak berada di dalam ruangan itu.


"Meski mungkin akan terdengar tidak berarti, tapi aku tetap ingin mengatakan agar kamu bersabar dan mengikhlaskan kepergian mami mu, aku pernah berada di posisi mu saat ini, dan aku sadar jika sabar dan ikhlas tidak semudah apa yang di ucapkan orang-orang yang mencoba menghibur dan menyemangati ku saat itu, hanya saja aku tetap harus mengatakan itu, aku akan menemani mu dan berada di sisi mu apapun yang terjadi." Paula mencoba menguatkan Joshep yang masih terpaku menatap pintu ruangan menakutkan bagi semua orang itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Dokter Smith!" seorang petugas ruangan itu menyapa Joshep saat dia baru saja keluar dari sana, tentu saja mereka mengenal Joshep, siapa yang tidak mengenal putra satu-satunya dokter Frans yang namanya kini sedang melejit karena kasusnya itu, terlebih sebelumnya nama dia juga sering di sebut-sbut Frans sebagai anak durhaka yang lebih memilih istrinya di bandingkan dengan orangtuanya.


"I-ibu ku, apakah ibu ku di dalam?" tanya Joshep.


"petugas itu mengangguk, "Ibu anda sudah selesai di bersihkan dan sudah siap untuk di bawa ke rumah duka."


Joshep menyeret kakinya yang tiba-tiba saja lemas seperti tidak bertulang ke dalam ruangan itu untuk melihat jasad Bertha sang ibu.


Jasad Bertha sedang di masukkan ke dalam peti jenazah saat Joshep masuk ke dalam ruangan itu.


"Mi, aku datang bersama Paula ke sini, apa mami tidak ingin memarahi ku dan juga istri ku? Kenapa mami meninggalkan aku di saat keadaan seperti ini? Apa mami sengaja menghukum ku agar aku menanggung semua ini sendirian?" ujar Joshep di sisi peti sambil terus memandangi wajah ibunya yang telah terbujur kaku di dalamnya.


Paula hanya melihat suaminya dari ambang pintu, dia memberi ruang dan kesempatan pada suaminya untuk mengutarakan dan menumpahkan kesedihannya, namun begitu dia tetap berada di dekatnya, dia tahu bagamana sakitnya di tinggalkan orangtua, dan yang paling di butuhkan adalah dukungan dari orang tercinta, meski dulu Joshep tidak ada di sampingnya saat dia kehilangan ayahnya, namun Paula tidak akan membalas semua itu, dia akan tetap menyertai Joshep dalam keadaan apapun.


"Nyonya Bertha, anda memang telah membuat ku sangat menderita, namun bagaimana pun, anda tetaplah nenek dari Kevin, meski anda belum sempat mengucap kata maaf pada ku atas apa yang telah anda lakukan pada ku, namun aku telah memaafkan mu, semoga Tuhan mempertimbangkan maaf ku pada mu dan meringankan dosa-dosa mu." ujar Paula dalam batinnya, sambil menatap wajah pias Bertha dari kejauhan.

__ADS_1


__ADS_2