
Seminggu berlalu, Paula kini bekerja sebagai office girl di rumah sakit Permata atas bantuan Willy, sebetulnya Willy tidak tega jika Paula harus bekerja sebagai buruh kasar seperti itu, namun Paula bersikeras menerima tawaran itu saat wily mengatakan jika hanya itu satu-satunya pekerjaan yang tersedia di rumah sakit.
Sebenarnya Willy sempat menawarkan Paula untuk bekerja di tenpat lain yang pekerjaannya lebih baik, namun Paula merasa bekerja di Permata akan lebih efesien secara dia bisa lebih dekat dengan Kevin.
Pagi itu Paula mendapat tugas untuk membereskan ruang rapat, karena akan di adakan rapat besar antar petinggi rumah sakit. Jujur saja Paula merasa ragu, dia takut jika mantan mertuanya yang menjabat sebagai direktur rumah sakit akan melihat dirinya, dia sungguh belum siap untuk bertemu dengan orang yang paling di bencinya itu.
Kematian sanga ayah seteleah mantan mertuanya keluar dari ruang rawat ayahnya lima tahun silam menyisakan tanda tanya cukup besar, apa yang di lakukan Frans saat itu sehingga membuat ayahnya meninggal, hanya saja Paula tidak punya bukti untuk menuduh Frans melakukan sesuatu yang sampai menyebabkan ayahnya pergi untuk selama-lamanya itu.
Paula mengenakan masker untuk menutupi wajahnya, menghindari kemungkinan kehadirannya di ketahui oleh mantan mertuanya, lagi pula jika sampai kehadirannya di ketahui oleh Frans, bukan tidak mungkin dirinya juga akan kehilangan pekerjaannya ini, sementara dirinya sangat membutuhkan pekerjaan ini.
Ruang rapat masih kosong, Paula membersihkan ruangan dan mengelap meja, kursi, jendela dan semuanya tanpa ada yang ketinggalan, saat itu dia memang tidak bekerja sendirian, ada dua orang temannya yang lain yang juga melakukan pembersihan di ruangan itu.
"Cepat, direktur sudah berjalan menuju kesini, sepertinya rapat akan segera di mulai, ruangan harus bersih dan rapi dalam waktu lima menit!" ujar pengawas bagian kebersihan meneriaki Paula dan kedua temannya.
Mendengar perintah dari pengawasnya dan mengetahui jika direktur rumah sakit sedang menuju ke sana, Paula yang sedang membersihkan jendela tiba-tiba kehilangan pegangan, lantas kakinya terpeleset dari bangku yang menjadi pijakannya, sehingga tubuhnya terpelanting ke belakang.
"Auwh!" pekik Paula menahan sakit di kakinya yang sepertinya terkilir.
"Maaf pak dirut, ini benar-benar kecerobohan pekerja kami, saya mohon maaf!" ujar pengawas yang segera berlari menghampiri Paula yang duduk tersimpuh di depan pria berpenampilan perlente dengan setelan jas lengkap yang mengulurkan tangannya untuk menawarkan bantuan sebagai pegangan Paula berdiri.
Namun Paula malah menyembunyikan wajahnya, dia tidak ingin pria yang di sapa dirut oleh pengawasnya itu mengenali wajahnya, Paula berdiri dengan berpegangan kursi bekas pijakannya sambil terus menundukkan wajahnya dan berlalu begitu saja dengan kaki yang terpincang, tanpa menghiraukan pria di hadapannya, bahkan dia tidak melirik sedikitpun ke arah pria itu.
"Paula?" Gumam pria perlente yang ternyata Joshep itu lirih, matanya terus memandangi punggung wanita yang baru saja berlalu dari hadapannya itu.
Meski Paula berusaha menyembunyikan wajahnya dan memakai masker untuk menutupi identitas dirinya, namun Joshep sangat mengenal Paula, bahkan hanya dari postur tubuhnya saja.
"Cih, memang Tuhan tidak pernah salah untuk memberikan hukuman, bahkan saat ini pun aku masih di beri kesempatan untuk melihat bagaimana kau menjalani hidup mu yang tidak pernah lepas dari penderitaan, lihatlah,,,, kau menjadi petugas kebersihan, sementara aku direktur utamanya di gedung yang sama tempat kita bekerja," ujar Joshep dalam batinnya.
**
__ADS_1
Joshep mengotak atik keyboard di mejanya dengan mata yang serius memandangi layar komputer di atas meja kerja milik ayahnya yang kini menjadi meja kerja miliknya, meski belum resmi serah terima jabatan, namun atas persetujuan Mark dan Frans kini Joshep mulai menggantikan tugas ayahnya di sana sebagai pemimpin di rumah sakit itu.
Sebagai pimpinan di rumah sakit tentu saja dia punya wewenang dan kebebasan untuk mengakses semua bagian divisi rumah sakit, termasuk mengakses data para pekerja office girl seperti yang saat ini sedang dia lakukan.
Semenjak kejaian di ruang rapat itu, meski dirinya ingin tidak peduli dengan keberadaan paula di gedung yang sama dengan tempat dirinya bekerja, namun hatinya selalu haus akan informasi mengenai Paula, ada banyak hal yang ingin dia tahu mengenai mantan istrinya itu.
"Ah shiiiiiit,,, apa aku tidak salah lihat? Secepat itukah statusnya menjadi janda kembali? Dia sudah bercerai dengan Adam?" Pekiknya sambil men-zoom data diri paula yang kini sedang dia baca di layar komputernya.
Tertulis dengan jelas di cv milik Paula yang sebelumnya dia serahkan pada pihak rumah sakit saat dirinya mengajukan lamaran pekerjaan, status dirinya tertulis jelas sebagai single parent.
"Wait,,,," gumam Joshep lagi saat dirinya beralih pada kartu pengenal milik Paula yang di cetak empat tahun silam di desa, dan status yang tertulis di sana juga sebagai janda, tidak ada keterangan menikah dengan dengan Adam sama sekali, tentu saja hal itu membuat Joshep mengernyitkan keningnya dan kebingungan.
Jika empat tahun lalu saat Paula mengurus kartu tanda pengenal dirinya dan statusnya janda, lantas usia Kevin saat ini lima tahun, seharusnya saat itu status Paula bukan janda, karena saat mengurus surat-surat itu berarti sudah ada Kevin yang berusia satu tahun.
"Atau melama ini mereka tidak pernah menikah dan hanya kumpul kebo saja? Oh sial, kau membuat ku gila, Paula!" Joshep semakin kebingungan dengan pikirannya sendiri, dengan tebakan dan segala kemungkinan yang terus bermunculan di kepalanya.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam saat Bella menelpon dan menanyakan keberadaannya, dan dia memberi tahu jika calon tunangan nya itu sedang makan malam di rumahnya.
Joshep sendiri sampai tidak menyadari jika dirinya memeriksa data Paula sampai se-larut itu.
Banyak hal ganjil yang menjadi ganjalan di hatinya mengenai data Paula yang menurutnya terlalu aneh, membuatnya menghubungi seseorang untuk mencari tahu mengenai kehidupan Paula selama limatahun belakangan ini.
Niat hati ingin pulang dan menemui Bella yang sedang menikmati makan malam bersama kedua orang tuanya di rumah, langkah kaki joshep malah membawanya ke lantai 6 dimana Kevin berada.
Karena memang waktu sudah malam, tidak banyak orang berlalu lalang di sekitar lantai itu, hanya terlihat satu sampai dua orang perawat berjalan di sana, sepertinya mereka sedang bertugas malam.
Joshep mengintip ruang anggrek tempat dimana Kevin di rawat, terlihat Kevin sedang melamun sendirian, bocah itu sepertinya masih asik menonton televisi yang merupakan fasilitas kamar vip itu.
Setelah Joshep memastikan Kevin hanya sendirian di sana, dia memberanikan diri masuk ke ruangan itu.
__ADS_1
"Dokter Smith!" panggil Kevin dengan mata berbinar saat melihat Joshep masuk ke dalam ruangannya.
Melihat binaran mata Kevin yang berkilau dan seperti sangat bahagia melihatnya, entah mengapa ada perasaan aneh yang muncul di hatinya, jika sebelumnya dia selalu merasa anak itu adalah batu penghalang antara dirinya dan Paula, dan anak hasil buah cinta Paula dengan pria lain, saat ini tiba-tiba Joshep merasakan perasaan hangat di hatinya, seperti ada sesuatu yang mencairkan gunung es di dadanya.
"Hai Kevin Hill, bagaimana kabar mu?" tanya Joshep membalas senyuman Kevin, lantas mendekati bocah yang segera mengalihkan pandangannya dari layar televisi ke wajah Joshep.
"Kenapa belum tidur sudah se-larut ini?" lanjut Joshep.
"Aku bosan," jawabnya singkat.
"Kemana ibu mu?"
"Ibu mungkin masih sibuk bekerja, biasanya dia datang pukul sepuluh malam, ibu bilang dia sekarang bekerja di rumah sakit ini, padahal dia bukan dokter, aku rasa mungkin dia berbohong pada ku." ujar Kevin.
"Berbohong?" beo Joshep mulai tetark dengan celotehan bocah cerewet itu.
"Hemh, aku rasa ibu sengaja pergi saat aku masih tidur, dan kembali sat aku sudah tidur juga agar aku tidak bertanya mengenai ayah." bocah itu bercerita pada Joshep dengan mengalir begitu saja.
"Dokter Smith, apa anda mau menjadi teman ku?" tanya Kevin.
"Teman?" kaget Joshep.
Kevin mengangguk, "Aku tidak punya teman di sini, aku selalu sendirian dan kesepian, orang-orang dewasa selalu membohongi anak kecil seperti ku, aku tidak suka, mereka jahat!" cebiknya.
"Tapi bukankah aku juga orang dewasa?" Joshep terkekeh geli.
"Emhhh,,, iya juga. Tapi aku ingin berteman dengan anda, apa anda tidak mau berteman dengan ku? Seperti perawat-perawat yang selalu membicarakan ibu ku di belakangnya, atau seperti dokter Willy yang sepertinya ingin mengantikan ayah ku. Aku tidak suka, ayah ku tidak boleh di gantikan oleh siapapun!" kesal Kevin.
Joshep tersenyum miring, benar dugaannya, jika Willy memang sedang berusaha mendekati Paula dan Kevin.
__ADS_1
"Oke, kita berteman, tenang saja, aku tidak tertarik untuk menjadi ayah mu, yang penting kamu harus berjanji merahasiakan pertemanan kita, dari siapapun, aku akan sering menemui mu nanti," ujar Joshep.
Tentu saja dia tidak tertarik untuk menjadi ayahnya Kevin karena yang ada dalam pikirannya saat ini adalah ingin mengusik hubungan Paula dengan Willy.