
"Aku memang bersalah, namun syukurlah setidaknya da yang tersisa dari hubungan kita, sebagai bukti jika kita pernah saling---"
"Josh,,, jangan ungkit masa lalu, Kevin memang putra mu, tapi masa depan mu harus kamu pikirkan juga, kamu akan bertungan dengan Bella nantinya, jangan kecewakan hatinya, dia tidak bersalah dan tidak ada hubungannya dengan cerita masa lalu kita yang sudah tutup buku, saatnya kamu memulai cerita mu yang baru, aku yakin kamu akan lebih bersinar dalam segala hal jika bersama Bella, aku mendukung mu, suatu saat Kevin juga akan bangga saat tahu jika ayahnya seorang yang hebat!" potong Paula dengan nada serius membuat Joshep menghentikan kata katanya daan langsung memasang wajah kecewa saat mendengar ucapan Paula padanya.
*
Beberapa saat lalu saat di rumah sakit dan Joshep tidak bersama Paula karena dia sedang berdiskusi tentang kondisi Kevin pasca operasi dengan tim dokter, Frans menemui Paula, pria tua itu mengajak mantan menantunya untuk membicarakan suatu hal yang penting, katanya.
Paula hanya menurut saat Frans membawanya ke sebuah ruangan tempat penyimpanan alat-lat medis yang tidak jauh dari sana, karena dirasa tempat itu cukup sepi dan nyaman untuk mereka berbicara tanpa ada yang mendengar pembicaraan mereka.
"Aku akan membantu semua biaya kesembuhan Kevin sampai dia benar-benar sehat, selain dia memang cucu ku, hal itu juga aku lakukan agar kau membayarnya dengan cara lain pada ku." Frans membuka pembicaraan di antara mereka.
"Membayar dengan cara lain? Maksud anda?" Paula mengernyit.
"Aku butuh bantuan mu, setelah Joshep mengetahui jika Kevin adalah putranya, aku tidak mau jika kalian berdua menjadi dekat kembali dengan alasan anak atau dengan alasan apapun. Mari kita berbicara logis, sebagai sesama orang tua kau pasti sangat tahu, jika semua orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anak mereka, begitu pun aku, dan kau pasti tau jika yang terbaik untuk Joshep adalah Bella, lihat lah,,, saat ini belum tunangan saja dia sudah menjadi direktur rumah sakit besar ini, tidak menutup kemungkinan dia akan menjadi pemilik pemilik semua bisnis orang tua Bella jika mereka sudah menikah, aku hanya ingin anak ku sukses dan menjalani hidupnya dengan baik." Frans terdengar sangat serius saat mengutarakan maksud pertemuannya dengan Paula kali ini.
"Percayalah, karier Joshep akan hancur dan dia akan terpuruk jika sampai embatalkan pertunangannya denganBella, tuan Mark pasti tidak akan melepaskan dia, tidak akan ada satupun rumah sakit di sini yang akan menerima dia, saat itulah kehancuran karier dan hidupnya." sambung Frans.
Saat ini Frans seakan ingin mengatakan jika Paula akan membawa kesialan dan pengaruh buruk jika Joshep memilih kembali bersamanya.
__ADS_1
"Tuan Frans Smith yang terhormat, sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih karena anda sudah berbaik hati berniat membiayai pengobatan cucu anda, sebenarnya saya ingin membayarnya sendiri meski uang saya tidak cukup, namun ayah anak saya, yaitu anak anda Joshep, mantan suami saya,,, kebetulan sudah membayar semua tagihan biaya operasi anak kami, jadi atas niat baik anda saya ucapkan terima kasih." jawab Paula dengan santai.
"Apa maksud perkataan mu? Apa karena kau tau Joshep kini sudah menjadi direktur rumah sakit ternama dan kau ingin menggunakan anak mu untuk menjeratnya kembali agar kembali bersama mu?" nada bicara Frans mulai meninggi.
Paula menggeleng seraya tersenyum miring, "Anda terlalu terburu-buru menyimpulkan, padahal saya belum menyelesaikan kalimat saya, anda tenang saja, saya tidak sedang mencari pasangan yang kaya raya dan punya segalanya, saya hanya perlu pasangan yang cukup menjadikan saya segala-galanya untuknya, dan kriteria itu tidak ada di diri putra anda, saya sudah cukup kecewa dengan sikap putra anda yang lebih mndengarkan hasutan anda dan istri anda saat itu daripada mencari tau dan meminta penjelsan dari saya, jadi,,, putra anda bukan tipe saya." ujar Paula.
"Aku peganga kata-kata mu, dan aku tidak akan tinggal diam jika kau sampai mengingkari ucapan mu sendiri!" ancam Frans sambil berlalu meninggalkan Paula di ruangan itu.
*
Hari ke tiga pasca operasi, Kevin masih belum keluar dari ruang intensif dan masih belum bisa di kunjungi, selama itu juga Joshep rajin memberi tahu perkembangan Kevin pada Paula, baik itu lewat pesan, lewat telepon atau bahkan datang secara langsung ke kontrakan Paula seperti yang dilakukannya sekarang ini.
"Kenapa? Apa kamu tidak bahagia mendengar kemajuan kondisi Kevin?" tanya Joshep.
"Bahagia, tentu saja aku merasa bahagia, karena kesembuhan Kevin adalah doa yang selalu aku pinta pada Tuhan di setiap hela nafas ku, hanya saja---" ucapan Paula menggantung.
"Kenapa? Ada masalah apa? Kamu bisa ceritakan pada ku!"
"Josh, aku rasa kamu bisa menyampaikannya lewat pesan atau via telepon saja, kamu tidak harus sering-sering datang ke sini, apalagi dengan membawa semua itu." Paula menunjuk beberapa kantung plastik berisi bahan makanan dan kebutuhan sehari-hari yang hampir setiap dia datang selalu dia bawakan untuk mantan istrinya itu.
__ADS_1
"Kenapa? Apa kamu merasa terganggu dengan kedatangan ku?"
"Josh, kamu punya kekasih, di sini juga terdapat banyak perawat dan staf rumah sakit yang juga tinggal, apa kata mereka jika melihat mu sering-sering ke sini, aku menjadi buah bibir mereka dan di anggap perebut kekasih orang. Tolong jangan persulit keadaan ku!" mohon Paula.
Kemarin, Paula baru mendapat telepon dari Frans yang berisi peringatan jika dirinya jangan terlalu dekat dengan putranya, mantan mertuanya itu terdengar sangat marah saat berbicara dengannya di telepon kemarin.
"T-tapi--- aku dan Bella,,,"
"Josh, tolong! Mungkin ini saatnya aku harus mengatakan hal ini pada mu, kekasih ku tidak suka kita bertemu." gugup Paula.
"Ke-kekasih mu?" Beo Joshep. "T-tapi siapa?"
"Aku akan memperkenalkannya pada mu suatu saat nanti jika waktunya sudah tepat." ujar Paula.
"A-apa itu Willy?" tebak Joshep, namun Paula tidak menjawab pertanyaannya.
Selain menyampaikan berita kondisi Kevin yang mulai membaik, sebenarnya kedatangan Joshep ke sana juga sebenarnya ingin memberi tahu Paula jika hubungan dirinya dengan Bella sudah benar-benar berakhir, setelah melewati perdebatan yang sangat panjang, dia berhasil meyakinkan Bella dan memberi pengertian jika dirinya tidak mencintai Bella dan tidak bisa melanjutkan hubungan mereka.
Joshep sudah membulatkan hati ingin kembali membuka diri untuk Paula dan memaulai semuanya dari awal, dia pikir berita tentang perpisahannya dengan Bella akan menjadi kejutan untuk Paula.
__ADS_1
Namun ternyata belum sempat dia mengatakan hal itu pada Paula, dia malah mendapatkan kejutan lain kalau Paula ternyata sudah mempunyai kekasih, hal itu tentu saja membuat Joshep harus menelan kekecewaan yang teramat pahit, tapi meski begitu dia juga tidak pernah menyesali perpisahannya dengan Bella, karena dia yakin itu sudah merupakan hal yang paling benar untuk hidupnya, terlepas dari dia gagal mengejar Paula kembali pada akhirnya.