
"Apa lagi yang kau pikirkan? Bukankah semua sudah di jelaskan oleh tim dokter? Tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi, percayakan semua pada mereka." ujarAdam yang hari itu sengaja terbang untuk melihat Kevin yang akan di operasi, meski Kevin tidak sadarkan diri dan tidak tahu jika ayah angkatnya datang memenuhi janjinya untuk menemani Kevin saat operasi.
Paula menjadi sangat diam dan tidak banyak bicara hari itu, ketakutan dan kecemasannya akan keselamatan Kevin membuat dia banyak berdiam diri. Pun saat Adam mengatakan itu padanya, dia hanya menganggukkan kepalanya pelan.
"Dokter Smith, terimakasih sudah mengijinkan saya untuk datang di hari penting putra ku--- ah, maf,,, Kevin sudah ku anggap sebagai putra ku," kata Adam yang kini beralih menoleh ke arah Joshep, dia agak canggung mengatakan Kevin sebagai putranya di hadapan ayah kandung Kevin yang asli.
Joshep memang sengaja menghubungi Adam an memfasilitasi pria yang selama ini dia angap sabagai ayah dari putranya itu untuk datang, karena Joshep ingin memenuhi keinginan Kevin yang meminta Adam hadir di hari operasinya beberapa waktu lalu.
"Kau memang lebih pantas menjadi ayahnya Kevin, terlebih dia juga sangat menyayangi mu, aku sebenarnya iri pada mu, tapi di sisi lain aku juga bersyukur putraku mendapatkan kasih sayang yang tulus dari seorang ayah seperti mu. Terimakasih sudah mengisi ruang yang kosong di hati Kevin yang sejak awal tidak pernah aku isi, terimakasih atas tangung jawab yang seharusnya sejak awal aku pikul, terimakasih telah menciptakan keluarga utuh untuk putra ku." ucap Joshep tulus.
__ADS_1
"Aku tidak pernah bertanya tentang siapa ayah Kevin pada Paula selam ini, namun melihat interaksi kalian saat di desa waktu itu, aku sudah mulai curiga jika ada hubungan spesial antara anda dan Paula, ternyata dugaan ku benar, selama ini Paula sudah aku anggap sebagai adik ku sendiri, dia tidak pernah sedekat itu dengan pria, sehingga aku bisa menebak jika kamu orang yang spesial bagi dia." Adam melirik sekilas ke arah Paula yang seperti sedang asik dengan pikirannya sendiri, dan dia tidak berminat untuk mendengarkan percakapan antara Adam dan Joshep.
"Dia tidak pernah dekat dengan pria manapun selama ini?" Joshep seperti kaget mendengarnya.
"Hmm, dia terlalu sibuk memikirkan putra kalian, lihatlah, dia bahkan lupa mengurus dan memperhatikan dirinya sendiri, seluruh hidupnya hanya dia persembahkan untuk Kevin, mencari uang untuk pengobatan, untuk makan, biaya hidup, dia selalu menolak bantuan dari ku, dia wanita hebataku bangga bisa kenal dan menjadi kakaknya." mata Adam kini berkaca-kaca melihat Paula yang selalu terlihat tegar di luar namun jauh di dalam hatinya dia sangatlah rapuh.
Joshep ikut menoeh ke arah Paula, tampak jelas gurat kecemasan di wajahnya, ingin rasanya dia memeluk mantan istrinya itu, untuk saling berbagi kecemasan dengannya, namun sepertinya itu tidak lah mungkin, dan yang bisa dia lakukan hanya sebatas menatapnya dari kejauhan seperti sekarang ini.
Mata Joshep berkaca-kaca, bahkan setetes air matanya lolos begitu saja terjatuh ke lantai, padahal sekuat tenanga dia menahan agar buliran-buliran beningnya itu tidak sampai menetes, namun cerita Adam tentang bagaimana perjuangan Paula mempertahankan putra mereka sampai saat ini membuat hatinya terasa perih.
__ADS_1
'Ya Tuhan,mengapa rasanya sesakit ini mendengar cerita perjuangan Paula, betapa berengseknya aku yang bahkan masih membenci dan memakinya saat kami baru saja bertemu di desa,' sesal Joshep yang hanya bisa dia ungkapkan dalam hatinya saja, dadanya terasa penuh sehingga dia tidak bisa berkata-kata lagi, dan hanya bisa terdiam sambil mendengarkan cerita Adam.
"Saya yakin anda bukan ayah yang jahat, saya bisa melihat jika anda sangat menyayangi Kevin, setelah ini saya titip Kevin, jaga putra kita, aku juga titip Paula, jaga adik ku, seperti apapun hubungan kalian di masa yang akan datang, kalian adalah ayah dan ibu Kevin, saya titipkan mereka pada anda dokter Smith, saya yakin mereka akan aman dan bahagia bersama anda." Adam mengulurkan tangannya seraya mengajak Joshep untuk bersalaman sebagai ucapan perpisahan dan sebagai simbol serah terima dua orang yang yang sangat di cintainya, Kevin dan Paula.
Adam ingin memberi ruang dan kesempatan untuk Joshep berjuang menyatukankan kembali keluarga kecilnya yang sempat terpisah, dan memberikan keluarga utuh yang sebenarnya untuk Kevin.
Adam tidak bisa berlama-lama berada di sana karena meninggalkan istrinya yang tengah hamil besar.
"Aku akan mencoba dan berusaha untuk menjadi ayah yang baik untu Kevin, meski mungkin sosok ayah bagi Kevin hanya untuk mu, tapi aku akan tetap berusaha memberikan yang terbaik untuknya." jawab Joshep.
__ADS_1
"Hanya untuk Kevin? Lalu Paula?" tanya Adam.