BELENGGU DENDAM

BELENGGU DENDAM
Akhir kisah


__ADS_3

"Tolong berhenti berulah! Tidak cukupkah kekacauan yang anda buat, pih? Lantas sekarang anda ingin lepas tangan dari semuanya dengan mengakhiri hidup anda? Betapa pecundangnya anda!" omel Joshep saat dirinya menemui Frans yang kini terbaring di ranjang rumah sakit dengan tangannya yang terborgol ke besi ranjang tempat kini dia terbaring lemah.


Beberapa waktu yang lalu pihak kepolisian memberinya kabar jika sang ayah kini terbaring di rumah sakit kepolisian akibat pria itu yangmencoba mengakhiri hidupnya dengan meminum cairan pembersih lantai di tahanan.


Beruntung tindakannya itu dapat di ketahui oleh tahanan lain dan sipir penjara segera membawa Frans ke klinik yang berada di lapas, namun ternyata karena kondisinya yang semakin melemah, akhirnya Frans di larikan ke rumah sakit kepolisian.


Sebelumnya Joshep merasa enggan untuk menemui Frans di sana, namun Paula meyakinkan dirinya untuk menemui ayahnya itu, 'akan sangat menyesal jika sampai terjadi apa-apa dan Joshep tidak sempat menemui ayahnya' ujar Paula saat itu yang akhirnya membuat Joshep berubah pikiran dan mau menemui Frans di sana.


Mendapat omelan seperti itu dari Joshep, Frans yang biasanya balas memarahi Joshep dan melawan putranya itu, kini hanya terdiam membisu, pria tua itu sudah tersadar dan berhasil melewati masa kritisnya, hanya saja pandangan mata Frans terlihat kosong, dia hanya melihat ke arah atap langit-langit ruangan tanpa emperdulikan Joshep atau siapapun yang ada di ruagan sana, entah apa yang saat ini Frans pikirkan, dia seperti tidak mempunyai semangat hidup lagi.


Semenjak kepergian Bertha sanga istri, Frans memang terlihat lebih banyak melamun, terkadang dia menangis sendirian di dalam sel, menurut petugas memberitahukan semua itu pada Joshep.


Sepertinya Frans benar-benar merasa terpukul dengan kepergian Bertha, belum lagi rasa bersalahnya yang hampir tidak bisa dia kelola dalam hatinya membuatnya menjadi seperti orang yang mengalami depresi, yang berujung tindakannya yang berusaha mengakhiri hidupnya sendiri.


Terus terang saja hati Joshep sebenarnya sedikit sakit mendengar laporan peugas lapas mengenai keadaan ayahnya itu, namun jika di pikir lagi bagaimana ayahnya telah menimbulkan banyak masalah, kekacauan dan juga kesakitan bagi dirinya dan juga keluarga kecilnya, terlebih untuk Paula, dan yang lebih fatal lagi, Joshep merasa jika kepergian ibunya untuk selama-lamanya pun adalah mutlak kesalahan Frans.


"Katakan sesuatu, apa sebenarnya yang anda inginkan, anda ingin melihat putra mu ini hancur yang seperti apa lagi? Kekacauan besar apa lagi yang ingin anda rencanakan, sebenarnya?" Joshep terus menumpahkan amarahnya pada Frans yang juga masih tetap terus diam tidak bergeming.

__ADS_1


Sampai akhirnya Joshep merasa kesal karena merasa tidak ada tanggapan sama seklai dari Frans, sehingga dia memilih untuk meninggalkan ayahnya itu, apalagi setelah dokter memberi tahu dirinya jika tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi dari kesehatan fisik ayahnya, karena saat ini yang sakit dari Frans sepertinya adalah jiwanya.


Sebulan berlalu, Joshep dan Paula memutuskan untuk pindah ke luar negeri, untuk memulai kembali bisnis pengadaan alat-alat kesehatan yang dulu pernah di jalaninya, sambil dia juga ingin memulaikariernya sebagai dokter di luar negeri karena ada seorang temannya yang mengatakan jika ada rumah sakit baru yang memerlukan banyak tenaga medis.


Setelah lama bergulat dengan segala pertimbangan, akhirnya Joshep dan Paula sepakat untuk memulai hidup yang baru di sana, meninggalkan kotanya yang menyimpan banyak kenangan pahit, bagi mereka. Mereka hanya ingin memulai kahidupan yang baru dengan mengubur dalam-dalam berbagai cerita pahit mereka yang pernah mereka alami, melupakan kesakitan yang telah mereka lewati dan memaafkan orang-orang yang pernah membuat mereka mengalami semua itu, termasuk Frans yang telah banyak menyumbang kesakitan dan kepahitan dalam hidup mereka.


Mereka ingin memulai hidup tanpa ada sisa dendam yang membelenggu dalam diri mereka, terlebih Frans yang sudah hampir tiga minggu ini menjadi penghuni rumah sakit jiwa karena tekanan mental dan depresi yang begitu dalam sehingga membuat pria tua itu kehilangan kewarasan dan akal sehatnya lagi, dia menjadi sering mengamuk tanpa sebab, menangis, meraung dan memaki semua orang yang berada di dekatnya, sehingga pihak lapas menyarankan agar Frans di pindahkan ke rumah sakit jiwa saja, karena keberadaannya di lapas dapat mengganggu tahanan yang lain.


Joshep hanya bisa pasrah dan legowo dengan apa yang terjadi pada ayahnya itu, bagaimana pun frans adalah orangtua satu-satunya yang di milikinya, dia akan mendukung apapun yang terbaik untuk kesehatan dan kebaikan ayahnya, meski akhirnya dia juga memutuskan untuk pergi jauh dan mempercayakan perawatan Frans pada para ahli di rumah sakit jiwa sana, karena hanya itu yang mampu dia perbuat.


"Aku akan selalu berada di sisi mu dan menemani mu dalam keadaan apapun, namun dengan satu syarat, berhenti mengungkit masa lalu, aku sudah melupakan dan memaafkan semuanya." jawab paula yang mengecup pipi joshep dengan mesra.


"Ibu,,, setelah ada ayah Josh, jatah ciuman ku jadi berkurang!" protes Kevin yang duduk di pangkuan Joshep dengan wajah cemberut.


"Tapi sepertinya jatah ciuman mu akan semakin berkurang nantinya, karena kamu harus berbagi tidak hanya dengan ayah mu, tapi juga dengan adik mu kelak." ujar paula sambil mengelus perutnya yang masih terlihat rata.


Mendengar hal itu, bukan hanya Kevin yang merasa kaget, tapi juga Joshep yang belum tahu perihal kehamilan Paula untuk yang kedua kalinya itu langsung di buat kaget.

__ADS_1


"Sayang, benarkah itu? Benarkah akan ada bayi kecil lagi di antara kita?" tanya Joshep.


Paula mengangguk sambil mengembangkan senyumnya.


"Oh Tuhan, terimakasih,,, akhirnya aku bisa menebus ketidak hadiran mu saat hamil Kevin, kali ini aku akan mendampingi kehamilan mu sampai persalinan, dan membantu mu mengurus bayi kita nanti." kata Joshep dengan mata yang berkaca-kaca penuh bahagia, tangannya juga terulur mengusap lembut perut rata paula.


"Aku juga,,,, aku juga akan membantu ayah dan ibu, horeee aku akan menjadi abang, nanti aku di panggil abang Kevin ya!" Kevin juga tidak kalah antusias dan bahagianya untuk menyambut calon adik bayinya yang bahkan masih lama di lahirkan itu.


**


Begitu lah hidup, terkadang Tuhan menguji kesabaran kita dengan berbagai cobaan dan kepahitan hidup yang jika kita pikir lagi sepertinya tidak mungkin kita mampu melewatinya, namun ternyata dengan kesabaran kita mampu melewatinya, terlebih saat kita berhasil melewati semua ujian yang Tuhan berikan itu, akan ada hadiah dan berkat istimewa yang kita dapatkan, teruslah bersabar, berusaha dan berdoa dalam menghadapi segala bentuk ujian hidup kita, dan percayalah,,, Tuhan tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan umatnya, karena sabar selalu berbuah manis, percayalah,,, akan indah pada waktunya.


**


Terimakasih untuk kakak-kakak yang sudah mengikuti cerita ini sampai akhir, semoga dapat menghibur kakak semua, semoga kakak semua sehat dan bahagia selalu,,,,🙏❤️


***TAMAT***

__ADS_1


__ADS_2