
"Sayang, coba tebak, aku bertemu dengan siapa pagi ini di rumah sakit permata?" ujar Bella saat dirinya berada di salah satu bridal untuk memilih gaun yang akan di kenakannya saat pesta pertunangannya nanti.
Joshep mengendikkan kedua bahunya acuh, jika saja ibunya tidak memaksanya untuk menemani Bella ke tempat yang membosankan ini, sepertinya dirinya akan lebih memilih untuk tetap tidur di kamarnya.
"Paula, aku bertemu pembantu mu di sana." Kata Bella sambil memperhatikan ekspresi wajah kekasihnya, apakah dia akan kaget atau bahkan antusias dan senang? Tapi sepertinya joshep lebih tertark dengan majalah yang teronggok di meja tempatnya menunggu.
"Sayang, aku melihat Nyonya Hill di rumah sakit, dan dia bertengkar dengan tuan Hill, suaminya karena dia mendapati suaminya berselingkuh, Tuan Hill mempunyai wanita lain yang saat ini ternyata sedang hamil besar, mereka bertengkar hebat di kantin rumah sakit sampai semua orang menontonnya." Lanjut Bella, menunggu reaksi Joshep.
Namun ternyata Joshep tetap menyikapinya dengan datar, dia bahkan seperti tidak tertarik dengan cerita yang di sampaikan Bella padanya, terbukti dengan wajahnya yang tetap serius menatap lembar demi lembar majalah otomotif di tangannya.
"Sayang, apa kamu mendengar ku?" Bella menggoyang-goyangkan lengan Joshep.
"Aku mendengarkan mu." jawabnya masih dengan nada datar.
"Kamu mendengarkan ku, lantas kenapa tanggapan m seperti biasa saja?"
"Cih, lantas aku harus menanggapinya dengan cara apa? Dengan bagaimana? Itu urusan mereka, tidak ada hubungannya dengan ku, kenapa aku harus ikut repot menanggapi kisruh rumah tangga mereka?" sinis Joshep.
"Tapi kamu tau jika Nyonya Hill ada di sini juga?" tanya Bella lagi, dia penasaran dengan pertanyaan di kepalanya tentang bagaimana bisa Paula dan Joshep berada di kota dalam waktu yang sepertinya bersamaan.
__ADS_1
"Tau, karena putranya memang di rujuk ke rumah sakit sini sat drop beberpa hari yang lalu." Ujar Joshep tetap tenang dalam menjawab pertenyaan Bella, sungguh dia tidak ingin memperlihatkan jika jauh di dalam dadanya kini perasaannya bergemuruh mendengar berita tentang perselingkuhan yang di lakukan Adam terhadap paula, namun bagaimana pun dia sudah memutuskan untuk meninggalkan segala sesuatu mengenai Paula, dia tidak ingin terlibat apapun dengan apa yang terjadi pada diri Paula, anggap saja apa yang di alami Paula saat ini adalah karma yang di terima Paula karena pernah menghianati dirinya di masa lalu.
"Tapi bukankah dia masih bekerja pada mu? Apa tidak ada setidaknya sedikit empati pada pekerja mu?" pancing Bella lagi.
"Tidak, dia sudah mengundurkan diri, dan sudah melunasi pinjamannya pada ku, dia ingin fokus menjaga anaknya, katanya. Dan untuk masalah rumah tangganya, aku tidak peduli, hubungan kami hanya sebatas hubungan bos dan karyawannya saja, aku tidak suka ikut campur urusan orang lain!" terang Joshep seolah mengatakan pada Bella jika dirinya tidak tertarik untuk membahas masalah Paula, dan tidak ingin membicarakannya lebih lanjut.
Mendengar jawaban Joshep, diam-diam Bella tersenyum dalam hatinya, sepertinya beberapa prasangka dalam hatinya terpatahkan setelah melihat ekspresi yang di perlihatkan oleh wajah Joshep dan jawaban jawaban yang di utarakan Joshep mengenai Paula, sebelumnya dia sempat mengira jika Joshep ada affair dengan Paula, namun jika melihat reaksi Joshep barusan, sepertinya dia merasa jika itu hanya rasa cemburunya yang berlebihan saja.
**
Di tempat lain Paula kini sedang duduk bersama Adam dan seorang wanita hamil yang sejak tadi seperti ketakutan dan kebingungan.
Adam menolah, "Ini Evelin, panggil saja Eve, dia---dia istri ku, maaf aku tidak memberi tahukan pada mu, aku memang menyuruhnya untuk ikut bersama ku ke sini karena aku tidak ingin ada apa-apa dengan dia dan bayi dalam kandungannya, aku trauma meninggalkan istri yang hamil." ujar Adam.
"Aku sudah banyak mendengar cerita mu dari Adam, maaf jika kedatangan ku yang tiba-tiba ini malah membuat kekacauan." kata wanita yang belakangan di ketahui adalah Evelin yang merupakan istri dari Adam yang selama ini keberadaannya di rahasiakan oleh Adam.
"Aku bingun harus memperkenalkan dia pada mu dengan cara bagaimana, aku juga tidak ingin membuat Kevin sedih dan kecewa karena ayahnya mempunyai keluarga lain selain dirinya. Untung saja Eve sangat mengerti dengan keadaan ku, dan dia mau menerima kehadiran kalian, Eve sama-sama buruh di sana, dia juga seorang janda dan di tinggal pergi selama-lamanya oleh suaminya, kami merasa senasib dan akhirnya memutuskan untuk menikah di sana." terang Adam.
Paula tersenyum, "Kak, aku turut bahagia mendengarnya, apalagi kakak sudah mau membuka hati untuk wanita lain, bagaimana pun kakak butuh pendamping, kakak butuh seseorang yang menemani kakak di hari tua kelak, kakak butuh keluarga yang berada di dekat kakak setiap waktu, kakak berhak bahagia!"
__ADS_1
Senyuman Paula di hiasi air mata yang perlahan menetes dan meluncur di pipinya, bukan air mata kesedihan, namun air mata kebahagiaan karena akhirnya Adam, yang selama ini selalu memberikan dirinya dan Kevin kebahagiaan dan perlindungan akhirnya menemukan kebahagiaannya sendiri, demi Tuhan Paula ikhlas dan ikut berbahagia dengan apa yang di dapat oleh Adam saat ini.
"Lantas Kevin? Aku tidak mau Kevin membenci ku, dan akhirnya melupakanku sebagai ayahnya." Air mata Adam ikut menetes, sungguh dia tidak bisa membayangkan jika dia harus kehilangan Kevin, meski Kevin bukan darah dagingnya, namun Kevin selalu ada di hatinya, dia menyaksikan Kevin sejak bocah itu masih dalam kandungan sampai sebesar ini.
"Kakak jangan khawatir, Kevin akan tetap menjadi putra mu, kakak akan tetap menjadi ayah terhebat untuk Kevin, dia tidak akan melupakan mu karena dia hanya punya kamu sebagai satu-satunya ayah di hidupnya."
Adam semakin menangis mendengar ucapan Paula, sungguh hatinya terasa rapuh jika itu menyangkut tentang Kevin, tapi takdir Tuhan juga telah mempertemukan dia dengan Evelin, wanita yang sangat baik dan tulus padanya, dan jujur saja kelembutan Evelin membuatnya kembali merasakan jatuh cinta untuk yang kedua kalinya setelah dulu dia pernah mencintai almarhum istrinya.
"Kak, fokuslah merawat istri dan bayi kalian, temani kak Eve, rawat dan jaga dia, untuk masalah Kevin, percayakan pada ku, aku akan mengurusnya dengan baik, jangan sampai kakak menyesal seperti lima tahun yang lalu, percayalah, adik mu ini wanita kuat dan akan baik-baik saja!" Paula membusungkan dadanya dan menepuk-nepuk dadanya sendiri, seraya tersenyum dalam linangan air matanya.
"Tapi---"
"Sudahah, aku akan bicara pelan-pelan pada Kevin, dia anak yang baik dan penurut, dia pasti akan mengerti, dan bisa memahami, aku tidak mau terjadi sesuatu pada keponakan ku ini." Paula mengelus lembut perut Eve yang membuncit.
Adam sepetinya dalam hal ini pun merasa kebingungan , di satu sisi dia ingi menemani dan menjaga Kevin, namun dia juga ingin menjaga dan menemani Eve, trauma masa lalu yang sempat kehilangan istri dan anaknya yang masih dalam kandungan kadang masih sering menghantuinya sehngga dia sering paranoid akan hal itu, dan hal itu juga yang memutuskan Adam untyuk memebawa serta Eve dalam kepulangannya kali ini.
"Pau, aku akan sering menelpon mu untuk berbicara dengan Kevin, jangan ganti nomor ponsel mu, aku juga akan segera menemui kevin jika waktunya sudah memungkinkan, sungguh ini keputusan yang sangat berat bagi ku, dan percayalah kalian bukan sebuah pilihan bagi ku, Kevin dan anak dalam perut Eve sama-sama berarti bagi hidup ku," kata Adam seraya ingin menyampaikan jika dalam hal ini dia tidak sedang memilih, karena baik Kevin maupun calon anaknya bukan pilihan baginya.
"Kak, aku tau, aku mengerti. Terimakasih kakak telah menjadi payung ku di saat hujan dan badai, memberi kami kebahagiaan dan perlindungan,kini hujan telah reda, badai telah berlalu, pergilah kak, temui pelangi mu, karena kakak berhak bahagia." Paula memeluk erat dam, dan sesaat mereka saling menumpahkan air mata dalam pelukan, hubungan tulus yang terjalin di antara mereka meski tanpa ikatan darah dan bumbu cinta, inilah yang di namakan unconditional love, cinta tanpa syarat.
__ADS_1