
"Pih, hentikan! Jangan di teruskan!" Joshep memotong makian Frans pada Paula, karena dia menyadari jika Kevin kini berada di ruangan itu juga, dia tidak ingin Kevin merasa sedih karena ibunya di maki di depan nya, namun ternyata sudah terlambat, karena sepertinya Kevin sudah mendengar semua kemarahan Frans pada Paula.
"Ibu!" panggil Kevin pada Paula, dia turun dari kursi rodanya dan berusaha berjalan untuk memeluk Paula.
"Ibu?" beo Frans melongo.
"Opa, kenapa opa marah sama ibu ku?" Kevin nampak ketakutan melihat Frans yang memaki Paula tepat di hadapannya.
"D-dia,,, kalian?"
Grubyak,,,!
Tubuh tua Frans merluruh ke lantai, dengan tangannya yang meremas dada dengan erat, nafas Frans terdengar berat dan sesak.
"Papih!" teriak Joshep, menghampiri tubuh Frans yang kini tergolek di lantai, sementara Kevin dan Paula terlihat kebingungan, mereka tidak tahu harus berbuat apa.
Joshep memeriksa nadi Frans, dan membuka beberapa kancing kemeja Frans agar ayahnya bisa menghirup udara lebih leluasa.
"Tolong panggilkan perawat untuk datang ke sini agar membawa papi ku ke ruang ugd!" titah Joshep pada Paula.
Seperti terhipnotis, Paula langsung mengangguk dan berlari ke luar ruangan untuk memanggil perawat jaga di lantai bawah.
Sementara Kevin terus memperhatikan Joshep yang memberikan pertolongan pertama pada ayahnya, dan berusaha untuk membuat ayahnya tetap tersadar.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, paula datang bersama tiga orang perawat yang berhasil dia temui di lorong, dan berhasil dia panggil untuk membantu Joshep membawa ayahnya ke ruang gawat darurat agar segera mendapatkan penanganan.
"Apa yang terjadi bu, opa kenapa?" tanya Kevin saat mereka kembali ke ruang rawat mereka.
"Berhenti memanggil dia opa, dia bukan kakek mu!" bentak Paula, piirannya kacau sekali saat ini, bagaimana tidak, tiba-tiba dia harus berhadapan dengan pria yang selama ini sangat di hindarinya, bahkan tau-tau putranya memanggil pria itu dengan panggilan 'opa' meskipun Frans memang benar kakeknya, namun paula tidak sudi jika pria tua itu harus dekat-dekat dengan putranya.
"Kenapa?" lirih Kevin, anak se-usia itu memang sedang aktif-aktifnya bertanya, dan akan terus mengejar pertanyaan jika jawaban yang di terimanya tidak sesuai dengan apa yang ada di pikirannya.
"Bukankah kamu lihat tadi, dia memarahi ibu? Ibu tidak ingin suatu hari dia juga memarahi mu!" jawab paula.
"Tapi opa dokter sangat baik pada ku, dia yang memberikan semua mobil-mobilan itu pada ku." Kevin menunjuk tumpukan mobil-mobilan pemberian Frans yang setiap hari menjadi teman bermainnya itu.
"Cih,,, pria tua itu, apa maksud dia melakukan semua itu pada anak ku, akh,,, harusnya aku tadi tidak memanggilkan perawat untuk membantunya dan membiarkannya mati seperti yang dia lakukan pada ayah ku dulu!" geram Paula dengan berlinang air mata, rasa marah bercampur penyesalan memenuhi dadanya saat detik-detik terakhir dirinya menemui sang ayah di rumah sakit ini.
Saat itu bahkan Frans sama sekali tidak menoleh ke arahnya saat berpapasan di pintu masuk ruang rawat ayahnya.
"K-kau! Untuk apa kau datang kemari?" tunjuk Frans saat melihat paula datang mengunjungi dirinya malam itu di ruang rawatnya.
Setelah sebelumnya Paula mencari tahu dan mendapatkan informasi jika Frans di rawat di lantai yang sama dengan Kevin, yaitu di lantai 6 rumah sakit ini, Paula menyelinap ke kamar dimana mantan mertuanya itu di rawat, tentu saja setelah sebelumnya dia memastikan jika tidak ada seorang pun yang menunggui Frans di sana, artinya Frans sendirin.
"Kenapa begitu kaget melihat ku, pih?" Paula tersenyum miring.
"Cih, beraninya kau memanggil ku dengan sebutan seperti itu," kesal Frans.
__ADS_1
Namun melihat wajah Frans yang memerah karena marah dan nafasnya yang mulai tersenggal-senggal tidak membuat Paula merasa iba atau kasihan sedikitpun pada frans.
Brukk,,,!
Paula meletakan sekardus mobil-mobilan yang Frans berikan pada Kevin di meja kecik sebelah ranjang Frans dengan kasar, Paula bahkan setengah membantingnya sehingga beberapa isinya terhambur ke lantai.
"Jangan pernah mendekati putra ku lagi, meski kami miskin, kami tidak butuh belas kasihan. Dan satu lagi, jangan pernah sok baik dengan berpura-pura menjadi kakek untuk anak ku, karena besok atau lusa,,, bisa saja putra ku tau jika kakek aslinya di bunuh oleh anda lima tahun yang lalu!" suara Paula bergetar penuh emosi.
"A-apa maksud mu, siapa yang membunuh ayah mu? Apa kau punya bukti? Ini akan menjadi fitnah jika kau asal bicara." tantang Frans balik mengancam.
"Aku memang tidak punya bukti untuk itu, sama halnya seperti aku tidak punya bukti akan rekayasa perselingkuhan yang aku yakin anda dan istri anda terlibat di dalamnya, tapi aku percaya, cepat atau lambat Tuhan pasti akan memberikan kebenaran itu pada ku."
"Apa kau gila? Kau berselingkuh dan menuduh aku dan istri ku yang merencanakan semua itu? Mana mungkin aku dan istri ku menyakiti hati putra kami dengan cara seperti itu!" elak Frans.
"Apa yang tidak bisa anda lakukan demi uang dan jabatan, bukankah dari awal anda dan istri anda memang tidak pernah setuju dengan pernikahan kami? Anda dan istri anda berpura-pura baik dan menerima ku hanya karena agar putra anda setuju melanjutkan study kedokteran di luar negeri, aku hanya alat untuk kalian, setelah tidak berguna aku di buang dengan cara yang keji, bahkan rela menghancurkan kehidupan putra mu sendiri, bukankah itu semua demi ke-tamakan anda!" tuduh Paula berapi-api.
"Karena kau memang tidak sepadan dengan putra ku, aku punya rencana tersendiri untuk kehidupan putra ku, dan kau satu-satunya penghalang kesuksesan putra ku, seharusnya kau sadar dan menyingkir, tapi kau tidak tau malu, dan berharap menjadi nyonya besar dengan menggoda putra ku." Frans kini dapat meluapkan ketidak sukaannya pada Paula secara langsung, tidak seperti dulu saat Paula masih menjadi menantunya, dia harus menahan diri dan berusaha seolah-olah menjadi mertua yang baik dan penyayang, apalagi jika itu di hadapan Joshep.
"Aku yakin saai ini anda pasti sangat lega, karena tiak harus berpura-pura baik lagi dalam memperlakukan ku, begini rupanya wajah asli mantan mertua ku, ternyata cukup pintar ber akting selama ini, atau aku yang terlalu bodoh menganggap anda dan istri anda bersikap tulus menerima ku."
"Tentu saja, aku sangat merasa lega dan bahagia karena sudah berhasil menyingkirkan mu, dan kini Joshep putra ku akan mendapatkan wanita yang eharusnya dan selayaknya dia dapatkan, seorang putri pewaris tunggal pemilik rumah sakit terbesar di negara ini, tidak seperti mu,,, tidak heran kau kini di campakan lagi oleh suami mu yang memilih perempuan lain!"
Kata-kata pria tua itu terdengar sangat menyakitkan, kata-katanya sungguh melukai dan menginjak-injak harga diri Paula, sehingga kedua tangan Paula terkepal sempurna di sisi kanan dan kiri tubuhnya, seperti siap di layangkan ke tubuh tua yang raganya terlihat menghawatirkan namun sifat dan kata-katanya sangat keterlaluan itu.
__ADS_1
Ceklek,,,!
Paula dan Frans sama-sama terkejut saat tiba-tiba Joshep muncul dari balik pintu dan melangkahkan kakinya ke dalam ruang rawat ayahnya dimana mantan istrinya dan juga ayahnya tengah bertengkar hebat.