
Joshep hendak menemui Frans malam itu, hatinya sungguh tidak merasa tenang meski terakhir kali dia bertemu dengan ayahnya, keadaan Frans sudah stabil dan baik-baik saja, namun semua itu tidak bisa membuat dirinya tenang sebelum dia memastikan sendiri kondisi terkini ayahnya sebelum dia pulang.
Baru saja Joshep meraih handle pintu ruang rawat ayahnya,damar-samar dia mendengar suara orang bersitegang di dalam, dia meruncingkan telinganya, mencoba menajamkan pendengaran.
Suara itu sangat dia kenali, suara ayahnya yang sedang beradu argumen dengan sengitnya melawan seorang wanita, ya,,, telinganya tidak mungkin salah mendengar, suara yang terdengar penuh marah itu adalah suara seorang wanita, tapi itu bukan suara ibunya, dia ingat dengan betul kalau dia sudah mengantarkan Betha pulang beberapa jam yang lalu setelah dia mengunjungi suaminya.
Setelah mengetahui kondisi Frans yang kembali stabil, Bertha juga mengatakan kalau dirinya tidak tidak bisa menunggui Frans karena dia ada janji dengan Bella untuk mengecek kembali catering dan gedung yang akan di pakai di acara pertunangan Joshep yang hanya tinggal menghitung hari itu, jadi tidak mungkin jika itu Bertha.
"Apa papih diam-diam punya perempuan lain?" bathin Joshep yang sempat curiga jika ayahnya mempunyai wanita selingkuhan.
"Tapi,,,, wait," gumamnya lagi, kecurigaan itu dia tarik kembali setelah dia samar-samar mendengar beberapa kali nama dia di sebut, dari sana joshep mulai menyadari jika wanita yang menjadi lawan bicara ayahnya di dalam sana adalah Paula, mantan istrinya. Joshep kemudian menempelkan telinganya di pintu agar dia dapat mendengarkan lebih jelas apa yang Paula dan ayahnya bicarakan dan perdebatkan di dalam sana.
Joshep diam membodoh, namun tetap mendengarkan semuanya dari balik pintu semua yang ayahnya dan Paula bicarakan secara diam-diam meski jantungnya kini tiba-tiba ingin meledak, namun dia tetap mencoba bertahan agar dia bisa mendengarkan perdebatan Paula dan ayahnya itu, sampai pada akhirnya dia sudah tidak tahan lagi untuk mendengarkan lebih lanjut kebenaran yang baru saja di dengarnya itu.
Ceklek,,,!
__ADS_1
Paula dan Frans sama-sama terkejut saat tiba-tiba Joshep muncul dari balik pintu dan melangkahkan kakinya ke dalam ruang rawat ayahnya dimana mantan istrinya dan juga ayahnya tengah bertengkar hebat.
Joshep memutuskan untuk masuk ke salam sana, dia sudah tidak kuat menampung cerita masa lalu yang kesemuanya sungguh berbeda dengan cerita versi dirinya sendiri.
Joshep merasa sangat marah, namun dia tidak tahu bagaimana caranya untuk marah, semua itu terlalu mengejutkannya.
"Josh," pekik Paula tertahan, dia tidak menyangka jika joshep akan datang di saat dirinya tengah berseteru hebat dengan Frans.
"Nak, sejak kapan kamu berada di sini?" suara Frans terbata, sangat jelas terlihat kegugupan di wajahnya yang tiba-tiba memucat seperti tidak di aliri darah.
"Sejak kalian memperdebatkan tentang cerita kejadian lima tahun silam yang tidak pernah aku ketahui, kejadian yang sengaja kalian sembunyikan dari ku, entah dengan alasan apa!" pandangan Joshep menerawang kosong, jiwanya masih terguncang parah akibat mendengar semua kebenaran yang belum pernah dia dengar sebelumnya.
"Aku sangat ingin dia menceritakan semua ini pada ku lima tahun silam sebagai pembelaannya, aku sangat ingin dia mendengar dia mengadu pada ku tentang kecurigaannya seperti yang dia ungkapkan pada mu tadi, pih. Sayangnya sampai saat ini dia tidak pernah melakukan itu, dia selalu bungkam, hingga akhirnya Tuhan menuntun ku untuk mendengar sendiri semuanya di sini." ujar Joshep dengan nada kecewa.
"Kamu tidak akan pernah percaya meski aku menceritakan semuanya pada mu lima tahun yang lalu, terlebih aku juga tidak punya bukti." tepis Paula.
__ADS_1
"Kau tidak akan pernah tau bagaimana aku akan bersikap jika kau tidak pernah mencoba untuk menceritakannya pada ku, kecuali kalau kau tidak percaya pada ku dan merasa aku tidak mencintai mu, atau malah sebaliknya kau yang tidak mencintai ku sehingga kau dengan mudahnya pergi begitu saja tanpa penjelasan dan pembelaan diri saat itu?" sinis Joshep.
"Benar, benar itu, kalau memang dia merasa tidak bersalah, seharusnya dia sudah membela dirinya sejak lima tahun silam, tapinyatanya dia pergi begitu saja, belum lagi dia juga langsung menikah dengan pria lain, dia memang perempuan tidak baik dan memang tidak pantas untuk menjadi pasangan mu." Sambar frans mengompori.
"Apa Papih masih punya muka untuk berbicara seperti itu pada ku? Bagaimana jika aku ternyata percaya dengan apa yang di katakan Paula tadi? Bagaimana jika aku percaya jika perselingkuhan itu merupakan rekayasa papih dan mamih? Bagaimana jika aku percaya kalau kematian ayah Paula ada hubungannya dengan mu? Baaimana?" suara Joshep meninggi, dia seolah tidak peduli jika keadaan ayahnya sedang tiak sehat saat ini, bahkan kedatangannya ke tempat itu karena dia menghawatirkan ayahnya tadi, namun kini semua kekhawatiran itu seolah menguap begitu saja karena kemarahan dan kekecewaannya yang mendominasi di dadanya.
"Kenapa? Kenapa kau tidak pernah mengatakan itu semua pada ku? Mengapa kau terima saja saat kau di tuduh, jika kau merasa semua keluarga ku telah menuduh mu, memfitnah mu? Kenapa?" kali ini kemarahan Joshep tertuju pada Paula, setelah dia meluapkan amarahnya pada Frans.
"Semua sudah berlalu, kita sudah berjanji untuk menjalani kehidupan masing-masing, kamu dengan calon istri mu dan aku dengan suami ku." Jawab Paula.
"Omong kosong! Kau bahkan tidak pernah menikah dengan siapapun setelah kau berpisah dengan ku lima tahun yang lalu, suami yang mana yang kau maksud? Adam? Dia bahkan telah mendaftarkan pernikahannya dengan pasangannya yang sekarang, wanita bernama Evelyn, setelah dia di tinggal mati oleh istri pertamanya lima tahun silam, dan tidak pernah ada catatan pernikahan atas nama mu setelah perceraian kita, tidak dengan Adam Hill, atau dengan pria mana pun, suami mana yang kau maksud?" teriak Joshep lagi.
"Ka-kamu mencari tahu tentang ku? Atas dasar apa kamu melakukan semua itu padaku? Kamu tidak berhak melakukan itu, itu ilegal, kita sudah tidak terikat apa-apa lagi." gagap Paula, dia sungguh tidak menyangka jika Joshep ternyata melakukan penyelidikan tentang dirinya.
Satu hal yang kini menjadi ketakutan terbesar Paula, dia takut kalau sampai Joshep menyelidiki tentang kevin, bagaimana jadinya jika sampai Joshep tahu kebenaran bahwa Kevin adalah putranya.
__ADS_1
"Kenapa? Kenapa aku tidak berhak? Bagaimana jika ternyata aku berhak melakukan itu semua?" tanya Joshep penuh misteri, membuat Paula semakin merasa ketakutan karena tidak tahu apa maksud dari perkataan Joshep barusan.
Sementara dalam diamnya Frans terus mendengarkan dan memperhatikan pertengkaran joshep dan mantan menantunya, membuatnya merasa ada sesuatu yang harus dia ungkap dari semua ini, ada sesuatu yang sangat penting yang harus dia ketahui kebenarannya.