BELENGGU DENDAM

BELENGGU DENDAM
Opa dan Oma


__ADS_3

"Selamat pagi dokter Frans, anda datang lagi?" Celoteh Kevin saat melihat dokter yang semalam datang menemuinya dan pagi ini kembali datang ke ruang rawatnya.


"Selamat pagi juga Kevin, bagaimana keadaan mu hari ini, apa lebih baik?" Dokter Frans tersenyum dengan manisnya.


"Baik dokter, apa dokter mau memeriksa ku? Tapi mengapa dokter tidak memakai jubah putih yang keren seperti kemarin?" Tanya Kevin merasa heran karena dokter Frans pagi itu hanya memakai setelan jas lengkap tanpa jubah putih yang biasa dia pakai jika sedang praktek.


"Oh, hari ini aku tidak sedang bekerja, aku ada acara ke luar kota hari ini, tapi aku ingat masih punya janji untuk memberikan ini pada mu," Dokter Frans memberikan satu kotak berisi belasan hot wheels berbagai model pada Kevin, ini pertama kalinya Frans mau berbagi koleksinya dengan orang lai, apalagi Kevin hanya orang asing yang baru di kenalnya semalam.


Frans cukup pelit jika masalah kesukaannya, bahkan koleksi mainan kesuakaannya itu tidak boleh di sentuh meski oleh asisten rumah tangganya, dia membersihkan sendiri ratusan mobil-mobilan kecil koleksinya itu.


"Oh iya, ini istri ku, namanya Berta, sayang,,, ini anak yang semalam aku ceritakan pada mu, lihatlah matanya, apa kau seperti melihat putra kita?" Dokter Frans memperkenalkan seorang wanita paruh baya yang masih terlihat segar dan modis.


Wanita itu bahkan sejak tadi hanya terpaku melihat Kevin tanpa berkata-kata, benar kata suaminya, mata Kevin benar-benar mirip dengan putranya, bahkan beberapa bagian wajahnya seperti bentuk hidung dan cuping telinganya pun sekilas mirip sekali dengan putranya,sedangkan rambut coklat keemasan kevin sungguh mirip dengan rambut suaminya.]


"Iya, anak ini tampan sekali, pantas saja semalaman kamu bercerita tentang anak ini seolah tidak ada habisnya, putra anda tampan dan pintar, tuan!" Ujar Bertha pada Adam yang berdiri di sisi ranjang Kevin, bocah itu mulai asik dengan sekotak mobil-mobilan yang baru saja di berikan Frans padanya, itu seperti harta karun terbesar yang pernah dia terima di sepanjang hidupnya.


Jangankan satu kardus yang berisi belasan mobil-mobilan, satu pun dia tak berani bermimpi untuk memilikinyanya.


"Terimakasih Dokter, terimakasih Nyonya," Ujar Kevin dengan mata yang berbinar.


"Sama-sama, anggap saja sebagai kenang-kenangan, karena sepertinya mulai bulan depan aku sudah pensiun, semoga kau lekas membaik, Nak!" Frans mengusap kepala Kevin dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


Frans bukan tipe pria penyuka anak kecil, namun dengan Kevin, hanya sekali bertemu saja dia sudah merasa jatuh cinta dengan bocah itu.


"Oh, sayang sekali, aku pikir kita akan bisa berteman lebih lama," sesal Kevin mendengar Frans akan pensiun dantidak akan bekerja lagi di rumah sakit itu.


"Hahaha,,, teman, ayolah, aku ini seumuran dengan kakek mu, aku lebih pantas menjadi kakek mu dari pada menjadi teman mu." Tawa Frans terkekeh dengan celetukan Kevin.


"Tapi aku tidak pernah punya kakek," Lirih Kevin tertunduk sedih.


"Oh itu, orang tua ku dan orang tua ibunya sudah lama berpulang jauh sebelum Kevin lahir, jadi Kevin tidak pernah mengenal kakek dan neneknya." Terang Adam.


"Maaf," kata Frans merasa tidak enak hati.


"Sudahlah, tidak perlu bersedih, anggap saja aku kakek mu, kau boleh pangil aku opa, oke!" sambung Frans.


"Baik opa, oma!" angguk Kevin.


**


Menjelang sore Paula sampai di kota, kurang lebih 14 jam menggunakan jalur darat memang sangat melelahkan, cuaca sedang tidak dalam keadaan baik, sehingga tidak ada penerbangan dari desanya ke kota, bandara kecil itu pun bahkan tutup sementara, sehingga terpaksa Paula dan Joshep menggunakan jalur darat, Joshep juga sudah mengajukan cuti satu minggu lamanya ke rumah sakit, karena selain mengantar Paula menemui Kevin, ada hal-hal yang juga harus dia lakukan di kota.


Mengingat background orang tua Joshep, tentu saja izin cutinya dengan mudah dia dapat dari rumah sakit yang masih bergantung dengan rumah sakit yang di pimpin oleh ayahnya Joshep.

__ADS_1


"Aku mengantar mu sampai sini saja, aku sudah menanyakan pada pihak rumah sakit katanya dia ada di bangsal 3 anak, dari sini kau lurus dan belok ke kiri lalu naik lift lantai 3, ruangannya tepat berada di sana." Kata Joshep saat mobil yang mereka tumpangi sampai di depan lobby rumah sakit yang besar dan mewah itu.


Paula mengangguk, dia juga tidak berharap Joshep mengantarkannya sampai ruangan Kevin, dia cukup tahu diri, sudah di antarkan sampai sini saja dia sudah sangat berterima kasih, karena jika tanpa bantuan Joshep yang berbaik hati mengantarnya ke rumah sakit ini, mungkin dirinya saat ini masih kebingungan menemukan cara bagaimana untuk menemui purtanya.


"Terimakasih, Josh. Semoga Tuhan membalas kebaikan mu." Kata Paula.


"Semoga Tuhan memberikan semua hal yang terbaik untuk hidup mu, selamat tinggal, mulai saat ini kita jalani kehidupan kita masing-masing, terimakasih untuk semua yang pernah terjadi pada kita, entah itu untuk hal baik atau hal buruk sekalipun, itu sangat indah, namun kini harus kita lupakan." Joshep melambaikan tangannya.


Pria itu tidak buru-buru pergi meninggalkan parkiran lobby, matanya terus memandangi punggung Paula yang semakin menjauh, dia ingin merasakan detik-detik bagaimana dirinya melepas kepergian Paula, melepas cinta dan kebenciannya, meski rasanya itu tak mungkin.


Joshep membuang nafasnya kasar, dia tidak menyangka jika melepaskan Paula dengan baik-baik rasanya akan sesakit itu, bahkan lebih sakit rasanya di bandingkan dengan saat dirinya melepaskan Paula lima tahun yang lalu.


Joshep mengeluarkan ponselnya, "Hallo Bella, aku ingin berbicara dengan mu malam ini, apa kita bisa bertemu? --- ya, aku berada di kota, nanti aku kabari untuk waktu dan tempatnya." Kata Joshep yang lantas mengakhiri pembicaraannya dengan Bella dn menyimpan kembali ponselnya di dashboard mobilnya.


Saat ini Joshep hanya ingin pulang ke rumah orang tuanya, mandi dan beristirahat sejenak, lantas menemui Bella malam nanti, ada banyak rencana yang harus segera dia realisasikan, demi memulai hidunya yang baru.


Joshep sudah memutuskan untuk move on dari masa lalunya, dia tahu itu hal yang sangat sulit dan hampir mendekati kata tidak mungkin untuk nya melupakan Paula, tapi dia dan Paula sudah sepakat untuk hal itu, saling melupakan masa lalu dan menjalani kehidupan masing-masing.


Rumah terlihat kosong saat joshep sampai di sebuah bangunan mewah milik kedua orang tuanya itu, hanya beberapa pelayan yang menyambut kedatangannya, kembali ke kamar dimana dulu pernah menjadi saksi cinta kasih sekaligus saksi patah hatinya karena Paula merasa dadanya semakin sesak.


Kamar itu tidak berubah sama sekali, tatanan ruang dan letak barang-barangnya masih sama seperti lima tahun yang lalu, tidak ada yang boleh masuk ke kamar itu, kecuali Luci, asisten rumah tangga yang dia tugaskan untuk membersihkan kamar itu satu minggu sekali, dengan catatan hanya dia yang boleh masuk, bahkan orang tuanya pun di larang untuk masuk ke sana.

__ADS_1


Joshep mengelus pigura besar yang menggantung di dinding kamarnya, yang berisi foto dirinya dengan paula yang sama-sama sedang tersenyum berhadap-hadapan, Paula terlihat sangat cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna putih bermodel sederhana.


"Pau, aku harap keputusan ku ini dapat membuat mu bahagia!" gumamnya seraya membelai wajah Paula di gambar itu untuk yang terakhir kalinya, karena setelah itu dia lalu menurunkan pigura itu dari dinding dan menyimpannya ke dalam lemari.


__ADS_2