
"Saya sebagai ayah dari dokter Joshep Smith, yang membesarkan dan merawat dia sedari kecil hingga menjadi dokter hrbat seperti sekarang ini merasa sangat kecewa dan sakit hati karena dia lebih memilih wanita yang jelas-jelas sudah menghancurkan hidupnya, sebetulnya saya dan istri juga sudah mengalah, dan mau menerima wanita pilihan anak kami, namun sepertinya wanita itu terus menghasut anak kami sehingga anak kami membenci kami. Tidak hanya sampai di situ saja, sebagai kakek dari anak mereka, saya bahkan tidak di izinkan untuk sekedar menengok dan bermain bersama cucu laki-laki itu. Di hari tua kami ini, kami benar-benar di siksa dengan rasa kesepian karena di pisahkan dari anak dan cucu kami, wanita itu memang membawa pengaruh sabgat buruk bagi putra ku."
Begitu kira-kira potongan video wawancara Frans dan Bertha dengan beberapa media yang kini sedang menjadi topik panas di berbagai pemberitaan.
"Ah sial! Apa maunya mereka ini!" kesal Joshep sambil melempar ponselnya yang tadi di gunakan untuk melihat wawancara ayahnya ke kursi.
Sementara Paula yang sedang membubuhkan obat luka di beberapa bagian tubuh dan wajah Joshep akibat perkelahiannya dengan para wartawan hanya menghela nafas panjang dan berat saat diam-diam ternyata ikut mendengarkan wawancara Frans yang suaminya tonton di ponsel itu.
Beruntung perkelahian Joshep dengan para wartawan atau mungkin lebih tepatnya bida di sebut dengan pengeroyokan karena Joshep melawan para pewarta rusuh itu seorang diri, segera di lerai oleh beberapa tim keamanan rumah sakit yang sigap menyelamatkan Joshep, sebenarnya Joshep sudah di tawari untuk mengobati luka-lukanya di rumah sakit sana, namun Joshep menolaknya, dia merasa lukanya bisa di atasi dengan perawatan di rumah saja.
"Adeh,,, pelan-pelan,,, sakit ini!" rengek Joshep saat Paula tanpa sengaja menekan terlalu kencang luka di pelipis kananya.
"Ishh,,, makanya jangan sok jagoan, kamu itu dokter, bukan petarung, pake segala berantem melawan banyak orang, lagi!" omel Paula yang jujur saja tadi sempat sangat ketakutan dan panik jika terjadi hal-hal yang tidak di inginkan saat Joshep nekat melawan para wartawan yang jumlahnya belasan orang itu untuk membela dirinya.
__ADS_1
"Tapi ayah Josh tadi keren bu, seperti super hero yang melawan para penjahat yang mencoba menyakiti ibu, kelak jika aku sudah besar, aku juga akan melawan para penjahat yang menjahati ibu dan juga ayah." celoteh Kevin yang juga berada di sana, duduk di sebelah Joshep.
"Tuh lihat! Belum apa-apa kamu sudah mengajarkan kekerasan pada anak kita!" cebik Paula melirik sinis pada Joshep yang hanya mesem-mesem dengan bangganya karna di puji oleh putranya.
"Ga apa-apa, kelak kamu harus jadi pria yang pemberani, membela dan melindungi orang-orang yang kamu cintai, nak. Jangan seperti ayah yang pernah gagal membela an melindungi orang yang ayah sayangi dulu." ujar Joshep seraya mengusap kepala putranya dengan penuh kasih.
"Apa ini sakit ayah?" tanya Kevin menunjuk memar di punggung tangan Joshep bekas tadi menonjok salah satu wartawan pria yang mencibir Paula dengan kata-kata menyakitkan.
Kevin mengangat tangan besar ayahnya lantas mencium punggung tangan Joshep itu, lalu meniupnya perlahan.
Tanpa terasa sudut mata Joshep mengeluarkan tetesan bening, bukan karena sedih ataupun rasa sakit, namun karena rasa haru dan perasaan yang bercampur aduk di dalam hatinya, ternyata, seperti ini rasanya mempunyai anak, dia merasa telah menjadi ayah yang yang tidak berguna selama lima tahun ke belakang, tidak pernah ada dalam setiap sedih dan bahagia Kevin, dan itu membuat Joshep sangat merasa menyesal, sehingga membuatnya menjadi sentimental sekarang ini.
"Apa aku menyakiti mu, ayah? Bu, ayah menangis,,, sepertinya ayah kesakitan!" adu Kevin pada Paula.
__ADS_1
"Lihatlah, akibat menyelesaikan masalah dengan cara kekerasan, ayah terluka dan kesakitan sampai menangis, jadi kelak kamu jangan menyelesaikan masalah dengan kekerasan, oke! Sekarang masuk ke kamar mu dan istirahat. Ibu akan memasak makanan kesukaan mu untuk makan siang nanti." ujar Paula, yang langsung di angguki oleh Kevin dengan patuh.
Tidak perlu bertanya pada Joshep mengapa dia menangis, Paula sudah tahu apa alasan Joshep menangis saat ini.
"Akan banyak kejutan-kejutan lainnya yang membuat kita sangat bahgia menjadi orang tua, mungkin itu akan membuat mu menjadi pria cengeng jika kamu menangis setiap mendapat momen spesial bersama Kevin." ledek Paula.
"Aku melewatkan banyak hal dalam tumbuh kembang anak kita, aku tidak sempat melihat bagaimana dia saat bayi, kata apa yang pertama terucap olehnya, tak berada di sampingnya saat langkah pertamanya, aku ayah yang----"
Ucapan Joshep terhenti saat bibirnya tidak dapat berbicara apa-apa lagi karena Paula kini menyatukan bibir mereka.
"Perjalanan kita sebagai orang tua, kamu sebagai ayah masih sangat panjang, belum terlambat untuk melakukan yang terbaik untuk putra kita." kata Paula saat tautan bibir mereka terurai.
"Aku sudah memutuskan, kalau aku akan melawan ayah ku, kali ini tindakannya sudah sangat keterlaluan, dia memfitnah mu dengan sangat kejinya, entah apa yang dia inginkan, namun yang jelas aku tidak akan diam saja dengan semua ini. Aku akan menuntutnya atas fitnah yang dia sampaikan di media tentang mu yang menjadikan mu publik enemy sekarang ini." kata Joshep dengan penuh keyakinan dan percaya diri.
__ADS_1