
"Apa aku boleh ikut menenangkan diri ku sebentar di sini?" Wajah Willy terlihat lesu saat dia menemui Paula di ruang rawat Kevin malam itu.
"Ada apa Will?" tanya Paula sedikit terkejut dengan ucapan Willy, pria itu juga tampak seperti sedang mengalami tekanan batin yang sangat dalam.
Willy menyodorkan sebuah amplop putih yang sejak tadi dalam genggamannya ke hadapan Paula.
"Apa ini?" Paula mengernyitkan keningnya.
"Bacalah, aku bahkan tidak punya tenaga untuk menjelaskannya." lirih Willy, dia tidak ingin suaranya membangunkan Kevin yang tengah tertidur pulas.
"Ini berita baik Will, selamat!" senyuman justru merekah dengan sangat smpurna di bibir Paula, sesaat setelah dia membaca isi surat dalam amplop itu, sungguh berbanding terbalik dengan raut wajah yang Willy suguhkan malam itu.
"Kabar baik? Oh Paula, ini kabar yang sangat buruk. Bagaimana bisa aku di pindah tugaskan ke kota lain dengan sangat mendadak seperti ini." kesal Willy.
Ya, surat pemindah tugasan itu baru saja dia terima setengah jam yang lalu dari atasannya. Entah atas dasar apa pimpinannya itu memindahk tugaskan dirinya bahkan tanpa pemberitahuan sama sekali.
"Tapi kepindahan mu ini sama seperti kenaikan jabatan untuk mu, meski di rumah sakit lebih kecil, tapi posisi mu di sana menjadi dokter kepala di sana, bukankah itu bagus?" Paula menautkan kedua alisnya tidak mengerti, karena Willy terlihat tidak senang karena kenaikan jabatannya.
Willy terdiam sejenak, dia tidak yakin apakah di harus menceritakan pada Paula mengenai apa yang baru saja dia alami.
"Ini bukan sekedar kenaikan jabatan, tapi lebih tepatnya aku di buang dari Permata!" kesal Willy.
"Aku tidak mengerti, apa kamu ada masalah dengan atasan mu?" tebak Paula.
"Lebih dari itu, sepertinya aku sudah menyinggung calon pemilik rumah sakit ini." sorot mata Willy memancarkan kekesalan yang luar biasa.
"Calon pemilik rumah sakit ini?" beo Paula.
"Ya, calon pemilik rumah sakit ini yang sekarang menjabat sebagai direktur utama Permata."
__ADS_1
"Ma-maksud mu, Tuan Frans?"
Willy menggeleng, "Joshep, aku yakin dia yang menginginkan kepindahan ku kali ini karena tidak suka melihat kedekatan kita." ujar Willy yang baru tahu jika direktur utama Permata kini telah berpindah tangan pada Joshep.
Willy yang hanya sebagai dokter anak biasa saja dan tidak termasuk pada jajaran petinggi Permata tentu saja tidak mengetahui perpindahan posisi Frans ke Joshep, itu baru di ketahuinya saat dia ingin mengajukan banding pada Frans, namun kepalanya mengatakan jika Frans kini sudah pensiun dan sudah di gantikan oleh putranya yaitu Joshep yang nantinya akan menjadi pemilik Permata setelah Joshep menikah dengan Bella.
"J-Joshep? D-dia direktur utama rumah sakit ini?" Paula terbelalak, sungguh dia tidak tahu jika Joshep kini menjabat sebagai pemimpin tertinggi di rumah sakit tempat Kevin di rawat.
Paula memang tahu jika mantan suaminya itu menjalin hubungan dengan pemilik rumah sakit ini, namun dia tidak menyangka jika Joshep dengan mudahnya menerima jabatan penting itu, Joshep yang dia kenal dulu selalu berjuang untuk kariernya sendiri dan tidak pernah mau menggunakan koneksi ayahnya, Paula setengah tidak percaya jika Joshep ternyata mampu memanfaatkan Bella untuk mendapatkan posisi sekarang ini.
Satu hal yang lebih membuatnya sulit untuk percaya adalah jika benar yang di katakan Willy barusan, kalau Joshep ada di balik kepindah tugasan Willy hanya karena kedekatan mereka berdua.
"Jujur saja, bekerja di Permata adalah impian setiap dokter, termasuk diri ku, aku sangat senang saat aku di terima menjadi salah satu asisten dokter di sini, lantas menjadi dokter tetap, banyak hal yang bisa aku pelajari yang tidak dapat aku pelajari di rumah sakit lain, namun ternyata---" Willy membuang nafasnya dengan kasar, kesedihan sungguh kental terdengar dalam setiap kata-kata yang di ucapkannya.
Hal itu memang benar adanya, banyak dokter menginginkan bekerja di Permata, selain gaji yang terbilang besar, gengsi yang tinggi, rumah sakit itu juga bisa di katakan paling bagus dan alat-alat yang di milikinya serba canggih dan up to date sehingga para dokter bisa banyak belajar dengan bekerja di sana.
"Aku tidak peduli jika aku hanya menjadi dokter anak biasa saja asalkan masih bekerja di sini, dari pada menjadi kepala rumah sakit di daerah," lanjut Willy.
Pertunangan Bella memang beritanya sudah gencar di kalangan para staf rumah sakit, bahkan di kalangan office girl seperti dirinya, mereka mengatakan jika Bella akan bertunangan akhir bulan ini dan di gadang-gadang akan menjadi acara pertunangan termewah tahun ini.
Demi Tuhan, meski Paula kadang masih merasa sedikit sakit mendengarnya, namun hal itu juga membuatnya merasa turut berbahagia, karena akhirnya Joshep menemukan kebahagiannya sendiri, namun dia tidak menyangka jika ternyata ada cerita seperti ini.
"Aku akan menemui Joshep besok, aku akanmencoba berbicara padanya." Ujar Paula, dia tidak ingin terus di hantui rasa bersalah dalam dirinya karena telah menjadi penyebab patahnya harapan Willy untuk berkarier di Permata.
"Tidak usah, bukan itu maksud ku, aku ke sini hanya ingin bercerita saja, bukan maksud untuk membebani mu dan aku juga tidak pernah menyalahkan mu atas hal ini, sudahlah, mungkin ini sudah jalan ku, mungkin aku memang tidak berjodoh dengan Permata." cegah Willy menahan niat Paula untuk berbicara dengan Joshep.
"Tidak ada salahnya di coba, lagi pula, jika memang benar kepindah tugasan mu ini ada hubungannya dengan kesalah pahaman seperti yang kamu katakan tadi, bukankah seharusnya itu di luruskan, karena memang di antara kita tidak ada apa-apa, terlebih antara aku dan Joshep sudah tidak ada hubungan apapun, jadi seharusnya dengan siapapun aku dekat, seharusnya tidak menjadi masalah bagi dia," terang Paula yang tetap pada pendiriannya untuk menemui dan berbicara dengan Joshep untuk meluruskan masalah ini.
Bisa saja kan, Willy salah paham dan kepindahannya tidak ada hubungannya sama sekali dengan kedekatan mereka, Paula tidak ingin ada kesalah pahaman di antara mereka bertiga nantinya.
__ADS_1
"Aku tidak sedang meminta mu untuk berbicara dan memohon pada nya agar aku tidak jadi di pindahkan, aku bisa menerimanya, kok. Aku hanya ingin berbagi cerita dengan mu saja!" Willy terlihat tidak enak hati.
"Aku tau, dan aku melakukannya bukan hanya untuk mu, tapi untuk semuanya, termasuk untuk diri ku juga, aku perlu memastikan jika aku bukan penyebab kepindahan mu, karena kalau tidak, aku tidak akan pernah tenang sampai kapan pun dan aku tidak mau di hantui rasa bersalah seumur hidup ku, kamu sudah banyak memmbantu ku, dan aku tidak mau kamu mendapat kesulitan karena aku." Ujar Paula seraya menyunggingkan senyumnya.
**
Tok,,, tok,,, tok!
Lama Paula mondar mandir di lantai paling tinggi tempat dimana ruangan Joshep bertugas, sebelum akhirnya dia memantapkan diri untuk mengetuk pintu kayu tinggi di hadapannya yang bertuliskan 'Ruang Direktur utama' itu.
Rasa gugup, cemas, panas dingin, semuanya seakan bercampur menjadi satu saat terdengar seruan suara Joshep yang mempersilahkannya untuk masuk ke dalam ruangan.
Kaki Paula yang masih terasa sakit akibat jatuh tempo hari di ruang rapat tiba-tiba terasa linu kembali, entah karena guup atau karena apa, bahkan kakinya terasa bergetar saat akan melangkah masuk ketika handle pintu berhasil di putar dan di dorong. Udara dingin AC dan wajah dingin Joshep membuat Paula merinding.
"Ada apa? Aku tidak merasa memanggil office girl ke ruangan ku?" tanya Joshep datar dan terdengar sangat dingin.
"Ak- emh,,, saya,,, ada yang ingin saya bicarakan dengan anda." gugup Paula.
Keberadaan Joshep yang kini menjadi pemimpin tertinggi di rumah sakit membuatnya merasa antara dirinya dan Joshep semakin terpisah oleh tembok yang sangat tinggi, belum lagi aura dingin yang di tebarkan Joshep saat ini membuatnya merasa kalau dirinya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa di hadapan Joshep.
"Tentang?" Joshep mengangkat sebelah alisnya.
"Wi-Willy. Tentang kepindahan Willy." gugup Paula lagi.
Tatapan Joshep yang penuh intimidasi membuat konsentrasi paula buyar dan membuatnya semakin gugup.
"Aku tidak ada waktu, dan aku tidak mengurusi urusan tidak penting seperti itu!" Joshep mendengus kesal dan membuang wajahnya.
"Tapi ini penting untuk ku, aku mohon!" Paula bahkan sekali lagi berlutut di hadapan meja kerja Joshep, setelah dulu dia sempat berlutut saat meminjam uang untuk pengobatan Kevin, kini dia mengulanginya.
__ADS_1
Sontak saja hal itu membuat amarah Joshep memuncak seketika, dia berdiri dari kursi kerjanya dan menghampiri Paula dengan kemarahan yang tidak tertahankan.
"Kau anggap aku ini apa, huh? Dua kali kau berlutut untuk orang lain di hadapan ku, sementara saat aku menalak mu, kau bahkan tidak pernah memohon sedikit pun untuk kembali pada ku, kau anggap aku apa?" teriak Joshep dengan mata memerah.