
"Aku percaya, karena kamu wanita yang baik dan setia, semoga anda juga tidak berniat untuk menambah istri Tuan Hill!" Willy tersenyum dingin ke arah Adam yang hanya mengangguk sambil membals senyum dingin Willy dengan senyum hangatnya.
Ada banyak pertanyaan mengganjal dalam hati Paula mendengar perkataan Willy yang menurutnya terdengar sangat ganjil.
Tidak biasanya Willy bersikap sinis seperti itu, karena Willy yang dia kenal itu ramah dan sopan selama ini, atau lima tahun berlalu membuat pribadi Willy yang kini sudah menjadi seorang dokter spesialis anak itu berubah? Pikir Paula.
"Wah, mainan mu banyak sekali, apa ayah menyogok mu karena ibu tidak kunjung datang menemui mu ke sini?" tanya Paula melirik satu dus penuh mobil-mobilan yang dia tahu harganya sangat mahal menurutnya itu.
"Kak, jangan terlalu memanjakan Kevin, lebih baik uangnya di tabung untuk keperluan kakak yang lainya." Paula melirik ke arah Adam.
"Bukan ayah yang membelikannya bu, mobil-mobilan ini di kasih sama opa dokter." Kata Kevin.
"Opa Dokter?" beo Paula.
"Oh, itu,,, ada dokter baik hati yang memberi Kevin mainan-mainan itu, aku tidak bisa menolaknya, takut dia tersinggung, lagi pula Kevin sepertinya menyukainya, setiap saat semua mobil-mobilan itu di elus dan di lapnya berulang kali setelah dia mainkan." Kata Adam.
Paula tidak terlalu meributkan tentang hal mobil-mobilan itu lagi, selain itu, Adam juga menjelaskan jika dokter itu sendiri yang memberikannya dan Kevin tidak memintanya sama sekali, bagi Paula, meski mereka hidup kekurangan, pantang baginya mengajarkan anaknya untuk meminta pada orang lain.
Paula sibuk melepas rindunya pada Kevin, mereka sibuk bercerita tentang apa saja yang terjadi selama dirinya tidak berada di sisi Kevin.
**
Di kediaman orang tua Joshep,
Malam itu kedua orang tua Joshep yang baru saja pulang dari luar kota merasa kaget karena mendapati putra semata wayangnya ada di rumah tanpa memberi mereka kabar terlebih dahulu.
"Josh,,, kapan datang? Kenapa tidak memberi kami kabar?" Sambut ibunya Joshep memeluk erat putra kesayangannya.
"Mendadak Mi," ujar Joshep.
__ADS_1
"Mau kemana? Kok kaya mau pergi lagi? mami masih kangen, tau!"
"Ketemu Bella Mi, Joshep udah janjian buat ketemuan tadi," Joshep melirik jam yang melingkar di tangannya.
"Udah lah Mi, biarkan dia bertemu dengan Bella, anak muda juga kan punya acara sendiri," timpal papanya Joshep.
"Tenang saja Mi, Pih, aku cuti lama, kok." ujar Joshep seraya terburu-buru keluar menuju halaman rumah dimana mobilnya terparkir, gara-gara kelelahan sampai tertidur tadi, hampir saja dia batal memenuhi janji untuk betemu dengan Bella.
Di sebuah restoran hotel berbintang, Joshep melangkahkan kakinya dengan gamang, langkah kakinya terasa berat saat dia hendak berjalan ke arah seorang gadis cantik yang sedang duduk di sebuah meja yang letaknya di pojok, sepertinya gadis berbaju merah muda itu sudah menunggunya sedari lama, dan sangat menantikan kedatangannya, terbukti dia langsung melambaikan tangannya saat melihat Joshep berjalan menuju ke arahnya meski jarak mereka masih jauh.
"Aku menunggu di sini sudah empat puluh menit," ujar Bella mencebikkan mulutnya.
"Maaf, tadi aku ketiduran," Joshep menarik sebuah kursi yang letaknya berhadap-hadapan dengan Bella.
"Tidak apa, aku yang datangnya terlalu cepat, mungkin karena aku terlalu bersemangat karena ini pertyama kalinya kamu berinisiatif mengajak ku bertemu dan makan malam." Mata Bella bersinar, senyuman pun kini terus mengembang di bibirnya.
Beberapa makanan yang mereka pesan sudah datang dan memenuhi meja, bahkan sebagian sudah habis mereka santap, namun Joshep tak kunjung mengatakan apa-apa pada Bella, sejak tadi hanya Bella yang terus berceloteh ramai seperti biasanya menceritakan apapun yang ingin dia ceritakan.
"Tu-tunangan?"
Tidak ada hujan tidak ada angin, tiba-tiba Joshep mengajaknya bertunangan setelah mereka menjalin hubungan yang hambar selama dua tahun lamanya, padahal ratusan kali baik orang tua Joshep maupun orang tua Bella menyuruhnya untuk segera bertunangan, namun Joshep selalu mengatakan jika dia belum siap.
Bahkan dua bulan yang lalu Bella mengajaknya untuk bertunangan jawabannya masih belum siap, entah angin apa yang membuat Joshep tiba-tiba mengajaknya bertunangan.
"Hmm, ayo kita bertunangan akhir minggu ini." Lanjut Joshep.
"Sayang, apa kamu mabuk? Atau kamu sednag demam? Tolong jangan bercanda, tiba-tiba kamu mengajak bertunangan, mana akhir minggu ini, pula, ada apa?" Tanya Bella merasa sedikit curiga, ada yang tidak beres dengan kekasihnya.
"Bukankah kamu ingin kita cepat bertunangan? Begitupun dengan kedua orang tua kita? Aku sudah memikirkan dan memutuskannya, makanya aku mengambil cuti selama satu minggu ke depan." ujar Joshep lagi.
__ADS_1
"Tapi sayang, ini sangat mendadak. Kita butuh persiapan untuk acara itu." Ujar Bella antara bingung dan juga merasa bahagia, bingung bagaimana caranya mempersiapkan acara pertunangan dengan waktu yang sangat mepet, di kira acara tunangan itu seperti membuat candi dalam satu malam?
Apalagi Bella berkeinginan acara pertunangannya itu di adakan secara besar-besaran dengan ratusan bahkan ribuan tamu yang di adakan di gedung atau di sebuah hootel berbintang.
Namun mana Joshep peduli dengan hal itu, baginya mengajak Bella bertunangan tak lain karena dia ingin mencoba move on dari Paula, dia tidak punya cara lain selain menjalin ikatan dengan Bella, akan tetapi jika untuk menikah, Joshep juga masih belum bisa, dia masih merasa trauma dengan pernikahannya yang kandas dengan paula.
"JIka kamu keberatan, tidak apa-apa. Kita bisa bertunagan kapan-kapan." Ujar Joshep dingin.
"Mau,,, mau,,, aku mau sayang!" Bella segera menyatakan persetujuannya, karena tidak ingin moment langka ini lewat begitu saja.
*
"Josh,,, tadi Bella mennghubungi Mami, apa benar kamu mengajaknya bertungan?" Ibu Joshep langsung heboh saat Joshep kembali ke rumah malam itu setelah pertemuan makan malamnya dengan Bella.
"Oh kabar cepat sekali sampai ke telingan Mami ya!" Sinis Joshep.
"Tentu saja, ini kabar baik, dan mami sama Papih mendukung seribu persen, lantas untuk pelaksanaanya tidak bisa minggu depan, kami sudah musyawarah, acara akan di laksanakan akhir bulan ini, iya kan Pih?" Ibunya Joshep meminta pendapat suaminya.
"Benar, kamu jangan mempermalukankeluarga kita, acara pertunangan mu dengan Bella harus di adakan se meriah mungkin, semewah mungkin. Tuan Mark dan papih sudah sepakat untuk mengadakan acara pertunangan kalian akhir bulan ini, jadimasih ada waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya sekitar tiga mingguan lagi, dan urusan cuti mu biar papih yang urus, kalau perlu kamu pindah ke rumah sakit permata sekalian." Ujar Ayahnya menyebut nama rumah sakit milik keluarga besar Bella, dimana kini dirinya bekerja.
"Hmmm,,, bahkan kalian langsung musyawarah dan mufakat secara kilat, terserahlah, urus saja, tapi untuk masalah pekerjaan, aku belum mau bekerja di Permata, aku masih betah di rumah sakit desa." Kata Joshep pasrah.
Rumah sakit Permata adalah rumah sakit di mana kini Kevin di rawat, jika Joshep pindah ke rumah sakit itu, itu berarti dirinya akan sering bertemu dengan Paula lagi, lantas untuk apa dirinya memutuskan untuk bertunagan sebagai pelarian cintanya untuk menghindari Paula jika ujung-ujungnya masih harus sering bertemu dengannya lagi.
**
Di rumah sakit Permata.
Seorang pria tampak sedang berbincang serius dengan sorang wanita yang sepertinya sedang hamil besar, di kantin rumah sakit, pria itu tampak penuh perhatian mengusap sisa-sisa makanan di sudut bibir wanitanya dengan tisyu, membuat siapa saja yang melihat merasa kagum dan sedikit iri dengan sikap perhatian yang di tunjukan pria itu pada pasangannya.
__ADS_1
Namun hal itu tidak membuat kagum atau iri bagi pria yang terus memperhatikan gerak gerik pasangan itu, dia justru terlihat geram dan marah melihat adegan itu, gigi pria itu bahkan sampai berbunyi bergemrutuk menahan amarah karena melihat pemandangan yang membuat tangannya mengepal dengan sempurna serasa ingin melayangkan kepalan tangannya ke wajah pria yang menurutnya pantas mendapat tinju dari tangannya itu.