
"Aku nggak mungkin sampai pulang tinggal di kabin ini terus menerus bukan? lagian masa bodolah, kenapa aku harus malu? ini tubuhku, milik diriku sendiri. Lagian mana ada yang mau memperhatikan anak kecil sepertiku, tubuh pacar-pacar mereka jauh lebih sexy," tutur Evellyn.
Evellyn dengan percaya diri keluar dari kabin dengan menggunakan bikini yang super sexy ditubuhnya. Sebenarnya Evellyn paling tidak PD dengan ukuran dadanya yang tidak biasa, itulah sebabnya selama ini dia lebih suka mengenakan pakaian longgar, dari pada pakaian ketat.
Kulit Evellyn yang putih mulus sangat kontras dengan bikini berwarna maroon yang ia kenakan ditubuhnya. Sementara itu Diego dan teman-temannya yang lain sudah mencari tempat masing-masing buat mojok bersama pacarnya.
"Sepi, mereka semua kemana?" tutur Evellyn saat dirinya tiba di bagian kapal paling atas.
"Aku ingin menikmati laut dibagian depan situ, biar berasa berada diatas kapal Titanic," ujar Evellyn sembari terkekeh sendiri.
Evellyn kemudian berjalan kearah depan kapal dan kemudian merentangkan tangannya. Rambut panjang yang diterpa angin, dengan body yang tampak indah dari arah belakang, cukup mengganggu pandangan mata Yansen, setelah pria itu baru saja menuntaskan hasratnya dikamarnya bersama Ivanka.
"Siapa gadis itu? apa dia kekasih Zavier? pintar juga dia milih gadis," tutur Yansen sembari menghembuskan asap rokoknya ke udara.
Puntung rokok Yansen tiba-tiba terlepas dari tangannya, saat tidak sengaja melihat Evellyn menoleh kesamping, dan membenarkan rambutnya yang diterpa oleh angin.
"Eve..." ucap Yansen lirih.
Evellyn membawa rambut panjangnya yang diterpa angin kebagian depan, perlahan Evellyn duduk dibagian depan kapal sembari merangkul lututnya dan menatap laut kearah depan.
Tanpa sadar Yansen melangkahkan kakinya kedepan, mendekat kearah Evellyn yang tengah menikmati laut seorang diri.
"Eve," sapa Yansen.
Evellyn menoleh dan berdiri seketika saat tahu sang majikkan yang galak dan dingin sudah berada didepan mata.
"Ya tuan." Jawab Evellyn dengan wajah tertunduk.
Yansen memindahi tatapan matanya dari ujung rambut sampai berhenti kearah dada Evellyn yang membusung.
Glekkkkk
"Sial, apa dia ini benar-benar bocah SMA? Tubuhnya jauh lebih indah daripada milik gadis manapun yang pernah kucicipi," batin Yansen.
"Tuan, anda kenapa?" tanya Evellyn yang melihat Yansen tampak melamun.
"Eh? emm..anu ambilkan aku air minum dingin." Jawab Yansen asal.
"Yansen," seru Zavier.
"Ckkk...satu lagi, ganti pakaianmu yang lebih tertutup!" sambung Yansen.
"Ba-Baik tuan."
Evellyn bergegas turun tanpa memperhatikan mata Zavier yang menatap kearahnya.
"Sen. Apa itu tadi si bocil? gila bodynya,"
"Jaga matamu, meskipun dia pembantuku, tapi aku walinya disekolah. Jadi jaga sikapmu,"
"Idih..kok tiba-tiba sewot?"
Yansen tidak menjawab ucapan Zavier. Pria itu menghisap rokok dalam-dalam, dan kemudian menghembuskannya di udara.
"Tuan," Evellyn kembali setelah pergi selama 15 menit.
__ADS_1
"Lah kok ganti baju cil?" tanya Zavier saat melihat Evellyn sudah mengganti pakaiannya dengan kaos oblong dan celana pendek.
"Tidak apa kak, hari sudah mulai terik. Aku tidak tahan terkena sinar matahari yang terlalu panas."
"Kulitmu sensitif ya?"
"Ya." Evellyn berdusta.
"Tuan. Ini minumannya,"
Yansen meraih botol minuman itu dan segera menenggaknya hingga tandas.
"Sebaiknya kamu masak buat makan siang kita," ujar Yansen.
"Bukankah sudah ada koki dibawah?" tanya Zavier.
"Aku ingin dia yang masak."
"Ckk...biarkan dia bersantai hari ini, kamu terlalu keras sama dia,"
"Tidak apa-apa kak. Aku senang melakukannya," timpal Evellyn.
Evellyn bergegas pergi dari hadapan Yansen dan Zavier. Gadis itu membantu seorang koki didapur, koki tampan yang usianya hanya terpaut 5 tahun dengan Evellyn.
"Kamu sudah lama bekerja dengan tuan Yansen?" tanya Evellyn.
"Sudah 2 tahun. Kamu?"
"Aku baru 1 bulanan sih. Kenapa kamu betah bekerja dengan dia? dia kan sangat galak."
"Dia orang yang baik, meskipun wajahnya jarang tersenyum. Kamu sendiri kenapa mau bekerja sama dia? bukankah kamu bilang dia sangat galak?"
"Kenapa? kenapa wajahmu tiba-tiba pucat?"
Koki tampan itu tiba-tiba mematung dengan wajah yang pucat pasi.
"Ada apa? kenapa wajahmu seperti melihat hantu begitu?"
"Tuan," sapa sang koki.
"Tuan? tu-tuan?"
Evellyn yang baru sadar, segera membalikkan tubuhnya dan mendapati Yansen berada tepat di hadapannya.
"Tu-Tuan,"
Yansen menaikkan sebelah alisnya sembari menatap kearah Evellyn yang wajahnya juga ikut memucat.
Tanpa banyak kata Yansen segera pergi meninggalkan Evellyn dan Koki. Evellyn yang panik langsung mengekor dibelakang Yansen karena ingin segera meminta maaf.
"Tu-Tuan, maafkan saya. Saya tidak bermaksud begitu,"
Langakah Evellyn terkesan tergesa-gesa karena ingin mengikuti langkah kaki Yansen yang besar. Namun pria itu kakinya seperti rem blong, tak ada niat sama sekali untuk menghentikan langkahnya.
Hingga tanpa sadar Evellyn mengikuti Yansen sampai ke kamar pribadi pria itu.
__ADS_1
"Tuan, saya benar-benar minta maaf. Ya sudah, kali ini saya mengaku salah, saya memang lancang. Jadi Eve minta maaf untuk itu," tutur Evellyn dengan wajah tertunduk.
"Apa menurutmu aku sangat tua sehingga kamu mengataiku pria lapuk?"
"Ti-Tidak. Tuan masih terlihat muda dan tampan meski usia tuan sudah tua."
"Ckk...kenapa harus ada kata tua diakhir kalimatmu itu."
"Maaf,"
"Jadi kamu terpaksa bekerja denganku?"
"Ti-Tidak."
"Tapi tadi aku dengar kamu terpaksa. Yang benar yang mana?"
Evellyn terdiam, dia takut akan kembali menyinggung Yansen kalau dia sampai bicara lagi.
"Maafkan saya Tuan,"
"Pergilah! mulai besok kamu tidak perlu bekerja lagi dirumahku,"
Yansen membelakangi Evellyn seketika.
Grepppppp
Evellyn tiba-tiba memeluk Yansen dengan erat. Gadis itu tiba-tiba terisak.
"Eve mohon jangan usir eve tuan. Eve minta maaf kalau sudah menyakiti hati tuan."
"Kamu tidak suka dengan caraku bukan? jadi kamu bisa mencari majikan lain yang lebih lembut dan perhatian."
"Tidak! Eve masih ingin bekerja dengan tuan, Eve mohon beri Eve kesempatan."
Yansen berusaha melepaskan pelukkan tangan Evellyn. Tapi tangan gadis itu semakin mengeratkan pelukkannya.
"Katakan dulu kalau tuan tidak akan mengusirku,"
Yansen menghela nafas panjang, gadis kecil itu bahkan tidak tahu, pelukkan eratnya sudah membangunkan singa yang dibawah sana. Yansen bahkan bisa merasakan empuknya dada Evellyn yang menempel mantap dipunggungnya, dada yang dia lihat beberapa waktu yang lalu, yang sangat menggoda mata dan kelelakiannya.
"Ya sudah. Aku beri kamu kesempatan sekali lagi, tapi kalau lain kali aku mendengar keluhan yang sama lagi, maka aku tidak akan segan-segan melemparkanmu kejalanan."
"Sungguh tuan memaafkanku?"
Eve melerai pelukkannya dan menatap Yansen dari arah depan dengan mata berbinar.
"Ya."
Grepppp Evellyn kembali memeluk Yansen dari arah depan.
"Sial, gadis kecil ini. Apa dia tahu asetnya itu bisa membangkitkan gai*ahku,"
"Pergilah! ambilkan makan siang untukku."
"Baiklah."
__ADS_1
Evellyn keluar dari kabin itu dengan perasaan lega. Sementara Yansen lega karena dia bisa lepas dari pesona Evellyn.
TO BE CONTINUE....🤗🙏