
Cup
Cup
Cup
Evellyn mencium Samudera berkali-kali di tiap inci wajah putranya itu. Jangan ditanya bagaimana air mata gadis itu, wajah gadis itu sudah basah karenanya.
"Samudera jangan rewel ya? baik-baik sama papa Orland. Mama mau pergi sekolah duku, nanti kita ketemu lagi," ujar Evellyn terisak.
"Kakak. Bolehkah saat liburan kuliah aku pulang kesimi untuk bertemu Samudera?" tanya Evellyn.
"Apa kamu sungguh ingin melatih mentalmu itu? kalau kamu ingin mentalmu kuat, tidak lemah, maka inilah saatnya kamu melatih mentalmu itu agar sekuat seperti baja. Kalau kamu dikit-dikit pulang hanya karena Samudera, itu artinya Samudera adalah kelemahanmu. Dan lawanmu bisa memanfaatkan kelemahanmi itu."
Evellyn terdiam, sungguh berat pengorbanannya kali ini. Bahkan ini lebih berat dia rasakan ketika sedang patah hati.
Orland menghela nafasnya, dia tahu mendoktrin pikiran seseorang memang keahliannya. Tapi untuk Evellyn menjadi pengecualian baginya. Dia ingin mencuci otak Evellyn secara natural, agar gadis itu tidak merasa seperti di kekang atau dimanfaatkan.
"Tapi kamu boleh melakukan video call kapanpun kamu mau," sambung Orland dengan senyum yang terbit dari bibirnya.
Mendengar itu, Evellyn seperti mendapat angin segar. Setidaknya itu lebih baik daripada tidak sama sekali.
"Makasih ya kak, tolong jaga anakku."
"Pasti," ujar Orland.
Evellyn menyeret sebuah koper, karena waktu keberangkatannya sudah semakin dekat. Evellyn pergi diantar oleh salah satu orang kepercayaan Orland.
Evellyn melangkahkan kaki dengan berat, sesekali dirinya menoleh kebelakang untuk melihat putra yang dia tinggalkan itu.
"Ayo Evellyn. Majulah terus, jangan menoleh kebelakang lagi. Ini demi masa depanmu dan juga masa depan putramu," batin Evellyn.
Evellyn melangkah mantap sembari menyeka air matanya. Wajahnya berubah jadi dingin, sedingin hatinya yang sudah terlanjur diliputi oleh dendam.
Setelah mengudara sekitar 45 menit, Evellyn akhirnya tiba di kota Palembang yang terkenal dengan sebutan kota pempek itu. Evellyn langgsung dibawa ketempat kontrakkan yang tidak jauh dari kampus utama yang berada dijalan bukit besar.
"Apa itu kampusnya?" tanya Evellyn pada Lala yang ternyata berasal kota palembang.
"Iya itu kampus utama. Ada juga kampusnya yang terletak diluar kota palembang."
"Diluar kota? apa itu artinya kita akan melakukan perjalanan lagi setelah ini?"
__ADS_1
"Tidak. Setiap hari akan ada bus mahasiswa yang datang. Tapi disana diperuntukkan bagi yang akan mengambil dokter spesialis. Bukankah anda baru akan memulai kuliah?"
"Ya. Akan aku pikirkan lagi kalau ingin mengambil spesialis? apa kampusnya sangat jauh dari kota?" tanya Evellyn.
"Lumayan. Bisa memakan waktu hampir satu jam."
"Nanti ada bisa melihat sendiri situasi disana. Kalau memang anda mau mengambil spesialis," sambung Lala.
"Baiklah saya mengerti,"
Evellyn melangkahkan kaki, memasuki sebuah rumah kontrakan yang lumayan besar dan nyaman. Fasilitas di kontrakkan itu sudah lumayan lengkap, karena semuanya sudah di atur oleh Orland.
"Nona tunggulah disini," ujar Lala.
"Kamu mau kemana?" tanya Evellyn.
"Saya akan mencari makan siang buat kita. Apa anda menginginkan makan sesuatu?" tanya Lala.
"Apa saja. Tapi La, kalau kamu lihat orang jualan pempek kapal selam, tolong belikan ya? semalam aku sempat browsing di internet tentang makanan khas palembang, aku penasaran dengan rasa dari pempek kapal selam itu."
"Baiklah. Apa ada lagi?" tanya Lala.
Lala bergegas pergi keluar. Sementara Evellyn berbaring disebuah kasur yang tidak terlalu empuk, namun juga tidak terlalu keras. Evellyn memejamkan matanya, bayangan Samudera yang tengah terlelap saat dibandara, seakan menari dipelupuk matanya.
"Yansen, sekarang aku sudah jauh darimu ribuan mil. Aku harap kamu menjalani kehidupanmu dengan baik saat ini. Kamu boleh saja merasakan tenang saat ini. Aku ingin membuaimu dengan kesenangan, sampai waktunya tiba nanti, aku akan mengambil semua yang kamu miliki. Terutama ketenanganmu," batin Evellyn.
Evellyn membuat panggilan video call untuk Orland, karena ingin mengabarkan bahwa dirinya sudah tiba di Palembang. Evellyn juga melihat putranya yang masih tertidur lelap. Karena tidak ingin terbawa perasaan, Evellyn segera mengakhiri panggilan itu.
*****
Tiga hari kemudian...
Evellyn sedang bersiap, hari ini adalah hari pertama dirinya masuk kuliah. Dirinya tidak membutuhkan kendaraan apapun, karena tempat kuliahnya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.
Setelah melewati masa orientasi, Evellyn akhirnya bisa mengikuti perkuliahan secara normal. Gadis itu sangat fokus belajar, karena dirinya ingin menjadi lulusan terbaik disana.
Hari-Hari telah dia lewati dengan baik, sejenak dia melupakan semua urusan pribadinya termasuk putra yang sudah dia lahirkan. Meskipun komunikasi tetap terjalin, tapi kesedihan Evellyn kini sudah jauh berkurang dari keadaan 3 tahun yang lalu.
Kini usia Evellyn sudah mencapai 21 tahun. Gadis itu tumbuh semakin cantik dan sexy. Meskipun begitu, Evellyn tidak segan-segan menolak siapapun yang berusaha mendekatinya, karena dia hanya ingin fokus belajar agar cita-citanya segera tercapai.
"Apa kamu yakin ingin berbisnis batu bara di Palembang?" tanya Zavier.
__ADS_1
"Ya. Pengen suasana baru, sumpek disini terus. Aku ingin merambah dunia luar juga." Jawab Yansen.
"Baiklah kami bertiga juga ikut andil deh," ujar Zavier.
"Nah...begitu dong, siapa tahu kalian dapat jodoh di Palembang."
"Malah mikirin kita, kamu juga kali Yan?" timpal Owen terkekeh.
"Sudah mati rasa. Aku tidak butuh cinta lagi, aku hanya menginginkan Evellyn dalam hidupku." Jawab Yansen.
"Hah..mulai lagi nih mafia lapuk. Move on kali Yan? ini sudah hampir 4 tahun," ujar Diego.
"Itu sudah harga mati. Bagiku tidak akan ada cinta yang lainnya selain Evellyn. Hanya dengan dia aku mau berkomitment, kalau selain dia aku nggak mau," ucap Yansen.
"Terserah saja. Sudah cukup deh solidaritasnya, masa iya urusan perkembang biakkan harus solid sampai mati. Pokoknya saat di palembang nanti, aku mau cari cewek baik-baik yang mau dijadikan istri," ujar Owen.
"Aku juga," timpal Diego.
Hanya Zavier yang diam saja, pria itu terlampau menikmati segelas wine ditangannya.
"Kapan kita akan berangkat?" tanya Owen.
"Tunggu dulu konfirmasi dari rekan bisnisku." Jawab yansen.
"Tapi kalian boleh siap-siap. Anggap saja kita sedang pergi berlibur disana. Aku pengen menimati semua pariwisata yang ada disana," ujar Yansen.
"Wah...sepertinya kamu ingin mengajak kami berpetualang kali ini." ucap Owen.
"Ya. Anggap saja begitu. Anggap untuk melepaskan semua beban dipundak kita selama ini," ujar Yansen.
"Kalau begitu aku akan mulai searching tempat-tempat liburan terbaik disana. Apa kamu akan membawa serketaris koreamu itu?" tanya Diego.
"Apa menurut kalian dia akan berguna?" tanya Yansen.
"Mungkin saja. Barangkali buat teman tidurmu," sindir Owen.
"Ckk...sembarangan!" ujar Yansen yang sibalas kekehan oleh Owen.
Setelah menunggu hampir 1 minggu, akhirnya Yansen dan teman-temannya berangkat ke kota Palembang. Mereka ingin membahas perihal kerjasama dengan rekan bisnisnya, kerjasama tentang bisnis batu bara.
TO BE CONTINUE...🤗🙏
__ADS_1