
Tap
Tap
Tap
Suara jejak kaki seseorang mengganggu pendengaran Yansen yang sensitif. Mata pria yang semula terpejam rapat, terbuka seketika saat melihat ada pergerakkan di luar kamarnya.
Ceklek
Yansen memutar knop pintu, dan membuka pintu dengan lebar. Namun tanpa dia duga, seseorang langsung menyerangnya dengan tiba-tiba. Beruntung Yansen cepat tangkas dan menangkis tiap serangan dari orang tersebut.
"Masih pakai parfum lama rupanya," ujar Yansen sembari menangkis tendangan seseorang yang sepertinya dia kenal.
"Jangan menghindar terus brengsek! ayo serang aku," ujar pria berhody.
"Takutnya pinggangmu patah, kamu jauh terlihat lebih tua dari 20 tahun yang lalu," ucap Yansen yang masih dengan tangkas menghindari serangan mantan sahabatnya itu.
Dan benar saja, hanya satu kali melakukan perlawanan, Orland langsung terjengkang di sofa kamar Yansen.
Hosh
Hosh
Hosh
Nafas kedua pria itu bersahutan. Usia memang tidak bisa dibohongi, kebugaran mereka jauh merosot dari 10 tahun yang lalu.
"Itulah sebabnya ayah angkat selalu menganggapku lebih unggul darimu.Karena kamu tipe orang yang tidak sabar dalam bertarung, selalu mendahulukan emosi daripada berpikir. Dibilang gitu sudah merajuk dan malah memusuhiku. Dasar kekanakkan!"
Yansen membuka kulkas kecil yang ada di kamarnya, dan mengambil 2 kaleng softdrink. Yang salah satunya dia lemparkan kearah Orland, dan langsung ditangkap oleh pria itu.
Glek
Glek
Glek
Orland dan Yansen sama-sama meneguk tandas minuman itu, karena mereka benar-benar haus setelah sedikit bertarung.
"Jadi apa yang ingin kamu bahas denganku setelah merajuk puluhan tahun, menginginkan kekuasaan bawah tanah, dan juga nyawaku?" tanya Yansen setelah duduk disamping Orland.
"Aku cuma ingin memberitahumu kalau aku sama sekali tidak terlibat dengan penculikkan Evellyn dan samudera."
"Aku tahu. Meskipun gayamu pengecut, tapi kamu tidak akan segila itu mengambil resiko besar dimusuhi oleh orang seluruh dunia. Aku tahu nyalimu sebatas apa."
"Brengsek! aku kesini bukan untuk kau hina,"
"Orland. Apa kamu tidak lelah bertikai terus denganku? andai kamu mau mendengarkan penjelasanku sejak dulu, tentu kita tidak akan seperti ini."
"Sudahlah, lupakan semua itu. Aku juga sudah lelah, tidak perlu kamu jelaskan juga. Mungkin dimasa lalu aku memang kekanakkan. Sekarang kita sudah tua, mungkin sebentar lagi nyawa kita tidak lagi bersarang dibadan."
__ADS_1
"Baguslah kalau kamu sudah sadar, kalau kamu itu sudah tua bangka."
"Kamu ini masih saja kalau ngomong suka tajam. Yan, aku ingin membuat pengakuan padamu, sekaligus aku ingin minta maaf padamu."
"Ada apa?" tanya Yansen.
"Aku tidak tahu apa tujuan orang itu, tapi yang pasti sepertinya dia ingin mengkambing hitamkan aku dan mengadu domba kita. Tapi aku ingin megatakan kalau kali ini musuh kita sama."
"Apa maksudmu? apa kamu tahu siapa mereka?"
"Sayangnya tidak. Tapi yang aku bicarakan ini soal Evellyn dan samudera."
"Ada apa dengan mereka?"
"Maaf Yan. Karena berniat membalas dendam padamu, aku menyembunyikan mereka selama 10 tahun ini darimu,"
"Ap-apa? bagaimana mungkin? aku sudah menyuruh orang menyelidikimu, tapi mereka tidak menemukan keberadaan Evellyn."
"Itu karena aku menyembunyikan Evellyn dirumah pribadiku. Aku yang menyelamatkannya saat dia tenggelam di laut karena perbuatan Ivanka."
"Tega sekali kamu memisahkan aku dari anakku sampai 10 tahun Le,"
"Tidak hanya itu, bahkan aku memberi nama putramu dengan namaku dibelakangnya."
"Apalagi ...apalagi fakta yang tidak aku ketahui. Kau tahu? meski dimulutku mengatakan bermusuhan denganmu, tapi aku tidak pernah menganggap itu serius. Aku tidak pernah berniat untuk menghabisi nyawamu, itu karena dihati kecilku aku masih menganggapmu sahabatku dan keluargaku."
"Aku tahu," ucap Orland dengan mata berkaca-kaca.
"Apa kamu menguliahkan dia di Palembang?"
"Ya. Bahkan waktu itu kamu hampir bertemu dengannya, kalau saja anak buahku tidak menghalangi pertemuan kalian."
"Heh. Sudah kuduga, aku tidak mungkin salah mengenali orang, terlebih gadis yang pernah aku tiduri."
"Tapi sayangnya ada satu orang yang tidak bisa kamu kenali,"
"Siapa? Tasya maksudmu? bahkan jika kamu merubah wajah Ivanka ratusan kali, aku pasti akan mengenalinya. Apa kamu kira aku tidak tahu kalau diam-diam dia sering mencuri data perusahaan? kamu pikir perusahaanku ini perusahaan abal-abal, yang punya sistem keamanan lemah? si bodoh itu bahkan tidak tahu, kalau semua data yang dia curi sudah di palsukan."
"Dasar memang bajingan tengil kamu Yan," ujar Orland terkekeh.
"Yah...karena aku terlalu bajingan, itulah yang membuatku berhasil dalam karier,"
"Ya. Tapi sayangnya gagal dalam percintaan. Tapi Yan, kalau nanti Evellyn menolakmu, bolehkah dia untukku?"
"Meski dia menolakku, aku akan memaksanya agar mau denganku. Enak saja mau merebutnya dariku, cari wanita lain saja. Jangan selalu berebut denganku, nanti kalau kamu kecewa akan merajuk lagi."
"Ckk...dasar pelit,"
"Mintalah yang lain, asal jangan Evellyn dan Samudera. Mereka nyawaku. Kamu mau kekuasaan bawah tanah bukan? aku akan menyerahkannya padamu."
"Aku sudah tidak tertarik lagi. Mungkin kalau 10 tahun akan berbeda. Tapi sekarang usia sudah tua, mungkin kalau yang mendapat posisi itu Samudera baru akan cocok."
__ADS_1
"Jadi kamu mau apa?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin hidup dengan damai saja."
"Carilah wanita, dan buat keturunanmu sendiri. Biarkan anak-anak kita yang mengurus usaha kita itu."
"Akan aku pikirkan."
"Oh ya, apa pak Andre juga bersamamu?" tanya Yansen.
"Ya."
"Apa kau menyakitinya?"
"Tidak pernah. Bahkan dia kuperlakukan sangat layak,"
"Keluarkan dia. Biarkan dia bersamaku, kasihan dia sudah tua."
"Tapi menurutku biarkan dia disana dulu. disana dia tidak kuberikan ponsel ataupun tv. Takutnya dia akan tahu apa yang menimpa Evellyn dan Samudera saat ini."
"Benar juga. Kalau begitu biarkan dia disana, sampai Evellyn ditemukan."
"Emm."Orland mengangguk.
"Tidurlah disini, ini sudah larut malam. Lagian kenapa kamu masuk harus melompati pagar, kamu itu sudah tua. Bagaimana kalau kakimu tersangkut di besi runcing itu?"
"Aku tidak sepayah itu. Kamu kan tahu kemampuan Jump ku sejak dulu."
"Kamu masih berlatih terus?"
"Tentu saja."
"Hati-Hati kena encok," ujar Yansen terkekeh.
Yansen mengajak Orland untuk tidur bersamanya. Kegiatan itu sudah lama tidak mereka lakukan sejak 20 tahun yang lalu. Malam ini persahabatan yang sudah lama terputus, mereka rajut kembali. Usia yang sudah menua, membuat mereka sama-sama sadar, bahwa pertikaian mereka selama ini sama sekali tidak diperlukan.
Grrrrrr
Brrrrrr
Brrrrrr
Tubuh Samudera tampak bergetar, karena bocah 10 tahun itu sedang mengalami demam. Evellyn yang panik langsung berteriak meminta pertolongan, namun respon yang dia dapat sangat mencengangkan. Pria berkepala plontos itu merekam tubuh mungil itu untuk rencananya sendiri.
"Dasar brengsek! nggak punya hati kamu," hardik Evellyn.
"Kalau aku punya hati, tentu kamu dan anakmu tidak berada disini."
Pria itu berlalu pergi, sementara Evellyn meraung-raung karena kesal. Evellyn kemudian mendekat kearah putranya dan mendekap putranya itu sepanjang malam.
TO BE CONTINUE...🤗🙏
__ADS_1