Belenggu Mafia Lapuk

Belenggu Mafia Lapuk
16. Kehangatan Dibibir Pulau


__ADS_3

Yansen membuat api untuk menghangatkan tubuhnya yang terasa dingin karena tidak mengenakan baju. Sudah seharian dirinya dan Evellyn tidak memakan apapun, hanya bertahan dengan meminum air kelapa muda. Sementara itu Evellyn juga dia buat duduk bersandar ditubuhnya, agar gadis itu juga merasakan hangat dari api yang dia buat.


"Eve. Kamu kenapa?"


Yansen mendadak panik, ketika tiba-tiba tubuh Evellyn bergetar hebat. Gadis yang belum sadarkan diri itu tubuhnya panas tinggi ketika Yansen dengan sengaja meletakkan punggung tangannya di dahi Evellyn.


"Ck...dia deman tinggi, mungkin sudah terjadi infeksi pada lukanya. Aku harus bagaimana ini?"


Yansen meletakkan tubuh Evellyn diatas pasir, pria itu kemudian mengupas kembali sebuah kelapa muda untuk memberi Evellyn minum.


Glek


Glek


Glek


Evellyn perlahan meneguk air kelapa muda yang diberikan Yansen melalui mulutnya.


"Eve. Ku mohon bertahanlah, awas saja kalau kamu berani mati, aku akan melemparkan mayatmu dilaut biar dimakan hiu." gerutu Yansen.


"Bagaimana ini, dia masih menggigil. Apa dia kedinginan? lagi pula udara di pulau ini memang sangat dingin. Apa aku harus menggunakan cara kuno, agar tubuhnya tidak lagi menggigil?"


Dengan penuh pertimbangan, akhirnya Yansen memutuskan untuk melakukan skin to skin dengan Evellyn.


"Eve. Maaf, jangan salah faham padaku. Ini kulakukan demi kebaikkanmu,"


Yansen perlahan membuka kancing baju piyama Evellyn dan melepaskan penyangga dada gadis itu.


Glekkkk


"Sial. Pertumbuhan bocah ini sangat bagus, sehingga dia memiliki aset yang luar biasa indah,"


Yansen tidak melepaskan piyama itu hingga tuntas, sehingga bagian belakang gadis itu masih tertutup pakaian. Yansen kemudian menempelkan tubuhnya kebagian tubuh depan Evellyn, sehingga mereka mendekap satu sama lain.


"Ayolah tong, bukan saatnya kamu bereaksi. Tujuan kita mau menyelamatkan dia, bukan malah berpikiran mesum."


Yansen mencoba mengendalikan barang kebanggaannya saat benda itu sudah menegang dibawah sana.


"Ah...ku akui ini memang lebih nyaman dan hangat. Sepertinya Evellyn juga merasa begitu, buktinya tubuh gadis ini tidak lagi menggigil. Moga saja besok panasnya sudah turun."


Yansen mempererat pelukkanya pada tubuh Evellyn. Udara dingin yang berhembus dari laut kedarat, sama sekali tidak lagi Yansen rasakan. Malam ini Yansen benar-benar bisa tidur nyenyak tanpa ada perasaan takut meskipun bahaya bisa datang dari mana saja.


*****


Buuuuuurrrr


Suara deburan ombak yang saling berkejaran menghantam pasir. Suara berisik itu cukup mengganggu pendengaran Evellyn yang baru tersadar dari komanya. Evellyn merasakan geli saat nafas Yansen menerpa dadanya yang telanjang, sehingga gadis itu tersadar bahwa posisinya saat ini sedang tidak beres.

__ADS_1


Mata Evellyn terbelalak, saat tahu pria yang mendekapnya saat ini adalah pria dingin yang selalu mengabaikan dirinya.


"Ap-Apa yang dia lakukan padaku? kenapa dadaku telanjang?" mata Evellyn mencari kesana kemari untuk menemukan keberadaan penyangga dadanya itu.


Setelah menemukannya, Evellyn bergegas memakainya meskipun sulit karena punggungnya yang terluka.


"Dia tidak mengenakan baju karena bajunya dipakai buat perban lukaku. Kasihan dia, dia pasti kedinginan sehingga dia..."


Wajah Evellyn tiba-tiba merona saat membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang ada.


"Sudah berapa lama kami disini? sepertinya saat aku jatuh kelaut, dia juga ikut loncat ya? bodoh, bagaimana kalau ada hiu iseng saat itu? apa dia ingin mati juga?


Evellyn melirik kearah kelapa yang sudah terbuka beberapa buah.


"Jadi dia bertahan hidup dengan kelapa muda itu? lalu bagaimana dengan makanannya?"


Evellyn perlahan mencoba berdiri, meskipun tubuhnya masih terasa sempoyongan. Gadis itu melihat-lihat kearah laut, berharap menemukan sesuatu yang mungkin bisa mereka santap. Namun Evellyn tidak menemukan apapun karena deburan ombak menuju tepi cukup keras.


Evellyn kembali mendekati Yansen, pria itu belum juga terbangun karena matahari memang belum menyingsing. Evellyn mengupas sebuah kelapa muda dengan menggunakan pisau Yansen. Gadis itu meminum air kelapa itu hingga tandas dan juga memakan daging buahnya.


"Tuan. Bangunlah!"


Evellyn mencoba membangunkan Yansen. Yansen yang mendengar ada suara memanggil namanya, segera membuka matanya dan mendapati Evellyn tersenyum kearah dirinya.


"Eve...kamu sudah sadar?" Yansen segera bangun dari tidurnya dan meraih kedua sisi wajah gadis itu.


Mendengar Evellyn memanggil dirinya dengan sebutan tuan, Yansen tiba-tiba memasang mode cold dan kembali seperti menjadi tuan untuk Evellyn.


"Ehemm..." Yansen menarik tangannya kembali dan berdehem.


"Apa kamu bodoh? apa yang kamu lakukan?"


"Melakukan apa?" Evellyn bingung, karena Yansen tiba-tiba memarahi dirinya.


"Kenapa kamu menghadang peluru itu untukku? apa kamu pikir, kamu itu punya 9 nyawa?"


"Aku tidak ingin tuan terluka. Tuan sudah baik padaku. Sebagai pelayan, aku tentu berkewajiban melindungi tuannya bukan? lagipula tubuh tuan sangat berharga, orang-orang pasti sangat membutuhkan tuan, kalau aku? aku matipun tidak ada yang menangisiku,"


"Ckk...dasar bodoh. Kamu sengaja ya? agar aku mempunyai hutang nyawa denganmu?"


"Kalau tuan menganggapnya begitu, anggap saja kejadian malam tuan menolongku jadi impas dengan kejadian di kapal."


"Dasar idiot," gerutu Yansen.


"Tuan jangan marah-marah terus, nanti tambah tua loh,"


Mata Yansen melotot saat Evellyn mengatainya tambah tua. Evellyn yang baru menyadari ucapannya, langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan.

__ADS_1


"Sial. Apa aku benar-benar sudah kelihatan tua ya? kata orang perkataan bocah paling jujur. Tidak bisa! aku sangat menolak dikatakan tua, setiap hari aku bercermin dan aku rasa aku masih terlihat usia 25 tahun," batin Yansen.


"Mampus Evellyn. Kenapa mulutmu tidak bisa di rem sedikit. Bagaimana kalau dia melemparkanmu kelaut dan jadi makanan hiu," batin Evellyn.


"Tu-Tuan, Eve lapar." Evellyn mencoba mengalihkan pembicaraan.


Yansen yang tadinya ingin marah, jadi merasa iba saat melihat wajah Evellyn yang memelas.


"Kita tidak memiliki apapun yang bisa dimakan kecuali kelapa muda itu. Tapi kalau masuk kehutan, kita bisa menemukan buah liar disana."


"Itu juga tidak apa. Setidaknya itu lebih baik daripada tidak sama sekali."


"Tunggulah disini! biar aku masuk hutan mencari buah-buahan untuk kita."


"Ikut,"


"Kamu masih sakit, sebaikny diam saja disini."


"Pokoknya ikut. Eve takut tinggal sendirian,"


Yansen menghela nafas, pria itu memutuskan untuk membawa Evellyn ikut bersama dirinya.


"Hey..jangan sembarangan makan, bagaimana kalau itu beracun?"


"Tuan tenang saja. Buah ini enak kok, ini namanya buah berry liar. Rasanya manis, lihatlah! disini banyak sekali bukan?" wajah Evellyn semringah.


Yansen menatap hamparan pohon berry yang cukup banyak. Dan semua buahnya nyaris bisa dipetik semua, karena sudah banyak yang berwarna hitam. Evellyn dengan semangat memetik buah berry itu dan membuat bajunya sebagai tumpuan.


"Aku akan masuk sedikit lebih dalam, soalnya aku menemukan pohon apel liar disana."


"Ikut,"


"Lalu buah berrynya bagaimana?"


"Kita bisa mengambilnya lagi saat pulang."


Yansen dan Evellyn memutuskan masuk hutan lebih dalam. Benar yang Yansen katakan, mereka menemukan banyak buah apel liar disana.


"Tuan, bolehkan aku bertanya?" tanya Evellyn sembari menggigit sebuah apel ditangannya.


"Tanya saja," ujar Yansen sembari memetik apel yang sedikit ranum.


"Apa yang tuan lakukan padaku semalam? kenapa saat terbangun pakaianku terbuka?"


Yansen menghentikan gerakkan tangannya, pria itu kebingungan saat akan menjawab pertanyaan itu. Tubuh pria itu berbalik dan menatap Evellyn, sehingga kini giliran Evellyn yang menjadi salah tingkah.


TO BE CONTINUE...🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2