Belenggu Mafia Lapuk

Belenggu Mafia Lapuk
66. Tebusan


__ADS_3

Samudera menceritakan semua apa yang dia dengar pada Evellyn. Belum selesai Samudera bercerita, Codet dan Paiman memasuki ruangan itu dengan menenteng sebuah pistol ditangannya. Evellyn menelan air ludahnya, sejujurnya dia sedikit trauma dengan benda bertimah panas itu. Pasalnya luka yang dia dapat dari sebuah tembakkan, masih membekas di punggungnya.


"Sorry sepertinya kesepakatan kita, akan kita batalkan dulu untuk sementara waktu," ujar Codet.


"Apa maksudmu?" tanya Evellyn.


"Kamu akan tahu setelah kami berhasil mendapatkan uangnya," ujar Codet sembari memberikan kode pada Paiman dan salah seorang anak buahnya yang lain.


Paiman dan rekannya menodongkan pistol ke arah kepala Evellyn dan juga Samudera. Sementara itu Codet seperti sedang membuat panggilan untuk seseorang, yang tak lain adalah Orland. Codet memang masih menyimpan nomor ponsel Orland dalam kontak ponselnya.


"Codet?" ujar Orland terkejut.


Setelah sekian jam nomor itu dia hubungi tidak aktif, kini tiba-tiba Codet menghubunginya. Sementara itu Yansen dan teman-temannya yang semula duduk santai, jadi duduk tegap karena Orland menyebutkan nama Codet.


"Codet menelponmu?" tanya Yansen.


"Ya."


"Angkat dan buat mode pengeras suara," ujar Yansen.


Orland menuruti ucapan Yansen, dan menerima panggilan telpon itu.


"Hallo Codet?"


"Hallo mantan bos, apa kabarmu. Hem? aku harap kamu baik-baik saja tanpa adanya aku disisimu. Aku tahu saat ini kamu sedang berada di markas mantan sahabatmu itu, dan aku juga tahu saat ini mereka juga ikut mendengarkan obrolan kita. Jadi aku pikir ada bagusnya juga, jika mereka ikut mendengarkan."


"Apa yang kau inginkan?" tanya Orland.


"Ah...inilah yang aku selalu suka darimu sejak dulu. Selalu mengerti sebelum diminta, oleh sebab itu aku tidak perlu sungkan lagi."


"Codet. Kamu terlalu basa basi, dan kamu juga tahu, aku paling tidak menyukai hal itu."


"Aku ingin barter dengan kalian. Aku pikir melelahkan juga kalau harus bertumpah darah seperti ini,"


"Heh...aku tahu kamu sedang ketakutan saat ini. Dengan orang-orangmu yang tidak seberapa itu, mana mungkin kamu bisa bertahan. Dan kamu masih berani untuk bernegosiasi denganku?"

__ADS_1


"Ya terserah saja, itu pilihan kalian. Kalau tidak mau juga tidak apa-apa. Besok aku akan kirim saja kedua mayat sanderaku di kediaman kalian. Biar kamu tidak menyesal, aku akan mengubah panggilan menjadi panggilan video. Barangkali kamu mau mengucapkan ucapan selamat tinggal untuk mereka."


Codet mengubah panggilan itu menjadi panggilan video. Mata Orland dan Yansen terbelalak saat melihat kepala evellyn dan Samudera tengah di todong pistol.


"Eve..." ucap Orland lirih.


Belum sempat Evellyn mengucapkan sesuatu, Yansen sudah merebut ponsel itu dari tangan Orland.


"Eve...eve...sayang, kamu jangan takut ya? aku akan segera menyelamatkanmu. Samudera, kamu jangan takut ya nak? papa akan segera datang,"


Mendengar itu Evellyn dan Samudera jadi saling berpandangan.


"Apaan dia panggil aku sayang? dasar brengsek. Aku akan menjambak rambutmu saat aku berhasil keluar dari sini. Kamu pikir gara-gara siapa aku mengalami nasib sesial ini?" batin Evellyn.


"Codet brengsek. Katakan kamu mau barter berapa?" tanya Yansen dengan tidak sabar.


"Oh...tuan Yansen yang terhormat, aku suka gayamu itu. Baiklah, aku sudah memikirkan angka-angkanya. Dan aku ingin kamu dan Orland memberikan jumlah yang sama untukku,"


"Pria bermulut sampah! terlalu banyak bicara, apa kamu ini jenis pria bertulang lunak? cepat sebutkan!" hardik Yansen.


Mendengar itu Mata Evellyn terbelalak.


"Jangan dengarkan dia, abaikan saja ucapannya! dasar pria buruk rupa buruk hati. Kamu pikir orang itu nyari duit melihara tuyul? enak saja satu triliun. Aku saja belum pernah lihat uang sebanyak itu, bahkan jumlah 0 nya saja aku tidak tahu. Kamu...."


"Aku setuju," ujar Yansen.


"Aku setuju," ujar Orland secara bersamaan.


"Ap-Ap? apa otak kalian sudah bermasalah? kenapa kalian setuju begitu saja. Kali...."


Codet mengambil ponselnya sebelum Evellyn selesai bicara.


"Hey...brengsek! aku belum selesai bicara," teriak Evellyn.


Sementara itu Codet tertawa keras saat mendengar persetujuan dari Yansen dan Orland.

__ADS_1


"Baiklah. Kalian mau bagaimana cara transaksinya?" tanya Codet.


"Kami akan memberikan cek saja untukmu," ujar Yansen.


"Oke. Kalau begitu kirim kan ceknya di alamat yang akan ku berikan pada kalian, setelah ceknya ku terima, nanti kalian bisa menjemput Evellyn dan Samudera ditempat yang sudah aku tentukan."


"Baiklah sepakat," ucap Yansen.


Codet langsung mengakhiri panggilan telpon itu dengan hati riang gembira. Sementara disisi lain Yansen dan Orland juga bisa bernafas lega, karena seperti mendapat angin segar.


"Kamu dengar itu? kedua pria itu berebut ingin menyelamatkanmu. Aku tidak menyangka nilai jualmu semahal itu. Kalau tahu mereka akan langsung setuju begitu, aku akan menyebutkan harga lebih besar dari itu," ujar Codet


"Dasar licik. Aku sumpahin kamu mati ditimpa duit," hardik Evellyn.


Codet tertawa keras dan meninggalkan ruangan itu.


"Kalian yakin akan memberikan uang sebanyak itu untuk si Codet? ini bukan nilai kecil loh? si Codet bisa jadi OKB dengan uang sebanyak itu," tanya Owen.


"Meski dia meminta seluruh hartaku, aku akan memberikannya untuk dia. Asalkan Evellyn dan anakku kembali padaku," ucap Yansen.


"Huuu...baru tahu bucin kamu," timpal Diego.


"Lalu kamu? kenapa kamu setuju dengan permintaan Codet? kalau Yansen wajar, dia mau ambil hati wanitanya dan menyelamatkan anaknya. Nah kamu?" tanya Owen.


"Aku kan mau bersaing mendapatkan Evellyn dan mendapatkan hati anaknya." Jawab Orland yang sengaja memprovokasi Yansen.


"Ckk...jangan manas-manasin aku. Meski dia minta 2 triliun dariku, aku juga masih menyanggupinya. Tapi memang sebaiknya aku saja yang mengeluarkan semua uangnya." ucap Yansen.


"Nggak bisa. Pokoknya aku juga harus ikut andil," timpal Orland.


"Kalian ini terlalu kepedean. Emangnya si Evellyn mau sama kalian berdua yang udah bau minyak angin gitu? dia masih muda, masih cantik, tentu bisa nyari yang lebih dari kalian," ujar Diego yang langsung mematahkan hati Yansen dan Orland secara bersamaan.


"Maaf ya. Bukan bermaksud mematahkan hati kalian, tapi kalian juga harus menyiapkan hati kalian masing-masing. Dan kalian juga harus menerima apapun keputusan Evellyn nanti. Jangan paksa dia, biarkan dia bahagia dengan pilihannya. Sudah cukup kalian berdua yang sudah mengecewakannya," sambung Diego.


Yansen dan Orland terdiam. Apa yang dikatakan Diego memang benar adanya. Tapi meskipun begitu, Yansen bertekad tidak ingin menyerah. Dia ingin merebut hati Evellyn kembali, dia akan memberikan banyak cinta untuk wanitanya itu. Dia ingin membujuk Evellyn dengan berbagai cara, sampai gadis itu mau menerimanya dan tidak akan menolaknya.

__ADS_1


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2