
Yansen menyudahi rapat lebih cepat dari biasanya. Saat ini suasana hatinya sedang tidak baik. Sejak pagi jatungnya selalu berdebar tanpa sebab.
"Zav. Apa pekerjaanmu sedang banyak?" tanya Yansen diseberang telpon.
"Tidak terlalu. Ada apa?"
"Bagaimana dengan yang lain? kita kumpul dimarkas sekarang!"
"Ada apa? apa ada masalah mendesak?" tanya Zavier.
"Pokoknya datang saja,"
"Baiklah. Aku kesana sekarang," ujar Zavier.
Yansen mengakhiri panggilan itu dan meraih kunci mobilnya. Pria itu segera memacu kendaraannya menuju markas.
Terlihat mobil Zavier dan Owen sudah sampai lebih dulu di markas. Sebab, jarak markas dan kantor mereka memang lebih dekat dari kantor miliknya.
"Diego nggak datang?" tanya Yansen.
"Katanya dia akan datang terlambat, saat ini dia sedang ada meeting penting di kantornya." Jawab Zavier.
"Sebenarnya ada masalah apa? kenapa kamu menyuruh kita berkumpul disini?" tanya Owen.
"Tidak ada masalah apapun. Hanya saja sejak tadi pagi jantungku berdebar, aku juga merasa gelisah tanpa sebab." Jawab Yansen.
Owen menepuk dahinya, menurutnya Yansen sangat konyol karena menyuruh mereka berkumpul hanya karena ingin mendengarkan keluhan tentang jantungnya yang berdebar.
Sementara itu Zavier hanya diam mendengarkan keluhan sahabatnya itu, sembari menghisap rokok ditangannya.
"Apa menurutmu aku perlu memeriksakan jantungku?" tanya Yansen.
"Jika memang kamu anggap itu perlu, lakukan saja. Kita memang harus memperhatikan kesehatan." Jawab Zavier.
"Entah mengapa pula wajah Evellyn selalu menggangguku hari ini. Seperti inikah efek besar dari rasa bersalah?"
"Atau jangan-jangan Eve lahiran hari ini?" ceplos Owen.
Mendengar itu Yansen mendadak tegang. Pria itu jadi teringat, bahwa bulan ini seharusnya memang hari kelahiran anaknya.
"Eve apa itu benar? apa anak kita sudah lahir? Eve dimana kamu, tolong kembalilah padaku." batin Yansen.
__ADS_1
Wajah pria sangar itu kembali murung. Zavier menghela nafasnya, sejak kepergian Evellyn, sahabatnya itu mengalami banyak perubahan.
"Kenapa harus memasang wajah sesedih itu. Seharusnya kamu bahagia bukan? anakmu pasti akan tampan dan gagah jika dia laki-laki. Dan dia akan cantik dan pemberani seperti Evellyn." ucap Zavier.
"Aku sedih karena aku tidak berada disampingnya saat-saat masa sulitnya. Dia masih sangat muda, dia pasti ketakutan saat menghadapi situasi seperti itu. Harusnya aku ada disampingnya untuk meringankan beban dan ketakutannya."
"Aku mengerti perasaanmu. Jangan pernah putus harapan, yakinlah suatu saat Evellyn pasti akan kembali." ucap Zavier.
"Apa aku datang sangat terlambat?" tanya Diego yang baru saja tiba dengan menenteng sebuah kantung plastik besar ditangannya.
Pria itu meletakkannya diatas meja, yang lansung disambar oleh Owen.
"Sorry aku telat. Apa ada masalah serius?" tanya Diego.
"Seperti biasa, teman kita sedang galau memikirkan Evellyn. Tapi ada kemungkinan Evellyn sudah lahiran," ujar Owen asal.
"Bagus dong. Itu artinya detik-detik pertemuanmu dengan Evellyn akan semakin dekat."
Yansen hanya menanggapi dengan diam. Pria itu tahu, bahwa sahabatnya itu sedang menghiburnya saat ini.
Sementara ditempat berbeda, Andre sedang merasakan haru biru dihatinya, saat Orland memperlihatkan foto-foto bayi mungil yang tak lain adalah cucunya.
"Apa anda senang?" tanya Orland.
"Jangan senang dulu. Karena tujuanku baik-baik dengan putrimu, tentu saja ada maksud lain." ucap Orland.
"Apa maksudmu?" tanya Andre.
"Aku akan menjadikan anak dan cucumu sebagai pionku suatu saat nanti. Pion yang akan menghancurkan musuhku dan akan membantuku merebut tampuk kekuasaan dari tangan Yansen." Jawab Orland.
Andre terdiam. Pria parubaya itu sedikit banyak sudah memahami sedikit situasinya saat ini.
"Aku tidak tahu kamu memiliki dendam apa dengan Yansen. Aku tidak perduli kamu mau melakukan apa, selama putriku dan cucuku kamu jaga dengan baik."
"Tuan. Sejak kecil Evellyn selalu hidup susah, Beranjak dewasapun dia masih saja mengalami hal yang menyedihkan. Apapun tujuanmu, aku mohon padamu jangan pernah sakiti fisiknya. Dia sudah banyak mengalami penderitaan selama ini," sambung Andre.
"Jika suatu saat tujuanmu sudah tercapai, aku harap kamu menyimpan rahasiamu rapat-rapat. Sepertinya putriku sangat percaya padamu saat ini. Jangan sampai dia tahu semuanya, karena luka fisik tidak seberapa sakit jika dibandingkan dikhianati oleh orang yang kita percayai,"
Orland tiba-tiba meninggalkan tempat itu. perkataan Andre sangat menggangu perasaannya. Namun langkahnya terhenti saat melewati ruangan berbeda. Orland masih bisa mendengar, meski pintu didepannya sudah tertutup rapat. Ivanka tengah bersuara merdu, suara itu bersahutan dengan seorang pria yang tak lain salah satu dari anak buahnya.
"Heh...lagaknya saja sok berkelas. Sekali ja**ng tetap saja Ja**ng," ujar Orland lirih sembari melanjutkan langkah kakinya untuk keluar dari markas itu.
__ADS_1
Orland memutuskan untuk kembali kerumah sakit. Dia ingin segera membahas perihal kuliah Evellyn secepatnya.
"Kakak. Darimana?" tanya Evellyn.
"Ada sedikit urusan. Eve, kakak sudah menemukan tempat kuliah bagus untukmu. Yang tentu saja berada diluar kota ini."
"Apa aku harus kuliah secepat itu kak? aku masih belum mau berpisah dengan anakku." tanya Evellyn.
"Kalau kamu ingin sukses dan cepat membalaskan dendammu, kamu harus bersikap kejam. Suatu saat anakmu akan mengerti, kenapa ibunya bersikap seperti itu. Kamu tidak boleh lemah,"
"Dimana?" tanya Evellyn.
"Palembang. Disana ada salah satu universitas negeri terbaik,"
"Aku akan menuruti semua perkataan kakak. tapi bagaimana dengan berkas-berkasku? semuanya ada dirumah itu,"
"Kamu tenang saja, orang-orangku sudah mengambilnya dari sana." dusta Orland, yang sebenarnya dia ambil dari tangan Andre.
"Baiklah ceritakan padaku seperti apa kampusku itu? dimana aku akan tinggal? apa ada saudara kakak disana?"
"Tidak ada. Nama kampusmu UNSRI atau bisa di sebut universitas sriwijaya. Disana kakak akan menyewakanmu kontrakkan yang tidak jauh dari kampusmu itu."
Evellyn menatap putra yang baru saja dia lahirkan. Meskipun hatinya sangat berat, tapi Evellyn harus kuat berpisah dengannya.
"Maafkan mama sayang. Tapi kamu tidak usah takut, Papa Orland akan menjagamu dengan baik. Suatu hari kita akan bertemu lagi," batin Evellyn.
"Kapan Eve akan berangkat?" tanya Evellyn.
"Selesaikan dulu masa nifasmu, agar lebih aman untukmu."
"Baiklah." Jawab Evellyn.
"Istirahatlah. Kamu harus segera memulihkan diri," ujar Orland.
"Emm." Evellyn menganggukkan kepalanya.
Orland keluar ruangan itu untuk membuat panggilan pada orang kepercayaannya. Sementara itu tangis Evellyn pecah, meski didepan Orland gadis itu bersikap tegar, tapi tetap saja sisi ke ibuannya membuat dia merasakan kesedihan yang sangat luar biasa.
"Samudera harus jadi anak pintar ya nak? jadi anak yang kuat. Meski kita terpisahkan, tapi rasa sayang mama tidak akan berubah. Kamu juga harus menurut dengan papa Orland, karena dia yang akan menjaga Samudera nantinya," ujar Evellyn sembari terisak.
Evellyn bergegas menyeka air matanya saat mendengar suara langkah kaki Orland yang kembali memasuki ruangan itu.
__ADS_1
TO BE CONTINUE...🤗🙏