
Yansen dan Orland telah mengirimkan cek di tempat yang sudah Codet atur. Setelah cek itu diterima oleh pihak Codet dan telah berhasil mereka pindahkan ke rekening, Codet pun mengatur agar Evellyn dan Samudera di jemput disuatu tempat yang sudah Codet tentukan.
"Ma. Apa mereka benar-benar akan menyerahkan kita begitu saja?" tanya Samudera.
"Mama juga tidak tahu, tapi semoga saja mereka tidak ingkar janji." Jawab Evellyn.
"Setelah kita berhasil keluar dari sini, kita akan tinggal dimana Ma?"
"Mama juga tidak tahu. Yang pasti mama akan menemui kakekmu dulu, dan menyelesaikan masalah mama dengan kedua pria tidak waras itu."
"Huffftt...mama mulai lagi deh,"
"Ma,"
"Hem?"
"Apa Samudera boleh tinggal dengan papa?"
"Papa yang mana?" tanya Evellyn.
"Papa Yansen." Jawab Samudera.
"Kamu mau ninggalin mama sendiri?" tanya Evellyn.
"Bukan begitu Ma, Samudera cuma pengen tahu rasanya tinggal dengan papa kandung samudera sendiri," ujar Samudera.
"Kita akan bicarakan ini nanti setelah kita berhasil keluar dari sini."
"Sekarang kita mendingan tidur. Besok kita akan diantar ketempat pertemuan itu," sambung Evellyn.
"Ya Ma." Jawab Samudera.
Evellyn pergi tidur, sementara Samudera hanya menatap langit-langit, karena haus Samuderapun pergi mengambil air minum.
Sementara itu di ruangan berbeda, Paiman dan Codet tengah mendiskusikan sesuatu.
"Sekarang kita bisa lega, dengan uang 2 triliun itu kita bisa hidup dengan damai dimasa tua nanti," ujar Paiman.
"Ya. Tapi aku juga akan membuat mereka tidak hanya kehilangan uang, tapi mereka juga akan kehilangan orang." Jawab Codet.
Paiman mengerutkan keningnya, karena pria itu tidak bisa membaca isi pikiran Codet.
"Maksudmu bagaimana?" tanya Paiman.
__ADS_1
"Besok mereka akan menjemput di sebuah rumah tinggal yang sudah aku atur. Yang boleh menjemput hanya Yansen dan Orland. Dan aku akan membuat mereka kehilangan sesuatu yang berharga," ujar Codet.
"Apa kau...."
"Ya. Aku akan melenyapkan anak mereka tepat di depan mata mereka." Jawab Codet.
"Codet. Kenapa kamu harus melakukan itu, kita sudah mendapatkan uangnya. Seharusnya itu tidak di perlukan,"
"Aku tidak suka ke kalahan. Aku harus sedikit lebih menang dari mereka, barulah aku merasa puas."
Paiman hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar tidak menyukai jalan pikiran Codet.
"Bukankah pertemuan itu kita dilarang membawa senjata?" tanya Paiman.
"Ditubuh kita memang tidak memiliki senjata, tapi tidak ada perjanjian ditempat lain kan?"
"Maksudmu?"
"Saat kita akan terbang dengan hellykopter itu, aku akan mengambil senjataku disana. Dan menebaknya saat akan mengudara. Setelah itu kita langsung pergi dengan menggunakan hellykopter." Jawab Codet sembari tertawa keras.
"Sungguh Codet ini manusia yang mengerikan. Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikirannya," batin Paiman.
"Kalau begitu bolehkah aku tidak ikut dalam pertemuan itu?" tanya Paiman.
"Kenapa?" tanya Codet.
"Kamu ini preman tape, lembek sekali. Ya sudah, kamu nggak usah ikut. Kamu tunggu saja di markas sampai aku pulang dan kita kabur bersama."
"Satu lagi, simpan ATM ini baik-baik. Hanya aku dan kamu yang tahu PIN nya, jangan pula kamu coba-coba berhianat padaku. Kamu tahu siapa aku kan? nyawa keluargamu tidak akan selamat, apalagi anakmu itu."
"Iya. Tapi aku lupa loh pin ATM kita, berapa ya?" tanya Paiman.
"868686. Otakmu harus sering di asah, agar nggak cepat pikunnya," ujar Codet.
"Lagian kenapa kamu buat pin dengan angka 86 tiga kali?"
"Itu tahun lahirku." Jawab Codet.
"Ya sudah kamu simpan. Ingat, kalau ada apa-apa padaku, berikan itu pada keluargaku. Kamu ambil satu untukmu, dan untuk keluargaku satu. Jangan lupa beri juga bagian untuk anak-anak yang lain."
"Waduh...kamu jangan bicara seperti itu. Wasiatmu terdengar mengerikan di telingaku." ujar Paiman.
"Buat jaga-jaga saja. Aku nggak akan mati. semudah itu. Bukankah orang jahat matinya lebih lama?" Codet terkekeh.
__ADS_1
"Oh ya besok jangan lupa cek gudang persenjataan. Minta teman-teman yang lain untuk membersihkannya dari debu,"
"Gudang yang pintu merah ya?"
"Ya. Kalau yang sebelahnya gudang minyak, kamu hafalin dong markas kita."
"Buat apa menghafalnya, toh kita akan pergi juga."
"Benar juga. Ya sudah, pergilah! ini jangan lupa dibawa," Codet menyorkan dua buah ATM pada Paiman. Paimanpun meraih benda yang berwarna Gold itu.
*****
Keesokkan harinya....
"Yan. Kamu yakin kami nggak boleh ikut? kita nggak bisa percaya gitu aja dengan Codet. Kamu tahu sendiri dia sangat licik," ujar Zavier.
"Dia menginginkan persyaratan itu. Nanti saat disana, kami akan saling memeriksa senjata ditubuh kami masing-masing. Disitu kita akan tahu, kalau kami sama-sama tidak memiliki senjata." Jawab Yansen.
"Bagaimana kalau dia menyembunyikan penembak jitu disuatu tempat. Bukankah ini sangat aneh menurutku? kenapa mereka harus repot-repot kalau ingin melepaskan Evellyn dan Samudera. Mereka cukup mengantarkan mereka kejalan raya yang ada taksi. Evellyn dan Samudera bisa pulang sendiri, kenapa harus mereka yang antar?"
Yansen terdiam. Apa yang Zavier katakan ada benarnya. Orland juga berpikir demikian.
"Sepertinya apa yang di katakan Zavier cukup masuk akal," ujar Orland.
"Jadi menurutmu kita harus bagaimana?" tanya Yansen.
"Biarkan aku dan teman-teman mengawalmu ditempat tersembunyi," ucap Zavier.
"Baiklah. Aku setuju," ujar Yansen.
Merekapun pergi ke tempat pertemuan yang sudah di tentukan. Entah mengapa jantung Yansen berdebar kencang saat ini, dia memang merindukan anaknya, tapi rasa rindunya pada Evellyn jauh lebih membuncah.
Tidak jauh berbeda dengan Yansen, Orlandpun merasakan hal yang sama. Dia sangat merindukan Evellyn, gadis yang diam-diam dia sukai.
Setelah memakan waktu hampir 35 menit, Yansen dan Orland tiba disuatu tempat yang terbilang sangat menyeramkan. Tempat itu berada disebuah rumah kosong dengan ilalang yang tingginya hampir mencapai 2 meter. Suasananya juga sunyi, karena sedikit jauh dari pemukiman warga.
"Entah orang seperti apa yang membangun rumah ditempat seperti ini," ujar Orland.
"Dan pada akhirnya rumah ini di tinggalkan juga. Manusia tidak akan betah, kalau tidak berdampingan dengan mahluk lain," timpal Yansen.
"Ckk...mana sih manusia jelek itu? pakai molor waktu lagi. Dari dulu nggak pernah berubah nih dia," ujar Orland.
"Maklum OKB. Mungkin dia sedang menghayal ingin menghabiskan uang itu buat apa," ucap Yansen.
__ADS_1
Setelah menunggu hampir 10 menit, sebuah hellykopter mengudara tepat diatas mereka. Jantung Orland dan Yansen bertalu-talu. Pertemuan ini benar-benar mendebarkan jantung mereka. Sementara itu , hellykopter yang ditumpangi oleh Codet, makin lama makin turun dan akhirnya mendarat ke tanah. Codet dan seorang rekannya turun dari benda berbaling-baling itu. Mereka pun saling memeriksa senjata ditubuh mereka satu sama lain.
TO BE CONTINUE...🤗🙏