
"Kakak tidak tahu makanan apa yang kamu sukai, jadi kakak menyuruh pelayan membuat makanan yang baik untuk ibu hamil saja," ujar Orland.
Orland memasuki kamar Evellyn dengan membawa nampan yang berisi sepiring nasi dan lauk pauk, juga beserta sayuran dan buah-buahan.
"Kakak juga bawa segelas susu hamil untukmu," sambung Orland.
"Kakak kenapa repot sekali? aku jadi merasa tidak enak hati kalau begini," ucap Evellyn.
"Mengapa kamu ada perasaan seperti itu. Aku ini kan kakakmu, sudah seharusnya memanjakan adiknya bukan?" tanya Orland.
Mata Evellyn kembali berkaca-kaca, dia sangat terharu dengan semua kebaikkan Orland. Semakin hari Orland selalu memperhatikan dirinya dengan ekstra.
"Jangan menangis, semuanya pasti akan baik-baik saja. Kakak harap kamu semangat menjalani hidup kamu, ingat ada anakmu yang masih butuh perhatian. Jadi makan dan minum juga istirahatlah yang benar,"
Evellyn menyeka air matanya, gadis itu kemudian meraih nampan yang Orland bawa. Evellyn mulai menyantap makanan itu dengan lahap, kemudian meminum susu hamil hingga tandas.
"Bagus. Kalau begini kakak jadi tenang meninggalkanmu bekerja, kakak yakin kamu dan bayimu akan sehat,"
"Makasih ya kak. Kakak itu sudah seperti malaikat buat Evellyn."
"Terus terang kakak senang kamu berada disini, kakak jadi punya teman. Semoga kamu betah ya? kakak berharap sampai mati kamu jangan pernah ninggalin kakak,"
Evellyn terdiam. Terus terang dia tidak bisa menjanjikan hal itu pada Orland. Dia tidak ingin melihat orang yang peduli padanya mengalami kekecewaan.
"Oh ya kak, bagaiman tentang yang kemarin? apa kakak sudah menyuruh orang untuk mencari tahu tentang ayahku? tanya Evellyn.
Orland tertunduk dengan wajah sedihnya, yang membuat Evellyn jadi bertanya-tanya seketika.
"Kak. Ada apa?" tanya Evellyn.
"Sebenarnya kakak tidak sampai hati menyampaikan ini padamu, tapi walau bagaimanapun kamu berhak tahu bukan?" ujar Orland.
"Ada apa kak?" Evellyn penasaran.
"Sesuai dugaanmu, pria itu memang benar-benar sudah melenyapkan Ayahmu." Jawab Orland.
Orland terdiam setelahnya. Dia ingin melihat seperti apa reaksi dari Evellyn, namun sesuai dugaannya air mata Evellyn langsung tumpah ruah dengan emosi yang memuncak seketika.
"Tidak. Ini tidak mungkin kan? katakan sama aku kak, ini tidak benar kan?" bibir Evellyn bergetar.
__ADS_1
"Sayangnya itu benar. Orang suruhanku bahkan sudah mengecek sendiri pusara ayahmu." Jawab Orland.
"Nggak...ini nggak mungkin. A-Ayah...ayah jangan tinggalin Eve yah....hikz ..." Evellyn terisak
"Kakak. Tolong antar aku ke pusara ayah kak,"
"Akan kakak antar, tapi diluar sedang hujan, hari juga sudah mulai gelap. Kakak janji besok akan mengantarmu kepemakaman." ujar Orland.
"Hikzz....aaaakkkhhh...Yansen...kubunuh kamu Yansen...aku benci kamu Yansen...aku benci kamu hikzz...." Evellyn terisak.
Evellyn meraung-raung, sementara Orland tertawa senang didalam hatinya. Pria itu merasa telah berhasil menanamkan kebencian Evellyn pada Yansen.
"Eve. Kamu tenangkan dirimu ya? ingat, ada anakmu didalam perutmu. Jangan terlalu stres. Kamu tenang saja, kakak akan membantumu mewujudkan semua cita-citamu agar kamu bisa jadi orang besar."
Evellyn menyeka air matanya dengan cepat, apa yang Orland tawarkan seperti angin segar baginya.
"Aku tidak perlu jadi orang besar kak, tapi aku ingin kakak membantuku buat balas dendam. Aku ingin membunuh bajingan itu dengan tanganku sendiri." jawab Evellyn.
"Untuk ketahap itu, kamu harus jadi orang kuat terlebih dahulu. Dan untuk jadi orang kuat banyak yang harus dikorbankan. Kalau kamu ingin membalaskan dendammu, maka kamu harus mengikuti semua intruksi kakak. Kakak jamin kamu akan berhasil melenyapkan orang yang kamu benci itu,"
"Apapun yang kakak katakan, aku akan mendengarkan kakak."
"Emm." Evellyn mengangguk
"Baiklah, beristirahatlah."
"Ya."
Orland beranjak pergi, seringai lebar menghiasi bibirnya. Dia sudah berhasil mendapatkan pion, tanpa harus bersusah payah mencuci otaknya.
Sepeninggal Orland, Evellyn kembali masuk kedalam selimut dan terisak. Gadis itu begitu sedih menangisi kematian Andre yang sudah terlanjur di doktrin oleh Orland.
"Huuu...Ayah...jangan tinggalin Eve Yah...hikz...."
Mata gadis itu jadi bengkak karena terlalu banyak menangis, hingga karena lelah, Evellynpun tertidur.
Sementara ditempat berbeda, Yansen sedang frustasi disebuah klub malam. Meski Zavier dan teman-temannya sudah mengajak pria itu pulang, namun dia masih ingin berada ditempat itu ditemani dengan botol-botol minuman mahal.
"Yan. Kamu nggak boleh gini, aku yakin suatu saat Evellyn pasti kembali. Kamu jangan pupus harapan begini," rayu Zavier.
__ADS_1
"Rasanya sakit sekali Zav. Kenapa aku baru sadar setelah dia pergi jauh dariku. Kenapa gadis kecil itu harus berhasil menjamah hatiku yang paling terdalam,"
Glukk
Glukk
Glukkk
Yansen kembali menenggak alkohol langsung dari botolnya. Melihat suasana hati Yansen yang buruk, juga kebiasaan buruk Yansen yang bangkit kembali, membuat Zavier dan teman-temannya sedikit khawatir, merekapun memutuskan menyeret Yansen pulang secara paksa. Mereka tidak perduli meskipun Yansen mengumpat mereka berkali-kali, bahkan mereka menyeret Yansen persis seperti anak kecil yang dipaksa pulang karena terlalu asyik bermain.
*****
Keesokkan harinya...
"Kamu sudah siap?" tanya Orland.
"Ya kak." Jawab Evellyn.
"Ingat, sampai disana sebisa mungkin jangan keluarkan air matamu. Ayahmu pasti tidak ingin melihatmu menangisi pusaranya,"
"Iya kak."
Orland dan Evellyn pergi ke area pemakaman yang sudah dituju sejak awal oleh Orland. Meski berjanji pada Orland dia tidak akan bersedih dan menangis, Evellyn masih saja menumpahkan air matanya meskipun belum sampai pada pusara ayahnya.
"Kakak mengerti perasaanmu, tapi pria itu akan bertambah senang saat tahu orang yang akan dia lenyapkan terpuruk seperti ini. Kalau ingin balas dendam padanya, kamu harus bermental kejam. Jangan lemah begini,"
Evellyn menyeka air matanya secepat kilat, membayangkan Yansen yang sedang menertawan dirinya saat ini, emosi gadis itu jadi bangkit kembali.
"Yansen. Manusia terkutuk itu, dia tidak akan pernah melihat air mataku ini. Tunggu dan lihat saja, ada masanya kamu akan melihat kematianmu menari-nari dipelupuk matamu," batin Evellyn.
"Kuatkan hatimu, keraskan hatimu layaknya baja yang sukar untuk dilelehkan. Dengan kamu kuat, dan mentalmu sudah teruji, siapapun musuhmu pasti bisa kamu kalahkan."
"Makasih kak. Suport kakak sangat berarti buatku. Aku janji akan berusaha menjadi manusia yang berhati baja seperti yang kakak bilang,"
"Baguslah. Kalau gitu kita teruskan jalannya. Pusara ayahmu sudah tidak jauh lagi dari sini."
"Emm." Evellyn mengangguk.
Evellyn dan Orlandpun kembali meneruskan perjalanan mereka, menyusuri tiap lorong pusara orang-orang yang sudah meninggal lebih dulu.
__ADS_1
TO BE CONTINUE...🤗🙏