Belenggu Mafia Lapuk

Belenggu Mafia Lapuk
71. Will You Marry Me


__ADS_3

"Laki-Laki itu dinilai dari ucapannya. Jangan hari ini ngomong gini, besok udah beda lagi." ucap Evellyn.


"Ya kan kamu yang bilang aku udah tua dan nggak imbang sama kamu. Aku juga jadi mikir, kalau kamu baru aja nikah, tahu-tahu jadi janda, mending aku nggak usah berharap banyak."


"Urusan cepat jadi janda, itu biarkan jadi urusanku. Kami harus bertanggung jawab dengan apa yang kamu katakan,"


"Tanggung jawab? tanggung jawab apa?"


"Sudah ku duga. Selain tua, kamu juga sudah pikun. Mungkin ini memang sudah nasibku," ujar Evellyn.


"Sepertinya keahlianmu sekarang meningkat. Selain jago menghilang, kamu juga jago menghina orang lain. Sudah tahu aku ini pria tua, tapi kamu sama sekali tidak menunjukkan sopan pada orang yang lebih tua," ucap Yansen.


Evellyn memutar bola mata dengan malas.


"Ya sudah. Sepertinya tidak ada lagi yang perlu kita bahas, kamu juga sudah selamat dari maut. Aku mau pulang saja" ujar Evellyn.


Tap


Yansen menangkap tangan Evellyn dengan cukup gesit.


"Apa belum cukup selama 10 tahun lebih, aku membiarkanmu bermain-main? tentu saja masih banyak yang harus kita bahas saat ini. Kita harus membahas masa depan kita dan anak-anak."


"Anak-Anak?"


"Ya. Anak-Anak kita selanjutnya," ujar Yansen sembari terkekeh.


"Apa kamu yakin masih sanggup membuatnya?" tanya Evellyn.


"Apa maksudmu?"


"Kan kamu sudah tua. Seharusnya lebih banyak datang ke masjid untuk beribadah ,"


"Ckk...berhenti mengolokku. Bahkan membuat 100 anakpun aku masih sanggup. Jangan pernah meremehkan kemampuanku."


"Aihh...pembahasan macam apa ini? belum nikah aja, udah bahas masalah anak." ujar Evellyn dengan bibir mengerucut.


"Eve...."


Evellyn menoleh ke arah pria yang tengah menggenggam tangannya itu.


"Will you marry me?" tanya Yansen.


Evellyn menatap mata Yansen yang penuh harap. Pria yang ke tampanannya tidak lekang dimakan usia itu, tampak menunggu jawaban yang selalu dia nantikan selama 10 tahun terakhir.


"Apa yang membuatku harus menerima lamaranmu itu?" tanya Evellyn.


"Aku tahu, aku sudah menciptakan rasa trauma yang cukup membekas dihatimu. Tapi Eve...meskipun aku tidak bisa menjanjikan memberimu gunung emas dan lautan berlian, tapi aku berjanji padamu akan selalu memberimu banyak cinta dan kasih sayang. Apa itu cukup bagimu?"


"Tentu saja tidak cukup. Dalam rumah tangga, tidak kenyang kalau cuma makan cinta."


Grepppp


Yansen menarik tangan Evellyn sedikit keras, hingga tubuh gadis itu terjatuh diatas tubuh Yansen. Yansen menyelipkan rambut di telinga Evellyn, karena wajah mereka sangat dekat saat ini.


"Priamu ini cukup kaya kalau hanya ingin membelikanmu puluhan rumah, ratusan koleksi berlian, dan ribuan mobil mewah. Semua milikku adalah milikmu dan Samudera. Kamu bebas menghabiskannya meskipun 1 milyar satu hari. Hartaku tidak akan habis 7 turunan dan 7 tanjakan."


"Hisssttt...sombong!"


"Sungguh. Kalau hanya membahagiakanmu lewat materi, tentu aku mampu. Yang aku takutkan malah kamu meminta yang bukan berwujud materi, karena aku sadar aku ini bukan pria peka dan romantis," ujar Yansen.

__ADS_1


"Aku tidak suka membicarakan tentang materi, meskipun aku tidak sekaya kamu. Aku cuma butuh cinta, meskipun materi mengiringi."


Ctakkk


Yansen menyentil dahi Evellyn, hingga gadis itu meringis kesakitan.


"Itu artinya sama saja. Masih butuh materi juga," ujar Yansen.


"Jadi?" tanya Yansen.


"Jadi apa?" tanya Evellyn baik.


"Maukah kamu jadi istriku? menemani sisa-sisa usiaku?" tanya Yansen.


Evellyn menatap mata Yansen, sesaat kemudian wanita itu mengangguk diiringi dengan senyuman. Yansen yang sangat bahagia, langsung meraih kedua sisi wajah Evellyn, dan kemudian mencium gadis itu dengan penuh perasaan.


"Balas ciumanku," ujar Yansen.


"Ba-Bagaimana caranya?"


"Kamu ini bagaimana? sudah sebesar ini tidak mengerti caranya berciuman."


"Mau bagaimana lagi. Orang kamu juga yang pertama kali merenggut keperawanan bibirku." Jawab Evellyn dengan bibir mengerucut.


"Aku akan mengajarimu," bisik Yansen.


Pria itu kemudian kembali mencium Evellyn, kali ini lebih lembut dan menuntun. Pria itu ingin mengajari calon istrinya bagaimana cara pemanasan yang baik dan benar, dan ternyata Evellyn begitu cepat belajar.


"Ka-Kamu mau apa?" saat tangan Yansen sudah bergerilya memasuki bajunya.


"Sudah lama sejak kejadian itu, aku sudah sangat kelaparan."


"Be-Benarkah?"


Evellyn menarik diri dari dekapan Yansen. Gadis itu tiba-tiba emosi saat mengingat semua kejadian itu.


"Ma-Maaf aku lupa."


"Jangan-Jangan kamu melakukan dengan ratusan cewek setelah Ivanka, masih mau bilang lupa juga?" tanya Evellyn


"Ti-Tidak. Aku berani sumpah," ucap Yansen yang mendadak takut kalau Evellyn berubah pikiran.


"Ah...yang benar," goda Evellyn.


"Sungguh." Jawab Yansen.


"Ya sudah kalau benar, tidurlah. Ini sudah malam."


"Eh? jadi kapan kita menikah?"


"Kapan saja, aku siap." Jawab Evellyn.


"Kemarilah!" ujar Yansen.


"Ada apa?" tanya Evellyn.


"Tidurlah disebelahku, aku ingin tidur sambil memelukmu malam ini."


Evellyn menuruti kemauan Yansen, karena sejujurnya dia juga sangat merindukan pria itu. Dan jadilah malam ini mereka tidur berdua diranjang yang sama.

__ADS_1


*****


Yansen menatap gadis yang masih tidur dilengannya saat ini. Wajah itu begitu dekat, hingga Yansen bisa melihat pori-pori wajah wanitanya itu.


Cup


Cup


Cup


Yansen mencium bibir Evellyn berkali-kali, hingga gadis itu merasa terganggu dan terbangun. Wajah gadis itu bersemu merah, karena dirinya merasa nyaman berada dalam pelukkan pria dewasa itu.


"Sepertinya kamu sangat merindukan pelukkanku, sehingga kamu begitu nyaman dan nggak mau bangun," ujar Yansen.


"Memangnya ini sudah jam berapa?" tanya Evellyn.


"Jam 9 pagi."


"Ap-Apa?"


"Dan mereka cukup lama menonton kemesraan kita." ucap Yansen yang mengalihkan pandangannya pada para sahabatnya termasuk Orland.


Evellyn bangkit seketika dari tempat tidur, saat semua orang melihat kearah dirinya dan Yansen.


"Apa yang kamu lakukan? kenapa kamu menciumku, padahal banyak orang disini? aku kan jadi malu," ujar Evellyn setengah berbisik.


"Noh...dengerin omongan si bocil, udah tua tapi nggak punya malu," ucap Diego.


"Eve bukan bocil lagi. Dia calon istriku sekarang." Jawab Yansen.


"Kamu sudah terima dia Eve?" tanya Zavier.


"Terpaksa kak. Nggak bisa nolak juga " Jawab Evellyn asal.


Zavier dan teman-temannya terkekeh mendengar jawaban Evellyn. Sementara Yansen jadi cemberut.


Krieekkkk


Andre membuka pintu, dengan Samudera mengekor di belakangnya.


"Samudera. Kemarilah!" ucap Yansen.


Samudera mendekat kearah Yansen, dan duduk di tepi tempat tidur.


"Papa minta maaf karena kamu harus menyaksikan perbuatan papa kemarin. Jangan pernah menirunya karena itu perbuatan tercela. Papa juga minta maaf karena papa terlambat menemukanmu, karena ada seorang bajingan yang menyembunyikanmu dariku." sindir Yansen.


"Tapi papa janji. Papa akan mengganti 10 tahun kebersamaan kita yang hilang, dengan berpuluh-puluh tahun kebahagiaan kedepannya. Apa Samudera mau memaafkan papa?" tanya Yansen.


"Apa dulu papa benar-benar menginginkan Samudera lahir?" tanya Samudera.


"Tentu saja. Meskipun Papa pernah keliru memahami sesuatu, tapi akhirnya Papa sadar, bahwa Papa butuh banyak cinta, yang hanya papa dapatkan dari mamamu. Dan papa tidak pernah menyesali adanya kamu hadir diantara kami yang begitu cepat. Karena kamu adalah sebuah anugrah yang tak ternilai, kamu adalah harta kami satu-satunya yang sangat berharga."


Samudera menatap mata Yansen untuk melihat kejujuran dimata pria itu.


"Mau peluk papa?" tanya Yansen yang kemudian diangguki oleh Samudera


Yansen merentangkan tangannya dan Samudera masuk kedalam pelukkan. Air mata haru menetes dari pelupuk mata Evellyn. Sungguh itu hal yang sangat membahagiakan baginya.


TO BE CONTINUE...🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2