Belenggu Mafia Lapuk

Belenggu Mafia Lapuk
48. Melahirkan


__ADS_3

Pagi ini Evellyn tengah menyiram tanaman dihalaman rumah dengan menggunakan sebuah selang panjang. Gadis itu tampak mendendangkan sebuah lagu, untuk menemani aktifitasnya itu agar tidak jenuh.


"Kenapa perutku sakit sekali? sakitnya terus menjalar hingga ke pinggang," ujar Evellyn sembari memutar kran air, agar air yang keluar dari selang itu berhenti.


"Nona kenapa?" tanya Seorang pelayan sembari meletakkan segelas susu hangat untuk Evellyn.


"Nggak tahu bik. Perutku terasa mules sampai kepinggang." Jawab Evellyn.


"Jangan-Jangan nona mau melahirkan?"


"Melahirkan? bukankah tafsiran lahirnya masih seminggu lagi?" Evellyn mendadak panik.


"Itu tidak bisa jadi acuan. Dulu waktu saya lahiran bahkan maju sampai dua minggu."


"Benarkah? kalau begitu saya harus periksa bukan?"


"Sebaiknya begitu, jadi biar lebih pasti."


Evellyn bergegas kembali masuk kedalam rumah untuk membuat panggilan pada Orland.


"Kakak. Kakak dimana?" tanya Evellyn.


"Di kantor. Ada apa Eve?"


"Sepertinya aku mau lahiran sekarang kak. Kakak pulanglah, Eve takut."


"Melahirkan? bukankah tafsiran lahirnya minggu depan?"


"Aku juga tidak tahu, tapi kata pelayan yang pengalaman, bisa saja tafsirannya jadi maju."


"Tunggulah! kakak akan pulang sekarang, suruh pelayan membantumu menyiapkan perlengkapan lahiran."


"Iya kak." Jawab Evellyn.


Evellyn bergegas dibantu pelayan, menyiapkan semua kebutuhan untuk melahirkan. Terus terang, Evellyn sedang gugup saat ini. Hingga air matanya tanpa sadar terjatuh, karena ketakutan yang berlebih.


"Evellyn. Kamu harus kuat, kamu harus berani. Ini perjuangan untuk melahirkan anakmu ke dunia. Kamu harus tunjukkan pada bajingan itu, bahwa kamu mampu melewati segala kesulitan tanpa bantuannya," batin Evellyn.


Setelah menunggu hampir 25 menit, Orland tiba dengan mobil mewah berwarna hitam. Evellyn yang sudah menunggu didepan teras, segera masuk kedalam mobil untuk pergi kerumah sakit.


"Awww...sakittt sekali kak...ini kenapa sakitnya bertambah parah begini," ujar Evellyn meringis kesakitan.


"Bersabarlah! sebentar lagi kita akan sampai," ujar Orland.


Orland semakin menambah kecepatan mobilnya, dia ingin segera sampai kerumah sakit. Meskipun Evellyn merupakan pion baginya, tapi dia tetap saja merasakan panik yang luar biasa.


Tussssssss


"Ahhhh...kakak..apa yang keluar itu? sepertinya aku pipis disini," teriak Evellyn.


"Apa yang keluar? kenapa pipis disini? apa kamu tidak bisa menahannya? apa bayinya akan keluar sekarang?" pertanyaan bertubi-tubi keluar dari mulut Orland yang tampak berkeringat meskipun Ac mobil sudah lumayan dingin.

__ADS_1


"Aku nggak tahu, nggak kerasa sama sekali. Aduh...sakitttt...kak..."


Orland bertambah panik, pria itu semakin menambah kecepatan mobilnya. Hingga perjalanan kerumah sakit yang seharusnya memakan waktu 30 menit, itu hanya dicapai 20 menit saja.


"Cepat tolong! ada yang mau melahirkan," teriak Orland saat mobilnya dia parkir tepat didepan pintu IGD.


Beberapa suster membantu Evellyn untuk berbaring diatas sebuah brankar. Evellyn berbaring dengan tidak tenang, karena rasa sakit yang dia rasakan semakin menjadi.


"Apa anda suaminya?" tanya Seorang dokter kandungan.


"Betul."Jawab Orland asal.


"Berapa usia istri anda? ini ketubannya sudah pecah, tapi pembukaannya baru satu senti."


"17 tahun mau masuk 18."


"Ini terlalu beresiko, kita tidak bisa melakukan induksi. Terlebih ketuban saat ini sudah pecah, ditakutkan akan terjadi gawat janin," ujar dokter.


"Lakukan saja yang terbaik. Selamatkan istri dan anak saya."


"Anda harus menandatangani surat persetujuan tidak operasi."


"Operasi?"


"Ya. Kita harus melakukan operasi Cesar pada istri anda untuk menyelamatkan nyawa ibu dan bayinya. kita harus mengambil tindakan itu karena usia istri anda terlalu muda, dan juga ketuban sudah negatif." Jawab Dokter.


"Baiklah. Mana yang harus saya tanda tangani?" tanya Orland.


Setelah menandatangani surat persetujuan tindakan, Evellyn segera dibawa keruang operasi. Sebelum operasi itu benar-benar dilaksanakan, Evellyn berbicara sejenak pada Orland.


"Kakak. Jika terjadi sesuatu padaku, tolong jaga anakku. Sampai mati jangan beritahu pada bajingan itu tentang keberadaan anaknya. Aku ingin kakaklah yang membesarkan anakku dan memberikan nama padanya."


Deg


Jantung Orland seperti dicubit, kepercayaan Evellyn padanya menyentuh sisi terdalam dari dirinya.


"Jangan bicara sembarangan, kamu dan anakmu pasti selamat. Ingat! banyak misi yang belum kamu tuntaskan," ujar Orland.


"Emm."Evellyn menganggukkan kepalanya.


Evellyn memejamkan matanya saat brankar tempatnya berbaring didorong masuk makin dalam ke ruang operasi.


"Yansen. Hari ini anak kita akan dilahirkan, apa kamu tahu saat ini aku sangat ketakutan? aku takut kalau-kalau aku mati dimeja operasi dan tidak sempat membalaskan dendamku padamu. Yansen, tunggulah aku! suatu saat kita pasti akan bertemu lagi, aku akan mencabut nyawamu dengan tanganku sendiri," batin Evellyn.


Orland berdiri mondar mandir didepan ruang operasi. Pria itu tidak tahu, kenapa dia luar biasa panik. Padahal seharusnya dia tidak boleh merasakan itu sama sekali.


Oekk


Oekkk


Oekk

__ADS_1


Wajah Orland mendadak cerah seketika saat mendengar ada suara bayi dari dalam ruangan operasi. Gerakkan kakinya juga berhenti, karena dia menatap kearah pintu yang sama sekali belum terbuka.


"Yes...bayinya sudah lahir bukan?" Orland tampak senang dan lega. Dia sendiri tidak mengerti kenapa dia merasa sesenang itu.


Kriekkk


Seorang suster membuka pintu dan membawa seorang bayi dalam gendongannya.


"Selamat ya pak, istri anda melahirkan seorang bayi laki-laki,"


"Sungguh? itu bagus, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Orland.


"Ibu baik-baik saja, ibu masih sedang ditangani oleh dokter. Saya akan membawa bayinya ke ruang inkubator untuk dihangatkan."


"Baiklah. Terima kasih,"


Ada sebuah kelegaan tersendiri dihati Orland. Tangan pria itu mulai menghangat kembali, setelah sebelumnya terasa dingin karena panik.


Setelah menunggu hampir satu jam, Evellyn akhirnya siuman dari pengaruh obat anastesi. Setelah keadaannya sudah lebih baik, Evellyn kemudian dipindahkan keruang perawatan.


"Kakak. Eve ucapakan terima kasih untuk semua pengorbanan kakak selama ini. Eve nggak tahu apa yang terjadi kalau kakak tidak ada disamping Eve saat ini," ujar Evellyn dengan mata yang berkaca-kaca.


"Apa yang kamu katakan, bukankah kita ini keluarga? sudah seharusnya seorang kakak menolong adiknya bukan?"


"Ah...andai ayah masih hidup, dia pasti sangat bahagia saat tahu cucunya sudah lahir."


Orland terdiam. Namun dia juga berniat memberitahu Andre tentang kelahiran cucunya itu.


"Apa kamu sudah menyiapkan nama untuk putramu?" tanya Orland.


Evellyn menggelengkan kepalanya, karena sejak dia bertemu Orland dan pria itu membantunya, Evellyn ingin Orland yang memberikan nama pada putranya.


"Aku ingin kakak memberikan nama untuk putraku. Bukankah kakak juga ayahnya?" ucap Evellyn.


Orland sebisa mungkin menekan sisi lembut dalam dirinya. Dia tidak ingin kebersamaannya dengan Evellyn merubah misi balas dendamnya. Dia ingin memanfaatkan Evellyn dan putranya dari awal hingga akhir.


"Apa kamu sungguh tidak keberatan jika kakak yang memberikan nama untuk putramu?"


"Tidak. Kakak juga berhak." Jawab Evellyn.


"Kalau begitu kakak akan memberikan nama putramu Samudera Putra Orland. Apa kamu setuju?"


"Nama yang bagus. Tapi kenapa kakak memberikan nama Samudera?"


"Itu akan mengingatkannya bahwa ayahnya tidak menginginkannya dan ingin membunuhnya dengan menenggelamkannya ke laut."


"Arti kiasan yang bagus. Bajingan itu harus merasakan bagaimana rasanya dibenci oleh putranya sendiri."


"Dan aku ingin melihat ekspresi sakit diwajahnya, saat nama anaknya tidak terselip namanya sama sekali, malah terselip nama musuh bebuyutannya," batin Orland.


Ditempat berbeda, Yansen sedang merasakan gelisah di kantornya. Meeting yang dia jalankan saat ini menjadi tidak fokus sama sekali.

__ADS_1


TO Be CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2