Belenggu Mafia Lapuk

Belenggu Mafia Lapuk
59. Bodoh


__ADS_3

Entah harus tertawa atau menangis setelah Evellyn menyaksikan video yang sepertinya ditayangkan disalah satu stasiun televisi itu. Gadis itu tidak mengerti apa tujuan Yansen ingin menyelamatkan dirinya, namun dia berspekulasi itu ada hubungannya dengan Samudera.


"Seharusnya dia tidak perlu menyelamatkan kami bukan? bukankah bagus jika kami di buat mati untuk kedua kalinya? kenapa dia harus repot melakukan itu semua? apa dia ingin membuatku terkesan?" batin Evellyn.


"Dasar bodoh, apa dia tidak berpikir? orang ini jadi tahu, kalau kami ini jadi kelemahan buat dia. Pakai ngaku kalau aku ini istrinya,"


"Pasti kamu juga berpikir kalau priamu itu sangat bodoh,"


"Dia bukan priaku." Jawab Evellyn.


"Ya. Aku tahu dia suamimu,"


"Dia bukan suamiku." Jawab Evellyn.


"Ma..." Samudera melihat kearah Evellyn, anak itu tidak ingin pengorbanan Yansen jadi sia-sia, hanya karena Evellyn masih menaruh kebencian pada pria itu.


Evellyn menghela nafas, dia mengerti kenapa Samudera memperingatkan dirinya.


"Iya dia suamiku. Aku sarankan habiskan saja hartanya, karena aku sama sekali tidak perduli."


"Kenapa? apa hubungan kalian sedang tidak baik saat ini? kamu sepertinya sedang kesal dengan dia, apa kalian sedang bertengkar?"


"Maaf tuan, sebaiknya anda tidak usah kepo dengan urusan rumah tangga saya. Sebaiknya kamu telpon saja dia, minta apapun yang pengen kamu minta."


"Sepertinya kamu tidak perduli dengan harta suamimu?"


"Memang iya."


"Bagaimana dengan nyawanya?" tanya Pria itu.


Evellyn terdiam. Meski dia selalu mendengungkan ingin membunuh Yansen, tapi entah mengapa mendengar orang lain ingin membunuhnya, Evellyn jadi merasa sakit hatinya.


"Karena itulah yang ku inginkan sejak dulu. Aku sangat beruntung bisa menemukan kalian dengan tidak sengaja. Karena aku ingin Yansen datang sendiri menemuiku setelah memberikan uang, kekuasaan, perusahaan, dan yang terakhir aku ingin dia menyerahkan nyawanya."


"Licik!"

__ADS_1


"Ya harus dong. Soalnya aku sudah lama menaruh dendam padanya, tapi aku tidak ingin mengakhiri permainan ini dengan cepat. Karena ada yang lebih seru lagi nantinya. Kamu tenang saja, aku akan membuatmu menonton permainan seru ini nantinya,"


"Apa maksudmu?" tanya Evellyn.


"Dasar gadis bodoh. Apa kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu itu bukan istrinya Yansen? apa kamu pikir aku tidak tahu, kamu melahirkan seorang anak haram?"


"Tutup mulutmu brengsek!" hardik Evellyn.


Bibir gadis itu bergetar dengan mata merah berair. Evellyn sama sekali tidak takut menghadapi pria di depannya itu, yang dia takutkan adalah mental Samudera setelah mendengar fakta itu.


"Sayang. Jangan dengarkan pria gila ini," ujar Evellyn sembari menatap putranya dengan wajah menghiba.


"Kenapa? kamu takut putramu tahu kalau dia adalah seorang anak haram? kenapa harus menutupinya? dia juga harus tahu, kalau dia bukan anak yang di inginkan,"


"Tutup mulutmu bajingan!" Evellyn yang hilang kesabaran ingin melayangkan sebuah pukulan pada pria itu, tapi sayangnya tangan lembut itu ditangkap oleh pria itu dan pria itu menampar Evellyn hingga gadis itu terjerembab ke lantai.


Melihat Evellyn diperlakukan dengan kasar, membuat Samudera yang biasa bersikap tenang, jadi hilang kesabaran. Bocah 10 tahun yang diam-diam berlatih ilmu bela diri itu segera bangkit dari tempat duduk dan menyerang pria berkepala plontos itu dengan sebuah tendangan didada.


Brukkkkk


Pria yang tengah lengah itu terjengkang kebelakang, pria itu merasakan sedikit sesak didadanya.


"Tidak! tolong jangan sakiti anakku, kalian hajar aku saja," ujar Evellyn ketakutan.


Brukkkkk


Evellyn memeluk kaki pria berkepala plontos itu, agar pria itu tidak memberikan perintah yang akan menyakiti anaknya.


"Tuan. Aku mohon maafkan putraku, dia tidak mengerti apa yang sudah dia lakukan. Aku mohon jangan sakiti dia, kamu tahu kan dia anak Yansen? apa kamu tidak takut Yansen akan membunuhmu kalau sampai kamu menyakitinya?"


"Heh...kalian berada ditanganku, siapa yang berani menghentikanku? bahkan nyawa Yansenpun sebentar lagi akan hilang dari raganya."


"Baiklah. Untuk kali ini aku ampuni bocah tengil ini, tapi tidak ada lain kali, aku akan melubangi kepalanya kalau sampai sekali lagi dia berbuat kurang ajar padaku."


"Tidak akan ada lain kali. Aku jamin itu," ujar Evellyn.

__ADS_1


Pria itu meninggalkan ruangan, tubuh Evellyn lemas seketika dilantai. Gadis itu merasa lega, karena Pria itu tidak menyakiti anaknya. Namun kecemasan Evellyn tidak serta merta berakhir begitu saja, kali ini dia harus menghadapi badai pertanyaan dari sang putra, yang saat ini wajahnya sudah berubah jadi dingin.


"Apa itu benar?" tanya Samudera.


"Sayang. Kamu dengarkan penjelasan mama dulu ya?"


"Samudera hanya ingin mendengar jawaban yang Samudera inginkan. Bukan jawaban hasil karangan, atau sengaja dibuat bagus hanya karena tidak ingin Samudera terluka," ujar Samudera.


"Karena sudah sejak lama Samudera merasa terluka," sambung Samudera dengan wajah tertunduk sedih.


"Samudera sudah lama merasa terluka, sejak kecil kedua orang tuaku seperti tidak menginginkan aku," ujar Samudera dengan menatap sedih kearah Evellyn.


Tes


Tes


Tes


Air mata Evellyn merebak seketika. Gadis itu tidak tahu, bahwa Samudera menyimpan luka dihatinya selama bertahun-tahun lamanya.


"Kalian memang tidak menginginkan aku, itulah sebabnya kalian menitipkan aku pada orang lain. Jangan kira Samudera tidak tahu, kalau papa Orland tidak memiliki hubungan darah dengan kita."


"Tidak nak, itu tidak seperti yang kamu pikirkan. Mama bisa menjelaskan semuanya," ujar Evellyn sembari memeluk erat putranya itu.


"Jadi, apa benar aku ini seorang anak haram yang tidak di inginkan?"


"Samudera. Tidak ada istilahnya anak haram di dunia ini, semua anak yang dilahirkan dalam keadaan suci. Tidak ada yang salah dengan anak itu, karena yang membuat kesalahan adalah orang tuanya. Mama akui mama pernah melakukan kesalahan itu di masa lalu, tapi jangan pernah kamu berpikir kalau mama tidak menginginkanmu. Mama sayang sama kamu Samudera, sangat menyayangimu. Hikz..." Evellyn terisak.


Samudera terdiam. Dia paling tidak suka melihat wanita yang menangis, terlebih wanita itu adalah ibunya. Meskipun dirinya masih dalam keadaan marah, tapi dia lebih memilih diam daripada harus berdebat dengan Evellyn.


"Maafkan mama Samudera. Karena kesalahan mama di masa lalu, kamu jadi terluka. Kamu boleh marah pada mama, tapi satu hal yang harus kamu tahu, mama sangat menyayangimu melebihi nyawa mama sendiri,"


Tak ada jawaban dari Samudera. Samudera lebih memilih diam dan berbaring diatas sebuah karpet usang yang disediakan para penyandra. Sementara itu Evellyn semakin kalut, karena melihat Samudera yang begitu terluka karena masa lalunya.


"Yansen. Inilah hasil perbuatanmu, bagaimana aku tidak membencimu? sementara karena perbuatanmu itu, kamu tidak hanya mekukaiku, tapi kamu juga sudah melukai perasaan anak kita," batin Evellyn.

__ADS_1


Evellyn ikut berbaring disebelah putranya. Gadis itu memeluk Samudera yang tengah membelakangi dirinya. Namun bocah 10 tahun itu tidak bergeming sama sekali. Tanpa Evellyn tahu, Samudera sedang meneteskan air matanya.


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2