Belenggu Mafia Lapuk

Belenggu Mafia Lapuk
34. Pingsan


__ADS_3

Hari ini Evellyn sangat lega, karena langkah awal perjalanan hidupnya sudah terlewati satu fase lagi. Hari ini merupakan pembagian ijazah setelah usai melaksanakan ujian nasional 2 bulan yang lalu. Ayah Evellyn sangat bangga, karena sang putri mendapatkan juara umum satu disekolahnya. Namun rasa bangga itu lenyap seketika, saat Evellyn tidak sadarkan diri dan diperiksa secara menyeluruh oleh dokter, Evellyn dinyatakan positif hamil.


Seperti ada ribuan belati yang menusuk jantung Andre, saat dokter mengabarkan hal tersebut. Ingin rasanya dia mengguncang tubuh Evellyn sekuat mungkin, dirinya ingin bertanya siapa yang telah menghamili putrinya itu, namun Evellyn belum juga membuka matanya.


Setelah menunggu hampir 15 menit, mata Evellyn akhirnya terbuka juga. Rasa sakit yang menyerang kepalanya membuat Evellyn sedikit meringis.


"Ayah," bola matanya menatap sayu kearah Andre, sementara Andre menatapnya dengan tatapan nanar.


"Eve ada dimana Yah? apa Eve berada dirumah sakit?"


"Katakan! dengan siapa kamu melakukannya?"


"Melakukan apa?" tanya Evellyn tak mengerti.


Andre memejamkan mata, ada rasa sakit dan kecewa yang tidak bisa dia jelaskan. Pria itu hanya menyodorkan selembar kertas, hasil pemeriksaan dari dokter.


"Apa ini Yah? apa Eve terkena penyakit serius?" tanya Evellyn.


"Kamu baca saja! setelah itu ayah ingin meminta penjelasan darimu."


Evellyn meraih kertas itu, dan membacanya kata demi kata. Hingga sampailah pada kesimpulan yang menyatakan kalau dirinya saat ini sedang positif hamil.


Tubuh Evellyn lemas sekerika, air matanya jatuh dan tubuhnya bergetar. Gadis itu mengingat- ingat, kalau dirinya memang sudah lama tidak mendapatkan haid, padahal biasanya dia mendapatkan tamu bulanan itu secara teratur.


"A-Ayah..." ucap Evellyn lirih.


"Ayah kecewa sama kamu Eve. Putri ayah yang selalu ayah banggakan, ternyata berbuat kotor sama seperti wanita-wanita malam," mata Andre berkaca-kaca.


Evellyn bergegas turun dari ranjang, meskipun tubuhnya masih sedikit sempoyongan. Evellyn kemudian meraih kedua kaki Andre untuk dia peluk.


"Ayah. Ayah percaya pada Eve, itu semua terjadi diluar kendali eve. Putri ayah sama sekali tidak berubah, itu terjadi bukan keinginan Eve. Eve berani bersumpah atas nama almarhum ibu Yah," bibir Eve bergetar.


Andre meraih kedua pundak Evellyn dan membantu putrinya itu untuk berdiri.


"Katakan pada ayah, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Andre.


Evellyn kemudian menceritakan semua yang terjadi pada acara pesta ulang tahun perusahaan Yansen pada malam itu. Andre tertegun saat mendengar kejadian itu, meski niat awal Yansen menolong, tapi tidak seharusnya pria itu memanfaatkan anak gadisnya pada akhirnya.


"Ayah akan menemuinya untuk memintanya bertanggung jawab," ujar Andre dan ingin beranjak pergi.


"Tidak ayah! tolong dengarkan Eve sampai akhir." Evellyn menarik lengan Andre untuk menghalangi pria itu pergi.


"Kenapa?"


"Hampir sebulan lebih aku perang dingin dengannya, hanya ingin pria itu berkata maaf atau bertanggung jawab atas perbuatannya. Tapi yang Eve dapat cuma penghinaan, pria itu bahkan memberikan selembar cek untuk menghargai keperawanan Eve,"


"Ap-Apa? apa kamu menerima cek itu?"


"Ya."


"Apa?? jadi apa bedanya, kamu sama saja dengan menjual diri?"

__ADS_1


"Eve tahu. Tapi menolak uang itu juga percuma, toh tujuannya cuma satu, dia tidak ingin bertanggung jawab. Jadi lebih baik Eve terima saja bukan? terserah dia mau berpikir apa, toh aku dan dia sama-sama mengurangi penilaian diri kami masing-masing."


"Tapi sekarang berbeda, ada janin yang ada diperutmu. Kamu tidak mungkin membesarkannya sendiri, terlebih usiamu masih sangat muda."


"Biarkan Eve yang berbicara dengannya. Hanya perlu satu kali saja, karena aku tahu pria itu tidak suka berkomitmen dan tidak suka anak-anak."


"Jadi ayah, cukup Eve saja yang merendahkan harga diri Eve untuk meminta pria itu bertanggung jawab. Karena kalau sampai Ayah yang melakukannya, dan dia menolaknya, aku bersumpah akan membakar istananya itu."


"Bagaimana kalau dia tidak ingin bertanggung jawab?"


"Aku akan membesarkannya sendiri meskipun tanpa ayahnya. Anakku harus terus hidup, meskipun nyawa taruhannya."


Andre membawa Evellyn dalam pelukkanya, rasa marah dan kesal lenyap seketika saat mendengar ucapan Evellyn.


"Ayah akan mendukung apapun keputusanmu,"


"Baiklah kita urus administrasinya dulu Yah, Eve nggak mau di opname. Eve harus menyelesaikan masalah ini secepatnya."


"Ya."


Setelah selesai mengurus administrasi, Evellyn bergegas pulang kerumah Yansen. jantungnya berdegup dengan kencang karena dirinya menerka-nerka dalam hati tentang jawaban pria matang yang diam-diam dia sukai itu.


Tok


Tok


Tok


"Tuan, boleh saya bicara sebentar?" tanya Evellyn dari luar pintu.


Ivanka membukakan pintu untuk Evellyn dengan wajah masam. Gadis berpakaian seksi itu menaikkan alisnya tanda tidak senang, sementara Yansen tampak sibuk dengan ponselnya.


"Apa yang kamu harapkan dari pria yang tidur sekamar dengan perempuan yang bukan muhrimnya Eve. Sudah bisa ditebak, kamu hanya akan dapat penolakkan dari dia. Tapi tidak apa-apa, apapun hasilnya, aku harus tahu jawaban dari dia," batin Evellyn.


"Mau bicara apa? bicara saja," ujar Ivanka tidak senang.


"Pembicaraan ini tidak boleh didengar oleh orang asing, karena ini sangatlah penting." Jawab Evellyn.


"Berlagak sekali kamu? apa kamu lupa statusmu cuma apa dirumah ini?" ujar Ivanka sinis.


Evellyn melirik kearah Yansen, pria itu sama sekali tidak bergeming dari atas tempat tidur. Pria itu seolah tidak mendengar apa yang Evellyn katakan, sehingga gadis itu mengutuk pria itu berkali-kali.


Namun saat Evellyn berbalik badan dan ingin melangkah pergi, Yansen tiba-tiba bersuara yang membuat Evellyn tersenyum senang.


"Tunggu aku diruang kerja, aku akan menemuimu sebentar lagi," ujar Yansen.


"Terima kasih tuan."


Evellyn berlalu pergi dari hadapan Ivanka, sehingga gadis itu tampak merasa tidak senang.


Evellyn modar mandir didalam ruangan kerja Yansen. Gadis itu tampak berpikir, bagaimana cara memulai pembicaraan sensitif itu pada Yansen.

__ADS_1


Krieeekkk


Saat sedang asyik dalam pemikirannya sendiri, Yansen membuka pintu, dan pandangan mata merekapun beradu.


.


"Tuan," Evellyn mendekat cepat kearah Yansen, namun pria itu menghentikan langkahnya dan malah memerintah dirinya saat moment penting itu.


"Bisakah sebelum bicara, kamu buatkan aku secangkir kopi? ingat, jangan terlalu banyak gulanya." ujar Yansen.


Evellyn menghela nafasnya, meski kesal dia tetap membuatkan kopi untuk Yansen. Setelah menunggu hampir 10 menit, Evellyn pun datang dengan membawa secangkir kopi.


Evellyn membiarkan Yansen menyesap kopinya terlebih dahulu, sebelum dirinya benar-benar fokus untuk membicarakan hal penting itu.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Yansen.


Tanpa banyak kata, Evellyn menyodorkan kertas yang menyatakan dirinya sudah mengandung 12 minggu.


Yansen mengerutkan dahinya saat Evellyn menyodorkan selembar kertas padanya, namun pria itu tetap meraih kertas itu dan membacanya kata demi kata.


"Apa ini maksudnya?"


"Apa tuan tidak bisa membaca?"


"Saya bisa membaca, tapi yang saya tanyakan maksud dari isi kertas ini apa?"


"Saya hamil." Jawab Evellyn singkat, yang membuat Yansen mematung.


"Hamil? hamil anak siapa?" tanya Yansen dengan tatapan kosong. Terus terang dirinya sedang bingung saat ini.


"Maksud tuan apa bertanya seperti itu? apa saya ini dimata anda seorang wanita murahan?" tanya Evellyn.


"Saya tidak menganggapmu begitu, saya cuma nanya itu anak siapa? bukankah kamu sedang berpacaran dengan anak ingusan itu?" suara Yansen sudah naik beberapa oktaf.


"Berpacaran bukan berarti saya sembarangan melakukan hal itu dengan siapa saja."


"Jadi maksudmu itu anakku?" tanya Yansen dengan jantung yang berdegup.


"Ya. Usianya sudah 12 minggu, anda bisa membaca keterangan dikertas itu. 12 minggu sangat tepat dihari kejadian itu bukan?"


Yansen terdiam. Pria itu menatap dalam kearah mata Evellyn, pandangan mata itu sedikit lama terpaut. Jujur saja Evellyn saat ini sedang dilanda kegugupan, dia sedang menanti pria didepannya itu membuka suara kembali. Evellyn ingin pria itu bertanggung jawab dan menikahinya. Meskipun pria itu belum mencintainya, Evellyn akan berusaha membuat pria itu melihat kearahnya.


Namun penantian kata itu sedikit terhalangi saat tiba-tiba Ivanka menyerobot masuk kedalam ruangan itu dengan nafas yang naik turun.


"Aku tidak setuju kalau kamu bertanggung jawab atas kehamilannya. Yansen, kamu begitu tegas menolakku untuk berkomitmen, jadi aku nggak mau ya kamu berkomitmen sama dia hanya karena dia hamil. Kamu kenapa sih bisa terjebak dengan pelayan yang nggak tahu diri ini?"


"Kamu menguping pembicaraan kami?" tanya Yansen.


"Aku tidak sengaja mendengarnya," ujar Ivanka sembari meletakkan teh yang dia bawa ke atas meja.


"Keluarlah! aku masih ingin bicara dengan Evellyn," ujar Yansen.

__ADS_1


Ivanka berdecak kesal, karena Yansen tidak memperbolehkan dirinya mendengar percakapan mereka. Dan setelah gadis itu keluar, Evellyn jadi kembali harap-harap cemas menunggu ucapan yang akan keluar dari mulut pria didepannya itu.


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2