Belenggu Mafia Lapuk

Belenggu Mafia Lapuk
41.Singa Mengamuk


__ADS_3

"Ya-Yansen," bibir Ivanka bergetar, sepertinya dia tahu apa yang akan terjadi kedepannya.


Tap


Dengan gerakkan mantap Yansen mencengkram leher Ivanka dan kemudian mendorong gadis itu hingga masuk kedalam dan mengandas didinding.


"Katakan dimana Evellyn!" ujar Yansen sembari mencengkram kuat leher Ivanka.


Pak


Pak


Pak


Ivanka menepuk-nepuk tangan Yansen, karena wanita itu akan kehabisan nafas.


"Yansen. Lepaskan tanganmu, dia akan mati dan tidak sempat bicara tentang keberadaan Evellyn." ujar Zavier mengingatkan.


Wajah Yansen yang semula merah padam, sedikit lebih cerah, dan pria itu segera melepaskan cengkraman tangannya dari leher Ivanka.


Uhuk


Uhuk


Uhuk


Ivanka terbatuk, gadis itu menarik nafas panjang setelah cengkaran tangan Yansen terlepas.


"Apa kamu sudah gila? aku hampir mati tahu nggak?" hardik Ivanka.


"Bagus kalau kamu tahu bakalan mati. Sekarang lebih baik kamu berkata jujur, dimana kamu menyekap Evellyn?" tanya Yansen.


"Apa yang kamu katakan? aku tidak mengerti, kenapa Evellyn hilang, aku malah jadi sasaran amukkanmu?"


"Oh masih berpura-pura? kamu terlalu memandang tinggi dirimu itu Ivanka. Apa kamu pikir kamu bisa lebih dari sekedar patner ranjangku? kamu itu tidak lebih dari sekedar mainanku."


Plakkkk


Ivanka yang merasa terhina tanpa sadar menampar Yansen.


"Beraninya kamu menamparku?" hardik Yansen


"Awwww" Ivanka meringis kesakitan, saat jambakkan kuat bersarang dikepalanya.


"Apa kamu pikir aku ini tidak berani menghajarmu hanya karena kamu seorang wanita? jangan mimpi kamu," ucap Yansen.


"Cepat katakan dimana Evellyn!" hardik Yansen.


"Aku tidak tahu apapun, lepasin rambutku! ini sakit Yansen,"


"Aku tidak akan melepaskannya sebelum kamu mengatakan dimana Evellyn."


"Sungguh aku tidak tahu apa yang kamu maksud,"


"Oh ya sudah kalau kamu masih tidak mau mengaku. Diego...."

__ADS_1


"Ya?"


"Apa ular kobra yang kita beli tadi masih lengkap?" tanya Yansen asal.


"Masih dong, 10 ular ini bisa melenyapkan orang hanya dengan satu gigitan saja." Jawab Diego.


"U-Ular? Yansen, kamu paling tahu aku sangat takut dengan reptile. Ku mohon jangan lakukan itu, aku benar-benar tidak tahu."


"Begitu ya? ya sudah Go, turunkan semua ularnya, biarkan dia membusuk di apartement ini karena mati digigit ular."


"Oke." Diego berpura-pura ingin turun.


"Jangan!"


Brukkkk


Ivanka kemudian memeluk kedua kaki Yansen dengan tubuh bergetar.


"Yansen. Aku mohon lepaskan aku, aku benar-benar minta maaf."


"Dimana Evellyn?" tanya Yansen tidak sabar.


"Di-Dia jatuh ke laut." Jawab Ivanka gemetar.


Yansen mencengkram kedua bahu Ivanka dan mengguncangnya dengan sangat keras.


"Apa maksudmu brengsek! apa maksudmu dia jatuh kelaut?" tanya Yansen.


Sementara itu Zavier, Owen dan Diego hanya bisa menutup mulut mereka. Mereka cukup terkejut dengan pengakuan Ivanka.


Yansen tertegun. Cengkraman tangan Yansen tiba-tiba mengendur. Air mata pria itu jatuh seketika.


"Yansen," Zavier panik, karena tubuh Yansen terhuyung kebelakang dan segera dia tangkap


"Di-Dia nggak mati kan Zav? di-dia nggak mati kan?" ujar Yansen dengan bibir bergetar.


"Yansen kendalilan dirimu," ucap Zavier.


"Itu salahmu sendiri. Bertahun-Tahun kita bersama, tapi kamu malah menghamili wanita lain. Tidakkah kamu mengerti aku sangat cemburu? apa kamu tidak bisa memahamiku sedikit saja? sekarang dia sudah mati, kamu tidak perlu merasa terbebani untuk bertanggung jawab padanya, tolong lihat aku sekali saja Yansen, aku sangat mencintaimu."


"Memahamimu?" Yansen tiba-tiba melepaskan tangan Zavier dari pundaknya. Pria itu bergegas menghampiri Ivanka, emosinya sudah sangat memuncak.


"Hanya satu yang aku pahami sekarang, aku ingin segera melenyapkanmu agar kamu bisa menyusul Evellyn dan anakku."


"Awww Yansen sakiittttt..."


Yansen kembali menjambak rambut Ivanka dan menyeret gadis itu kedalam kamar mandi. Yansen mengisi air bathup hingga meluber dan kemudian membenamkan kepala Ivanka disana.


"Biar kamu rasakan bagaimana lemasnya Evellyn saat dia terjatuh ke laut. Apa kamu tahu dia tidak bisa berenang? hah?"


Tubuh Ivanka berontak sekuat mungkin. Namun Yansen semakin membenamkan kepala itu semakin lama.


"Yansen. Kendalikan dirimu! dia bisa mati disini," ujar Zavier menarik lengan Yansen.


"Memang dia akan ku lenyapkan. Aku tidak akan membiarkannya hidup lebih lama lagi."

__ADS_1


"Baiklah, tapi minimal jangan lakukan disini. Itu terlalu berbahaya. Sebaiknya kamu lenyapkan dia dengan cara yang sama, seperti cara dia melenyapkan Evellyn."


Uhukkk


Uhukkk


Uhukkk


Ivanka terhuyung lemas, entah sudah berapa banyak air yang tertelan didalam lambungnya.


"Tidak. Kumohon ampuni aku Yansen,"


"Mengampunimu? jangan harap! kamu sudah melenyapkan dia, itu berarti kamu sudah tahu akibatnya."


"Kenapa kamu begitu bodoh? aku membantumu menyingkirkan penghalang. bukankah kamu tidak suka anak-anak?"


"Itu sama sekali bukan urusanmu. Kamu sudah kelewat batas Ivanka. Aku tidak bisa mentolelir kesalahanmu ini," hardik Yansen.


"Diego, Owen, seret dia keluar! kita akan menjatuhkannya ketengah laut, biar jadi santapan hiu,"


Owen dan Diego menurut saja apa yang Yansen katakan. Mereka kemudian membawa Ivankan ke pelabuhan. Meski Ivankan menjerit minta tolong, namun tak seorangpun berani menolong gadis itu. Ivanka kemudian dibawa menggunakan kapal kecik yang kecepatan lajunya diatas rata-rata.


"Bos. Mereka sepertinya ingin melenyapkan gadis itu," ujar seseorang diseberang telpon.


"Selamatkan gadis itu bagaimanapun caranya. Bawa dia ke markas. Kita bisa memanfaatkan gadis itu suatu saat nanti."


"Baiklah."


Byurrrrrrrr


Yansen melempar Ivanka ketengah laut. Meski kemampuan berenang gadis itu lumayan handal, tapi gadis itu tidak akan mampu bertahan lama tanpa bantuan pelampung.


"Yansen. Kumohon jangan lakukan ini. Aku minta maaf padamu, apa kamu sama sekali tidak memandang kebersamaan kita selama ini?" Ivanka mencoba bertahan dengan kemampuan renangnya.


"Saat ini kamu tidak lebih dari sekedar sampah bagiku. Membusuklah kamu di neraka. Diego, kita pergi sekarang."


Diego kembali menghidupkan mesin kapal, merekapun meninggalkan Ivanka ditengah laut. Yansen sama sekali tidak memiliki rasa iba pada gadis itu, meskipun Ivanka berteriak-teriak memanggil namanya.


Tubuh Yansen ambruk dilantai kapal, pria itu terlihat sangat rapuh. Dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.


"Yansen tenanglah. Sampai saat ini tidak ada berita tentang seseorang mati tenggelam bukan? siapa tahu ada keajaiban lagi," ujar Zavier.


Yansen menyeka air matanya dengan cepat, seolah tidak sabar ingin mendengar hipotesa sahabatnya itu.


"Apa menurutmu ada kemungkinan selamat bagi Evellyn?" tanya Yansen.


"Tentu saja. Makanya jangan putus asa dulu, kita bisa mencarinya seperti kami mencarimu sewaktu hilang dilaut waktu itu." Jawab Zavier.


Yansen kembali bersemangat, dia ingin segera mencapai daratan agar bisa meminta bantuan tim SAR untuk mencari keberadaan Evellyn.


"Evellyn. Aku harap kamu baik-baik saja. Banyak hal yang belum ku kakatakan padamu. Saat bertemu nanti, aku bersumpah akan membuat pernikahan mewah untuk kita. Dan aku akan mengungkapkan perasaanku setiap hari padamu," batin Yansen.


Setelah kapal mereka menepi dipelabuhan, Yansen dan teman-temannya bergegas mencari tim SAR untuk membantu menemukan Evellyn. Setelah membuat kesepakatan, dan menyiapkan bekal selama pencarian, Yansen dan teman-temannyapun berangkat menyusuri tiap pesisir laut dan pulau-pulau terpencil.


TO BE CONTINUE...🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2