Belenggu Mafia Lapuk

Belenggu Mafia Lapuk
25.Terima kasih


__ADS_3

"Ayah tidak apa-apakan tinggal sendiri disini sementara waktu?" tanya Evellyn saat dirinya akan berpamitan pada Andre.


"Tidak apa-apa. Ayah akan menganggapmu sedang sekolah ke luar negeri. Tapi sesekali kamu juga harus mengunjungi ayah disini."


"Pasti," ucap Evellyn.


Kini Andre tahu setelah diberikan kesempatan bicara berdua dengan Evellyn, bahwa anaknya menjadi pembantu dirumah Yansen. Miris, itu yang Andre rasakan, karena di usia putrinya yang baru 17 tahun, putrinya itu harus memikul beban berat yang seharusnya dia pikul sebagai seorang ayah.


Berkali-kali Andre meminta maaf pada sang putri, atas ketidakberdayaannya itu. Tapi Evellyn malah menanggapinya dengan sebuah senyuman.


"Tuan. Aku titip putriku," ujar Andre saat Yansen akan membawa Evellyn pergi.


"Ya." Jawab Yansen singkat.


Yansen dan Evellyn pergi meskipun Andre masih merasakan rindu pada putrinya itu. Tapi Andre cukup lega, karena meskipun jadi pembantu, Evellyn juga tetap lanjut sekolah.


"Tuan. Terima kasih untuk semuanya, aku tidak menyangka pertemuan tidak sengaja kita membawa keberuntungan besar untukku. Terima kasih sudah mempertemukan aku dengan ayahku dan juga sudah merawatnya hingga sembuh."


"Emm." Jawab Yansen singkat.


Evellyn mengulas senyuman, gadis itu sangat bahagia telah bertemu dengan sang ayah. Itu berarti beban pikirannya sudah tercabut semua.


"Sekarang aku harus fokus belajar, 3 bulan lagi ujian nasional. Setelah itu aku lulus. Tidak masalah harus jadi pembantu dulu selama 2 setengah tahun lagi, setelah itu aku bisa merancang masa depanku sendiri bersama ayah,"


"Berpikirlah ingin lepas dariku gadis kecil, tapi aku tidak akan pernah melepaskanmu meskipun kontrak itu sudah berakhir," batin Yansen.


"Mau makan diluar?" tanya Yansen.


"Eh? tuan mau? kalau saya sih mau-mau aja," ujar Evellyn.


Yansen tidak menjawab ucapan Evellyn, pria itu memacu kendaraannya kearah restauran langganannya.


"Wah...restaurannya mewah sekali. Makan disini pasti mahal sekali," batin Evellyn.


"Pilihlah menu yang kamu suka," ucap Yansen.


Evellyn melihat daftar menu, yang ternyata semuanya makanan western.


"Tuan. Apa sebaiknya tuan saja yang memesan menunya,"


"Kenapa?"


"Semua menu berbahasa inggris, aku tidak mengerti." Jawab Evellyn setengah berbisik.


Yansen kemudian mengambil alih daftar menu itu. Kemudian memesan menu sesuai seleranya.


"Kamu sudah punya pacar disekolah?" tanya Yansen tiba-tiba.

__ADS_1


"Pacar? ti-tidak. Kenapa tuan tiba-tiba menanyakan hal itu?


"Ada rumor disekolahmu bukan?"


"Kok tuan bisa tahu? apa tuan memata-mataiku?"


"Tidak penting aku tahu darimana. Kamu itu masih kecil, fokuslah belajar. Awas saja jalau aku mendengar kamu pacaran dengan laki-laki lain,"


"Laki-Laki lain? perkataan tuan seolah saya sedang selingkuh. Padahalkan saya nggak pacaran dengan siapapun,"


"Ckk..gadis kecil ini sangat cerdas," batin Yansen.


"Siapa dia?"


"Apanya yang siapa?"


"Yang mengirimimu surat itu."


"Aku tidak ingin menjawabnya, kalau tuan tahu tentang rumor itu, itu artinya tuan bisa mencari tahu siapa pria itu. Lagian tidak penting juga menceritakan tentang si playboy itu,"


Yansen akan menjawab ucapan Evellyn, tapi kata-katanya terhenti karena seorang pelayan sudah membawa menu yang mereka pesan.


"Apa dia menyentuhmu?"


"Ckk..kenapa dengan dia hari ini? buat apa juga dia nanya-nanya urusan anak muda?"


"Emm..sekalian aja aku bikin dia murka. Bagaimana reaksinya kalau tahu aku punya pria yang aku sukai,"


"Sebenarnya ada cowok yang aku sukai disekolah," ujar Evellyn.


"Uhukkkkk, uhukkkk," Yansen terbatuk.


Evellyn bergegas menyodorkan air minum untuk Yansen. Setelah batuknya mereda, Yansen menatap Evellyn dengan tajam.


"Ke-Kenapa tuan?" tanya Evellyn gugup.


"Buang rasa sukamu pada pria itu. Aku ingin kamu fokus sekolah. Memangnya siapa dia?"


"Dia? dia..."


Evellyn bingung mencari alasan, niat awal ingin bercanda, namun jadi keterusan berbohong.


"Yang pasti dia cowok tertampan disekolah, usianya juga sama 17 tahun lebih, pokoknya dia cowok idaman deh,"


"Mampus, karangan bebas yang semena-mena ini mah," batin Evellyn.


"Aku akan mendatangi sekolahmu kalau kamu tidak mau menurut kataku,"

__ADS_1


"Datang ke sekolah? buat apa tuan?"


"Aku mau kamu berhenti sekolah, biar kamu fokus jadi pembantu dirumahku saja."


Evellyn melirik tidak senang pada Yansen.


"Kenapa? aku berhak melakukan itu, karena kamu sekolah pakai uangku. Lagipula aku yang terdaftar sebagai walimu. Jadi aku berhak melarangmu berpacaran sebelum kamu lulus sekolah."


"Iya...iya..tuan diktator, aku akan mendengarkanmu." ujar Evellyn.


"Sebenarnya kenapa aku melarang dia berpacaran? bukankah tidak ada dalam perjanjian itu? beruntung dia gadis belia, jadi masih bisa dimanipulasi,"


"Dasar bujang lapuk menyebalkan. Untung makanan ini enak, kalau nggak enak sudah aku siramkan diatas kepalanya," batin Evellyn.


"Apa aku menyukai gadis kecil ini? tapi dia masih terlalu muda untuk menggantikan Ivanka sebagai patner ranjangku. Lagipula, bagaimana caranya aku bisa menjeratnya agar bisa selalu disisiku? saat ini aku hanya bisa menjadikan dia jambanganku, sebelum dia benar-benar siap untuk dipetik,"


"Tuan. Aku sudah kenyang,"


"Baiklah. Kita pulang,"


Yansen dan Evellyn berdiri setelah meyelipkan uang beberapa lembar berwarna merah kedalam buku tagihan.


"Selidiki siapa gadis itu," ujar Orland


"Sepertinya aku pernah melihat gadis itu, kalau tidak salah dia gadis yang menghadang peluruku waktu itu."


"Selidiki dengan detail, apa hubungan dia dengan gadis kecil itu. Gadis itu tidak mungkin adik kandungnya, karena Yansen sama sepertiku dibesarkan dari jalanan dan dipungut oleh ayah angkat."


"Apa tidak sebaiknya kita langsung culik saja gadis itu?"


"Jangan dulu. Aku tidak ingin kita menculik sampah. Kalau gadis itu ada hubungan spesial dengannya, itu jauh lebih bagus. Kita bisa menjadikannya kelemahan bagi Yansen."


"Setahuku dia memiliki kekasih yang baru pulang dari Amerika Bos."


"Benarkah? kalau begitu culik yang pasti-pasti saja, tapi kalian tetap harus menyelidiki gadis kecil itu."


"Baik." Jawab codet.


"Yansen, aku akan merebut apapun yang kamu miliki. Kedudukkanmu, hartamu, bahkan wanitamu sekalipun. Aku ingin kamu merasakan seperti yang aku rasakan saat aku dibuang dari markas besar. Sekarang kedudukkan kita sudah sama, aku tidak percaya wanitamu tidak menyukaiku terlebih uangku. Karena aku tahu seperti apa caramu memperlakukan wanita-wanitamu," batin Orland.


"Bos. Dari mata-mata yang kita taruh diperusahaannya, besok malam adalah hari ulang tahun perusahaannya."


"Bagitu? sayangnya dia tidak mungkin mengundang perusahaan kita."


"Lalu apa yang harus kita perbuat?"


"Tentu saja kita akan membuat sedikit kekacauan disana," Orland menyeringai.

__ADS_1


Orland sangat tidak sabar ingin menghancurkan Yansen. Pria yang merupakan anak kesayangan dari ayah angkatnya. Rasa iri yang ada dalam dirinya, sudah membutakan mata dan hatinya. Dia tidak ingin kalah dalam segi apapun dari Yansen. Apapun yang Yansen miliki, dia harus memilikinya juga, termasuk wanita Yansen sekalipun


__ADS_2